Pembalasan Dendam Putri Jenderal Perang

Pembalasan Dendam Putri Jenderal Perang
DRAMA PAGI INI


__ADS_3

Setelah hujan deras semalaman, pagi ini udara dipenuhi aroma lembab tanah yang menyegarkan. Semua daun terlihat layu namun tak menghilangkan rasa sejuk yang ada.


Suara lonceng yang bergema diseluruh kuil membangunkan semua orang yang tertidur lelap malam ini dan menyadarkan para biksu yang sedang berdoa di aula doa.


Semua biksu menyapa Jiang Xia Yan dengan sopan dan memberikan secangkir teh panas waktu melihat ada dua orang gadis muda ikut berdoa dengan mereka semalaman.


Qianyi yang semalaman bermimpi buruk pagi ini terbangun dengan tubuh penuh dengan keringat padahal udara sangat dingin saat ini.


“ Nyonya sudah bangun ?...”, tanya Duo sambil membawa baskom bersisi air hangat.


Dengan telaten dia menyeka wajah nyonya kedua Jiang tersebut dengan handuk bersih kecil yang telah dicelupkan kedalam air hangat.


Meski jantungnya masih berdetak kencang, tapi ketika air hangat menyentuh wajahnya perlahan tubuhnya mulai kembali rileks.


Setelah membersihkan wajah, leher dan kedua tangan Qianyi, Duo pun bergegas menyiapkan pakaian untuk nyonya kedua Jiang kenakan pagi ini.


“ Ganti pakaian ini dengan warnah yang lebih cerah….”, perintahnya sebelum masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Sejak usianya terus bertambah, Qianyi jarang menggunakan pakaian dengan warna cerah dan lebih banyak tampil dengan warnah yang lebih gelap mengikuti usianya.


Meski bermimpi buruk, tapi dia ingin menyambut kebahagiaan pagi ini dengan senyum dan semangat maka dia pilih memakai baju berwarna cerah agar moodnya hari ini tak menjadi turun.


“ Suasana hati nyonya tampaknya sedang bagus dan warna cerah akan membuatnya terlihat lebih segar dan bersemangat….”, guman Duo sambil tersenyum lebar.


Qianyi melihat kecermin yang ada dihadapannya sambil tersenyum puas. Dia merasa suasana hatinya semakin baik dan bersemangat setelah melihat penampilannya yang segar pagi ini.


“ Ayo kita pergi. Sudah saatnya memanggil keponakanku tersayang yang “ lelah ” untuk makan….”, ucapnya tersenyum licik.


Paviliun utara adalah tempat paling ujung dan terpencil sehingga sangat sepi dan tak ada biksu maupun pelayan yang berkeliaran disana.


Menyadari fakta yang ada, Qianyipun tersenyum puas. Dia menyangka jika pangeran Ming Qianfan pasti telah menyingkirkan semua orang sehingga paviliun utara menjadi setenang ini.


Jika bukan karena takut insiden ini akan diselidiki, Qianyi mungkin sudah mengumumkan kepada dunia apa yang terjadi malam tadi.


Mengingat jika melakukan hal tersebut dia akan menanggung konsekuensi yang cukup dalam maka dia hanya bisa menekan rasa senang yang mulai membuncah dalam hatinya.


“ Pergi dan ketuk pintunya….”, perintah Qianyi tegas.


Qianyi menatap pintu kamar dengan tatapan jijik dan merendahkan. Seolah seseorang yang ada didalamnya sangat tidak pantas untuk dia lihat.

__ADS_1


“ Nona muda ketiga….nyonya kedua ada disini untuk menjemputmu sarapan bersama….”, teriak Duo sambil mengetuk pintu beberapa kali.


Tidak ada tanggapan atau pergerakan didalam membuat Duo kembali berteriak memanggil, kali ini dengan suara lebih lantang daripada yang tadi.


Setelah menunggu agak lama tapi tak ada siapapun menjawab atau membukakan pintu, Qianyi pun mulai mendengus kesal atas perilaku tak sopan keponakannya itu.


“ Nona muda ketiga ini benar – benar anak pemalas….. ”


“ Langit sudah cerah tapi dia juga masih belum beranjak dari tempat tidurnya….”


“ Biar aku yang melakukannya….”, ucapnya sambil menarik bahu Duo agar minggir dari depan pintu.


Qianyi pun segera melangkah menuju pintu sambil mendengus kesal. Namun dia berusaha untuk tetap sabar dan mulai mengetok pintu beberapa kali.


“ Nona ketiga…sekarang waktunya bangun dan makan. Setelah makan kita masih harus berdoa….”, ucap Qianyi lembut.


