
Kania mencoba untuk tenang, bukankah apa yang diceritakannya kepada Rara adalah sebuah kenyataan? Karena, sedikitpun Kania tidak melebihi ataupun mengurangi fakta yang terjadi.
“Hm silahkan masuk Tuan dan Nyonya” ucap Kania datar dan melangkah masuk kedalam rumahnya
“Kania saya mau minta maaf atas apa yang dilakukan oleh Yuda kepadamu” ucapan Buk Prasetya menghentikan langkah Kania.
Kania mematung mendengar ucapan buk Prasetya, luka lama yang telah lama dia pendam terkoyak kembali menimbulkan sesak didada. Tanpa terasa air mata Kania menetes dipipi dalam sekali kedipan mata.
“Saya tau kesalahan Yuda terlalu fatal kepadamu. Tapi itu semua tidak murni kesalahan Yuda ada andil saya sebagai Mamanya. Seandainya saya tidak pernah memberikan kriteria untuk menjadi istri Yuda dahulu mungkin tidak akan seperti ini kejadiannya. Mungkin saya sudah bermain bersama dengan cucu saya. Maafkan saya Kania, karena saya kamu mengalami kejadian yang memilukan” ucap Buk Prasetya terisak
Kania tidak bergeming dari tempatnya berdiri dengan masih memunggungi kedua orang tua Yuda
“Saya tau, saya tidak pantas mendapatkan maaf dari kamu Kania. Karena kelakuan anak saya, masa depan kamu hancur. Dan kamu kehilangan anak dalam kandunganmu yang memiliki darah Pra………”
“Itu anak saya bukan anak Yuda!!! Sejak saya memberi tau kalau saya hamil Yuda sudah menyuruh saya untuk aborsi dan dia tidak mau mengakui anak yang saya kandung adalah anaknya. Jadi tolong jangan pernah katakan jika Kendra adalah bagian dari keluarga Prasetya!!!” ucap sarkas Kania membalikan badannya menghadap pak Prasetya dan Buk Prasetya. Saat Kania keguguran usia kandungannya telah mencapai empat bulan dua minggu jadi, memang proses pemakamannnya pun seperti memakamkan mayat seperti biuasanya dan diberi nama Kendra karena sudah terlihat jenis kelaminnya.
“ Nak Kania saya minta maaf kalau saya salah berbicara, Yuda telah menyesali perbuatannya kepada Nak Kania bahkan dia sendiri sudah menceritakan semua yang telah dia lakukan kepada Nak Kania dan dia menitipkan permintaan maaf kepada Naka Kania” ucap Buk Prasetya masih terisak pilu.
“ Heh giliran sudah begini baru mengatakan maaf dan menyesal, setahun yang lalu entah kemana dia perginya. Aku tidak menyesal telah menceritakan perbuatan semua perbuatan Yuda kepada Rara” ucap Kania keceplosan. Dia menunduk menutupi wajah khawatirnya
“ Iya dan Yudapun memaklumi tindakan Nak Kania tersebut. Dan kami memang pantas mendekam dipenjara. Jika bukan karena kebaikan keluarga Rara mungkin saya sudah meninggal didalam penjara” ucap Buk Prasetya sendu
Kania kaget mendengar ucapan Buk Prasetya dan memang dia tidak tau tentang kondisi kesehatan Buk Prasetya dan Rarapun tak pernah bercerita tentang itu. Kepala Kania reflek mendongak memandang wajah Buk Prasetya yang sedikit pucat, mencoba mencari tau kira – kira ibu dari seseorang yang pernah berada didalam hatinya itu sakit apa.
“Saya menderita kanker serviks stadium akhir Kania. Karena harus perawatan jadi keluarga Rara mencabut tuntutan terhadap saya dan suami saya tetapi tidak dengan Yuda” ucapnya sendu
“Mungkin umur saya tidak akan lama lagi. Saya hanya ingin menyampaikan permintaan maaf Yuda kepadamu. Dan permintaan maaf kami selaku kedua orang tua Yuda” ucap Buk Prasetya kembali terisak
__ADS_1
“Sudah lupakan saja Nyonya, anggap saja tidak pernah terjadi jauh sebelum Nyonya meminta maaf saya sudah memaafkan Yuda” ucap Kania jujur. Karena memang dia sudah memaafkan Yuda. Entah kenapa dia tidak bisa memendam amarah terhadap orang yang telah menghancurkan hatinya itu.
