
Setelah semua rencana jahatnya terekspos dengan sempurna, Qianyi tak bisa lagi untuk mengelak dan sekarang dia hanya bisa mengandalkan kemampuan suami dan mertuanya untuk saat ini.
Tampaknya Jiang Xia Yan tak akan melepaskan Qianyi dengan mudah kali ini. Gadis itu benar - benra menggunakan kesempatan yang ada degan sebaik mungkin.
Untuk membuat suasana semakin panas, diapun kembali berkata yang membuat udara diaula semakin terasa dingin dan mencekam.
“ Bibi kedua….”
“ Aku menemukan banyak kejanggalan dalam peristiwa ini…”
“ Karena paman kedua bersikap bijaksana dan menegakkan keadilan….”
“ Akan lebih baik paman kedua mengirimku ke kantor inspektur jenderal pemerintah agar diadakan sidang terbuka disana….”
“ Aku pasti akan memberitahu semuanya kepada petugas sehingga petugas bisa mendapatkan hasil akhir…”
“ Dan mungkin mereka bisa mengetahui siapa penjahat yang melukai kakak tertua pada malam naas itu….”, ucap Jiang Xia Yan pelan namun penuh penekanan dalam setiap kalimat yang dia ucapkan.
“ TIDAK !!!.....”, Qianyi dan Jiang Quon berteriak secara bersamaan.
Keduanya merasa jika masalah ini sampai ke telinga kaisar, maka akan semakin rumit dan rahasia besar keluarga kedua Jiang akan terbongkar.
Jika rumor ini menyebar, maka nama baiknya akan tercoreng. Dan jika diselidik, maka akan terungkap jika dia dan istrinya sengaja ingin melukai keponakannya.
Dan apa yang akan terjadi dengan Jiang Xiuying ?
Jika masalah ini tersebar bukan tidak mungkin mentalnya akan semakin terganggu dan hal yang lebih buruk adalah jika Jiang Xiuying memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.
Hal yang tak bisa Qianyi bayangkan. Dan yang lebih parah adalah masalah dengan pangeran Ming Qianfan.
Adik kaisar Ming Qin ini pasti akan marah jika sampai namanya dilibatkan. Efeknya, karir Jiang Quon dimasa depan akan semakin sulit untuk berkembang.
Melihat keduanya terdiam cukup lama setelah berteriak, Jiang Xia Yan kembali mengeluarkan kata – kata bernada provokasi.
“ Lalu….”
“ Apa yang akan paman kedua lakukan sekarang ?....”
“ Masih ingin menghukumku dengan tongkat itu ?....”
Semua orang kembali terbelalak melihat aksi berani Jiang Xia Yan yang terang – terangan mengancam paman keduanya dihadapan semua orang.
__ADS_1
Menyaksikan wajah semua orang yang sudah mulai pucat pasi, dalam hati Jiang Xia Yan tertawa penuh kepuasan dan mulai melanjutkan ucapannya.
“ Dan jika paman kedua benar – benar menggunakan tongkat itu untuk memukulku….”
“ Maka tidak akan ada jalan keluar….”
“ Begitu ayahku kembali ke ibukota….”
“ Aku pastikan akan memikirkan cara untuk melaporkan semuanya ke pengadilan….”
Dalam setiap kata yang diucapkan Jiang Xia Yan mengandung ancaman jika Jiang Quon memukulnya hari ini maka begitu Jiang Shing kembali dia akan melaporkan setiap hal buruk yang dilakukan olehnya kepada ayahnya.
Menyadari fakta itu, tubuh Jiang Quon pun langsung membeku seketika dengan keringat dingin mulai membasahi tubuhnya.
Dia sama sekali tak menyangka jika Jiang Xia Yan bisa sekeras itu kepadanya dan tak memberinya muka sedikitpun saat ini.
Jiang Xia Yan tersenyum sinis kepada semua orang yang tadi berteriak lantang ingin menghukumnya dengan berat atas kesalahan yang sama sekali tidak dia perbuat.
“ Paman kedua….”
“ Kamu jadi menggunakan tongkat itu atau tidak ?....”
“ Jika ingin menggunakan, silahkan lakukan sekarang dengan cepat….”
Ucapan Jiang Xia Yan lembut tapi tersirat ancaman didalamnya.
Nyonya besar Jiang yang duduk dia aula melihat putra pertamanya dipojokkan seperti itu membuat api amarah dalam hatinya tak bisa lagi dia bendung.
“ CUKUP !!!!...”, teriaknya lantang.
