
Dikeluarga kedua tampak kesedihan menyelimuti kediaman sejak satu – satunya putri kediaman tersebut mengalami gangguan mental akibat pelecehan yang menimpah dirinya di kuil Guandong.
Rencana yang dikira sangat matang ternyata malah berbalik menyerangnya tanpa sedikitpun kejanggalan hingga membuat sang eksekutor tak mewaspadainya.
Tabib baru saja pergi, Jiang Xiuying diberikan obat untuk menenangkan sarafnya agar tak kembali mengamuk dan menyerang semua orang secara membabi buta.
Saat ini hanya hal tersebut yang bisa tabib itu lakukan selain memberikan salep agar luka luar yang diderita oleh nona tertua Jiang tersebut bisa segera kering dan pulih kembali.
Karena tabib tersebut adalah orang milik Jiang Quon maka kerahasiaan mengenai kejadian buruk yang menimpah Jiang Xiuying untuk sementara waktu masih bisa disembunyikan.
Qianyi berjalan mendekati ranjang dan melihat putrinya sedang tertidur pulas setelah meminum ramuan obat dari tabib yang memeriksanya.
Meskipun telah melihat berkali – kali, tapi tetap saja hati Qianyi hancur berkeping – keping melihat memar yang hampir menutupi seluruh tubuh putrinya itu.
Bukan hanya tubuh putrinya yang sakit, jiwanya juga terganggu karena traumatis yang cukup dalam akibat peristiwa tersebut.
Berkali – kali Qianyi menyalahkan diri sendiri karena terlalu bodoh dan lengah pada malam terjadinya tragedi itu.
Suara teriakan, jeritan, serta tangisan yang menyayat hati kembali menggema di gendang telinganya membuatnya hampir menjadi gila.
“ Ini semua gara – gara Jiang Xia Yan !!!....”
“ Gadis busuk itu !!!....”
“ Seharusnya dialah yang menerima semua rasa sakit ini !!!.....”
“ Bukan putri kesayanganku….”
“ Ying’er……”
Qianyi terus mengoceh dan berteriak sambil berderai air mata, membuat para pelayannya merasa ketakutan jika nyonya keduanya tersebut ikut menjadi gila seperti yang dialami oleh anaknya.
Melihat suaminya sudah berdandan rapi dan wangi, Qianyi dengan penuh amarah berteriak kepadanya “ Berhenti disana dan jangan berani melangkah keluar !!!....”
Melihat suaminya sama sekali tak mengindahkan peringatan darinya, Qianyi pun segera berjalan mendekat sambil berteriak lantang.
“ Ying’er sudah seperti ini dan kamu masih ingin pergi kehalaman rubah betina itu !!!!....”, teriak Qianyi penuh amarah.
Meski Jiang Quon sudah memiliki dua penerus dari istri sahnya, tapi sebagai lelaki yang haus akan belaian wanita dia juga memiliki beberapa selir dihalamannya.
Jika dalam kondisi normal, Qianyi tak perduli akan hal tersebut karena dia sudah memberikan obat agar suaminya tak bisa memiliki anak lagi dengan para selirnya setelah dia sempat kecolongan dengan kehadiran nona muda keempat dalam pernikahannya.
__ADS_1
Dan selama ini, Qianyi sangat berjasa untuk membuat posisi resmi suaminya berjalan lancar sehingga Jiang Quon sangat menghargainya.
Begitu kuatnya posisi Qianyi dalam kediaman keluarga kedua membuat para selir berparas cantik dan lembut tersebut tak mampu untuk bersaing dengannya.
Dan Jiang Quon pun selama ini tak pernah melewati batasan yang ada dan hanya menganggap selir yang ada dikediamannya hanyalah mainan yang bisa dia buang kapanpun dia bosan.
Tapi, saat ini kondisi tersebut tak berlaku bagi Qianyi. Kondisi putrinya cukup mengenaskan dan suaminya sama sekali tak perduli, bahkan melihat kedalam kamar Jiang Xiuying saja tidak.
Tentu saja hal tersebut membuat Qianyi sangat marah karena menganggap jika suaminya itu sama sekali tak menyayangi Jiang Xiuying.
“ Lebih baik kamu tak membuat masalah lagi. Aku sudah cukup pusing mengatasi semuanya….”, ucap Jiang Quon dengan wajah kesal.
Selain banyak pekerjaan di istana yang belum berhasil terselesaikan, dia mendapatkan kabar buruk mengenai kondisi putrinya yang hancur.
