
Tuan Andika dan Tuan Surya sedang serius membahas tentang hilangnya Rara. Hingga tidak sadar jika ada wanita paruh baya yang mendekat kearah mereka dan mendengar beberapa potong pembicaraan putranya dengan Ratih saat berbicara lewat jaringan udara.
“ Apa maksudmu Surya?” Tanya Tante Rani memegang dadanya karena shock dengan apa yang barusan didengarnya
“Mama” guman Surya kaget mendapati Mamanya berada didekatnya. Bukankah Mamanya ada kegiatan arisan pikirnya. Kenapa cepat sekali sudah pulang, bukankah biasanya pukul 21:00 baru pulang
“Mama sudah pulang” Tanya Surya mengalihkan pembahasan tentang Rara
“ Enggak usah mengalihkan topik pembicaraan kamu, apa yang terjadi dengan adikmu?” Tanya Tante Rani dengan tatapan tajam.
“Kenapa adikmu bisa hilang?” Tanyanya lagi nyalang
“Mama tenang dulu Ma” ucap Surya mencoba menenangkan Mamanya.
Surya menggaruk kepalanya yang tidak gatal dia bingung harus darimana menjelaskannya.Tetapi Surya kaget dengan reaksi tiba – tiba Tuan Andika sudah mersimpuh dikaki mamanya. Dan Tuan Andika menjelaskan sama seperti yang dia jelaskan kepada Surya.
“Maafkan saya Tante. Tapi saya benar – benar sangat menyayangi putri Tante saya berjanji saya akan menemukan putri Tante” Ucap Tuan Andika masih berlutut dihadapan Tante Rani. Tante Rani mendengus kesal mendengar penjelasan Tuan Andika, tetapi Tante Rani juga bersyukur Rara dicintai begitu besar oleh Tuan Andika.
“ Surya besok kamu ke Bandung, kamu bantu Andika mencari adikmu. Mama ingin segera tau kabar adikmu” ucap Tante Rani tanpa terbantah yang dijawab anggukan kepala oleh Tuan Surya putranya
“ Dan kamu Andika, saya tidak mau tau, saya kasih kamu waktu tiga hari kamu harus sudah bisa menemukan Rara dan menyelesaikan masalah kalian. Kalau kamu berniat bermain – main kamu jauhi Rara, karena saya tidak mau anak saya gagal lagi”ucapnya penuh ancaman kepada Tuan Andika
Seperti mendapat angin segar Tuan Andika tersenyum mendengar ucapan Tante Rani, Walaupun dengan nada ancaman tetapi bukankah dari kata – katanya itu pertanda Tante Rani memeberi lampu hijau untuk hubungannya dengan Rara.
Sedangkan di Kota Bandung setelah mengetahui jika Rara tidak pulang ke Jajarta Ratih sudah tidak semangat lagi melanjutkan acara makan malamnya bersama Arta. Melihat keksaihnya yang banyak pikiran Artapun mengajak Ratih untuk pulang. Kali ini Ratih akan pulang ke Rumah milik Rara, Dia berharap disana mendapatkan petunjuk dimana Rara sekarang berada.
__ADS_1
Tak henti – hentinya Ratih menyalahkan dirinya. Seandainya dia tidak menuruti keinginan Rara agar tidak menghubungi Kak Surya atau Tante Maharani mungkin Rara tidak akan meghilang begini.
“ Hei sayang sudah jangan menyalahkan dirimu sendiri” Ucap Arta menenangkan kekasihnya
“ Tapi Rara tidak biasa pergi sendirian Ar” ucap Ratih masih terisak
“Tapi Rara bukan anak kecil lagi Tih, dia juga perlu waktu untuk menyendiri. Kita doakan saja dimanapun Rara berada mudah – mudahan selalu dalam lindungan-NYa” Ucap Arta bijaksana
Lama Arta menenangkan kekasihnya hingga tak terasa sudah tengah malam, Arta langsung pamit pulang. Ratih masuk kekamar tempat dia dan Rara sering saling bercerita, Ratih yang menceritakan kegiatan di Resto dan Rara yang menceritakan kegiatannya di Kantor bersama Tuan Andika. Beberapa hari belakangan Ratih sudah senang karena Rara sudah menentukan pilihan kepada Tuan Andika. Tetapi ternyata Cinta saja tidak cukup. Bahkan, hubungan Rara dan Tuan Andika yang baru saja akan dimulai sudah duji dengan datangnya Sherin sebagai pihak ketiga. Rara yang pernah gagal memilih mundur sebelum berperang dia tidak percaya dengan kemampuannya mampu memperjuangkan cintanya.
