
Xiao Mei dan Jiang Xia Yan terlihat menikmati hidangan yang ada sambil berbicara hangat diujung ruangan tanpa ada satupun yang berani menghampiri.
Bukannya mereka tak mau, hanya saja aura yang dikeluarkan Jiang Xia Yan membuat banyak orang ketakutan dan tak berani bahkan untuk sekedar menyapa.
Dan hal tersebut tak menjadi masalah bagi ibu dan anak tersebut. Justru mereka merasa lebih nyaman pada saat tidak ada yang menganggu keakraban keduanya malam ini.
Sebenarnya , keduanya tak terlalu menyukai pesat seperti ini. tapi demi menjaga hubungan yang baik dan memberi keluarga kekaisaran muka maka mereka pun datang untuk berpartisipasi meski tak menikmatinya.
“ Yan’er…”
“ Kenapa kamu tak bergabung dengan para nona muda disana ?...”
“ Apa tak ada yang mau berteman denganmu ?....”, tanya Xiao Mei santai tapi terlihat jelas kecemasan di setiap kalimatnya.
“ Mungkin aku seperti ibu yang tidak terlalu menyukai keramaian….”
“ Seperti ini lebih baik bagiku….”, ucap Jiang Xia Yan sambil tersenyum lembut.
Mengetahui kesungguhan disetiap kata yang diucapkan oleh putrinya, Xiao Mei pun tak bisa memaksa dan membiarkan Jiang Xia Yan menemaninya.
Lagipula semua wanita yang ada didalam pesta penuh dengan kepalsuan. Dia tak ingin putrinya yang polos menjadi ternoda dengan semua trik kotor yang sering mereka gunakan.
Sementara itu didepan aula, kaisar Ming Qin yang baru saja memuji Jiang Shing dengan penghargaan karena keberhasilannya tapi Jiang Shing malah menolaknya dan memintah sebuah anugerah.
Anugerah yang diminta jenderal besar Jiang Shing sebenarnya tak terlalu berlebihan. Dia hanya meminta untuk tinggal enam bulan lebih lama di ibukota sesuai dengan permintaan putrinya.
Untuk sesaat semua orang termenung, berusaha untuk mencerna apa maksud yang tersembunyi dari permintaan Jiang Shing tersebut.
“ Apakah permintaan Jiang Shing ini murni hanya untuk menemani orang yang dicintainya ?....”
“ Tapi, kenapa harus disaat – saat kritis seperti ini….”, batin kaisar Ming Qin tak tenang.
Saat ini hubungan kaisar Ming Qin dengan para pangeran kacau balau dan dimasa – masa ini situasinya bisa berubah kapanpun dan kekuatan yang mengintervensi akan mengubah seluruh permainan yang ada.
Kaisar Ming Qin melihat dengan hati – hati pria yang ada dihadapannya itu. Dia adalah pria yang setia dan pemberani.
Tapi sebagai seorang kaisar dia perlu mengontrol para pejabat dan jenderal yang ada dibawahnya serta tak akan pernah menilai sesuatu hanya dipermukaan saja.
__ADS_1
Begitu menyetujui permintaan Jiang Shing, kaisar Ming Qin meninggalkan aula utama dengan wajah gelap.
Dia perlu memikirkan semuanya lagi dengan lebih mendalam. Kaisar Ming Qin yang selalu menaruh rasa curiga terhadap siapapun tak akan bisa menerima begitu saja alasan simple yang diberikan oleh Jiang Shing kepadanya.
Tindakan Jiang Shing dianggap banyak orang sangat tak terduga. Banyak orang mulai berspekulasi dalam pikiran mereka tapi hanya satu orang yang berani mengemukannya.
“ Apakah jenderal besar Jiang Shing sudah kehilangan giginya sampai – sampai ingin tinggal di ibukota selama enam bulan untuk menikmati hidup ….”, ucap Feng Tiang mencemoh.
Melihat musuh bebuyutannya bersuara untuk menyudutkannya, Jiang Shing hanya tersenyum lebar, memamerkan deretan giginya yang putih dengan lesung pipi dikedua sisinya dan menjawab dengan tajam.
“ Apakah Marquais Feng iri dengan jenderal ini ?....”
“ Oh, itu sama sekali tak mengherankan karena marquais tak memiliki istri atau anak perempuan jadi tak bisa merasakan apa yang jenderal rasakan saat ini….”, ucap Jiang Shing dengan senyum mengejek.
