Pembalasan Dendam Putri Jenderal Perang

Pembalasan Dendam Putri Jenderal Perang
KEMALANGAN RUO XINXIN


__ADS_3

Satu minggu setelah Jiang Xialun menikah, nyonya besar Jiang langsung mengelar pesta pernikahan yang meriah untuk Jiang Yu.


Bahkan wanita tua tersebut relah menjual barang – barang berharganya yang dia simpan demi bisa menggelar sebuah pesta mewah yang dihadiri oleh banyak pejabat tersebut.


Selama pesta berlangsung Ruo Xinxin sama sekali tak menampakkan batang hidungnya karena sakit setelah Jiang Xialun menikah dan suaminya mengelar pesta mewah dikediaman.


“ Nona...”


“ Apakah anda akan datang ke kediaman Jiang ?....”, tanya Lin penasaran.


“ Bukankah kita tidak diundang, lalu untuk apa kita datang….”, ucap Jiang Xia Yan tenang.


Diapun kemudian melanjutkan membaca buku strategi perang yang ada dihadapannya. Lin yang melihat hal tersebut terpaksa mundur tak ingin menganggu nona mudanya lagi.


Sementara itu Jiang Shing bersama istrinya saat ini sedang menghadiri acara pernikahan koleganya tepat dimalam sang adik menikah.


Jiang Shing juga tak ambil pusing karena tak diundang oleh keluarganya karena baginya sekarang keluarga kecilnya adalah yang terpenting.


Semua orang yang mengetahui hal tersebut merasa jika perseteruan antara Jiang Shing dengan keluarga besar Jiang tampaknya tak akan pernah menemui titik temu.


Karena sekarang Jiang Yu adalah menantu dari wakil perdana menteri, semua pejabatpun mulai datang untuk menjilat.


Nyonya besar Jiang merasa bahagia waktu melihat kediamanannya kembali dipenuhi oleh pera pejabat dan bangsawan yang hadir untuk mengucapkan selamat kepada putra bungsunya.


Disudut ruangan terlihat Jiang Quon merasa iri hati atas kebahagiaan sang adik. Dia hanya menghabiskan minuman sendirian tanpa ada seorang pun yang berniat untuk mendekatinya


Kabar dirinya yang tak akan pernah bisa memiliki keturunan lagi membuat para pejabat dan bangsawan tidak mau menikahkan putranya dengan tuan kedua Jiang tersebut.


Dihalaman rumah tangga ketika, Ruo Xinxin harus menelan kepedihannya seorang diri meratapi kemalangan nasibnya saat ini.


Setelah tandu pernikahan yang membawa Jiang Xialun pergi, nyonya ketiga Jiang tersebut pingsan dan hingga kini kondisinya sangat lemah.


Dia hanya bisa mendengar kebisingan dan kemeriahan pesta pernikahan suaminya dari atas ranjang hanya ditemani oleh Ren An, pelayan pribadinya.


“ Aku harus memikirkan cara untuk membuat j****g itu pergi dari kediaman ini….”


“ Bagaimanapun posisi nyonya rumah akan tetap berada ditanganku….”, batin Ruo Xinxin penuh emosi.


Ren An yang melihat majikannya mulai emosi berusaha untuk meredakan amarah Ruo Xinxin dengan mengeluarkan beberapa kata manis dan menyanjung.


“ Nona Mo Lin belum mengetahui dengan jelas kondisi dikediaman Jiang….”


“ Bagaimanapun, nyonya adalah nyonya rumah disini….”


“ Sebagai seorang selir, nona Mo Lian harus menghormati anda sebagai nyonya sebagai nyonya rumah dikediaman Jiang ini…..”, ucap Ren An manis.


Mendengar ucapan Ren An, sudut bibir Ruo Xinxin sedikit terangkat. Dengan status dan posisinya saat ini yang lebih tinggi tentunya bisa menekan Mo Lian secara perlahan hingga pada akhirnya dia akan meninggalkan kediaman Jiang dengan sukarela.


Sementara itu, Feng Mo Tian yang masih penasaran mengenai rencana Jiang Xia Yan malam ini kembali menyelinap masuk menggunakan sihir penghilang raga.


Hati Feng Mo Tian sedikit lega waktu tak melihat Yuyun berjaga didepan kamar Jiang Xia Yan karena menurutnya gadis pelayan itu sudah mencurigai kedatangannya tempo hari.

__ADS_1


“ Apa yang tuan muda Feng inginkan ?....”


“ Bukankah sangat tidak sopan menerobos masuk kedalam kamar seorang gadis malam – malam seperti ini ?....”, ucap Jiang Xia Yan tajam.


“ Nona muda ketiga memang hebat….”


“ Bahkan ilmu sihirku juga tak bisa mengelabuimu….”, ucap Feng Mo Tian terkekeh.


“ Aku tak menyangka tuan muda Feng masih memiliki waktu senggang setelah semua hal yang terjadi dikediaman Feng ?....”, ucap Jiang Xia Yan menyindir.


“ Tenang saja….”


“ Masalah dikediaman Feng, tuan muda ini bisa mengatasinya….”, ucap Feng Mo Tian congkak.


Jiang Xia Yan menatap malas Feng Mo Tian, tapi dia juga menapresiasi ketenangan Feng Mo Tian dalam menghadapi kemelut yang ada dikediamanannya.


“ Jika aku jadi kamu….”


“ Aku tak akan membiarkan Muro Nan dan kedua anaknya bersenang – senang terlalu lama….”, ucap Jiang Xia Yan tersenyum sinis.


“ Lalu bagaimana dengan kamu sendiri….”


