
Pada saat musim gugur sudah hampir berlalu dan berganti dengan musim dingin yang sebentar lagi tiba, udara di ibukota semakin dingin.
Akhir tahun yang dianggap cukup menyedihkan bagi keluarga besar Jiang. Setelah Jiang Xiuying masih terbaring ditempat tidur, sang ibu juga tak bisa kemana – mana karena mengkhawatirkan kondisi putrinya.
Sementara Jiang Xia Yan masih berada di aula leluhur untuk menjalani hukumannya. Dan saat ini yang cukup berbahagia adalah Jiang Xialun karena dia bebas kemana saja tanpa terikat apapun.
Bahkan kemalangan yang menimpah kakak tertua dan adik ketiganya sama sekali tak membuat hatinya sedikitpun menaruh rasa simpati.
Sebelum pergi meninggalkan ibukota, tabib Ryu telah meresepkan vitamin dan obat menahan mual untuk Jiang Xiuying.
Qianyi berpikir dia tak mungkin untuk terus menyembunyikan tentang masalah kehamilan putrinya selamanya.
Jika perut Jiang Xiuying mulai membesar, maka sudah tak akan bisa lagi disembunyikan dan fakta mengenai putrinya hamil tanpa suami pasti akan tersebar dan memperburuk nama besar keluarga Jiang terutama keluarga kedua dan dirinya.
“ Tidak….”
“ Aku harus memikirkan jalan lain untuk masalah ini….”
Qianyi terus saja berguman sendiri tanpa henti, berusaha untuk mencarikan solusi atas permasalahan sang putri.
Sementara itu, Jiang Quon yang tak mengetahui jika putrinya tengah hamil saat ini sedang mencarikan suami yang bisa membantunya keluar dari permasalahan dan pilihannya jatuh kepada putra sulung sekretaris menteri keuangan, Ciu Lang.
Meski keluarga Ciu sangat sulit untuk diajak berurusan, namun jika Jiang Xiuying bisa baik pada putra sulungnya Ciu Lang maka kehidupannya pasti akan terjamin.
Selain itu, melalui keluarga Ciu karir Jiang Quon didalam pemerintahan juga akan semakin kokoh dimasa depan meski dia harus mengorbankan sang putri menikah dengan seorang lelaki gay.
Menurut Jiang Quon ini adalah keuntungan tersendiri bagi putrinya karena selama pernikahan Ciu Lang tak akan pernah menyentuh Jiang Xiuying itu artinya tak akan ada yang tahu jika putrinya sudah tak murni lagi.
Tapi pemikiran Jiang Quon ini dibantah langsung oleh Qianyi yang masih menghendaki putrinya menikah dengan lelaki yang status bangsawannya setara atau berada tidak jauh dari keluarga Jiang.
Perbedaan tersebut tentu saja membuat hubungan keduanya semakin dingin. Bahkan sekarang Jiang Quon sudah tak pernah lagi pulang kerumah dan lebih memilih tinggal bersama para selirnya dihalaman keluarga kedua.
Tapi kemudian kedatangan keluarga Huang ke kediaman keluarga besar Jiang membuat Qianyi semakin murka.
__ADS_1
Pasalnya keluarga Huang mengantarkan lamaran putra sulungnya Huang Yi untuk Jiang Xia Yan. Suatu hal yang membuat darah Qianyi mendidih seketika.
Sebelum ada keputusan, Qianyi pun segera pergi untuk menemui nyonya besar Jiang dan membicarakan mengenai masalah ini.
Dengan otak jahatnya, diapun segera menyampaikan semua rencana yang telah disusunya kepada nyonya besar Jiang.
“ Apa kamu yakin rencana ini akan berhasil ?...”, tanya nyonya besar Jiang sedikit ragu dengan ucapan Qianyi karena rencana terakhirnya yang gagal total hingga menyebabkan Jiang Xiuying menjadi gila seperti sekarang ini.
Qianyi merasa tidak senang waktu nyonya besar Jiang meragukannya. Meski merasa kesal, tapi dia tetap membujuk wanita tua tersebut agar mendukung semua rencana yang telah disusunnya kali ini.
Semua ini Qianyi lakukan demi bisa mengeluarkan Jiang Xiuying dari keterpurukan setelah hamil akibat pelecehan yang diterimanya.
“ Kuharap, kamu bisa menjalankan rencanmu sebelum Jiang Shing pulang. Itu artinya, bulan depan pesta pernikahan tersebut harus sudah berlangsung….”, ucap nyonya besar Jiang tegas.
“ Tentu saja…aku yang akan mengawal rencana ini sendiri….”, ucap Qianyi penuh keyakinan.
