
Rara masih menangis sesenggukan menuju kamarnya. Sebenci apapun dia kepada Yuda tetapi dalam hati kecilnya dia masih mencintai dan menyayangi lelaki yang membuatnya percaya akan cinta kembali , dan Yuda pula yang membuat Rara berada dalam kubangan lumpur kesedihan tak berkesudahan. Rara hanya menyayangkan kenapa dia tidak mengambil keputusan sebelum pertunangan diumumkan. Kenapa harus pergi di hari bahagia. Kenapa memberikan mimpi buruk disaat hari bahagia. Kenapa harus hari itu?
Rara membuka pintu kamar dan kaget mendapati Ratih menyambutnya dikamar. Ratih merentangkan tangannya tanda dia ingin memeluk Rara meringankan kesedihan yang dialami oleh Rara. Rara menghambur kepelukan Ratih menumpahkan semua kesedihannya. Rara tidak menyangka kalau dia akan secepat ini bertemu dengan Yuda kembali. Bertemu dengan Yuda yang mengakui semua kesalahnnya. Namun sudah tiada guna lagi. Ratih melonggarkan pelukannya setelah dirasa Rara sudah mulai tenang.
“Bukannya kamu belum pulang” Tanya Rara
“Kalau belum pulang berarti yang disini hantu dong” goda Ratih
“ Is….. serius aku tih…” ucapnya mengerucutkan bibirnya
“ Nah… gitu jangan nangis terus… life is go on Ra” ucapnya menyemangati Rara
“Eh… pertanyaanku tadi belum dijawab ya? Kamu pulang sejak kapan?” Tanya Rara
“Sejak Yuda dateng… aku lewat pintu samping biar gak ganggu kalian. Biar kalian bisa bicara dari hati kehati” terang Ratih
Rara hanya menanggapinya dengan tersenyum getir. Karena sejatinya tidak ada satuhal lagi yang perlu mereka bicarakan. Bagi Rara semua sudah berakhir disaat Yuda meninggalkannya. Dia memang tidak pernah menyangka akan kembali dipertemukan oleh Yuda secepat ini.
“Kamu tau Tih? Apa alasan dia pergi meninggalkanku waktu itu. Dia berkata orang tuanya melarang hubungan kami semenjak kak Bella ketahuan hamil diluar nikah” Kata Rara
“ Yang aku gak ngerti Tih kenapa dia pergi harus nunggu hari bahagia kita coba? Kenapa gak pergi saat orang tuanya mulai gak setuju mungkin?. Atau minimal dia jujur sama aku kalau orang tuanya mulai gak setuju dengan hubungan kami, apa susahnya coba?” Ucap Rara frustasi dengan airmata yang berdesakan dipipi.
“Dan sekarang dia datang tiba – tiba dan minta maaf dan mengatakan kalau dia meninggalkan orang tuanya demi aku. Ya buat apa??? Toh aku gak minta khan. Kenapa gak dulu saat hari pertunangan kita dia meninggalkan orang tuanya mungkin ceritanya udah beda kan. Aku juga gak akan kehilangan Papaku Tih..” Ucapnya kembali terisak
Sstt.st…st
Ratih mencoba menenangkan Rara
“ Ya aku tau . Udah jangan nagis lagi. Apa kamu gak lelah nangis terus?Udah selama setahun ini kamu tiap malam menangis apa gak lelah Ra?Setidaknya dengan datangnya Yuda dan Yuda mau menjelaskan kenapa dia pergi, hati kamu jadi plong. Tidak ada lagi yang mengganjal dihatimu, setidaknya mulai sekarang jangan menyalahkan diri sendiri lagi, Jangan pernah menengok kebelakang lagi”Kata Ratih menjeda ucapannya.
__ADS_1
“ Iya Tih makasih” ucap Rara mlai tenang
“Ra… aku boleh bicara serius? Tanya Ratih
“ Yaudah ngomong tinggal ngomong Ratih” Kata Rara
“Ra pacar kamu sekarang tinggal berapa? Tidak bisakah kamu berhenti memberikan harapan palsu? Terlebih Arta, kasian mereka Ra” Ucap Ratih hati - hati
Rara menepuk keninggnya dia lupa bercerita bahwa Arta sudah di bebaskan.
