
Tuan Andika dan David saling pandang berharap masalah ini cepat selesai. Dan berharap Rara tidak meneruskan niatnya untuk mengundurkan diri.
“ Maaf tetapi Surat kontrak kerja itu tidak sah Pak David, karena saya tidak pernah tanda tangan kontrak kerja setelah saya menjadi sekertaris CEO” Ucapnya merubah memanggil David dengan pak agar formal pikirnya.
Cerdas! Rara memang cerdas dia pintar membalikan keadaan. Kalau tadi dia merasa terpojok, tetapi sekarang dia menyerang dengan amunisi berbeda. Bukankah memang dia belum pernah tanda tangan kontrak kerja kembali setelah menjadi Sekertaris CEO. Jadi Surat kontrak Kerja tersebut tidak sah dong pikir Rara.
“ Maaf mba Rara, tetapi surat kontrak kerja ini sah” ucapnya datar
“ Tetapi saya tidak pernah tanda tangan kontrak kerja setelah jabatan saya berubah pak” kembali Rara mempertahankan pendapatnya.
“Begini mba Rara, perusahaan kami memang tidak pernah melakukan tanda tangan kontrak ulang jika masa kontrak kerja karyawan tersebut masih, walaupun karyawan tersebut naik jabatan atau dipindah tugaskan. Hanya saja nominal pinaltynya saja yang dirubah sesuai jabatannya. Mungkin Mba Rara kurang detail membaca Surat Kontrak Kerjanya, atau biar lebih jelas mba Rara bisa tanyakan langsung dengan pihak HRD kebetulan beliau ada disini”. Ucap David panjang lebar.
Rara membuka kembali Surat kontrak kerjanya yang dia tanda tangani enam bulan yang lalu. Dengan teliti dia membaca peraturan tiap poin. Memang benar dia melewatkan satu poin, disana dijelaskan kalau Pihak karyawan naik jabatan dimasa tanda tangan kontrak kerja pertama masih berlaku maka karyawan tersebut tidak melakukan tanda tangan kontrak kerja ulang. Dan untuk uang denda penalty menyesuaikan dengan atasan di departement tersebut. Poin ini menyadarkan Rara bagaimanapun dia melakukan pembelaan tidak akan menang karena secara data Rara memang kalah. Hanya saja dia sangat yakin untuk masalah uang denda itu semua akal – akalan sang CEO arogan pikir Rara.
Rara tertunduk lesu, sepertinya dia tidak ada pilihan selain menerima jabatan dia yang sekarang dengan tugas dan kewajiban yang menurutnya tidak masuk akal. Dan Rara memutuskan tidak akan mengundurkan diri, dia tidak mau gila menyerahkan uang sebesar 5M hanya untuk denda penalty. Hanya 6 bulan pikir Rara.
Sekarang diruangan CEO tinggal Rara dan sang CEO . Setelah keputusan yang diambil oleh Rara, David dan Pak Bagas pamit undur diri karena tugasnya sudah selesai. Hingga kini meninggalkan mereka berdua diruangan tersebut.
“ Dibelakang sini adalah ruangan pribadi saya, didalam sana ada lemari pakaian, kamu bisa mebukanya dengan klik tombol ini untuk masuk keruangan pribadi saya” jelas sang CEO
“ Semua file tentang saya dan jadwal saya sudah diemail oleh David ke emailmu kamu bisa mengeceknya” Ucapkanya lagi
“Baik Tuan kalau begitu saya pamit keluar” Ucapnya
__ADS_1
“ Ya nanti jam makan siang temani saya makan siang, saya sudah memesan makanan mulai besok kamu yang melakukannya”. Ucap Tuan Andika kembali
“Maaf tuan saya membawa bekal”.ucap Rara.
Jelas Rara menolak untuk makan siang bersama. Karena dia malas berlama – lama dengan CEO nya yang terkenal dingin, ingin menang sendiri dan Arogan paket komplit pikir Rara. Rara memang kerap membawa bekal karena pikir Rara lebih sehat makanan yang dimasak sendiri. Setiap pagi Rara menyiapkan bekal dengan dibantu oleh Ratih walau hanya makanan simple. Kebetulan sekali pikirnya dengan berdalih membawa bekal jadi dia tidak perlu menemani CEOnya makan siang. Namun angan makan siang yang bebas dan tentram hanyalah angan belaka, karena justru Tuan Andika menginginkan bekal Rara.
“O…. kamu membawa bekal sendiri, ya sudah nanti bawa saja bekalmu kesini sekalian saya mau mencoba masakan kamu” ucapnya tanpa basa basi.
