
Setelah kaisar Ru Xie Chang pergi, Jiang Xia Yan yang berhutang penjelasan kepada kedua orang tua serta kakaknya segera bersuara.
“ Ayah, ibu, kakak….”
“ Aku sebenarnya tak ingin menyembunyikan hal ini dari kalian…”
“ Aku hanya menunggu saat yang tepat saja….”, ucap Jiang Xia Yan gelisah.
Jiang Xia Yan pun menceritakan mengenai janji yang telah dikeluarkan oleh kaisar Ru Xie Chang sebelum dia tak sadarkan diri karena penyakitnya.
Jika itu laki – laki maka dia akan mengangkatnya menjadi saudara serta memberikan hak didalam istana kekaisaran.
Tapi jika mereka perempuan, jika sudah menikah maka seluruh keluarganya dan masa depan anak – anaknya akan dijamin oleh keluarga kekaisaran.
Namun jika mereka masih lajang maka kaisar Ru Xie Chang akan menikahinya dan menjadikannya permaisuri serta satu – satunya istri di dalam istana kekaisaran.
“ Jadi, ini karena janji yang telah dia ucapkan makanya dia ingin menikahimu ?....”, tanya Xiao Mei penasaran.
“ Bukan hanya itu….”
“ Xie xie mengatakan jika dia mencintaiku….”, cicit Jiang Xia Yan gugup.
“ Xie xie ?.....”, Xiao Mei bertanya dengan wajah binggung.
“ Itu nama kecilnya….”, Jiang Xia Yan menjawab sambil menunduk karena malu.
Hahahaaaa……
“ Ternyata hubungan kalian sudah sedalam itu….”, ucap Jiang Shing sambil tertawa keras.
Jiang Xia Yan meruntuki kebodohannya yang kelepasan memanggil kaisar Ru Xie Chang dengan nama kecilnya hingga membuatnya malu.
“ Adik….”
“ Apakah kamu benar – benar mencintainya ?....”, tanya Jiang Chen dengan tatapan penasaran.
Bukan hanya Jiang Chen yang penasaran, tapi juga kedua orang tuanya yang masih mengira jika Jiang Xia Yan belum bisa melupakan pangeran kedua Ming Shin.
“ Itu….”
“ Aku tidak tahu dan aku tidak ingin memikirkannya sekarang….”
“ Aku masih ingin lebih lama bersama ayah dan ibu….”, ucap Jiang Xia Yan senduh.
Xiao Mei yang mendengar ungkapan hati putrinya langsung memeluk anak gadisnya itu dengan erat sambil mengusap – usap kepala Jiang Xia Yan dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
Jiang Xia Yan menikmati kelembutan dan kehangatan belain seorang ibu yang selama ini tidak pernah dia rasakan dalam kehidupan sebelumnya.
Melihat bagaimana manjanya Jiang Xia Yan membuat Jiang Shing hanya bisa menghela nafas panjang sambil berkata “ Jika Yan’er tak bersedia, ayah akan menolak lamaran dari kaisar Ru Xie Chang….”.
Mendengar hal tersebut bukannya merasa lega justru hati Jiang Xia Yan semakin gelisah dan itu bisa dirasakan oleh Xiao Mei.
“ Kenapa ?....”
“ Bukankah Yan’er belum siap….”, tanya Xiao Mei merasa aneh dengan tingkah putrinya itu.
“ Bukan itu ibu…”
“ Aku hanya khawatir saja jika kaisar Ru Xie Chang datang secara resmi kemari apa hal itu tak mengundang kecurigaan kaisar Ming Qin ?....”, Jiang Xia Yan berkata dengan wajah gelisah.
Meski cepat atau lambat dia akan berhadapan dengan kaisar Ming Qin tapi setidaknya bukan sekarang waktunya.
Masih ada banyak hal yang ingin dia lakukan sebelum benar – benar menghancurkan keluarga kekaisaran, terutama balas dendamnya terhadap pangeran kedua Ming Shin.
“ Benar juga kata Yan’er….”
“ Kaisar Ming Qin penuh dengan kecurigaan dan Yang Mulia bisa menganggap jika kita ingin memberontak…. ”, ucap Jiang Shing dengan wajah serius.
“ Lalu, apa yang akan kita lakukan ?....”, tanya Jiang Chen penasaran.
“ Semoga kali ini dia akan mengerti….”, ucap Jiang Xia Yan berusaha untuk mengurangi kecemasan keluarganya.
Mereka semua segera menghentikan pembicaraan waktu matahari sudah tenggelam dan beristirahat dihalaman kediaman masing – masing.
Baru saja Jiang Xia Yan hendak menutup jendela dia melihat kenari putih kecil miliknya memberikan informasi terbaru.
