
Dilain tempat, tepatnya di Ruang CEO Andika menatap kedepan.Tepat dimana meja sekertarisnya berada. Membayangkan setiap hari dia akan menatap punggung sekertarisnya itu walau terhalang oleh tembok kaca namunmasih bisa terlihat dari dalam Ruangan CEO. Sedangkan kalau dari luar tidak akan bisa melihat keadaan didalam.
Jam dinding menunjukan pukul 09:00 tetapi sekertaris barunya belum juga muncul. Hari ini adalah hari pertama Rara kerja menjadi sekeraris. Karena tidak sabar menunggu akhirnya dia menghubungi asistennya.
“David kenapa sekertaris baru belum muncul?” Tanya Tuan Andika to the point
“Mungkin sebentar lagi Tuan, tadi saya melihat Mba Rara kearah kantor lamanya sekitar pukul 07:30, Mungkin beliau juga sekalian pamit dengan rekan kerjanya yang disana”. Terang David berusaha menenangkan bosnya ayng ternyata sudah mematikan sambungan telephone secara sepihak.
Andika sendiri bingung dengan dirinya sendiri. Pertama bertemu dengan Rara yang dia merasa heran. Karena untuk ukuran asisten manager dia berani dalam beragumen dan lebih tepatnya beragumen dengannya. Sekilas memandang memang Rara seperti seorang yang tegar dan pemberani namun kalau dipandang lebih dalam ke bola matanya disana ada kerapuhan yang berusaha dia tutupi dengan topeng keberaniannya. Dan saat tidak sengaja dua pasang bola mata dulu saling bersirobok Andika merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya. Sesuatu yang belum pernah dirasakannya sampai berumu 29 tahun.
Walau Andika sempat jijik dengan kenyataan Rara yang suka gonta ganti kekasih. Namun setelah dia mengetahui kalau Rara pernah dikecewakan oleh mantan calon tunangannya yang kabur. Andika berpikir positif kembali Rara hanya berusaha melampiaskan dendamnya kepada laki – laki walau dengan cara yang salah.
Tok..Tok…Tok
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Tuan Andika. Karena Tuan Andika tidak mempersilahkan masuk akhirnya suara ketukan itupun berulang kembali
Tok…Tok ,……Tok
“ Masuk” Ucapnya
Pintu dibuka lebar menampilkan seluat gadis yang beberapa hari tidak diteuminya. Seluet seorang gadis yang menimbulkan rasa aneh didada yang baru dia rasa. Andika terus memandang Rara tanpa kedip hingga tanpa sengaja dupasang mata hazel itu saling bersirobok kembali. Ini seperti dejavu mengingtakannya waktu pertama kali bertemu. Disaat Rara dikatakan Keong oleh bos besarnya .
“ Ada apa “ Kata Andika dingin tanpa mau menatap
“Maaf pak saya terlambat, Tadi ada yang harus saya selesaikan dibagian produksi “Kata Rara berbohong, mencoba menutupi miss komunikasi yang terjadi di bagian produksi.
“ Hem…” jawabnya masih dingin dan pura pura sibuk.
“Apakah yang didepan itu adalah meja kerja saya Tuan” Tanya Rara
“Ya” masih dijawab dingin
__ADS_1
“Kalau begitu saya ijin keluar Tuan “ Ucapnya beranjak dari kursi hendak keluar dari ruangan CEO, mana betah Rara berlama – lama dengan manusia kulkas begini. Baru melangkah dua langkah suara baritone kembali menghentikan langkahnya.
“ Siapa yang mengijinkanmu keluar?Tanyanya tajam
“Maaf Tuan saya kira sudah tidak ada lagi yang akan dibicarakan maka saya pamit undur tadi” Jawab Rara menunduk
“ Kamu buatkan dulu saya kopi hitam di pantry langsung bawa kesini ya..” ucapnya datar.
“ Baik Tuan” Ucap Rara langsung beanjak keluar
Setelah Rara keluar Andika memegang dadanya yang berdetak kenjang, terlebih tadi saat menghirup aroma parfum Vanila yang dipakai oleh Rara berhasil membuat Andika mabuk melayang.
Tidak jauh berbeda dengan Andika hal serupa juga terjadi kepada Rara. Begitu Rara sampai diluar ruangan Andika tepatnya dimeja kernyanya langsung memegang dadanya. Rara ingat betul saat sorot matanya saling bersirobok dengan mata Andika jantungnya seperti mau lepas oleh tatapan Andika. Rara merutuki kebodohannnya dengan memukul kepalanya sendiri yang mengingat bagaimana mereka saling pandang. Dan Rara tidak sadar kalau kelakuannya itu sedang ditonton oleh bosnya sendiri. Entah kapan Andika memodif kantornya menjadi seperti itu bahkan Davidpun mungkin tidak tau.