Ditambah lagi tadi dia berhasil dibungkam dengan telak hingga tak berkutik oleh keponakan yang biasanya patuh dan selalu menurut kepadanya.
Dan disisi lain, dia masih harus memikirkan tentang bagaimana sikap pangeran Ming Qianfan jika tahu bahwa gadis yang dia nikmati di kuil bukan Jiang Xia Yan melainkan putrinya Jiang Xiuying.
Konsekuensi buruk apa yang akan diterimanya dari pangeran Ming Qianfan dia sendiri masih tidak bisa merabanya.
Dan sekarang, istri yang biasanya cukup lembut dan pengertian menjadi pemarah dan tak tahu diri seperti ini tentu saja membuat Jiang Quoan membutuhkan waktu untuk menenangkan pikiran agar tak menjadi gila seperti istri dan anaknya.
Dan hiburan yang dia butuhkan hari ini adalah bermanja – manja dengan selirnya, melupakan permasalahn yang ada meski hanya sejenak.
Melihat suaminya hendak melarikan diri dari permasalahn yang ada, Qianyi pun segera merentangkan kedua tangannya, menghalangi suaminya agar tak melangkah keluar kediaman.
“ Memikirkan apa ?!!!....”
“ Kamu hanya tahu bagaimana caranya menghindar !!!....”
“ Apa arti Ying’er dihatimu ?!!!.....”
“ Sekarang dia telah menjadi seperti ini dan kamu sebagai seorang ayah sama sekali tak perduli akan hal ini !!!....”
“ Aku sekarang sangat yakin jika Ying’er sama sekali tak ada dihatimu !!!.... ”
“ Bagaimana bisa ada ayah begitu kejam terhadap putrinya sepertimu !!!....”
“ Bahkan anjing saja masih akan melindungi anaknya jika melihat ada bahaya !!!....”
“ Kamu !!!.....”
__ADS_1
“ Bahkan masih ada waktu untuk bersenang – senang dengan rubah betina itu !!!....”
Qianyi terus mengoceh sambil berteriak lantang, mengungkapkan semua ketidak puasannya yang selama ini menganjal dalam hati.
Mendengar ucapan dan teriakan Qianyi, bukan hanya Jiang Quon saja yang sangat terkejut, bahkan semua pelayan yang ada dalam kediaman keluarga kedua juga sampai terbelalak tak percaya jika semua kata kasar itu diucapkan oleh nyonya kedua Jiang.
Dimana wanita yang selalu tenang dan berpikir rasional dalam menyelesaikan permasalahan yang ada itu sekarang.
Semua orang menatap Qianyi dengan rasa ngeri. Bahkan Jiang Quon sudah seperti melihat orang asing, bukan istri yang telah menemaninya selama dua puluh tahun ini.
“ Aku sama sekali tak menyangka jika kamu sangat kasar….”, ucap Jiang Quon mencemoh.
Selama ini dia cukup sabar dan mentoleransi setiap tindakan dan perilaku buruk istrinya. Tapi untuk hari ini, dia tak bisa lagi berpura – pura baik didepan wanita itu.
“ Kamu bilang aku bukanlah ayah yang baik ?....”
“ Lalu, bagaimana dengan dirimu ?....”
“ Apakah kamu sudah menjadi ibu yang baik ?....”
“ Ying’er dibawa ke kuil Guandong olehmu….”
“ Dan seharusnya kamu menjaganya dengan baik….”
“ Selama disana, kamu tepat berada disampingnya…”
“ Tapi, kamu malah membiarkannya jatuh ke jurang kesakitan tepat dibawah kelopak matamu….”
“ Malam kejadian naas itu….”
“ Bukankah kamarmu ada disamping kamarnya….”
“ Dalam jarak yang begitu dekat…..”
“ Bagaimana bisa kamu tidak mengenali suara teriakan dan tangisan anakmu sendiri….”
Ucapan Jiang Quon pelan tapi langsung mengenai hati Qianyi. Seperti pisau tajam yang dilemparkan tepat dihatinya dan menabur garam diatas lukanya membuatnya terpana ditempat.
Sakit tapi tak berdarah, itulah yang Qianyi rasakan saat ini. rasa bersalah yang teramat dalam kembali hadir dalam hatinya.
Membuat tubuhnya seketika lemas tak bertenaga hingga jatuh lunglai kelantai. Melihat istrinya lemah tak berdaya seperti itu, bukannya kasihan Jiang Quon malah pergi dan melewatinya begitu saja tanpa beban.
__ADS_1
Hanya para pelayan yang membantunya untuk bangun dan mendudukkannya diatas kursi agar tubuhnya tidak kedinginan.