
Suasana di taman kota hari ini sangat ramai karena hari libur. Taman kota ini juga menyediakan arena bermain untuk anak anak seperti prosotan, mandi bola, kuda poni bahkan kolam renang khusus anak anak. Food curt berjejer menyajikan menu andalan masing – masing di sepanjang pinggiran taman kota.
Anak – anak bermain riang tanpa beban, Lamat – lamat Arta memperhatikan Rara sedang bermain air dikolam renang dengan seorang anak kecil. Terlihat Rara tertawa lepas tanpa beban dan ini adalah pemandangan langka sepanjang kenal dengan Rara, belum pernah Arta melihat Rara tertawa lepas begitu. Apakah Rara sangat bahagia bermain dengan anak kecil itu pikir Arta.
Sekilas pandang Rara terlihat Sedang bermain dengan anaknya sendiri. Apakah ini waktunya? Pikir Arta. Arta sudah memiliki keinginan mengajak Rara untuk melanjutkan hubungan mereka kejenjang yang lebih serius. Hanya saja Arta masih takut untuk menyampaikan niat baiknya itu karena sikap Rara yang sering dingin dengannya. Melihat sikap hangat Rara didepan matanya memantapkan hati Arta.
“ Hai... seru banget mainanya” tegur Arta lembut
“ Ehh.. iya aku senang dengan anak kecil” Jawab Rara
“ Wah senang dengan anak kecil?” tanya Arta berbinar
“ Iya abis dia lucu bikin gemas” Ucap Rara sambil menoel pipi gembul bocah berumur 4 tahun yang sedang bermain dengannya tadi beserta teman – teman anak itu lainnya.
“ Kalau senang kenapa tidak membuat anak saja Ra” Arta keceplosan dan menutup mulutnya, Arta salah memilih kosakata.
Entahlah saking semangatnya dia atau saking gugupnya sehingga dia salah memilih kosakata. Terlebih dia melihat Rara mendelikan mata kehadapannya. Arta memalingkan wajahnya yang memerah karena menahan malu.
“ Kau pikir membuat anak seperti membuat kendi? Dengan tanah liat trus dibentuk bentuk akan menjadi anak?” Dengus Rara
“ Maaf Ra...” mohon Arta sendu
“ Huh kau merusak moodku saja” omel Rara meninggalkan Arta dengan kesalahannya yang membuat sang pujaan hati badmood.
Alamat gagal dia hari ini melamar Rara. Sepanjang mengejar Rara yang sudah menjauh tak hentinya Arta menyesali kesalahannya. Bukankah lebih tepat kalau dia berkata seperti ini ‘Ra apakah kamu tidak berkeinginan memiliki anak sendiri?’ Atau minimal dia berkata seperti ini ‘ Ra maukah kau menikah denganku? Nanti kita juga akan memiliki seorang anak yang imut’ ..... ah....itu juga tidak romantis pikir Arta.
“Ra....” Arta mencekal tangan Rara agar berhenti
__ADS_1
“Apa lagi sih Arta....” jawab Rara menekan sabar. Sungguh tadi dia jengkel sekali dengan Arta .
“Aku minta maaf” mohon Arta lagi
“ Kita tumben ini keluar berdua ehh malah berantem” ucap Arta sendu
“ Lah yang salah siapa” kata Rara ketus
“ Iya... aku minta maaf gak akan ngulangin...” cari makan yuk?? Tawar Arta
“ Bagaimana kalau kita makan Bakso? Bakso Mang Dadang terkenal bakso terenak di Taman ini Ra” ajak Arta antusias berharap dapat mengembalikan mood Rara.
Aroma bakso Mang Dadang menguar diudara memanggil langkah agar segera mendekat.