Rara memutuskan ke Pantry untuk membuat secangkir kopi untuk Andika. Kalau boleh jujur Rara sudah lama tidak membuat kopi untuk orang lain. Terakhir dia membuat kopi untuk Yuda mantan tunangannya yang tiba – tiba pergi menginggalkannya.
Rara menghela nafasnya kasar mencoba untuk melupakan kejadian itu. Dia tidak mau terlarut kedalam masa lalu kembali. Bukankah hidup harus terus berjalan? Ini pemikiran Rara, kalau dia masih lurus atau pikirannya jadi lurus karena habis jalan – jalan. Setelah selesai membuat kopi untuk bos barunya, Rara langsung menghantarkannya kepada Andika. Aroma kopi menguar memenuhi ruangan Andika. Dari aromanya bisa dipastikan kopi buatan Rara sangat nikmat. Tangan Andika reflek hendak mengambil cangkir kopi namun tertahan karena seruan Rara.
“Memang siapa yang mau minum kopi? Sok tau kamu, saya mau memberikan ini” Ucapnya menyerahkan print out berjumlah 2 lembar yang penuh tulisan dengan deretan nomor disebelah kirnya dan berjudul “TUGAS DAN KEWAJIBAN SEKERTARIS CEO”
GLEK!
Rara susah payah menelan salivanya kalau diliat dari urutan nomornya kenapa banyak sekali pikirnya. Rara mulai membacanya dengan teliti dari urut nomor
Sekertaris berangkat lebih awal dari CEO
Sekertaris harus sudah ada dikantor sebelum pukul 07:30
Sekertaris mengatur jadwal meeting CEO
Sekertaris menyiapkan bahan untuk meeting CEO
__ADS_1
Sekertaris selalu menyiapkan secangkir kopi sebelum CEO dating
Tidak ada yang aneh pikir Rara it’oke ,hingga kehalaman kedua
Sekertaris selalu menyiapkan sarapan untuk CEO , “ Apakah aku harus buka kafe dikantor juga “ pikir Rara
Sekertaris menyiapkan jas dan memasangkan dasi untuk CEO
Bagian yang ini Rara hanya mengumpat dalam hati “ What the heel, dia pikir aku istrinya” umpatnya . Kalau memang ingin ada yang melayaninya seperti itu harusnya dia mencari istri bukan sdkertaris pikir Rara.
Sekertaris selalu menurut dan melayani CEO, ini yang membuat Rara mendelik hingga tanpa sadar meremas kertas itu. Mukanya merah padam menahan amarah.
Rara mengatur nafasnya mencoba untuk menenangkan diriagar bisa berbicara yang baik. Bagaimanapun juga Rara tau siapa itu Andika Pratama. Kalau dinegara ini beliau adalah orang terkaya kedua sedangkan almarhum papa Rara masih menduduki urutan kelima sampai sekarang bisnisnya yang sudah diambil alih oleh sang kakak.
“Maaf Tuan saya keberatan dengan tugas ini” Ucap Rara sopan
“Kenapa?” Tanya Andika dengan sorot mata tajam
“Maaf ini lebih tepatnya bukan tugas dan kewajiban sekertaris tetapi tugas dan kewajiban istri Bapak” ucapnya masih tenang
Alis Andika naik sebelah mendengar Rara berani mengemukakan pendapatnya. Yaa wajar karena Rara juga bukan orang sembarangan dia yang notabennya adalah putri seorang konglomerat pasti tidak akan takut melawan jika ada yang menindasnya, Tapi Andika juga CEO cerdas dan cerdik selalu mampu menaklukan lawannya.
“ Ya sudah kamu anggap aja kamu sedang latihan menjadi istri yang baik” Ucap Andika tanpa dosa
Rara kaget terbengong dengan yang diutarakan oleh bosnya ini apa katanya tadi Rara latihan menjadi istri yang baik? Istri gundulmu!!! Umpatnya dalam hati. Sepertinya lebih baik Rara mengajukan Risgn walupun dia tau kontrak kerja dia masih 6 bulan lagi. Mungkin dia harus membayar penalty karena tidak menyelesaikan masa kontrak, tidak masalah lah pikirnya toh dia punya kafe juga dan jangan lupakan dia juga yang selalu mendapat transfer laba dari usaha yang dijalankan oleh kakaknya karena dia memiliki sahamnya 25%. Ya.. di harus Risgn sebelum otaknya mulai eror jika bekerja dengan bos yang eror.
Bersambung
...****************...
Terimaksih untuk para readers yang sudah sudi mampir kekarya Autor yang receh ini, Janganlupa tinggalkan jejak like & komen ya…… see you next Part
__ADS_1