“ Jadi selir Hien sudah tak sabar ingin pergi ke butik….”
“ Baiklah, besok kita jalankan rencana selanjutnya….”, guman Jiang Xia Yan penuh makna.
Diapun segera membersihkan diri dan beristirahat agar esok hari bisa menjalankan semua rencana yang telah disusunnya dengan baik.
Pagi – pagi sekali Jiang Xia Yan pergi ke tempat produksi sekaligus tempat tinggal Han Wu Ying untuk mendandani wanita muda itu agar tampil beda.
“ Wah nona….”
“ Teknik make up nona cukup bagus…”
“ Mataku kelihatan lebih besar sekarang….”, ucap Han Wu Ying senang.
Dengan penampilan mata yang lebih besar dari pada sebelumnya, Han Wu Ying terlihat lebih cantik dan menarik dibandingkan sebelumnya.
__ADS_1
“ Untuk sementara waktu berdandanlah seperti ini agar selir Hien dan banyak orang tak akan langsung mengenalimu….”, ucap Jiang Xia Yan sambil menyerahkan beberapa peralatan make up agar bisa digunakan oleh Han Wu Ying setiap hari.
Selama acara pembukaan butik hingga hari ini, Han Wu Ying dan Jiang Xia Yang memang tidak langsung berhadapan dengan konsumen.
Mereka untuk sementara akan berada dibalik layar hingga ada orang yang memesan secara khusus gaun maka Han Wu Ying akan datang menemui mereka secara langsung.
“ Aku juga merasa jika sekarang bukan waktu yang tepat…..”
“ Bibi Shuang cukup berbahaya….”, ucap Han Wu Ying tajam.
“ Maka dari itu, kita memerlukan strategi yang tepat untuk bisa membalaskan dendam keluargamu….”
“ Dan aku akan membantumu untuk itu…..”, ucap Jiang Xia Yan sambil tersenyum manis.
Meski Han Wu Ying cukup penasaran kenapa Jiang Xia Yan mau membantunya hingga sejauh ini, tapi dia juga tak mau terlalu banyak bertanya hingga menyebabkan gadis itu tak nyaman dengannya.
Cukup lama menjadi wanita penghibur, Han Wu Ying cukup banyak belajar mengenai apa saja hal yang bisa dia tanyakan atau tidak hanya dengan melihat ekpresi dari lawan bicaranya.
Setelah semua beres, keduanya segera berjalan menuju butik melalui jalan belakang agar pengunjung tak melihat kedatangan mereka.
“ Kali ini butik juga seramai biasanya….”, ucap Jiang Xia Yan puas.
Bukan hanya Jiang Xia Yan yang merasa puas, tapi juga Han Wu Ying yang sangat bahagia hasil karyanya ternyata banyak dimintai warga ibukota.
Setelah menunggu beberapa jam sambil mendiskusikan beberapa rancangan baju yang akan diproduksi oleh keduanya, akhirnya tamu yang ditunggu – tunggu pun telah datang.
Sang penjaga toko dan beberapa orang pengunjung yang mengetahui siapa Selir Hien sangat terkejut karena wanita kaisar Ming Qin tersebut mau menginjakkan kakinya di butik tersebut.
Beberapa pengunjung langsung memberi hormat dan hanya diberi anggukan angkuh oleh Selir Hien seperti biasanya.
“ Bawa aku menemui pemilik toko….”, ucapnya tajam.
Sang pelayan pun langsung membawa selir Hien menuju kedalam karena sebelumnya nona mudanya sudah berpesan agar langsung mengajak wanita itu masuk begitu datang.
“ Kamu tunggulah disini dan baru datang ketika aku panggil….”, ucap Jiang Xia Yan langsung bangkit dari tempat duduknya.
Setelah kepergian Jiang Xia Yan, Han Wu Ying terlihat beberapa kali mengambil nafas dalam sambil mencoba untuk bisa setenang mungkin agar bibinya tidak mencurigainya.
“ Dengan penampilan seperti ini, tentunya bibi Shuang tak akan mengenaliku secara langsung kan….”, batin Han Wu Ying cemas.
Bagaimanapun juga saat ini Han Wu Ying masih belum memiliki kekuatan penuh untuk melancarkan aksi balas dendamnya.
Apalagi dia juga mengetahui jika bibinya adalah ibu kandung dari pangeran kedua Ming Shin.
Meski Han Wu Ying tak pernah melihat langsung, tapi dari beberapa cerita yang mengatakan jika pangeran kedua Ming Shin adalah sosok yang kejam maka diapun juga harus berhati – hati dalam setiap tindakannya.
__ADS_1