“Benarkah?” Tanya Buk Prasetya berbinar yang dijawab anggukan kepala oleh Kania
“Lalu bolehkah kami pergi kemakam Kendra cucu kami?” Tanya Buk Prasetya sudah tidak sabar
“Maaf untuk itu saya tidak bisa, karena dulu Yuda tidak mau mengakuinya jadi untuk apa Tuan dan Nyonya berkunjung kemakam Kendra anak saya” ucap Kania kembali dingin
Buk Prasetya kembali terisak mendengar penolakan dari Kania kembali. Disisa hidupnya dia hanya ingin berkunjung kemakam cucucnya sekali saja. Agar dia bisa tenang meninggalkan dunia ini
“ Bagaimana bisa sekarang kalian ingin berkunjung, sedangkan dulu anaku tidak ada keluarganya yang mengurus pemakamannya” ucapnya menjeda
“Dan sekarang tiba – tiba mengaku sebagai kakek dan neneknya dan ingin berkunjung kemakamnya” ucapnya tersenyum miring
Pak Prasetya mencoba menguatkan istrinya, mengingat istrinya yang sakitnya semakin parah dia tidak mau jika kondisinya semakin memburuk jika terus mendengar luapan kemarahan Kania.
“Ma, sudah ya kita pulang setidaknya kita sudah menyampaikan permintaan maaf Yuda kepada Kania. Kita pulang dulu sekarang ya besok kita berkunjung kembali” Rayu Pak prasetya dengan posisi berdiri menggunakan lututnya
Kania kembali tersentak mengetahui sebuah kenyataan baru. Jadi memang benar ibu dari Yuda ini sakit parah sampai divonis oleh dokter umurnya yang tidak lama lagi pikirnya
“Tunggu” ucap Kania yang melihat Pak Prasetya dan istrinya sudah sampai dipintu
“Ikuti mobil saya, saya akan mengantar Tuan dan Nyonya kemakam Kendra” ucap Kania datar
“Benarkah itu nak?? Terima kasih banyak ya” ucap buk Prasetya
“Nak tolong jangan panggil kami Tuan dan Nyonya, kami bukan siapa – siapa kamu bisa memanggil saya Mama dan Papa. Atau kamu panggil kami senyamannya kamu saja” ucap Buk Prasetyo
__ADS_1
“Baik Tante” ucap Kania sambil mengangguk
Mereka melajukan kendaraanya masing – masing, setelah 30 menit perjalanan sampailah mereka di Tempat Pemakaman Umum. Pak Prasetya dan Buk Prasetya mengikuti langkah Kania karena dia juga tidak tau letak makan Kendra cucumya.
“Ini makam Kendra Tante” Ucap Kania berhenti tepat disebuah makam kecil,
Pak Prasetya merasakan kakinya lemas melihat makam cucu satu – satunya telah meninggalkannya begini. MEncoba menghalangi agar air matanya tidak luruh namuan gagal bahjkan sekali kedip air mata Pak Prasetya tupah dan saling berdesakan.
Buk Prasetya masih duduk dikursinya dia pandang makam kecil didepannya. Makam yang membuktikan kalau dia juga memiliki seorang cucu pikir Buk.
“Hai Kendra apa kabarmu nak, ini nenek sayang. Maaf nenek baru bisa kemari,yang terpenting semuanya sehat bukan Kendra?”ucap Buk Praseta terisak
“Maafkan nenek ya sayang….. gara – gara nenek Mama dan papa kamu terpisah”ucapnya tersebu
“Jemput nenek nanti ya sayang jika sudah waktunya nenk menghadap Tuhan”ucapnya kembali
“Maafkan juga Papa kamu ya sayang, semua yang terjadi tidak murni kesahan papa kamu seorang tetapi semua karenan nenek juga” ucapnya sendu lalu menabur kembang diatas makam sang cucu.
“Sayang nenek pamit dahulu ya, kapan – kapan kalau nenek masih bernafas nenek akan kemari lagi, Nenek sayang banget sama Kendra” ucapnya tersenyum kearah makam. Sebelum meninggalkan makam bersama.
“Terima kasih Kania sudah mengijinkan kami berkunjun kemari” ucapnya tersenyum
“Sama – sama Tante” ucapnya
Merekapun pulang kerumah dengan melajukan kendaraanya masing – masing. Ada perasaan lega dihati Kania saat ini setidaknya Kendra sudah pernah bertemu dengan kakaek dan neneknya. Tinggal sang Papa mampukah dia memperjuangkann kita dek pikir Kania
Bersambung
__ADS_1
Hai readers jangan lupa selalu jaga kesehatan
Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen,vote dan hadianya ya