
Disebuah padang rumput yang luas terdapat seorang lelaki dengan surai hitam panjang baru saja membuka matanya setelah dia terpejam selama empat hari lamanya.
Krekkkk….
Krekkkk….
Diapun bangun dan mulai menggerakkan tubuhnya yang kaku selama beberapa saat sambil tersenyum licik.
“ Ternyata tubuh ini lumayan bagus….”, guman Ming Ming meneliti tubuh barunya.
Setelah kaisar Ru Xie Chang menghancurkan titik meridiannya, Ming Ming pun mulai mencari inang baru untuk jiwanya karena dia tak mungkin menggunakan tubuh saudara kembar pangeran Ming Shin yang telah rusak tersebut untuk menjalankan rencananya.
Untungnya dia dengan mudah mendapatkan tubuh baru yang sesuai untuk ditempati, maka tak membutuhkan waktu yang lama lelaki tersebut segera melakukan ritual perpindahan jiwa.
Selain mendapatkan tubuh baru yang cukup kuat, Ming Ming juga bisa menggunakan raga lamanya untuk mengelabui kaisar Ming Qin agar tak kembali mengejarnya dan menjadikan tubuhnya tersebut sebagai pangeran kedua Ming Shin.
Sesuai harapan, kaisar Ming Qin yang tidak mengetahui perbedaan antara putra keduanya dengan saudara kembarnya tersenyum puas waktu melihat dengan kelapa sendiri jika pangeran kedua Ming Shin telah ditemukan dalam kondisi tak bernyawa.
Karena sudah menganggap jika anak keduanya itu sebagai pengkhianat maka tidak ada ritual khusus bagi jenazahnya dan menyuruh para pengawal untuk memakamkannya dipemakaman umu, bukan didalam istana seperti keluarga kekaisaran yang lainnya.
Kabar meninggalnya pangeran kedua Ming Shin yang sampai ke telinga selir Hien membuat kondisi wanita tersebut berangsur – angsur mengalami penurunan yang drastis.
Bahkan kondisinya saat ini sudah sangat memprihatinkan, seperti mayat hidup yang tidak mati namun juga tidak hidup.
Kondisi selir Hien tersebut tentu saja membuat permaisuri Yihua merasa senang karena tak perlua menggunakan tangannya sendiri untuk menyingkirkan wanita tersebut, namun keadaanlah yang akan membuatnya mati mengenaskan.
Ming Ming yang baru saja menempati tubuh barunya segera melatih tubuh tersebut dengan baik. Setelah dirasa tubuhnya telah siap maka diapun mulai menjalankan aksinya.
Disebuah gudang beton yang terletak ditengah hutan dan diselimuti aura sihir, perlahan lelaki bersurai hitam panjang tersebut masuk dan langsung mengeluarkan botol dan mulai terbang diatas ruangan sambil menuangkan cairan berwarna hitam kelam tersebut hingga rata menembus tubuh para mayat yang bertumpuk dibawanya.
Mayat – mayat tersebut sudah cukup lama diakumpulkan. Jika dilihat dari pakaian yang mereka kenakan maka bisa dipastikan jika mayat tersebut merupakan para pasukan yang gugur dalam medan pertempuran.
Selain mayat para pasukan perang yang telah terlatih disana juga terlihat beberapa mayat para bandit yang mati karena perkelahian.
Setiap dua bulan sekali Ming Ming akan mendatangi tempat tersebut demi memberikan mereka cairan sihir agar tubuh mereka tak membusuk dan tetap kesat seperti pada saat masih hidup.
Selain itu, dia juga memperbarui pelindung sihir yang dibuat diluar gudang agar tak ada satupun makhluk hidup bisa mendeteksi keberadaannya.
“ Akhirnya sebentar lagi aku bisa menggunakan mereka…”, guman Ming Ming puas.
Setelah tugasnya selesai diapun segera melesat pergi meninggalkan hutan dengan smirk devil tercetak jelas diwajahnya.
__ADS_1
Sedangkan ditempat lain, pangeran kedua Ming Shin yang sudah tak lagi diburu terlihat sedang berbicara serius dengan jenderal Lee.
“ Jadi menurut anda itu adalah waktu yang tepat untuk menyerang ?....”, tanya pangeran kedua Ming Shin antusias.
“ Benar Yang Mulia….”
“ Pada saat dekrit dibacakan, saya rasa permaisuri akan langsung menggadakan acara untuk merayakan pengangkatan pangeran pertama Ming Zheting dan saat itu saya bisa pastikan kondisi istana dalam kondisi tak seketat biasanya….”, ucap jenderal Lee tersenyum licik.
“ Baiklah….”
“ Anda atur semuanya dan pastikan rencanan ini jangan sampai gagal….”, ucap pangeran kedua Ming Shin penuh penekanan.
“ Tenang saja Yang Mulia, semua sudah berada dalam kendali saya…. ”, ucap jenderal Lee congkak.
Tanpa keduanya ketahui sejak tadi ada dua pasang telingga setia mendengarkan setiap kata yang mereka ucapkan sambil tersenyum sinis.
“ Bagaimana menurutmu ?....”, tanya Feng Mo Tian santai.
“ Tentu saja aku tak akan menghalangi mereka untuk menghancurkan kaisar Ming Qin….”
“ Dan setelah mereka berhasil….”
