
Pranggg….
Brakkk….
Brukkkk….
Jiang Xialun kembali membanting semua barang yang ada didalam kamarnya setelah sang ibu pergi meninggalkan kamarnya.
Ruo Xinxin hanya bisa mengembuskan nafas secara kasar dan menyuruh para penjaga agar tak mengijinkan nona muda kedua Jiang tersebut keluar dari dalam kamar.
Dia tidak mau kekeraskepalaan putrinya membuat suaminya merasa tidak senang dan memilih untuk tinggal di luar rumah daripada pulang.
“ Ini merupakan pilihan yang tepat….”
“ Aku tak akan membiarkan wanita tua itu melihat peluang ini untuk membuat hubunganku dengan Jiang Yu renggang….”, batin Ruo Xinxin penuh kegelisahan.
Sejak percakapan semalam, suaminya yang biasanya hangat tiba – tiba berubah menjadi dingin bahkan semalam mereka tidur dengan tubuh saling memunggungi.
Jika hal ini terus berlanjut bukan tidak mungkin sebentar lagi kediaman ketiga akan ada seorang selir yang masuk kehalaman rumah mereka.
Memikirkan hal tersebut saja sudah membuat Ruo Xinxin merasa sangat panik. Bagaimanapun dia tak ingin posisinya sebagai satu – satunya nyonya dihalaman keluarga ketiga tergoyahkan.
Maka dari itu diapun sekarang harus bersikap lebih keras terhadap Jiang Xialun dan tak bisa lunak lagi menghadapi kekeras kepalaan sang putri.
Jiang Xialun yang kelelahan karena mengamuk sejak tadi pada akhirnya hanya bisa terduduk lemas di lantai dengan kamar berantakan akibat perbuatannya.
Hatinya sangat kacau waktu tahu jika ibunya benar – benar telah memilihkan suami untuknya dan dua hari lagi keluarga Shu akan memberikan mahar pernikahan yang artinya dia tak akan bisa mengelak dengan pernikahan yang ada.
Perlahan Jiang Xialun mengeluarkan bungkusan yang ada dibalik lengan bajunya. Dia beberapa kali melihat bungkusan tersebut dengan hati gelisah sambil mencengkeramnya dengan erat.
“ Ini cara satu – satunya agar aku bisa mendapatkan keingginanku….”, batin Jiang Xialun penuh tekad.
Namun ada sedikit keraguan dalam hatinya jika ada kecelakaan dalam rencananya. Bagaimanapun pangeran kedua Ming Shin bukanlah seseorang yang mudah untuk dia jebak seperti ini.
Jiang Xialun pun mencoba kembali berpikir keras agar apa yang akan dia lakukan tak menimbulkan kecurigaan sehingga prosentasi keberhasilannya akan tinggi.
“ Sekarang yang harus aku pikirkan adalah bagaimana caranya aku bisa kabur malam ini…”
“ Jika berhasil, maka ini adalah kemenangan terbesar dalam hidupku….”, batin Jiang Xialun bahagia.
Dia sudah bisa membayangkan begitu semua orang mengetahui jika pangeran kedua Ming Shin telah mengambil kesuciannya, maka kaisar pasti akan langsung memberikan dekrit pernikahan untuknya.
__ADS_1
Meski bukan sebagai istri resmi, sebagai selirpun tak mengapa asalkan dia bisa menikah dengan pangeran kedua Ming Shin.
Pada saat Jiang Xialun sibuk dengan rencana yang ada dalam pikirannya, saat ini Song Noywen yang mengetahui rencana Jiang Xialun dari pengawal yang dikirimnya untuk mematai – matai nona muda kedua Jiang tersebut terlihat sangat geram.
Dia sama sekali tak menyangka jika Jiang Xialun akan menggunakan cara licik tersebut untuk mendapatkan pangeran kedua Ming Shin.
Song Noywen merasa sangat tepat telah mengirim seseorang untuk memantau gerak – gerik Jiang Xialun satu bulan terakhir ini mengingat jika nona muda kedua Jiang tersebut selalu berusaha menempel kepada pangeran kedua Ming Shin setiap ada kesempatan.
“ Aku benar – benar akan menghancurkannya malam ini….”, guman Song Noywen penuh amarah.
Dia pada awalnya ingin menggunakan Jiang Xialun sebagai bidak caturnya, tapi melihat jika gadis itu sudah tak bisa terkontrol lagi maka diapun harus segera menyingkirkannya sebelum semua rencana yang telah disusunnya gagal.
Jiang Xia Yan yang mendapatkan informasi dari Chyou jika Jiang Xialun sedang dikurung didalam kediamannya oleh Ruo Xinxin segera memerintahkan Yuyun untuk menanganinya.
“ Bantu nona muda kedua Jiang melarikan diri malam ini….”
“ Aku yakin Song Noywen sudah mempersiapkan rencana besar untuknya…”
“ Mari kita menikmati pertunjukkan yang ada….”, ucap Jiang Xia Yan sambil mengeluarkan smirk devilnya.
Sebenarnya dia tak mau menghukum kakak keduanya seberat ini, tapi mengingat jika gadis tersebut memiliki inisiatif untuk menghilangkan kepolosannya maka Jiang Xia Yan akan dengan senang hati mengabulkannya.