Setelah melihat jika nyonya besar Jiang telah mendukungnya, Qianyi pun melangkah menuju kediamannya dengan hati gembira.
Dia segera menyampaikan kepada suaminya jika dia menyetujui usul yang diberikan untuk menikahkan Jiang Xiuying dengan Ciu Lang.
“ Mau bagaimana lagi, Ying’er sudah menjadi seperti ini. Akupun juga tak memiliki pilihan lain….”, ucap Qianyi pura - pura sedih.
Jiang Quon pun melangkah keluar halaman rumahnya menuju kediaman Ciu untuk menyampaikan berita pernikahan putrinya dengan putra sulung mereka.
“ Nyonya…bagaimana jika tuan mengetahui rencana ini ?....”, tanya Duo cemas.
“ Tidak akan….”
“ Jikapun tahu, dia tak akan bisa berbuat apapun karena nyonya besar Jiang mendukung rencanaku sepenuhnya….”, ucap Qianyi santai.
“ Sekarang yang harus kalian lakukan adalah memastika bahwa p*****r kecil itu tak kabur dari kediaman karena itu akan menggagalkan rencanaku….”, ucap Qianyi tajam.
Sementara itu didalam aula leluhur, Lin terlihat menyelinap dan memasukkan sebuah surat kepada disela - sela pintu agar bisa dibaca oleh Jiang Xia Yan.
__ADS_1
Dia berharap nona mudanya itu memiliki rencana untuk menggagalkan niat busuk bibi keduanya yang ingin menukar pernikahannya dengan Jiang Xiuying.
Meski Lin tak memberitahunya, Jiang Xia Yan sudah mengetahui rencana busuk tersebut karena dia menguping pembicaraan antara Qianyi dengan nyonya besar Jiang.
“ Bibi kedua ini benar – benar sangat agresif…”
“ Dia memang cerdik sehingga tak bisa melewatkan kesempatan bagus begitu saja….”
“ Tapi, ini malah mempermulus langkahku untuk menghancurkannya…”
“ Kurasa pertunjukan kali ini akan sangat menarik….”, guman Jiang Xia Yan tersenyum lebar.
Menurut ingatan masa depan yang didapatkannya, Jiang Shing akan datang tepat pada saat ulang tahun nyonya besar Jiang dan itu berarti tidak akan lama lagi.
Dan kepulangan ayahnya kali ini sama sekali tidak bisa diprediksi oleh nyonya besar Jiang maupun oleh bibi keduanya karena kedua orang tua Jiang Xia Yan biasa pulang menjelang akhir tahun.
Dengan kata lain, kedua orang tua Jiang Xia Yan akan pulang lebih cepat dua bulan dari waktu yang biasanya karena mereka bisa memukul mundur pasukan pemberontak lebih cepat dari perkiaraan yang ada.
Jika didalam kehidupan Jiang Xia Yan yang dulu, ketika ayahnya datang dia sedang berada dikediaman pangeran kedua Ming Shin dan memaksa sang ayah untuk menikahkan dirinya dengan lelaki yang snagat dicintainya itu.
Maka kali ini Jiang Xia Yan akan memberikan kejutan yang tak terlupakan, tentunya bagi seluruh keluarga Jiang terutama keluarga kedua.
“ Aku sudah sangat tak sabar menunggu hingga waktu itu tiba….”, guman Jiang Xia Yan sambil membaca buku medis yang dia pegang.
Selain meningkatkan kekuatan tubuhnya, Jiang Xia Yan juga ingin meningkatkan kemampuan medisnya karena dia anggap hal tersebut sama pentingnya dengan kekuatan tubuhnya jika dia ingin bertahan hidup di jaman kuno ini.
Adanya persaingan yang cukup ketat membuatnya harus bisa mengobati diri sendiri jika terluka pada saat bertarung agar bisa menghemat waktu.
Selain ilmu pengobatan, dia juga belajar mengenai cara membuat racun dan penawarnya.
Dalam dunia kuno ini, selain berperang menggunakan kekuatan dan senjata pertarungan diam – diam juga menjadi salah satu strategi yang sering digunakan.
Selain untuk membunuh orang, racun juga beserta penawarnya bisa dia jual dengan harga sangat tinggi dalam lelang pasar gelap.
__ADS_1
Tentunya hal tersebut bisa menjadi alternatifnya nanti jika kesulitan mendapatkan uang, maka dia bisa menggunakan kemampuannya untuk berbinis.
Melihat peluang tersebut terbuka lebar, Jiang Xia Yan yang dalam kehidupan sebelumnya adalah seorang pebisnis unggul pun terlihat sangat bersemangat untuk belajar.