Jiang Xia Yan sangat ingin melihat kehancuran keluarga kekaisaran Ming secepatnya. Karena sekarang ada pangeran kedua Ming Shin yang akan melakukannya, maka dia hanya perlu menjadi penonton saja dan bertindak pada saat dibutuhkan.
“ Kali ini, demi membalas budiku padamu karena berhasil hidup dan keluar dari permasalahan selama dimedan pertempuran maka pasukan keluarga Feng akan membantu pasukan keluarga Jiang….”, ucap Feng Mo Tian menawarkan bantuan.
“ Syukurlah jika tuan muda Feng tahu diri….”, ucap Jiang Xia Yan menyindir.
“ Tentu saja tuan muda ini tak akan pernah melupakan kebaikan nona muda ketiga Jiang kepada kami….”, ucap Feng Mo Tian terkekeh.
Selain sebagai balas budi, keputusan Feng Mo Tian untuk membantu ini juga sebagai upaya dirinya bisa menjadi dekat dengan Jiang Shing dengan harapan hubungan buruk antara keluarga Feng dan keluarga Jiang bisa hilang.
Jika hubungan dua keluarga sudah membaik, tentunya dia akan semakin mudah untuk mendekati Jiang Xia Yan dimasa depan.
Sejak berdiskusi beberapa waktu yang lalu, saat ini Jiang Chen diam – diam mulai mengamati jenderal Lee dari kejauhan.
Meski pasukan yang dibuat oleh jenderal Lee tak terlalu membahayakan pasukan milik keluarag Jiang tapi dirinya juga harus waspada sebagai bentuk antisipasi awal.
Jiang Xia Yan sedikit cemas waktu mengetahui jika mayat yang disinyalir sebagai pangeran kedua Ming Shin bukanlah jasad lelaki tersebut melainkan jasad Ming Ming saudara kembarnya.
“ Apakah Ming Ming berganti tubuh lagi…”
__ADS_1
“ Jika benar, maka aku harus segera menemukan keberadaannya….”, guman Jiang Xia Yan gelisah.
Untuk mempercepat pencarian, Jiang Xia Yan memberikan Feng Mo Tian ramuan yang telah dia campur dengan permata hitam milik Ming Ming agar lelaki tersebut bisa merasakan keberadaan jiwa Bai Sheng.
“ Jika pangeran kedua Ming Shin belum mati, maka dia kemungkinan besar masih berada dinegara ini….”, ucap Jiang Xia Yan penuh keyakinan.
Feng Mo Tian yang telah menemukan keberadaan pangeran kedua Ming Shin pun mulai mengawasi gerak – gerik lelaki tersebut yang ternyata masih tinggal dipinggiran ibukota.
Namun selama beberapa hari mengawasi, Feng Mo Tian sama sekali tak mendapatkan informasi dan merasakan aura jiwa Bai Sheng terhadap semua orang yang lelaki itu temui membuatnya sedikit merasa frustasi.
Hal yang sama juga dirasakan oleh Jiang Xia Yan yang sampai detik ini juga belum menemukan keberadaan jiwa Bai Sheng.
Kaisar Ru Xie Chang yang merasakan ada kekuatan hitam yang cukup pekat dari sebuah hutan yang ada di perbatasan wilayah kekaisarn Ru dan kekaisarn Ming segera menyelidikinya.
Bersama lima orang kepercayaannya, kaisar Ru Xi Cahng menyisir hutan perbatasan tersebut sambil mencari aura tersebut yang menuntunnya kesebuah padan ilalang yang sangat luas.
“ Kenapa disini tidak terlihat apapun namun aku merasakan sihir hitam yang sangat kuat….”, guman kaisar Ru Xie Chang penasaran.
Crashhhh….
“ Disini ada pelindung sihir Yang Mulia….”, ucap salah satu anak buah kaisar Ru Xia Chang melihat pedang sihirnya terpental setelah berusaha menrobos masuk.
Setelah menutup mata dan mengoleskan sesuatu kepada kelopak matanya, kaisar Ru Xie Chang dapat melihat jika dihadapannya ada sebuah gudang beton yang sangat besar.
Sethhh….sethhhh…sethhhh….
Setelah mengeluarkan pedang sihir yang telah diberi mantra, maka tembok pelidung tersebut sedikit terkuak hingga keenam orang tersebut bisa masuk kedalam.
“ Apa ini ?…”, ucap salah satu bawahan kaisar Ru xie Chang tercenggang melihat banyaknya tumpukan mayat dalam gudang.
Begitu mereka hendak melangkah masuk, tubuh keenamnya langsung terpental jatuh dan pintu langsung menutup dengan kencang seolah mengusir kasar siapapun yang masuk tanpa ijin.
Belum juga mereka berdiri dan hilang keterkejutannya atas apa yang baru saja mereka temui, tiba – tiba saja banggunan didepan mereka menghilang dengan cepat.
Bukan hanya hilang, bahkan aura hitam yang tadi begitu kuat terasa juga sudah tak ada lagi. Seolah apa yang baru saja mereka saksikan hanya mimpi.
“ Sial !!!....”
“ Ini hanya tipuan ?....”, gerutu kaisar Ru Xie Chang kesal.
Meski hanya tipuan, namun melihat apa yang ada didalamnya membuat kaisar Ru Xie Chang berpikir keras sambil berguman pelan “ Dia benar – benar akan menggunakan pasukan mayat….”.
__ADS_1