“ Maaf Tih aku lupa kasih tau kalok Aku dan Arta udah putus. Ini tinggal Samuel sama Randy aja biar aku putusin mereka sekarang.” Ucap Rara mengambil gawainya
“ Aku ingin menata hatiku kembali Tih. Aku sadar selama ini aku melampiaskan kekesalanku kepada lelaki. Ya… walaupun lelaki yang aku jadikan kekasih selama ini adalah lelaki mata keranjang aku hanya ingin mengerjainya saja dan menyadarkannya agar dia bisa setia kepada pasanganya” Kata Rara menjelaskan
“ Yaudah sekarang tidur besok khan mesti kerja, udah jangan nagis ataupun galau lagi” Kata Ratih mulai merebahkan badannya. Rara memunggungi Ratih, airmata mengalir dengan sendirinya Rara menangis tanpa suara sama seperti malam malam satu tahun ini yang di alaminya. Walau dia terlihat tegar didepan Ratih, tetapi dia tak sekuat itu. Sebenci apa Rara terhadap Yuda yang mengakibatkan papanya meninggal dan dia menanggung malu, namun seonggok daging yang bernama hati juga tidak bisa dibohongi bahwa terkadang dia masih mengharapkan Yuda.
***************************
Hingga jam makan siang tiba Rara bersiap mengantarkan makan siang untuk bosnya, Siapa yang menyangka sikap bosnya semakin menjadi.
“Tuan ini makan siang untuk anda” Ucap Rara menghidangkan makan siang Tuan Andika dimejanya
“ Tunggu” ucapnya dingin
“Bawa kembali makananmu” ucap Tuan Andika ketus
“ Ta… tapi Tuan…” ucapnya tiba – tiba gagap
“ Bawa!!!” bentaknya
__ADS_1
“ Kau berikan saja makananmu kepada para kekasihmu dan juga tunanganmu yang tinggal serumah denganmu. Aku tak sudi makan makanan dari wanita murahan sepertimu” Ucap sarkas Tuan Andika tanpa perasaan
DUAR !!!!!
Rara kaget mendengarkan perkataan tanpa perasaan Tuan Andika. Air matanya sudah luruh tak dapat dibendung. Hatinya sakit mendengarnya, selama ini dia bertahan saat Tuanya bersikap seenaknya memerintah, yang kadang dingin dan pemaksa tetapi hari ini sepertiny kesabarannya sudah berada dititik perbatasan.
“ Apa sebenarnya yang kau cari Citra Maharani Wijaya?” Ucapnya dingin
“ Bukankah Ayahmu seorang konglomerat kenapa kau bekerja diperusahaan orang lain? Atau kau bekerja hanya sebuah kamuflase untuk mencari kepuasan nafsumu itu?” Ucapnya kembali membuat Rara tersentak jaget karean CEOnya mengetahui latar belakang keluarganya.
“ Kau tak kasihan kepada mendiang ay…..
CUKUP!!!!!
Suara lantang Rara menggema hingga terdengar ke luar dan tidak sengaja David yang melintas hendak keruangan CEO mendengar teriakan lantang Rara dan menghentikan langkahnya.
“Anda tidak tahu apa apa Tuan Andika yang terhormat” Ucapnya tajam
“ Kita disini hanya sebatas atasan dan bawahan, tolong jaga batasan anda!!” sarkasnya
“Jangan pernah sekalipun anda ikut campur dengan masalah pribadi saya. Setelah ini, jika anda tidak berkenan dengan sikap kurangajar saya, dan anda akan memecat saya silahkan saya tidak perduli” Ucapnya datar
“Saya sangat senang hati menerima surat pemecatan itu Tuan Andika Pratama” Ucapnya lagi.
Rara berlalu keluar dari ruangan CEO dan mendapati David berada tak jauh dari ruangannya.Ternyata David menyaksikan pertengkarannya dengan Tuan Andika. Rara hanya membuang mukanya menyembunyikan tetesan demi tetesan airmata yang tidak ada habisnya dari semalam. Rara merapikan meja kerjanya dan mengambil sling bagnya. Apakah Rara akan pulang? Padahal belum habis jam kerjanya. Entahlah Rara ingin keluar rasanya dari ruangan yang menyesakan tersebut.
Tidak ada yang tahu tentang jati diri dia kenapa sekarang bosnya tau siapa keluarganya. Bahkan di CV nya pun Rara tidak menyantumkan nama papanya disana hanya ada keterangan bahwa papanya sudah meninggal. Rara memutuskan keluar kota bukan semata – mata ingin menggali kemampuan, tetapi dia juga ingin melupakan masa lalunya dikota kelahiraanya dimana kota semua orang mencemoohnya karena tunangannya pergi meninggalkan dia.
Bersambung
__ADS_1
...****************...
Terimaksih untuk para readers yang sudah sudi mampir kekarya Autor yang receh ini, Jangan lupa tinggalkan jejak like & komen ya dan bolehkah author minta hadiah dan vote nya? heheheehhehehe…… see you next Part