
Karena tidak ada jalan untuk keluar, maka Qianyi pun berinisiatif untuk membawa Jiang Xiuying menjauh dari kerumunan.
Setidaknya dengan menjauh maka hanya akan ada sedikit orang yang tahu jika Jiang Xiuying saat ini sedang hamil.
Tapi niatnya langsung diketahui oleh Jiang Xia Yan yang langsung berkata dengan lantang membuat dirinya hanya bisa terdiam.
“ Kakak….”
“ Jangan banyak bergerak….”
“ Jika kakak berpindah tempat, itu akan mempengaruhi denyut nadi pada saat tabib memeriksanya…”
“ Aku takut itu akan jadi masalah….”, ucap Jiang Xia Yan penuh perhatian.
“ Ya…pertahankan posisi aslinya….”, ucap kaisar Ming Qin tegas.
Mendengar ucapan kaisar, ibu dan anak yang sudah tak bisa menemui jalan keluar ini hanya bisa diam dengan tubuh gemetar sambil menahan rasa sakit yang ada.
Melihat situasi yang ada, wajah pangeran Ming Qianfan berubah menjadi serius dengan perubahan situasi yang sama sekali tidak bisa dia prediksi sebelumnya.
Senyuman sarkastik terlihat dibibirnya dan dia merasa jika ini bukanlah saat yang tepat untuk dirinya berulah dan kembali membuat permintaan.
Dia berpikir jika Jiang Xia Yan sengaja meracuni kakak tertuanya untuk bisa lepas dari jeratannya malam ini tanpa dia tahu jika gadis itu juga sudah menyiapkan rencana khusus untuk pangeran itu malam ini.
Tabib istana dengan cepat menuju aula, langsung memberi hormat kepada kaisar dan permaisuri sebelum dia berjongkok untuk memeriksa kondisi nona muda tertua Jiang yang terlihat sangat pucat dan lemas itu.
“ Nyonya…”
“ Tolong lepaskan nona muda tertua Jiang…”
“ Tabib ini akan memeriksa detak jantung nona muda tertua Jiang….”, ucap tabib istana sopan.
Dibawah pengawasan semua orang dan tatapan tajam kaisar Ming Qin, Qianyi tak dapat melakukan trik dibalik dilengannya jika tak ingin mendapatkan lagi masalah yang lebih besar dari sekarang.
Melihat Jiang Xiuying pingsan, tabib istana segera mengulurkan dua jarinya untuk memeriksa denyut nadi nona muda tertua Jiang itu.
“ Tabib istana Gu Zou…”
“ Apakah nona muda tertua Jiang diracuni ?....”, tanya permaisuri tajam.
“ Menjawab pertanyaan permaisuri…”
“ Nona muda tertua Jiang tidak diracuni…. ”
“ Dia hanya mengkonsumsi teh lotus tapi tidak ada racun sama sekali didalamnya…”, tabib Gu Zou menjawab jujur.
“ Ohhh….”
“ Jika bukan racun, kenapa kondisinya bisa seburuk ini ?...”, tanya kaisar Ming Qin dengan tatapan menyelidik.
“ Menjawab yang mulia….”
“ Teh lotus secara alami bersifat dingin dan hal ini tidak menjadi masalah jika orang biasa yang mengkonsumsinya… ”
“ Tapi, bagi mereka yang sedang hamil mengkonsumsi teh lotus akan mempengaruhi energy janin…”
__ADS_1
“ Saat ini, nona muda tertua Jiang sedang hamil….”, ucap tabib Gu Zou menjelaskan.
Mendengar kata – kata yang diucapkan oleh tabib Gu Zou, aula utama istana kembali menjadi gempar dan mulut Jiang Quon langsung terbuka lebar karena terkejut.
Dia menatap marah kearah Qianyi yang hanya bisa terjatuh lemas kelantai dengan wajah sedih dan tertekan.
“ Bagus sekali !!!...”, ucap Nyonya Ciu tajam.
Tak perduli lagi dimana dia berada sekarang, dia menunjuk Qianyi dengan sorot mata tajam penuh kemarahan, berusaha melampiaskan semua hal yang mulai membara dihatinya.
“ Kamu telah sepakat bertunangan dengan keluarga Ciu kami….”
" Dan kamu ingin keluarga Ciu kami menikahi sepatu bekas dan membereskan anak dari laki – laki lain.….”
“ Qianyi !!!….”
“ Kamu benar - benar tidak tahu malu !!!.....”, ucap nyonya Ciu dengan nada tinggi.
Semua orang bertambah gempar setelah ucapan pedas nyonya Ciu diucapkan lantang dihadapan Qianyi yang terduduk lesu dilantai.
“ Bagaiman bisa seorang wanita muda hamil sebelum menikah ?....”
“ Logika macam apa ini ?....”
“ Apakah ini hasil dari hubungan terlarang ?....”
“ Bahkan Qianyi berani menikahkan anaknya yang sedang hamil dengan keluarga Ciu….”
“ Sungguh tak punya malu…..”,
Itu beberapa kata pedas yang diucapkan semua orang yang ada diaula utama istana saat ini.
“ Nyonya kedua Jiang….”
“ Bengong juga sangat ingin tahu sebenarnya apa yang telah terjadi ?....”, permaisuri Yihua bertanya dengan nada dingin.
