
Flashback
Tepat satu tahun yang lalu dikediaman pak Wijaya begitu ramai untuk persiapan acara pertunangan putri ketiga pak Wijaya, Citra Maharani dengan Yuda Prasetya kekasihnya. Citra Maharani atau biasa dipanggil dengan Rara menggunakan nama belakang sang ibunda sedangkan kakak, Surya Wijaya menggunakan nama belakang papanya supaya adil, begitulah kesepakatan kedua orang tua Rara.
Rara dan Yuda sudah lama menjalin kasih sekitar dua tahun. Orang tua kedua belah pihak pun sudah mengetahui perihal hubungan mereka dan sudah disepakati oleh pihak keluarga besok kedua sejoli akan diikat sebuah hubungan pertunangan. Sesuai permintaan keluarga Rara pertunangan ini dilakukan secara sederhana karena pihak keluarga Rara masih berduka perihal meniggalnya Bella kakak pertama Rara.
Sebelumnya, acara pertunangan ini akan ditunda beberapa bulan kedepan namun, Pak Wijaya meminta acara pertunangan tetap dilangsungkan sesuai rencana kedua pihak keluarga beberapa bulan yang lalu. Walaupun hanya secara sederhana dan tidak dilangsungkan di hotel bintang lima sesuai rencana awal cukup diadakan di mansion pak Wijaya.
Semua pelayan sedang sibuk memepersiapkan acara untuk besok sedangkan bintang acara besok sedang mengurung diri dikamar senyum – senyum sendiri mencoba baju yang hendak digunakanya besok. Senyumnya tak pernah surut dari bibir ranumnya matanya berbinar memandang gaun model off shouder bahan lace warna biru navy dengan hiasan bordir yang hendak digunakan besok. Pandangan matanya tiba – tiba teralihkan ketika pintu kamar diketuk dari luar
Tok.. Tok.. Tok
“ Non ada paket katanya dari Tuan Yuda” kata pelayan setelah pintu dibuka
“ Dari mas Yuda Bik? Paket apa ?” tanyan Rara heran dengan jidat mengkerut. Yuda dan Rara terpaut usia 2 tahun lebih tua Yuda daripada Rara.
“ Bibik kurang tahu Non, ini Non” kata bik Asih menyerahkan paket yang langsung diterima oleh Rara
“ Bibik permisi ya non mau lanjut kerjaan dibelakang” pinta bik Asih
“Iya bik” jawab Rara sambil masuk kedalam kamar .
__ADS_1
Bukankah acara pertunangan besok kenapa mas Yuda mengiriminya paket padahal besok mereka sudah bertemu pikir Rara. Tak mau penasaran lebih lanjut akhirnya perlahan Rara membuka paket bersar dari Yuda, setelah dibuka Rara semakin bingung dengan isinya itu adalah barang barang yang Rara berikan selama mereka menjalin kasih.
Tiba – tiba ada rasa aneh dihati, rasa tak tenang dan rasa takut, kenapa mas Yuda mengirim barang – barang yang dia berikan dulu? Pikir Rara. Tak mau larut dalam kebingungan Rara bergegas mengambil ponselnya untuk menghubungi Yuda dan meminta penjelasan. Namun sialnya hingga 3 kali Rara mencoba menghubungi tak tersambung hanya operator yang menjawab sedang diluar jangkauan. Semua itu semakin membuat Rara bingung Rara berniat kembali menghubungi namun ponsel Rara berdering menandakan ada pesan masuk.
Ra.... terimakasih untuk semua waktu, kasih sayang dan cinta yang telah kamu berikan kepadaku. Maaf aku tak bisa melanjutkan hubungan kita aku harus pergi bersama keluargaku. Kamu tak perlu mencariku karena percuma sekarang aku sudah diluar negri, aku dan keluargaku sudah pindah. Maaf Ra.. maaf
Air mata berderai sudah dunia serasa berhenti mendapat pesan seperti itu dari kekasih tercintanya. Kaki Rara lemas seperti jelly pandangannya kunang – kunang hingga menggelap.