Masih tidak ada tanggapan dari dalam membuat Qianyi akhirnya mulai hilang kesabaran dan menyuruh para pengawal yang dibawanya untuk mendobrak pintu.


Namun, begitu drbrlum pintu terbuka dan Qianyi hendak masuk, ada suara lembut seorang gadis datang menyapanya.


“ Bibi kedua….”, ucap Jiang Xia Yan lembut.


Bukan hanya Qianyi yang terkejut, tapi semua orang yang ada didepan pintu sangat terkejut melihat Jiang Xia Yan datang bersama Jiang Xialun.


Hari ini Jiang Xia Yan memakai sutra putih dengan hiasan bungga peony dibagian bawahnya membuat gadis itu terlihat sangat polos dan suci.


“ Kenapa nona ketiga memakai pakaian polos seperti ini seolah keluarga kita sedang berduka…”, ucap Qianyi tak senang.


“ Bibi hari ini terlihat bersemangat memakai pakaian berwarna cerah seperti ini….”, ucap Jiang Xia Yan menyindir.


Qianyi yang menyadari pakaiannya hari ini akhirnya teringat kembali tujuannya pagi ini. Tapi, bagaimana Jiang Xia Yan terlihat sangat tenang setelah apa yang terjadi semalam.


Untuk memastikan keraguannya, Qianyi berjalan kearah Jiang Xia Yan sambil berkata “ Apakah nona ketiga tidur nyenyak tadi malam ?....”.


“ Terimakasih atas perhatian bibi kedua. Tapi, semalam aku terbangun karena mimpi buruk sehingga memutuskan untuk berdoa bersama Lin diaula doa hingga pagi…”, ucap Jiang Xia Yan santai.


Jderrr…..


Hati Qianyi seperti tersambar petir dipagi hari mendengar ucapan yang keluar dari mulut keponakannya itu.

__ADS_1


Tiba – tiba alarm dalam diri Qianyi berbunyi sangat nyaring dan banyak pertanyaan mulai muncul dikepalanya.


“ Apa ?...."


" Dia tidak tidur semalaman ?....”


“ Jika begitu suara tadi malam….”


“ Itu siapa ?....”


Rasa takut mulai melanda dalam hati Qianyi dan berbagai spekulasi mulai terlintas acak dalam benaknya saat ini.


“ Tidak !!!...kurasa dia sedang berbohong sekarang….”, Qianyi berusaha untuk menenangkan hatinya yang mulai cemas.


Namun, rasa panik kembali melanda hatinya waktu melihat leher putih Jiang Xia Yan masih bersih tanpa noda setitikpun.


Padahal sangat jelas dia mendengar suara tangisan yang menyayat hati semalam. Dan pangeran Ming Qianfan adalah lelaki yang senang bermain brutal dengan wanita.


“ Bagaimana mungkin dia tak meninggalkan jejak apapun ditubuh Jiang Xia Yan !!!....”, pekik batin Qianyi resah.


Jiang Xialun terlihat binggung sambil bergantian memandang bibi keduanya dengan adik ketiganya yang masih saling bertatapan tanpa ada yang bersuara dalam waktu lama.


“ Sesuatu pasti telah terjadi….”, batin Jiang Xialun dengan tatapan menyelidik.


Meski tak tahu apa yang sedang terjadi, namun Jiang Xialun sudah bisa menerka jika ini pasti berkaitan dengan rencana bibi keduanya membawa mereka kesini.


Kegelisahan Qianyi semakin memuncak, diapun dengan implusif menarik tangan Jiang Xia Yan sambil berkata “ Cuaca sangat dingin, kenapa nona ketiga memakai pakaian setipis ini….” ucapnya sambil menari lengan baju keponakannya itu hingga tertarik keatas.


Kedua mata Qianyi langsung terbelalak waktu melihat lengan Jiang Xia Yan masih bersih dan terlihat seputih salju tanpa celah sedikitpun.


Qianyi terlihat berdiri mematung dengan tatapan kosong kedepan. Hatinya semakin resah dan gelisah serta ketakutan yang ada dalam hatinya terus tumbuh.


“ Ada apa bi ?....”


“ Sepertinya bibi kedua sedang memeriksa sesuatu di tubuhku ?....”, tanya Jiang Xia Yan dengan tatapan menyelidik.


Meski dia sangat tahu jika bibi keduanya itu pasti merasa heran setelah memeriksa tubuhnya yang masih mulus tanpa ada bekas percintaan semalam, tapi Jiang Xia Yan tetap memasang wajah polos demi aktingnya.


“ Aku jadi ingin tahu bagaimana reaksimu jika mengetahui bahwa putrimu lah yang menjadi korban dari rencana licikmu itu….”, batin Jiang Xia Yan tersenyum puas.

__ADS_1


__ADS_2