“ Bukankah kamu juga terlalu lamban membiarkan keluarga ketiga menikmati keberhasilan…”


“ Bahkan sekarang Jiang Yu sudah menjadi menantu wakil perdana menteri….”, ucap Feng Mo Tian dengan senyum mengejek.


“ Kebahagiaan itu tak akan bertahan lama….”


“ Sebentar lagi, bukan hanya keluarga ketiga yang hancur….”


Feng Mo Tian kembali terkekeh melihat ketenangan dan kematangan setiap rencana yang dibuat Jiang Xia Yan yang sama sekali tak menghasilkan celah.


Bahkan gadis itu tak perlu repot – repot untuk mengotori tangannya demi mencapai tujuannya. Cara yang bagus dan licik, membuat Feng Mo Tian susah untuk berpaling.


“ Kali ini….”


“ Aku akan kembali mendengarkan saran nona muda ketiga….”


“ Kurasa, sudah cukup bagiku untuk bermain – main dengan wanita ular dan kedua anaknya itu….”, ucap Feng Mo Tian dengan kilatan tajam penuh kekejaman tersirat dibola matanya waktu mengucapkan kalimat tersebut.


“ Baiklah….”


“ Aku menanti pertunjukkan bagus dari tuan muda Feng….”, ucap Jiang Xia Yan tulus.


Untuk sesaat, keduanya terdiam dan sibuk dengan pemikiran masing – masing hingga ucapan Feng Mo Tian memecah kesunyian yang ada.


“ Lalu….”


“ Apa rencanamu untuk pangeran kedua Ming Shin ?....”


“ Mungkin lebih tepatnya, kembarannya ?....”, ucap Fneg Mo Tian dnegan tatapan penuh selidik.

__ADS_1


“Aku sudah punya rencana tersendiri untuk itu…”


“ Dan kali ini, aku akan sedikit merepotkan tuan muda Feng….”, ucap Jiang Xia Yan sambil melirik Feng Mo Tian yang duduk dihadapannya sambil memainkan cincin giok di jempol tangannya.


“ Tuan muda ini akan dengan senang hati membantu….”


“ Jika sudah tiba waktunya…”


“ Kabari aku….”, ucap Feng Mo Tian tersenyum lebar.


Setelah mengatakan hal tersebut, Feng Mo Tian langsung menghilang begitu aura Yuyun mulai berjalan mendekat kearah kamar Jiang Xia Yan.


“ Tak kusangka dia takut dengan kehadiran Yuyun…..”, guman Jiang Xia Yan dengan senyum mengejek.


Pagi hari yang hangat dan ceria begitu terasa dikediaman ketiga Jiang. Sepasang pengantin yang telah resmi semalam diliputi kebahagiaan yang tak terkira.


Bahkan keduanya tak lagi malu untuk menunjukkan kemesraan yang ada hingga membuat banyak pelayan terpaksa pergi karena tak ingin menganggu kebahagiaan keduanya.


“ Dasar j****g tak tahu malu !!!!....”, geram Ruo Xinxin sambil mengertakkan giginya menahan amarah yang mulai memuncak.


Semenjak hari itu Ruo Xinxin terus saja mencari masalah dengan Mo Lian jika Jiang Yu sedang pergi keistana.


Tapi Mo Lian terlalu licik, bahkan dia beberapa kali membuat Ruo Xinxin pada akhirnya mendapatkan amarah dari nyonya besar Jiang karena jebakan yang dilakukan oleh madunya itu.


Bahkan sekarang suaminya sudah berani bermain kasar bahkan memukulinya jika Ruo Xinxin berani melukai atau membuat Mo Lian menangis.


Kesalahan demi kesalahan yang dibuat oleh Ruo Xinxin pada akhirnya membuat nyonya besar Jiang mencabut posisinya sebagai nyonya rumah dan mengantikannya kepada Mo Lian.


Bahkan nyonya besar Jiang tak segan – segan akan mengusir Ruo Xinxin jika dia masih tak mau menyerahkan posisinya dan terus berbuat ulah.


“ Sebaiknya, wanita yang tak berguna sepertimu jangan membuat ulah jika tak ingin dibuang oleh keluarga Jiang….”, ucap Mo Lian dengan senyum mengejek.


Ruo Xinxin hanya bisa terdiam sambil menahan amarah yang terus bergejolak dalam hatinya, mengutuk Mo Lian dalam hati.


Kehilangan posisi didalam rumah tangga dan hati suaminya membuat kesehatan Ruo Xinxin perlahan mulai menurun.


Apalagi dia sering mendapat kabar jika nasib putrinya didalam kediaman Lin sangat tragis.


Bukan hanya tak dicintai, Jiang Xialun juga mendapatkan kekerasan fisik dan psikis disana hingga membuatnya seperti mayat hidup sekarang.


Sebagai seorang ibu yang tak bisa berbuat apapun untuk bisa membantu putrinya membuat hati Ruo Xinxin terasa sangat sakit.


Hal ini juga semakin memperburuk kondisi kesehatannya hingga dia hanya bisa berbaring lemah diatas tempat tidur selama beberapa hari.


“ Aku rasanya sudah tak sanggup lagi menghadapi semua ini….”, ucap Ruo Xinxin putus asa.


“ Nyonya….”


“ Nyonya tidak boleh berbicara seperti itu….”


“ Nona muda kedua masih membutuhkan perhatian nyonya….”

__ADS_1


“ Meski tak bisa bertemu, setidaknya nona muda masih bisa berkirim kabar dengan nyonya hingga nona muda merasa tak sendirian….”, ucap Ren An berusaha untuk membesarkan hati majikannya.


Mendengar itu, air mata Ruo Xinxin semakin mengalir dengan derasnya membasahi pipi. Meski tak bertemu, tapi Jiang Xialun masih bisa bertukar kabar dengannya.


__ADS_2