Penakluk Miss Playgirl

Penakluk Miss Playgirl
Bab 59 Arta, Ratih, Yuda dan Kania


__ADS_3

Di Kota Bandung sepasang kekasih baru saja pulang dari dinner dan shoping. Arta dan Ratih tadi baru selesai memesan cicin pernikahan. Ya hubungan Ratih dan Arta memang berlanjut ke jenjang yang lebih serius. Setelah satu minggu yang lalu Arta menemui keluarga Ratih di Jakarta, menyatakan keseriusannya terhadap Ratih dan mendapat tanggapan positif dari keluarga Ratih.


Sesuai kesepakatan keluarga pernikahan Ratih dan arta akan dilaksanakan tiga bulan kedepan. Jadi Ratih dan Arta mulai menyiapkan keperluan untuk acara pernikahannya yang akan dilaksanakan di Jakarta di Kota kelahiran Ratih. Kendaraan Arta melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah minimalis tempat Ratih tinggal selama ini. Sedang asyik menikmati pemandangan kota Bandung dimalam hari Ratih dikagetkan dengan suara ponsel didalam sling bagnya. Setelah melihat id pemanggil Ratih langsung menekan icon hijau untuk menerima panggilan tersebut.


“Halo iya Ra, Kamu dan Tante Rani sehat kan? Tanya Ratih khawatir


“Sehat Tih kamu dimana?” Tanya Rara disebrang sana


“Akulagi dijalan baru saja pulang ini dianter sama Arta” ucap Ratih jujur


“Wah langgeng terus ya Tih. Arta orang baik Tih aku yakin kamu akan bahagia menikah dengannya”ucap Rara tulus


“Iya Ra terimakasih doanya. Ada apa kamu menlfonku malam – malam begini? Tanya Ratih penasaran


“Tih aku sebulan lagi akan menikah” uucap Rara


“…………………………….” Tudak ada jawaban dari sebrang sana


“Tih…. Halo Ratih” ucap Rara berulang kali


“Eh… iya Ra ada apa?” Tanya Ratih bingung


“Is… kamu lagi ngapain sih Tih? Kok kayak gak konsen? Ucap Rara curiga


“Aku masih dijalan, nihh lok gak percaya kita rubah aja ke panggilan video” ucap Ratih langsung merubah kepanggilan video dan kini terpampang jelas wajah Ratih di ponsel Rara begitupun sebaliknya.


“Udah percaya belum?” Tanya Ratih pada sahabatnya yang dijawab anggukan kepala oleh Rara


“Wih… Arta makin ganteng aja” ucap Rara keceplosan dan berhasil membuat Ratih mendelik kehadapan Rara. Dan hanya ditanggapi dengan tawa terbahak dari Rara


“ Apa kamu sedang bahagia Ra?” Ucap Ratih penasaran karena jarang sekali melihat Rara tersenyum dan tertawa semenjak Tante Rani menolak lamaran Tuan Andika

__ADS_1


Bukannya menjawab Rara justr memamerkan jarinya terhadap Ratih. Dan itu membuat Ratih terkejut dengan mulut menganga.


“Apakah adahal yang aku lewati Ra” Tanya Ratih penasaran


“Satu bulan lagi aku akan menikah dengan Mas Andika” ucapnya memberitau sahabatnya


“Ko….Kokok bisa?” Tanya Ratih terbata. Ratih heran bukankah baru beberapa hari yang lalu informasi yang dia dapat jika Tante Rani tidak mau merestui hubungannya dengan Rara. Lalu kenapa sekarang tiba – tiba Tuan Andika akan menikah dengan Rara sebulan lagi pikirnya.


“Tadi sore Mas Andika dan kedua orang tuanya kesini melamar aku Tih. Dan ternyata Mama dengan Mamanya Mas Andika sahabatan dulu semasa kuliah, mungkin karena itu Mama sedikit tenang dan merestui hubungan kami” ucap Rara menjelaskan.


“Wah selamat ya Ra, jodoh memang tak akan kemana” ucap Ratih senang


“Iya ma kasih, Hm…. Tih maaf ya aku jadi ngeduluin kamu”ucapnya sendu


“Hei tidak apa Ra aku justru bahagia, setidaknya kamu tidak akan kesepian jika udah nikah yang mungkin aku jarang ada waktu buat kamu, sekarang kamu istirahat dulu aja pasti lelah” ucapnya karena melihat wajah lelah Rara


Setelah sambungan telefon terputus Ratih dan Arta saling pandang dan melempar senyum. Ternyata bahagia itu sederhana, melihat orang – orang terkasih kita bahagiapun kita akan bahagia. Tanpa terasa kendaraan yang dilajukan oleh Arta telah sampai dirumah tempat tinggal Ratih.