Brukk
Tubuh Rara merosot kelantai dan tak sadarkan diri. Dengan sigap Surya Wijaya sang kakak mengangkat tubuh adik kesayangannya ke tempat tidur. Apakah Rara kelelahan hingga mengakibatkan sampaii pingsan pikir Surya sang kakak.Tapi kenapa matanya sembab pikir Surya lagi semua pemikiran berterbangan dikepala Surya hingga kaget dengan kedatangan sang Bunda dan papanya.
“ Tadi Surya lihat dia pingsan Ma mungkin kelelahan” kata Surya.
Setelah di olesi minyak kayu putih Rara mengerjabkan matanya pertanda mulai sadar. Dipandanginya wajah keluarganya satu persatu dari papa, bunda dan Kak Surya dan kembali Rara terisak dan menunduk, membuat keluarganya bingung.
“ Ada apa Ra ?” Tanya sang kakak
Rara tak menjawab dia hanya menyodorkan ponselnya kepada Surya sebagai jawaban, tubuhnya kembali terguncang dan terisak menyayat hati yang mendengarnya membuat kedua Orang tua dan sang kakak makin bingung. Meskipun bingung Surya tetap menerima ponsel adiknya dan memeriksanya.
Matanya membola rahangnya mengeras, tangannya mencengkeram ponsel Rara hingga buku kukunya memutih menandakan kemarahan, kedua orang tua Rara saling pandang jelas terlihat kebingungan diwajah keduanya. Tak kunjung mendapat penjelasan dari kedua anaknya akhirnya pak Wijaya merebut ponsel putrinya. Nafas Tuan Wijaya tercekat membaca pesan dari calon menantunya dadanya sesak seperti ditusuk hingga membuatnya sulit bernafas. Dunianya seolah hancur, kemalangan seolah tak lelah menghinggapi keluarganya. Sebagai kepala keluarga Pak Wijaya merasa tak berguna, tak bisa memberikan kebahagiaan untuk kedua putrinya. Dia merasa lelah dan gagal menjadi satu, hingga membuat dadanya semakin sakit dan pandangannyapun menjadi gelap dan tubuh pak Wijaya merosot kelantai. Teriakan histeris dan menyayat hati kembali menggema.
__ADS_1
“ Papa” ucap Rara dan Surya bersamaan
“Mas” ucap Ibu Maharani
Entah berapa kali anak dan Istri itu memanggil namanya, namun tak kunjung membuat pak Wijaya membuka mata, sampai dokter keluarganya pun datang dan memeriksa keadaan pak Wijaya. Terlihat jelas dokter Reza menghela nafas pasrah dan menatap keluarga pasien dengan sendu lama dia berdiri dalam diam hingga dia berani membuka mulutnya memberikan keputusan.
“Maaf Pak Wijaya sudah berpulang kepada-Nya, tolong ikhlaskan” Ucap Dokter Reza pelan dan menepuk punggung Surya.
“ Papa”
“Mas”
Pecah sudah tangis Rara dan Ibu Maharani. Hari yang harusnya disambut dengan suka cita berubah menjadi duka lara. Mengapa takdir begitu kejam kepadanya, belum genap satu bulan kakak tercinta meninggal kini sang papa harus berpulang. Kepergian pak Wijaya meniggalkan duka yang mendalam bukan hanya keluarga para pelayan di Mansion itu pun turut merasakannya. Mereka tidak menyangka secepat ini pak Wijaya akan meninggalkan keluarganya semua. Hari berbahagia yang harusnya Rara rasakan hari ini namun kini dia hanya termenung di gundukan basah makam sang Papa. Tangisnya tak kunjung berhenti walau airmata telah habis. Tatapan matanya seolah menandakan kekecewaan, kemarahan, keputusasaan menjadi satu.
Flashback Off
Bersambung
***************************************************
Hallo readers terima kasih karena sudah berkenan untuk mampir ke karya receh author. Dan jangan lupa tinggalkan jejak like dan komennya. Terima kasih.
__ADS_1