Teriakan nyonya besar Jiang membuat hati Jiang Quon sedikit lega karena ada ibu yang akan membantunya lepas dari permasalahan ini.
“ Nona muda ketiga, mempertimbangkan kamu saat ini masih muda maka hukuman pukulan dengan tongkat ini dapat dilupakan….”
“ Dan sebagai gantinya, kamu dihukum dengan berlutut di aula leluhur untuk menebus kejahatan terhadap kakak tertuamu….”
“ Mulai hari ini kamu akan menyalin kitab Budha dan berlutut sampai kakak tertuamu pulih baru kamu bisa bebas….”, ucap nyonya besar Jiang dingin.
Jiang Xialun sedikit kecewa dengan keputusan neneknya. Dia masih ingin melihat Jiang Xia Yan dipukul hingga tak bisa lagi berdiri atau diusir dengan tidak hormat dari keluarga besar Jiang.
Hukuman menyalin kitab Budha dianggapnya sangat ringan dan tak membuat hatinya merasa puas karena begitu hukuman selesai, maka permasalahan ini juga akan selesai.
__ADS_1
“ Jiang Quon…tenangkan istrimu….”
“ Kalian semu bisa pergi….”
“ Untuk nona muda ketiga, kamu bisa memulai hukumanmu malam ini….”
Ucap nyonya besar Jiang dengan nada datar dan dingin sebelum kembali keruang pribadinya untuk beristirahat.
Hari yang seharusnya membuatnya bahagia malah menjadikannya pusing tujuh keliling sehingga dia perlu menenangkan diri sebelum pesta ulang tahunnya yang ke delapan puluh digelar.
Semua orang mundur secara berlahan. Sementara Jiang Xia Yang, dia berjalan dengan acuh menuju kehalaman barat dimana aula leluhur keluarga Jiang berada.
Gadis itu benar – benar menuruti perintah nyonya besar Jiang dan terlihat memasuki aula leluhur keluarga Jiang untuk melaksanakan hukumannya.
Bagi Jiang Xia Yan hukuman ini bukanlah hal besar karena didalam sini dia bisa bermeditasi untuk meningkatkan kekuatannya tanpa takut diganggu oleh siapapun karena dikunci dari luar dan tidak ada siapapun yang diperkenankan untuk masuk.
Di dalam aula dapat Jiang Xia Yan lihat papan peringatan leluhur keluarga Jiang berdiri tegak disana dan sebagai bentuk penghormatan, dia mengambil satu dupa kemudian menyalakannya dan berlutut.
“ Leluhur….”
“ Jika arwahmu masih ada disini….”
“ Tolong berikan aku panah paling tajam dan kuda yang paling cepat berlari untuk membunuh musuh – musuhku dengan kedua tanganku sendiri….”
Jiang Xia Yan mengucapkan doanya dengan lantang dihadapan papan leluhurnya.
Hal tersebut tentu saja memancing senyum sepasang mata yang sudah mengamati gerak – geriknya sejak tadi berdebat didalam aula keluarga utama.
“ Gadis ini….benar – benar tak tahu takut….”, batinnya terkekeh.
Feng Mo Tian diam – diam mengamati seluruh pergerakan Jiang Xia Yan sejak tadi karena rasa penasaran yang tinggi mengenai apa yang akan gadis itu lakukan setelah kembali dari kuil.
Jiang Xia Yan yang mengetahui jika Feng Mo Tian mengamatinya berusaha untuk tak menghiraukannya dan menganggapnya sebagai angin lalu.
Setelah berdoa, Jiang Xia Yan pun mulai duduk dengan posisi lotus berusaha untuk meningkatkan kekuatan yang ada dalam tubuhnya berbekal energi yin murni yang berhasil dia kumpulkan selama dua hari berada di kuil Guandong.
Dia tak akan menyia – nyiakan waktu lagi untuk menjadi yang terkuat karena pembalasan dendamnya masih baru saja dimulai.
Saat ini dia sudah melangkah untuk membereskan keluarga kedua dan membuka pintu kedalam keluarga kekaisaran Ming melalui pangeran Ming Qianfan.
Selanjutnya, dia sudah memiliki beberapa rencana yang telah disusun sangat matang. Untuk itu dia memerlukan kekuatan lebih karena bahaya yang akan dia hadapi semakin besar.
__ADS_1
“ Hingga saat itu tiba, aku harus lebih kuat daripada sekarang agar bisa membalaskan dendam yang ada dan secepatnya menemukan kebahagiaanku di jaman kuno ini….”, batin Jiang Xia Yan penuh tekad.