Melihat Qianyi sama sekali tak bersuara, membuat jejak kesabaran diwajah permaisuri Yihua telah habis sehingga diapun menyuruh pelayan pribadinya untuk membangunkan Jiang Xiuying agar gadis itu bisa menjawab pertanyaannya.
Qianyi yang ingin menghentikan kalah cepat dengan pergerakan dua pelayan pribadi permaisuri Yihua sehingga Jiang Xiuying kembali sadar sambil meringis menahan rasa sakit yang kembali mendera.
“ Jiang Xiuying….”
“ Bengong bertanya padamu….”
“ Siapa ayah dari janin didalam rahimmu ?....”, permaisuri Yihua bertanya dengan nada dingin membuat Jiang Xiuying semakin pucat.
Dia menoleh kearah sang ibu yang terlihat menggeleng pelan. Melihat eskpresi sang ibu, Jiang Xiuying semakin binggung dibuatnya.
Melihat permaisuri Yihua masih menunggu jawaban darinya, dengan gugup dan ketakutan Jiang Xiuying pun mulai bersuara “ putri resmi ini….putri resmi ini….”
Jiang Xia Yan yang sudah tak sabar untuk menyelesaikan pertunjukkan malam ini berusaha untuk memprovokasi kakak tertuanya.
“ Kakak tertua….”
“ Kakak harus mengatakannya….”
__ADS_1
“ Seseorang telah melakukan kejahatan seperti ini…”
“ Ada anak tak bersalah didalam rahimmu…”
“ Kamu tak bisa menanggungnya sendiri….”
“ Ada permaisuri disini….”
“ Lelaki itu pasti akan bertanggung jawab kepadamu….”, ucap Jiang Xia Yan memprovokasi.
Mendengar semua ucapan yang dilontarkan Jiang Xia Yan, Qianyi menatap keponakannya itu penuh kebencian dan tidak sabar untuk bisa merobek mulut tajamnya.
Mendengar jika ada permaisuri yang mendukungnya, Jiang Xiuying yang binggung dan ketakutan akhirnya berteriak dengan lantang.
“ Anak ini !!!!....”
“ Anak ini adalah anak pangeran Ming Qianfan !!!....”
“ Anak dalam rahimku adalah darah daging dari Yang Mulia pageran Ming Qianfan !!!.... ”, teriak Jiang Xiuying ketakutan.
Semua orang tak bisa untuk tak terbelalak karena terkejut. Banyak kejadian tak terduga selama pesta penyambutan kali ini membuat aula utama istana kembali gempar.
“ Ying’er….”
“ Jangan berbicara omong kosong ….”, Qianyi langsung membekap mulut putrinya agar tak lagi berkata yang akan membuat nasib mereka semakin buruk.
Mendengar ucapan nona muda tertua Jiang, ekspresi kaisar dan permaisuri menjadi tak pasti karena ini berhubungan dengan pangeran Ming Qianfan, sosok yang enggan untuk mereka sentuh.
Mendengar pengakuan Jiang Xiuying, pangeran Ming Qianfan tidak mengakuinya tapi juga tidak menyangkalnya membuat Jiang Xia Yan berpikir untuk kembali turun agar semua pertunjukannya cepat selesai.
Pada saat semua orang berkutat pada pemikiran masing – masing, tiba – tiba suara lembut Jiang Xia Yan membuyarkan lamunan mereka.
“ Tidak heran jika hari iniYang Mulia pangeran Ming Qianfan membuat permintaan kepada Yang Mulia Kaisar untuk melamar wanita muda dari keluarga Jiang. Ternyata semua ini hanya untuk memberi gelar kepada kakak tertua….”, ucap Jiang Xia Yan sambil tersenyum lembut.
Kata –kata yang diucapkan oleh Jiang Xia Yan tidak terlalu keras, tapi itu membuat semua tamu yang hadir menjadi sadar.
Tidak heran tadi pangeran Ming Qianfan meminta pernikahan dan dia menyebutkan wanita muda dari keluarga Jiang.
Tidak ada yang menyangka jika itu adalah Jiang Xiuying. Bahkan mereka sudah memiliki anak yang belum lahir.
Ini berarti pangeran Ming Qianfan tidak memaksanya, tapi Jiang Xiuying bersedia untuk menjadi wangfeinya secara sukarela.
“ Nona muda ketiga Jiang ini sangat kuat….”
“ Bahkan kemampuannya untuk membalikkan hitam menjadi putih sangatlah tinggi….”, ucap Gu Zou yang entah sejak kapan sudah berada disamping Feng Mo Tian.
Pemuda tampan itu hanya mengangguk sambil tersenyum samar. Dia cukup terhibur dengan pertunjukkan bagus yang disajikan oleh Jiang Xia Yan malam ini.
Feng Mo Tian melipat lengan bajunya dan menatap Jiang Xia Yan dengan senyuman. Entah sejak kapan situasi didalam aula istana berhasil dikendalikan oleh gadis itu.
“ Gadis itu memiliki keberanian yang sangat besar…”
" Bahkan didalam istana dia bisa melakukan trik semacam ini kepada pangeran Ming Qianfan..."
“ Tindakannya sangat akurat…”
__ADS_1
“ Dan reaksi semua orang saat ini sudah ada ditelapak tangannya….”
“ Benar – benar permainan yang akurat dan sangat cantik….”, guman Feng Mo Tian penuh kekaguman.