“Mang bakso 2 ya Mang” Arta mulai memesan
“ Siap den” jawab Mang Dadang semangat
“ Mau nambah ?” Tanya Arta
“ He … he.. he tidak aku sudah kenyang” katanya sambil mengusap perutnya
“ Ra boleh aku ngomong sesuatu?” Tanyanya sambil menggenggam kotak kecil dikantong celana yang dari tadi sudah disiapkan oleh Arta.
“Dari tadi bukanya udah ngomong ya?” gurau Rara geleng – geleng
“ Ra aku serius” katanya sambil menggenggam tangan Rara dan menyerahkan kotak kecil terbungkus beludru merah marun.
__ADS_1
Rara hanya terbengong bingung mau bicara apa dan dalam otaknyapun bingung apa gerangan yang ada digenggamannya sekarang ini.
“ Ra maukah kamu menikah denganku?” tiba- tiba Arta sudah berlutut didepannya
“ Aku tau seharusnya aku melakukan ini dengan cara dinner romantis tidak ditempat yang seperti ini, tapi jujur Ra aku sudah tidak bisa menunggu lagi. Aku sangat mencintaimu Ra” ungkapnya masih berlulut.
“Terima… terima…” begitu sorak sorai pengunjung bakso Mang Dadang yang lumayan ramai. Rara melepaskan genggaman tangan Arta.
“Arta kita bicara dimobil aja” katanya sambil berlalu mengabaikan teriakan – teriakan orang disana yang mendukung Arta. Dia hanya bisa mendesah pelan begitu banyak yang mengelukan tindakan Arta yang sangat romantic menurut sudut pandang para pelanggan dikedai Mang Dadang.
Didalam mobil Rara gusar menanti kedatangan Arta. Dia bingung harus memulai dari mana. Ditariknya nafas dalam – dalam dihembuskannya kembali dan itu dilakukan berulang kali guna menetralkan hatinya gar tenang dan tidak salah mengambil keputusan. Suara seseorang membuka pintu mobil membuat Rara tersadar dari lamunanya yang entah memikirkan apa.
“ Arta aku minta maaf kalau nanti apa yang aku sampaikan menyakiti hatimu” ditariknya nafasnya kembali dan dihembuskannya lagi. Kelihatan sekali kalau Rara sedang mengambil sebuah keputusan yang berat.
“Arta maaf aku tidak bisa menikah denganmu”
DUARRRR
Apakah ini konsekuensinya pikir Arta. Dia terlalu percaya diri kalau Rara sudah membuka hati untuknya karena tadi pagi sikap Rara yang sudah mulai hangat.
“ Maaf Arta aku tidak bisa menjadi kekasihmu ataupun istrimu. Aku yakin kamu akan mendapatkan orang yang lebih baik dari aku. Yang bisa menyayangimu setulus hati. Selama ini aku mencoba Arta, tapi aku tidak bisa. Maaf … “katanya berlalu meninggalkan Arta dengan kesedihanya.
Kenangan pertemuan dengan Rara pertama kali dibengkelnya saat itu menari – nari diotaknya. Menurut Arta Rara adalah wanita tercantik, termanis yang pernah dijumpainya. Rara adalah wanita pertama kali yang berhasil membuat gejolak aneh didada yang selama ini belum pernah dirasakanya. Memantapkan dan meyakinkan hati jika Raranya sudah bisa menerima kehadirannya. Jika Hati Rara sudah mulai bisa menerima seseorang yang baru.
Tapi ternyata semua keyakinan hatinya salah. Hati Rara masih beku belum ada yang bisa menaklukannya. Menghangatkan kembali hati itu sebelum tragedy satu tahun yang lalu terjadi. Arta menggenggam cincn yang hendak diberikan kepada Rara sangat erat berharap suatu hari nanti cincin itu bisa bertahta dijari manis Rara. Bukankah cinta butuh perjuangan pikirnya….
Bersambung
__ADS_1
...****************...
Terimaksih untuk para readers yang sudah sudi mampir kekarya Autor yang receh ini, Janganlupa tinggalkan jejak like & komen ya…… see you next Part