
Han Wu Ying sudah cukup lama hidup di Wudao Jia. Seiring bertambahnya usia semakin lama orang yang membeli waktunya semakin sedikit.
Dan kata – kata yang diucapkan oleh gadis muda yang ada dihadapannya itu bukan pertama kalinya dia dengar.
Tapi nyatanya dia masih tetap berada di tempat ini dalam waktu yang lama membuatnya kehilangan harapan untuk bisa pergi bebas dari tempat yang memberinya kehidupan saat ini.
“ Han Wu Ying tidak mengerti maksud nona muda….”, ucapnya datar.
“ Aku sangat beruntung mendapatkan kain dengan motif sulaman dua sisi seperti ini….”
“ Di kekaisaran Ming, tidak lebih dari tiga orang yang memiliki bakat langkah ini….”
“ Setelah bertanya – tanya pada akhirnya aku mengetahui jika pola lukisan ini dibuat sendiri oleh tangan nona Han Wu Ying…. ”, ucap Jiang Xia Yan sambil mengusap ujung gaunnya dengan lukisan bunga tersebut.
Han Wu Ying tak bisa lagi tenang, dia sungguh terkejut bagaimana bisa kain bersulam bungga yang merupakan hasil karyanya tersebut bisa dipakai oleh nona muda yang ada dihadapannya itu.
Melihat ekpresi keterkejutan yang ditunjukkan oleh Han Wui Ying dihadapannya, Jiang Xia Yan pun tersenyum lembut.
“ Aku mendapatkan kain berisi sulaman bungga ini dari istana….”
“ Tahun ini ayahku cukup banyak mendapatkan hadiah, salah satunya adalah kain sutra bersulam bunga ini….”
“ Setelah aku bertanya, ternyata kain ini berasal dari selir Hien….”
“ Selir Hien memiliki nama asli Han Shuang Yun…..”, ucap Jiang Xia Yan dengan jelas dan ada penekanan dibeberapa kalimatnya.
“ Han Shuang Yun !!!....”, geram Han Wu Ying marah.
“ Bagaimana kamu bisa tahu semua itu….”, tanya Han Wu Ying dengan tatapan penuh selidik.
“ Itu bukanlah point yang penting saat ini….”
“ Aku memiliki usaha pakaian yang sebentar lagi akan aku luncurkan dan saat ini aku belum memiliki orang untuk mengelolanya….”
“ Selain sebagai pengelola kamu juga pada saatnya akan mengetahui bagaimana bisa Han Shuang Yun lolos pada malam maut itu….”, ucap Jiang Xia Yan tersenyum licik.
Han Wu Ying menatap gadis muda yang ada dihadapannya dengan tatapan tak percaya. Namun, tak lama kemudian suara tawa menggema dalam ruangan tersebut.
__ADS_1
“ Nona muda….”
“ Apa kamu pikir dengan tawaran seperti itu bisa membuatku meninggalkan tempat ini….”, ucap Han Wu Ying dengan senyum mencibir.
Kiew merasa tak senang dengan semua kata yang diucapkan oleh Han Wu Ying kepada nona mudanya tersebut.
Lin yang mengetahui hal tersebut hanya menggeleng pelan, bagaimanapun ini adalah urusan nona muda mereka.
Dan dirinya ataupun Kiew serta semua orang yang ada dalam ruangan tak bisa mencampuri jika tak ada perintah.
“ Aku dijual ketempat ini sejak remaja….”
“ Keterampilan yang aku peroleh hanyalah bagaimana melayani seseorang diatas tempat tidur serta membuatnya kecanduan akan permainanku….”
“ Menyulam hanyalah hobiku sewaktu kecil….”
“ Dan kurasa sekarang memegang jarum saja aku sudah lupa karena seringnya aku memegang senjata para lelaki yang aku layani….”, ucap Han Wu Ying miris.
Mendengar setiap kata yang diucapkan Han Wu Ying dapat Jiang Xia Yan rasakan jika masa muda wanita tersebut habis ditempat terkutuk ini.
“ Kebiasaan memang tidak bisa diubah dengan cepat….”
“ Tapi bakat akan selalu melekat pada diri seseorang asal ada kemauan….”
