
Di Bandung tepat pukul 19:00 Ratih berada di Resto dan ditemani oleh Arta sang kekasih. Semenjak hubungannya sudah diketahui oleh Rara, Mereka berdua tidak pernah lagi bertemu secara sembunyi – sembunyi. Bahkan, mereka tidak malu menunjukan kemesraan mereka didepan Rara, Arta sering menghabiskan waktunya di Resto menemani Ratij. Teringat jika Rara pulang ke Jakarta, membuat Ratih malas pulang karena dia bosan dirumah sendirian. Dari kemarin malam Ratih sudah menginap di Resto karena merasa dirumah tidak memiliki teman mengobrol.
“Belum selesai?” Tanya Arta membelai surai hitam Ratih
“Sedikit lagi” ucapnya masih memasukan beberapa angka terakhir yang tertera dikertas kedalam laptopnya
“ Siapa suruh tadi mengganggu aku”ucap Ratih mencebikan bibirnya
“ Tapi kamu senengkan diganggu sama aku?” Ucap Arta menjepit dagu Ratih dengan tangannya
“Ar kamu masih menyukai Rara? Apa kamu tidak ingin kembali dengan Rara? Sekarang Rara sedang sangat sedih siapa tau jika kamu masuk kembali dan memberi perhatian kepada Rara hatinya bisa luluh. Aku.. aku ikhlas” ucap Ratih sendu.
“ Maksud kamu? Hei kamu pikir hati aku ini tercipta dari apa? Apa kamu pikir aku dan kamu hanya pelarian?” Tanya Arta
“Dari awal hubunganku dengan Rara aku tau Rara tidak pernah sedikitpun ada rasa suka terhadapku. Bahkan aku tau Rara menerimaku karena menghindari kejaran dari para kekasihnya yang banyak itu. Maka setelah kekasih – kekasihnya percaya diapun memutuskan aku. Tetapi aku yang egois saat itu aku yakin aku bisa meluluhkan hati Rara. Aku bisa membuka hatinya agar Rara hanya bisa mencintai aku seorang saja. Tetapi saat di Resto tidak sengaja aku melihat Rara makan bersama dengan lelaki yang aku yakini sekarang Tuan Andika. Aku bisa lihat bagaimana Rara bisa tersenyum dan tertawa lepas saat itu” Ucap Arta tersenyum getir mengingat itu.
“Kamu ingat saat kami pergi ke taman kota?” Tanya Arta yang dijawab anggukan kepala oleh Ratih
“Saat itu Rara memutuskan hubungan kami dia meminta kepadaku untuk berhenti mengejarnya. Tapi, aku keras kepala, aku jumawa aku yakin bisa mendapatkan hati Rara hingga beberapa hari kemudian aku tak sengaja melihat Rara di Resto bersama Tuan Andika, melihat Rara yang sebahagia itu, aku ikhlas. Aku yakin jika hanya Tuan Andika yang bisa membahagiakan Rara. Hanya Tuan Andika yang bisa menaklukan Hati Rara”Ucap Arta kembali
“Dan keikhlasanku membuahkan hal termanis dalam hidup aku. Aku mendapatkan kekasih yang baik hati, cantik, dan mencintaiku dengan tulus. Aku sangat bersyukur sayang, aku bertemu denganmu disaat aku gagal dengan cinta pertamaku. Tuhan sangat menyayangiku Tih, Sehingga aku dipertemukan bidadari berhati peri sepertimu. Di hati aku sekarang hanya ada kamu, tolong kamu jangan meragukan aku lagi. Dan jangan pernah bahas tentang kisahku dan Rara lagi, jangan ungkit masa lalu lagi Tih. Please” ucapnya menggengam tangan Ratih.
“ Is… gomal” ucap Ratih mencubit perut Arta yang berada dibali kemeja yang masih dikenakan oleh Arta
“ Hei.. kamu merusak suasana romantis kita sayang” ucap Arta tersenyum
“ Apakah sama Rara juga kamu gombal begini?” Tanya Ratih yang langsung menutup mulutnya, tanpa sadar Ratih kembali mengungkit masa lalu Arta dengan Rara.
Arta tersenyum miring melihat tingkah kekasihnya dan menjawab pertanyaan Ratih dengan gelengan kepala. Dia juga tidak tau kenapa jika bersama Ratih dia bisa menjadi diri sendiri dan bahkan Arta tidak ada rasa canggung sama sekali. Dia dengan mudah bisa mengungkapkan apa yang ada dibenaknya.
