
Angin kering yang membawa gulungan pasir menyambut kedatangan pasukan keluarga Feng diwilayah barat daya.
Meski kerajaan Heidar tak seluas kekaisaran Ming, tapi wilayahnya yang cukup subur sangat kontras dengan perbatasan wilayah barat daya yang merupakan gurun pasir Gangzao membuat kaisar Ming ingin memiliki wilayah tersebut dan memperluas daerah kekuasaannya.
Berbagai upaya dikerahkan untuk menakhlukkan kerajaan Heidar, tapi usaha kaisar Ming Qin tak pernah membuahkan hasil yang memuaskan.
Sayangnya, kekuatan militer keluarga Jiang yang menjadi kekuatan utama kekaisaran Ming tak bisa melakukan serangan terhadap kerajaaan Heidar karena perjanjian kesepakatan antara kedua belah pihak dimasa lalu.
Dimana dalam perjanjian tersebut menyebutkan jika kekutana militer keluarga Jiang tidak diperbolehkan untuk memasuki wilayah gurun pasir Gangzao di barat daya apapun yang terjadi.
Jika hal itu dilanggar, maka wilayah gurun pasir Ganzao akan secara otomatis menjadi milik kerajaan Heidar.
Meski tak terlalu memberi keuntungan kepada kekaisaran Ming, tapi wilayah gurun pasir Ganzao yang membentang cukup luas hingga mencapai wilayah tenggara menjadi momok yang menakutkan bagi negara lain yang ingin menyerang kekaisaran Ming dari sisi Timur.
Namun, ambisi kaisar Ming Qin yang sangat besar untuk bisa menguasai kerajaan Heidar yang berada tepat dibagian barat daya wilayah kekaisaran Ming membuat lelaki nomor satu itu sering kali berbuat ulah sehingga menimbulkan konflik antara dua negara dan menyebabkan peperangan.
Setiap kali terjadi peperangan kekaisaran Ming sering kali menderita kerugian yang sangat besar bahkan tak jarang mereka dikalahkan dengan telak karena kerajaan Heidar mendapatkan dukungan penuh dari kekaisaran Ru.
Diwilayah perbatasan barat daya, pasukan keluarga Feng terlihat sudah bersiap siaga dengan tatapan nyalang kedepan seolah ingin segera melibas pasukan musuh yang ada dihadapan mereka.
Begitu juga dengan pasukan musuh yang jumlahnya hampir sama dengan pasukan yang dipimpin oleh Feng Mo Tian menatap garang kedepan.
Hyaaatt….
Gedebug….. gedebug….. gedebug….
Sringggg…..sringgg….sringgg….
Crashhh…crashhhh…crashhhh….
Settthhhh……sethhh…sethhh….
Suara kuda melaju dengan cepat disertai teriakan, adu pedang dan panah mewarnai peperangan disiang hari yang terik ini.
Banyak kuda yang langsung terjatuh karena medan gurun pasir yang sulit dilalui, terik panas matahari serta pasir yang beterbangan membuat jarak pandang serta nafas para prajurit lebih berat.
Namun semangat para pasukan kedua belah pihak masih tetap membara, berjuang untuk segera menyelesaikan peperangan dan meraih kemenangan.
__ADS_1
Pedang yang ada ditangan Feng Mo Tian sudah berhasil menebas kepala dan menembus jantung puluhan musuhnya sambil sesekali dia menghindari serangan anak panah yang ditujukan kepadanya.
Semakin lama Feng Mo Tian merasa jika panah yang terus menyerangnya dari berbagai sisi bukan semuanya berasal dari pihak musuh membuatnya mulai menajamkan instingya.
“ Sial !!!....”
“Tampaknya masih ada serangga didalam pasukanku….”, guman Feng Mo Tian geram.
Untung saja Feng Mo Tian menerapkan peringatan yang diberikan oleh Jiang Xia Yan kepadanya sehingga dia sudah mengantisipasi hal ini sejak awal.
Semakin lama Feng Mo Tian merasa jika ada sedikit keanehan yang terjadi pada serangan pasukan musuh.
Meski dia tak pernah berhadapan langsung dengan pasukan kerajaan Heidar, tapi dari informasi yang dua dapatkan Feng Mo Tian merasa jika gaya serangan mereka berbeda meski sekilas tampak sama.
“ Tampaknya aku sudah memelihara ular berbisa didalam pasukanku….”, batin Feng Mo Tian dengan sorot mata tajam penuh amarah.
Terlihat jelas didepan matanya, beberapa orang kepercayaannya tidak mengikuti instruksi yang diberikannya.
Mereka justru terlihat membelot dan malah balik menyerang pasukan miliknya. Untung saja semua hal sudah diantisipasinya dari awal hingga keadaan bisa dia balik secepatnya.