Malam harinya, Jiang Xialun yang sedang mengintip dari celah pintu merasa sangat senang waktu mengetahui jika dua penjaga yang ada didepannya tak sadarkan diri.
“ Kenapa sepi sekali ?….”, batin Jiang Xialun curiga.
Meski merasa ada sedikit keanehan karena sepanjang jalan dia tak menemui para penjaga yang sedang berpatroli ataupun pelayan tapi mengingat jika dia harus segera keluar dari kediaman dan segera menuju ketempat pertemuan membuatnya mengabaikan hal yang tak biasa tersebut.
Setelah berada diluar, Jiang Xialun segera menyogok kusir kereta agar membawanya segera pergi sebelum ketahuan kabur.
Sang kusir yang sudah biasa mengantar nona muda kedua Jiang keluar malam – malam dengan mengendap – endap seperti ini hanya bisa tersenyum lebar sambil memasukkan sekantong tael perak kedalam bajunya.
Selama pertemuan tertutup berlangsung, Song Noywen terus mengamati gerak – gerik Jiang Xialun dengan tatapan tajam.
Tatapan Song Noywen seperti seekor singa yang sedang mengawasi mangsanya, begitu lenggah maka dia akan memangsa lawannya itu hingga habis tak bersisa.
Pengeran kedua Ming Shin yang menyadari hal tersebut bersikap cuek dan merasa jika keduanya ada permasalah pribadi yang harus mereka selesaikan sendiri.
Setelah pertemuan selesai, Jiang Xialun dengan gugup mulai menjalankan rencananya sambil berdiskusi mengenai hasil pertemuan tadi seperti biasanya.
Ming Ming yang mengetahui niat buruk Jiang Xialun segera menggunakan menggunakan ilmu sihirnya untuk menetralkan racun yang dimasukkan kedalam teh pangeran kedua Ming Shin dari balik layar.
__ADS_1
Melihat Jiang Xialun mulai beraksi maka Song Noywen pun segera menginstruksikan pengawal bayangan miliknya untuk menjalankan rencananya.
“ Kenapa Ming Ming menggarahkan sihirnya kearah cangkir ?...”
“ Apa gadis ini berusaha untuk meracuniku ?....” , batin pangeran kedua Ming Shin curiga.
Merasa Ming Ming sudah bertindak maka pangeran kedua Ming Shin pun tak ragu segera menerima cankir teh yang diberikan Jiang Xialun dan meminumnya hingga habis.
Jiang Xialun yang melihat hal tersebut tersenyum puas dalam hati dan dia sudah tak sabar untuk segera meinkmati malam panjang dengan lelaki yang sangat dicintainya itu.
Setelah selesai berdiskusi, pangeran kedua Ming Shin pun pergi meninggalkan aula dan pura – pura masuk kedalam sebuah kamar.
Jiang Xialun yang melihat hal tersebut tersenyum lebar, setelah memastikan tak ada yang melihat pergerakannya maka diapun segera masuk kedalam ruangan yang tadi dia lihat pangeran kedua Ming Shin memasukinya.
Pangeran kedua Ming Shin yang melihat Jiang Xialun masuk kedalam ruangan yang tadi pura – pura dia masuki terlihat sangat geram.
“ Tenang saja Yang Mulia, saya sudah menyiapkan hadiah besar buat nona muda kedua Jiang….”, ucap Song Noywen penuh makna.
Pangeran kedua Ming Shin sama sekali tak menyangka jika Jiang Xialun akan menggunakan cara rendahan seperti itu untuk menjebaknya.
Jiang Xialun yang berada dalam ruangan sama sekali tak menyadari jika sekarang yang sedang berbaring diatas ranjang bukanlah pangeran kedua Ming Shin karena ruangan sangat gelap.
Begitu Jiag Xialun duduk ditepi ranjang, lelaki yang tadinya sedang berbaring tiba – tiba saja bangun dan langsung menyerang Jiang Xialun dengan ganas.
Krekkkk…..
Krekkkk….
Krekkkk….
Seluruh pakaian Jiang Xialun dirobek dengan kasar oleh lelaki tersebut sambil mencumbu gadis yang ada dibawah tubuhnya itu dengan ganas.
“ Aku tak mengira jika Yang Mulia bisa seganas ini diatas ranjang….”, batin Jiang Xialun bahagia.
Meski lelaki itu menyetubuinya dengan kasar, Jiang Xialun menerima dengan segenap hati karena mengira jika yang sedang bercinta bersamanya adalah pangeran kedua Ming Shin.
Bahkan rasa sakit pada saat kepolosannya direngut tak membuat gadis itu menjerit kesakitan, dia justru menangis bahagai karena pada akhirnya bisa menyerahkan mahkota yang selama ini dia jaga kepada lelaki yang sangat dicintainya.
Suara ******* yang mewarnai malam sunyi tersebut membuat pengeran kedua Ming Shin merasa sangat jijik sehingga diapun bergegas pergi meninggalkan paviliun Honglin yang dijadikan tempat pertemuan malam ini.
Song Noywen tersenyum puas waktu melihat pangeran kedua Ming Shin pergi dengan penuh amarah karena sekarang berkurang satu saingan untuk memperebutkan hati pangeran kedua Ming Shin.
__ADS_1
“ Akhirnya….”
“ J****g itu bisa aku singkirkan selamanya….”, batin Song Noywen penuh kepuasan.