
Bagai disambar petir disiang bolong mendengar ucapan Tuan Andika yang menyangsikan anaknya. Tanpa perduli ucapan dokter dan para perawat Rara langsung berdiri dan meninggalkan ruangan dokter obgyn begitu saja. Bahkan saat beranjak pergi Rara menatap Tuan Andika tajam penuh kebencian dan kekecewaan.
Sedangkan Tuan Andika masih berdiri linglung dan bingung dengan tingkah Rara. Bukankah disini yang seharusnya marah adalah Tuan Andika yang merasa sudah ditipu oleh Rara. Karena dia menikah dengan Rara baru saja genap satu bulan hari ini sedangkan usia kandungan istrinya sudah menginjak 7 minggu yang artinya itu sudah satu bulan lebih.
Melihat Tuan ANdika masih bengong dan diam seribu bahasa mennggerakan bibir dokter Lili yang menawarkan bantuan.
“Maaf Tuan ada yang bisa saya bantu?” Tanya dokter Lili ramah
“Tidak Dok terima kasih”ucap Tuan Andika
“ Baik kalau begitu saya jelaskan sedikit ya Tuan, Nyonya terakhir halangan adalah tanggal 2 Maret dan sekarang sudah tanggal 17 April, tetapi Rara belu mendapatkan masa periodenya. Dan untiuk menentukan usia kandungan itu dihitung dari tanggal haid pertama terakhir sebelum hamil” Jelas dokter Lili.
“Maksudnya?” Tanya Tuan Andika
Dokter Lili tersenyum simpul sepertinya memang disini terjadi kesalahpahaman atau Memang Tuan Andika yang tidak mengerti dengan metode perhitungan usia kandungan pikirnya.
“Jadi begini Tuan kita menghitung usia kandungan istri anda mulai menghitung dari tanggal 2 Maret sampai 17 April jadi didapat usianya sudah tujuh minggu. Sedangkan untuk usia janin itu diperkirakan baru sekitar empat minggu lima hari kalau sia janin dihitung saat terjadi pembuahan” Penjelasan dokter Lili membuat raut diwajah Tuan Andika menjadi cerah, secerah mentari pagi.
“Berarti anak yang dikandung Rara adalah anaku” gumam Tuan ANdika pelan tetapi masih dapat didengar oleh dokter Lili
“ Melihat dari usia janin dengan usia pernikahan kalian sepertinya memang janin yang dikandung Nyonya Rara adalah janin Anda. Tetapi jika anda masih menyangsikan kesetiaan pasangan anda silahkan anda melakukan tes DNA , tetapi menunggu kehamilan Nyonya Rara sekitar umur empat bulan baru dilakukan tes DNA” ucap Dokter Lili dengan penuh penekanan.
Tuan Andika tersentil mendengar ucapan dokter Lili ysang mengatakan jika dia meragukan kesetiaan Rara, tetapi bukankah itu memang benar? Tuan Andika memang menyangsikan kesetiaaan sang istri padahal dia merupakan yang pertama untuk sang istri. Sudah dapat dipastikan dialah pemilik bibit unggul yang bersemayam didalam Rahim seorang Citra Maharani.
Dengan langkah tergesa Tuan ANdika menyusuri koridor Rumah sakit, berharap menemukan sosok wanita yang telah memenuhi hati dan memberi warna dalam hidupnya. Mata tajamnya mengedar keseluruh penjuru Rumah sakit mencari Rara, tetapi tidak menemukannya. Dengan tergesa dia menuju kendaraanya dan melaju dengan kecepatan penuh.
Sesampai dirumah yang sebulan ini menjadi saksi keromantisan pasangan tersebut Tuan Andika semakin frustasi karena tidak menemukan istrinya. Tidak kehilangan akal dia segera mengecek keberadaan sang istri melalaui ponselnya yang telah dia hubungkan dengan GPS sang istri. Senyum kecil terbit dibibirnya saat mengetahui keberadaan sang istri.
__ADS_1
“Tunggu Mas ya sayang, Mas akan menjemputmu” ucapnya dengan senyum merekah memandangi ponselnya.
TIdak mau menunda, Tuan Andika kembali melajukan kendaraannya menuju Resto Rara yang tidak jadi dijual bahkan kini Resto itu semakin ramai pengunjungnya. Kedatangan Tuan Andika diambut ramah oleh para pekerja disana.
“Dimana istriku” Tanyanya langsung tanpa basa basi kepada receptionist
“Ada diruangannya Tuan” Ucap petugas Receptionist sopan
Tuan Andika bergegas menuju ruangan kerja Rara yang luas tetapi tidak menemukan istrinya disana. Apakah pelayan tadi membohonginya pikirnya. Tuan Andika bergegas menuju meja receptionit untuk menanyakan kembali keberadaan istrinya sekaligus memberi pelajaran kepada pelayan itu karena berani membohonginya. Namun baru saja hendak melangkah sayup – sayu dia mendengar sura isakan tangis seorang wanita dari dalam kamar yang berada disebelah ruangan Rara.