Meski begitu, peperangan tersebut memakan waktu selama dua hari karena banyaknya pembelot yang ada sehingga pasukan keluarga Feng sedikit merasa binggung mana teman mana lawan.
Feng Mo Tian yang sangat membenci para pengkhianat segera menebas habis kepala mereka tanpa menyisakan satu orang pun.
Meski sekarang pasukan miliknya hanya tersisa tiga puluh persen, tapi setidaknya semua orang yang masih hidup tersebut setia kepadanya.
“ Tuan, apa kita kembali ke ibukota sekarang ?....”, tanya salah satu tangan kanan Feng Mo Tian sambil terengah – engah setelah berhasil mengalahkan semua musuh yang ada.
" Tarik pasukan ke wialayah Mixin, kita beristirahat disana….”, perintah Feng Mo Tian tegas.
Pertempuran yang bisa Feng Mo Tian selesaikan hanya dalam waktu dua hari tersebut nyatanya tak membuat lelaki tersebut segera kembali ke ibukota.
Dia tak ingin musuh yang menginginkan kematiannya menjadi curiga jadi dia membiarkan pasukannya untuk beristirahat sejenak di wilayah Mixin.
" Tak kusangka pangeran kedua Ming Shin akan menggunakan cara licik seperti ini untuk melenyapkanku...."
" Sekarang, aku akan membiarkannya tenang terlebih dahulu dan memperkuat pasukanku sebelum kembali ke ibukota....", batin Feng Mo Tian tajam.
__ADS_1
Setidaknya diwilayah yang tandus dan gersang tersebut dia bisa melatih sisa pasukannya agar lebih kuat lagi dan mengulur waktu untuk kembali.
Sementara itu di ibukota, Jiang Xia Yan yang mendapatkan kabar jika pangeran kedua Ming Shin kembali mencari orang berbakat untuk direkrut segera mengabari Han Sang Yan agar bersiap untuk mengikuti perekrutan yang akan diselenggarakan satu minggu lagi secara tertutup.
“ Bagaimana aku bisa mendapatkan akses masuk kesana ?....”, tanya Han Shan Yang binggung.
“ Anda tenang saja tuan….”
“ Nona muda sudah mengatur semuanya untuk tuan….”
“ Yang perlu anda lakukan sekarang hanya mempersiapkan diri dengan sebaik - baiknya….”
“ Satu minggu lagi akan ada orang yang menjemput dan membawa tuan ke tempat acara berlangsung….”, ucap Yinhang menjelaskan.
Setelah menyampaikan semua pesan nona mudanya, Yinhang pun segera meninggalkan asrama akademi dan membiarkan Han Shan Yang yang sedang larut dalam pikirannya sendiri.
Melihat kakaknya terlihat kembali ceria dan memiliki semangat hidup seperti dulu membuat Han Shan Yang merasa sangat lega.
Diapun pada akhirnya memutuskan untuk mengikuti semua rencana yang telah disusun oleh Jiang Xia Yan.
Setidaknya, setelah masuk kedalam istana dan menjadi orang kepercayaan pangeran kedua Ming Shin, dia juga bisa lebih dekat mencari informasi mengenai kebenaran dibalik tindakan bibinya yang telah melenyapkan seluruh keluarganya lima belas tahun yang lalu.
“ Jika benar bibi terlibat dalam kejadian malam itu….”
“ Aku bersumpah akan membalaskan dendam kematian kedua orang tua serta keluargaku dengan kedua tanganku sendiri….”, batin Han Shan Yang penuh amarah.
Selain mempersiapkan diri dengan sebaik – baiknya, Han Shan Yang pun mulai mengubah sedikit penampilannya agar bibinya yang sekarang sudah berganti nama dan merupakan ibunda pangeran kedua Ming Shin tak akan langsung mengenalinya.
Meski kemungkinan untuk bertemu dengan selir Hien sangatlah kecil, tapi dia juga tak akan bertindak gegabah serta ceroboh hingga ketahuan.
Karena dia sangat yakin, jika bibinya mengenalinya bukan tidak mungkin wanita jahat itu akan langsung melenyapkannya saat itu juga.
Sementara itu, membludaknya pesanan pakaian didalam butik yang dikelolanya membuat Jiang Xia Yan sangat sibuk.
Tapi dia juga merasa sangat puas karena selain mendapatkan keuntungan yang signifikan Jiang Xia Yan juga mendapatkan beberapa informasi penting yang diperoleh Han Wu Ying selama bergaul dengan para nyonya dan nona muda keluarga bangsawan mengenai semua hal yang terjadi di ibukota.
Informasi penting yang didapatkan oleh Han Wu Ying dapat mempermulus langkahnya untuk melancarkan aksi balas dendamnya.
__ADS_1