Rara mendelik tidak percaya bukankah CEO nya ini terkenal dingin bahkan Rara pernah merasakan semburan bahasanya yang tak ada hangatnya sama sekali. Menyamakan dirinya dengan seekor siput alias “KEONG” yang lambat. Dan jangan lupa tatapannya yang tajam seperti elang yang ingin memangsa lawannya. Lalu kenapa sekarang CEO nya menjadi celamitan pikirnya.
Rara undur diri dari ruangan CEO. Sebelum keluar kembali Rara diingatkan pukul 11:30 untuk keruangannya dan sekarang baru pukul 10:30 jadi ndia masih ada waktu untuk berbenah barang – barangnya. Menyusun sesuai keinginannya agar lebih nyaman dalam bekerja. Berada didekat CEOnya Rara memang harus banyak memupuk sabar agar tidak mudah darah tinggi.
Rara sedang focus menatap layar monitornya mempelajari tentang keperluan Tuan Andika, Jadwal meetingnya, dan laporan kesekertariatan lainnya tiba – tiba telephone kantor berdering . Dia buru – buru mengangkat karena Rara belum tahu yang menelpon itu adalah sang CEO padahal terlhat jelas disana nomor extansi 210 yang menghubungi yang artinya itu telepon dari ruangan CEO, tetapi karena Rara belum menghapal extansi nomer telpon kantor jadi dia tidak mengetahuinya.
“………..” hening tidak ada jawaban
“ Halo dengan Rara sekertaris CEO “ ucapnya kembali lembut
“ Ra keruangan sekarang” Ucap Tuan Andika langsung menutup teleponnya
Rara memonyongkan bibirnya sambil komat kamit pada gagang telepon yang masih dia pegang, sepertinya Rara sedang mengumpat CEOnya. Dan Rara tidak sadar kalau tingkahnya tersebut diperhatikan oleh Ceonya dari balik kaca ruangannya. Tuan Andika hanya geleng – geleng kepala melihat tingkah absurd sekertarisnya.
Rara masuk keruangan CEO nya dengan membawa bekalnya. Dia duduk disofa sebelah meja kerja sang CEO. Rara menyiapkan makanan yang sudah dipesan Tuan Andika lebih tepatnya David sang asisten karena tadi Rara melihat David yang masuk membawa paper bag, kedalam piring yang tadi sudah diambil dari pantry. Setelah itu dia besiap untuk makan.
__ADS_1
“ Punya kamu kenapa tidak kamu buka” Tanya Tuan Andika
“ Maaf Tuan saya makan bekal saya saja” ucap Rara
“ Kamu masak apa tadi pagi buat bekal apa saya boleh minta?” Tanya Tuan Andika
“ Saya hanya membawa bekal tumis kangkung dan ayam goreng kalasan Tuan” ucap Rara jujur
Wajah Tuan Andika berbinar melihat ayam goreng kalasan yang terlihat sangat gurih. Bahkan Tuan Andika terlihat menelan saliva melihat ayam goreng kalasan milik Rara. Rara sadar akan arah pandang mata CEO nya pun heran. Kemana CEO dinginnya yang kemarin - kemarin pikirnya kenapa sekarang seperti kucing rumahan yang imut begini saat menginginkan bekalnya. Rara akhirnya memberikan bekalnya kepada Tuan Andika dan Rara memakan makanan yang dipesan oleh Tuan Andika tadi. Tuan Andika sangat lahap memakan bekal Rara sampai licin tandas tak tersisa.
“ Ra? Kamu memasak sendiri atau bagaiman bekalmu itu?” Tanya Tuan Andika
“Masak sendiri Tuan dibantu teman saya yang tinggal serumah dengan saya” ucap Rara jujur
“Mulai besok dilebihkan membawa bekal ya buat saya sarapan dan makan siang saya sekalian” ucapnya tanpa malu
“khan sama saja kamu juga harus tetap menyiapkan Sarapan saya dan makan siang saya walaupun kamu tidak membawa bekal” ucapnya mulai jurus ngeyel
Rara hanya bisa mengangguk pasrah. Kembali dia menyemangati diri sendiri dengan meyakinkan diri ini tidak akan lama hanya 6 bulan pikir Rara. Mulai sekarang Rara harus terbiasa dengan sikap Tuan Andika yang berubah ubah. Kadang dingin, arogan, dan egois atau kadang hangat, dan imut melebihi kucing peliharaan Rara di Jakarta dirumah orang tuanya.
Bersambung
...****************...
__ADS_1
Terimaksih untuk para readers yang sudah sudi mampir kekarya Autor yang receh ini, Jangan lupa tinggalkan jejak like & komen ya…… see you next Part