“Boleh deh sayang” ucapnya tersenyum pada tunangannya


Ratih dengan cekatan membuatkan kopi untuk tunangannya dan menhidangkannya dengan beberapa camilan.


“Hem… enak banget sayang kopi buatan kamu, selalu pas” pujinya saat sudah menyeruput kopi yang dihidangkan oleh Ratih.


“Masih ada waktu 60 menit aku disini” ucapnya tersenyum mesum melihat jam melinkar di pergelangan tangannya yang menunjukan pukul 21:00


Ratih menunduk malu melihat kelakuan Arta, semenjak mereka resmi bertunangan Arta memang sering menemani Ratih dirumahnya kadang sampai larut memastikan Ratih sudah tertidur baru Arta pulang ke Apartemennya. Kadang Arta tidak tega membiarkan calon istrinya tinggal dirumah seorang diri, ada rasa was – was takut terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan. Sampai Arta meletakan 2 penjaga keamanan dan satu Art yang menemani Ratih disana, tetapi ART itu sedang cuti lima hari melihat cucunya yang sedang sakit dan besok sepertinya sudah kembali.


Arta memandang wajah cantik Ratih, Wajah mereka berdua saling berdekatan hingga indra pengecap itu bertemu. Saling sesap, pagut, dan lidah saling membelit menyalurkan rasa cinta ynag membuncah di dada. Ciuman mereka terlepas dengan nafas yang tersengal dari keduanya.Saling menempelkan kening, memejamkan mata meresapi dan menikmati settiap rasa yang disarakannnya.


“I love you sayang” ucap Arta dan ucapan sederhana Arta ini selalu membuat hati Ratih bergetar.

__ADS_1


“I love you more Ma” Ucap Ratih tersenyum teduh


Pagi ini begitu cerah, Suara burung berkicau dan bertebangan kesana kemari. Udaranya sangat sejuk karena banyak tanaman poohon hijau besar disekeliling rumah sedrhana namun sangat bersih. Sejuknya udara menandakan tempat ini jauh dari hiruk pikuk kota. Dirumah sederhana tersebut terdapat pasangan paruhbaya yang tinggal haya berdua karena putraya sedang menjalani hukuman untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi.


“Pa sudah mendapat alamat rumah Kania mantanya Yuda dulu? Kita harus segera menemuinya, Mama ingin mengunjungi makam cucu kita Pa” ucap buk prastya ibu dari Yuda Prasetya


“Udah Ma nanti pukul 09:00 kita langsung kerumahnya atau kebutiknya saja Papa sudah memiliki alamatnya” ucap Pak Prasetya


“Benarkah?” Tanya Buk Praseya berbinar dan dijawab dengan anggukan kepala oleh Pak Prasetya


Tepat pukul 09:00 pasangan tersebut berangkat menuju rumah Kania karena setelah menghubungi no telfon butik Kania ternyata ownernya hari ini tidak berangkat karena sang owner kurang enak badan. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 40 menit Pak Prasetya sampai di Rumah minimalis tingkat dua. Pak prasetya menuju pintu rumah dengan mendorong buk Prasetya yang sudah dua minggu ini tidak kuat berjalan sehingga membuatnya harus duduk dikursi roda.


Setelah menekan bel sebanyak tiga kali pintu utama terbuka dari dalam, muncul sosok wanita cantik dengan rambut sebahu yang dicat warna coklat. Sang Wanita mengernyit karena penasaran dengan tamunya. Sedangkan pasangan paruh baya tersebut tidak kuat menahan rasa bersalahnya didada. Seandainya dulu kedua orang tua itu tidak terlalu ikut campur masalah percintaan putranya mungkin sekarang beliau sudah menggendong cucu. Air mata penyesalan terus berdesakan mengalir di pippasangan parubaya itu.


“Maaf pak mencari siapa?”Tanya Kania ramah


“Kania, saya adalah Papanya Yuda dan ini adalah mamanya Yuda” ucap Pak Rasetya memperkenalkan diri


DEG


Kania kaget mendengar ucapan Pak Prasetya. Untuk apa mereka kemari pikirnya. Apakah Orang tua Yuda akan memakinya karena telah menceritakan semua kelakuan Yuda terhadapmya kepada Rara. Sehingga membuat Rara dendam terhadap Yuda pikirnya. Namun bukannya jera Yuda justru semakin menjadi sampai menyekap Rara dan berakhir dengan Yuda mendekam dipenjara.


Bersambung


...****************...


Hai para readers apa kabar?


Semoga selalu sehat ya? Maaf telat update


Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, hadiah dan votenya

__ADS_1


Terima kasih


__ADS_2