Ya Ruangan Rara lengkap dengan kamar mandi dan kamar tidur yang biasanya dipakai istirahat oleh Rara jika mulai merasa lelah. Dada Tuan Andika bergemuruh hebat karena sangat mengenali suara itu, itu adalah istrinya. Dadanya kembali terasa sesak saat melihat Rara yang masih sesenggukan didalam pelukan sahabatnya.
“Aku gak nyangka Tih jika Mas Andika akan meragukan aku seperti itu, aku bersumpah Tih aku tidak pernah dekat dengan lelaki manapun kecuali suamiku. Apa karena dulu aku sering gota ganti pacar membuatnya meragukan kesetiaanku” ucap Rara masih sesenggukan didalam pelukan sahabatnya Ratih.
“Sudah Ra tenangkan dirimu, Ingat ada calon keponakanku didalam perutmu. Kamu tidak boleh setres nanti anakmu ikut menangis” hibur Ratih.
“ Maafkan Mas sayang. Mas salah jangan tinggalin Mas. Mas minta maaf” ucap Tuan Andika menangis tergugu masih bersimpuh didepan istrinya.
"Jangan tinggalin Mas, Mas mohon jangan tinggalin Mas, kamu boleh memukul, menampar, bahkan menghina Mas tapi tolong jangan tinggalin Mas” ucap Tuan Andika kembali
Mengerti jika sahabatnya perlu berbicara dari hati kehati Ratih memutuskan meninggalkan Rara dikamar bersama suaminya.
“Ra, aku keluar dulu ya, kamu selesaikan masalahmu dengan kepala dingin” ucap Ratih sebelum meninggalkan ruangan tersebut.
Tinggalah pasangan suami istri tersebut didalam ruangan hening itu tidak ada pembicaraan dari keduanya Rara seolah bungkam sedangkan Tuan ANdika masih bersimpuh dihadapan sang istri dan menunggu Rara memaafkan kesalahannya.
“Bangun Mas jangan duduk disana” ucap Rara datar.
__ADS_1
“Tidak! Mas tidak mau sayang sebelum kamu maafin Mas, Mas tidak bermaksud meragukan kamu dan anak kita. MAafkan kesalahan dan kebodohan Mas” ucapnya kekeh tidak mau berdiri dan masih bersimpuh memohon pengampuann dari istrinya.
“ Ini bukan anak kita. Ini anaku kamu sudah tak mengakuinya tadi Mas” ucap Rara dengan suara bergetar menahan sesak saat mengucapkan itu.
“Jangan ucapkan itu mas mohon” ucapnya menghambur memeluk tubuh istrinya.
“Mas hanya syok saat mendengar ucapan dokter, jika usia kandunganmu 7 minggu sedangkan pernikahan kitabaru berjalan sekitar lima minggu” ucap Tuan NAdika
“Apa?” ucap Rara dan melerai pelukannya
“Trus ini anak siapa? Aku berani sumpah Mas, aku tidak pernah mengkhianatimu” Ucap Rara takut. Sepertinya Rara juga tidak mengetahui cara menghitung usia kehamilan.
“Ya anak Mas anak siapa lagi? Orang Mas yang berhasil menjebol pertahananmu yang kamu jaga bertahun” ucap Tuan Andika menenangkan istrinya.
“ Ta…tapi…..”
“ Mas sudah mendengar penjelasan doker. JIka kehamilan terhitung dari tanggal hari pertama kamu mendapatkan haid terakhir dan jika dari hasil USG tadi dapat dilihat jika usia janin kita baru empat minggu lima hari ” Ucapnya menjelaskan kepada istrinya.
“Ternyata usaha keras kita di Maldevis membuahkan hasil sayang” ucapnya Tuan Andika yang berhasil membuat wajah istrinya merona mengingat kegiatan panas mereka di Maldevis.
“Jadi kamu mau kan maafin Mas?” Tanya Tuan ANdika kembali yang dijawab anggukan kepala oleh sang istri.
“Terima kasih sayang, mas janji tidak akan meragukanmu lagi. Mas sangat menyayangimu” ucapnya sambil mendaratkan kecupan sayang dipuncak kepala sang istri.
Rara memutuskan memaafkan suaminya setelah mendengar semua penjelasan dari suaminya. Dia tidak mau mengorbankan Rumah tangganya hanya karena kesalah pahaman yang akan disesalinya di kemudian har
Bersambung
__ADS_1