“ Masalah bisa tidaknya, bagaimana kita tahu jika belum mencoba….”
“ Jikapun usahku mengalami kerugian pada nantinya, itu tak masalah karena aku memilki banyak uang…..”, ucap Jiang Xia Yan santai.
Jiang Xia Yan ingin menekankan bahwa Han Wu Ying memiliki bakat sedangkan dia memiliki dana berlebih, jadi jika mereka bersatu bukankah hal tersebut akan menjadi kolaborasi yang bagus.
Melihat Han Wu Ying tampaknya mulai menimbang – nimbang penawarannya, Jiang Xia Yan pun mulai bergerak maju dan berbisik.
“ Lalu…apakah kamu tidak penasaran mengenai siapa yang menjualmu ketempat ini pada malam kejadian naas tersebut….”, bisiknya sangat pelan hingga hanya wanita tersebutlah yang bisa mendengarnya.
Tubuh Han Wu Ying terlihat menegang setelah mendengar ucapan Jiang Xia Yan kepadanya dan tanpa sadar kedua tangannya mencengkeram ujung gaunnya dengan sangat kuat.
“ Kurasa, cukup sekian pertemuan kita hari ini….”
__ADS_1
“ Sebaiknya pikirkan baik – baik penawaranku karena hanya ini cara satu – satunya kamu bisa keluar dari tempat ini….”
“ Beberapa hari lagi, Yinhang akan datang menemuimu….”
“ Dan kuharap pada saat itu kamu sudah mendapatkan keputusan yang tepat….”, ucap Jiang Xia Yan sambil tersenyum.
Setelah meletakkan dua kantong tael keping emas, diapun segera berlalu bersama kelima anak buahnya meninggalkan Han Wu Ying yang masih membeku ditempatnya.
Ketika pintu ditutup, tubuh Han Wu Ying seketika luruh kelantai dan tanpa sadar air matanya mulai mengalir deras dipipi.
Memori pada malam naas tersebut kembali berputar dikepalanya bagaimana dirinya bisa terpisah dengan sang adik pada saat ingin menyelamatkan kedua orang tuanya yang terbakar habis di dalam rumah beserta keluarga besarnya.
Entah siapa yang telah menculik dan membiusnya. Waktu sadar, dia sudah berada di Wudao Jia dan sedang dirias untuk menemani para lelaki hidung belang yang datang.
Meski pada awalnya dia sempat memberontak, namun beberapa kali usahanya untuk kabur bahkan mencoba untuk bunuh diri gagal akhirnya Han Wu Ying pun mulai pasrah dan menjalani hidup sebagai wanita malam.
Dan sekarang, ada sedikit harapan mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada malam naas tersebut.
Yang membuatnya sangat terkejut adalah kabar mengenai kondisi bibinya yang selamat dari maut.
Han Shuang Yun yang ternyata masih hidup dan hidup dengan nyaman menjadi selir didalam istana.
Keraguan dan rasa curiga pun mulai muncul dalam hatinya jika bibinya itu memiliki keterlibatan dalam tragedi berdarah yang menimpah keluarganya pada malam itu.
“ Jika benar bibi ada dibelakang peristiwa itu maka akan kupastikan dia menderita ditanganku sendiri….”, batin Han Wu Ying geram.
Han Wu Ying terlihat mulai menimbang – nimbang penawaran yang diberikan oleh Jiang Xia Yan dengan baik.
Jika dia bisa keluar dari tempat ini dan mendapatkan bantuan bukankah hal itu akan mudah baginya untuk membalaskan dendam jika memang benar sang bibi berada dibalik semua itu.
“ Jika sudah bebas, mungkin aku juga bisa mencari adikku….”, guman Han Wu Ying penuh harap.
Dia sangat yakin pada malam itu hanya dia dan adiknya yang selamat dari kobaran api yang membumi hanguskan kediaman beserta orang – orang didalamnya.
Pada awalnya dia masih mengenggam erat tangan sang adik hingga kedatang sekelompok lelaki berpakaian hitam menghampirinya.
Diapun segera melepaskan genggaman tangan adiknya agar selamat dan membiarkan dirinya dibekap dan pingsan akibat efek obat bius yang dia hirup.
__ADS_1