__ADS_1
“ Kamu mengungkitnya sekali lagi, siap – siap saja dapat hukuman” ucap Arta mengerling kearah Ratih
“ Hukuman?” Tanya Ratih bingung
CUP
Arta mencium bibir merah ranum Ratih sekilas membuat pemiliknya diam membatu
“Itu hukuman kalau membahas masa lalu” ucap Arta tanpa dosa
“Tadi aku enggak sengaja menanyakan bagaimana kamu dulu sam Ra…” ucapan Ratih menggantung diudara setelah bibirnya dibungkam oleh bibir Arta dan memberikan sedikit *******. Arta memperlakukan Ratih dengan sangat lembut hingga Ratih terbuai. Bak dayung bersambut Ratih secara otomatis mengalungkan tanggannya dileher Arta dan membalas ciuman Arta, saling menyalurkan rasa dan bertukar saliva. Takut tak dapat menguasai diri Arta melepaskan pagutannya dan terkahir mencium kening Ratih sangat lama menyalurkan cinta dan kasih sayangnya disana.
“ Sudah selesaikan? Kita makan malam dulu ini sudah pukul 19:30 aku tidak mau kekasihku yang cantik ini kurus karna kurang makan dan terlalu banyak bekerja” ucapnya mengacak rambut Ratih
“Ar… is… nyebelin” ucap Ratih manja dan merapikan kembali rambutnya.
Setelah menempuh perjalanan dua puluh menit disinilah mereka berada di salah satu Resto yang super cozy terlebih untuk sepasang kekasih. Lokasinya yang terletak di lantai Root top membuat kita bisa melihat view kota Bandung disini.
Ratih hanya melihat satu meja yang terdapat lilin dan setangkai mawar merah dan dua kursi ditempat ini, dan sepanjang root top ini terdapat
apakah Arta telah menyewa seluruh Restu dilantai Root top ini pikir Ratih. Hati ratih mekar merekah diperlakukan begitu romantis oleh Arta, apakah ada perayaan yang dia lewati pikirnya lagi.
Arta menggeser kursi untuk Ratih duduk, setelahnya Arta duduk berhadapan dengan Ratih. Tak lama hidanganpun datang, ternyata Arta memang menyiapkan semunya termasuk hidangan kesukaan Ratih.
“ For The Only Woman” ucap Arta menyerahkan satu buket bunga mawar merah kesukaan Ratih sambil berjongkok didepan Ratih.
Mata Ratih memanas diperlakukan begitu special oleh Arta dia sangat bersyukur.
“ Will You Marry Me Ratih Prameswari?” Ucap Arta masih berjongkok dan melipat lutut tidak lupa tangannya menyodorkan kotak beludru berisi cincin bertahtakan berlian yang sangat cantik dihadapan Ratih.
__ADS_1
Ratih menutup mulutnya tidak percaya jika Arta akan melamarnya hari ini dan secepat ini. Dengan mengucap doa dalam hati dan memantapkan hati Ratih menganggukan kepalanya memberikan jawaban kepada Arta.
“Yes I do” ucapnya dengan tangis bahagianya.
Senyum merekah terbit dibibir Arta. Dia menyadari ini terlalu cepat tetapi dia teranjur merasa nyaman dengan Ratih. Dia sudah mentapkan hatinya jauh – jauh hari jika memang Ratihlah yang dia cari. Ratihlah wanita yang dia butuhkan. Bukankah cinta bukan perkara lamanya waktu kita mengenalnya.
Setelah menyematkan cincin dijari manis Ratih dan mengecupnya. Mereka berdua berpelukan dan menyalurkan sayang diantara keduanya. Suasana makan malam mereka berdua kali ini dipenuhi dengan bunga – bunga. Senyum merekah tidak pernah surut dari keduanya saling suap dan bergenggaman tangan. Hingga suara dering ponsel di sling bag Ratih mencuri perhatian keduanya.
“ Siapa?” Tanya Arta mendapati Ratih yang tidak kunjung menjawab panggilan di ponselnya. Namuan bukannya menjawab Ratih justru memperlihatkan id pemanggil kepada Arta.
“ Angkat aja siapa tau penting” Ucap Arta
Ratihpun menggeser icon hijau pada layar ponselnya
“ Hallo kak ada apa?” Tanya Ratih, ya yang menghubungi ponsel Ratih adalah Kak Surya kakak Dari Rara sahabatnya.
“ Kamu tau dimana Rara?” Tanya Suara disebrang sana
“ Bukannya Rara sudah di Jakarta dari kemarin?” ucap Ratih kaget
“ Tidak ada, bahkan Tuan Andika juga kesini mencarinya” ucap Kak Surya lagi
HAH
Ratih tercengang mendengar penjelasan Kak Surya. Dia juga bingung kemana Rara perginya, karena Rara pamitnya pulang ke Jakarta. Mau mencari informasi dari pengawal sudah tidak ada karena sudah diberhentian oleh Kak surya dari beberpa hari yang lalu atas permintaan Rara yang meminta menghargai privasinya.
Bersambung
Haii para readers jangan lupa like & coment.
__ADS_1