“ Kamu !!!....”, teriak Feng Ting tertahan.
Wajah Feng Ting langsung pucat seketika mendengar ucapan tajam dan beracun yang keluar dari mulut Jiang Shing.
Setelah meninggalnya Shien Huan, tak ada wanita yang diangkatnya menjadi istri meski ada Muro Nan sebagai selirnya.
Feng Ting yang menyadari titik terlemahnya ditembak langsung oleh Jiang Shing merasa sangat marah dan sakit hati tapi dia tak bisa berbuat apapun.
Tindakan abnormal Jiang Shing membuat para pejabat tidak dapat memahami jalan pemikirannya yang sulit ditebak.
Dan semua orang pun memberikannya ucapan selamat dan mulai membicarakan hal – hal yang menarik diwilayah perbatasan Timur tanpa Jiang Shing tahu ada sepasang mata dingin yang tersembunyi dibelakang mengintainya sejak tadi.
Sepasang mata itu terus menatap tajam Jiang shing, seolah – olah dia adalah ular berbisa yang bersembunyi di rerumputan menunggu kesempatan untuk menyerang dan menggigitnya sampai mati.
Tapi tidak dengann Jiang Xia Yan, dia cukup tahu dan telah mengamati semua pergerakannya sejak tadi. Gadis itu sama sekali tak akan melepaskan buruannya malam ini.
Melihat pangeran Ming Qianfan tampaknya mentargetkan ayahnya, keingginan Jiang Xia Yan untuk menghancurkan adik kaisar Ming Qin itu semakin tinggi.
Dengan satu gerakan, diapun segera memanggil Lin dan berbisik ditelinganya sambil menyerahkan sekantong emas untuk memuluskan rencananya.
“ Tidak akan lama lagi pertunjukan menarik akan terjadi….”, batin Jiang Xia Yan senang.
Tiba – tiba sosok yang sedari tadi mengintai dalam diam mulai menampakkan diri didalam pesta malam ini.
__ADS_1
Kemunculan tiba – tiba pangeran Ming Qianfan dalam perayaan kali ini membuat para wanita merasa terganggu sedangkan para pria terlihat kebingungan.
Namun para keluarag kekaisaran menatap kehadiran pangeran Ming Qianfan dengan tenang karena tahu maksud tujuan lelaki paruh baya tersebut berada dalam pesta ini.
Ditempat yang tak jauh dari pangeran Ming Qianfan duduk, Jiang Xiuying mencengkeram ujung gaunnya dengan sangat erat.
Pikiran nona muda tertua Jiang itu diliputi oleh ketakutan akan penyiksaan yang dilakukan oleh pangeran Ming Qianfan terhadapnya beberapa waktu yang lalu hingga membuatnya kehilangan masa depan seperti ini.
“ Ying’er…”
“ Tenanglah…”
“ Jangan takut….”, Qianyi terus berbicara ditelinga Jiang Xiuying dan memeluknya dengan sangat erat agar gadis itu tak menjerit histeris.
“ Hari ini pangeran Ming Qianfan disini untuk mengurus p*****r kecil itu untukmu…”
“ Tunggu sampai p*****r kecil itu memasuki istana pangeran Ming Qianfan…”
“ Dia akan sangat menderita….”
“ Dan pada akhirnya akan memilih mati….”, bisik Qianyi pelan.
Ketika kaisar dan permaisuri sudah duduk disinghasananya, tiba – tiba suara berat pangeran Ming Qianfan memecah kesunyian.
“ Kakak kaisar….”
“ Beberapa hari yang lalu, sehubungan dengan janji untuk memilih Wangfei….”
“ Adik laki – laki ini telah memikirkan masalah ini dengan sangat jelas….”
“ Dan adik laki – laki ini tertarik pada nona muda keluarag Jiang….”
Pangeran Ming Qianfan berbicara sangat lambat seolah – olah dia ingin setiap kata yang keluar dari mulutnya didengar dengan jelas oleh semua orang yang ada dalam aula utama istana kekaisaran saat ini.
Tapi sorot matanya yang tajam seperti ular berbisa yang membelit mangsanya dan pandangannya jatuh pada wanita muda dengan gaun sutra berwarna biru tua yang duduk diujung ruangan dengan tenang.
“ Apa itu Jiang Xia Yan….”, bisik – bisik mulai terdengar memecah kesunian yang ada dan semua orang mulai mengikuti arah pandang adik kaisar Ming Qin tersebut dengan tatapan terkejut.
__ADS_1