Entah sudah berapa kali Ratih mencoba menghubungi ponsel Rara tetapi tetap tidak aktif. Bahkan pesan teks maupun audio hanya terkirim tidak terbaca. Karena terlalu lelah Ratihpun merebahkan badannya dia menatap tempat tidur Rara disebelahnya mengelus – elus baian temapt tidur yang ditempati Rara seolah – olah Rara berada disana. Saat melihat kebantal yang biasa Rara gunakan tanpa sengaja Ratih melihat seperti amplop coklat berada dibawah bantal yang biasa Rara gunakan. Ratih bangkit dari tidurnya dan langsung mengambil Amplop coklat dan membuka isinya.
Hai Ratih
Apa kabar? Kalau kamu udah baca surat aku ini berarti kamu sudah tau kalau aku tidak pulang ke Jakarta.
Tenang saja aku tidak sendirian Tih, aku pergi bersama temanku jadi jangan khawatir aku aman. Aku hanya pergi liburan Tih aku mencoba menenangkan diri, agar tidak seperti kegagalanku dengan Yuda yang membuatku berlabuh kepada banyak lelaki. Tolong sampaikan kepada Kak Surya jangan mengirim pengawal untuk menguntitku atau menyelidiku aku kemana. Aku ingin tenang liburan, aku tidak mau diganggu oleh penampakan pengawal – pengawal itu Tih. Atau aku akan marah dan tidak akan pernah pulang ke Jakarta lagi.
Terimakasih Ya Ratih, aku doakan kamu langgeng terus dengan Arta. Maaf sepertinya aku lama tidak akan memeriksa laporan kafe dan Resto. Tolong kamu handle dulu ya. By Ratih
Bola mata Ratih membulat tidak percaya dengan surat yang ditulis oleh Rara. Ternyata benar yang dikatakan oleh Arta jika Rara ingin menepi untuk sementara. Ratih menghela nafasnya kasar, seandainya Rara tau jika dia hanya salah paham kepada Tuan Andika mungkin Rara tidak akan pergi. Entah sudah berpapa kali Ratih mengirimi pesan kepada Rara jika dia salah paham dengan Tuan Andika. Tetapi Rara sudah terlanjur memadamkan ponselnya.
Sesaui dengan perintah ibu suri Surya dan Tuan Andika pagi –pagi sekali sudah memacu kendaraanya menuju kota Bandung. Mereka sepakat akan menelusuri Kota Bandung terlebih dahul dan seluruh anak buah baik milik Tuan Surya maupun Tuan Andika sudah dikerahkan. Tuan Surya dan Tuan Andika sepakat akan mampir kerumah Rara yang ditempati Ratih terlebih dahulu, karena Ratih mengatakan jika Rara meninggalkan sebuah surat.
“ Pagi Kak, Pagi Tuan Andika” sapa Ratih ketika Tuan Andika dan Tuan Surya yang sudah sampai
__ADS_1
“Mana suratnya Tih?” Tanya Surya menengadahkan tangan kepada Ratih
“Sebentar Kak”ucapnya belalu naik kelantai atas menuju kamarnya. Ratih keluar membawa surat yang ditulis oleh Rara akan dia berikan kepada Kak Surya.
Tuan Surya fokus mebaca surat yang ditinggalkan Rara dengan edua mata membola. Apa – apaan pikirnya, Kenapa Rara tidak mau dicari dan tidak mau sampai ada pengawal yang menguntitnya samapi memberikan ancaman tidak akan pulang.
“ Ada apa” Tanya Tuan Andika yang melihat Tuan Surya seperti orang kaget
Tuan Surya tidak menjawab dia hanya menyerahkan surat itu kepada Tuan Andika. Di bacanya surat peninggalan Rara sebelum dia kabur dengan wajah datar.
“ Kamu tak perlu ikut mencari Surya, biarkan aku saja yang mencari Rara. Rara pergi karena ada masalah denganku bukan dengan kalian jadi biarkan aku yang mengatasinya. Yang Rara larang khan pengawalmu bukan pengawalku” ucap Tuan Andika dengan senyum menyeringai.
“Tih siapa teman – teman Rara disini selain kamu?” Tanya tuan Andika
“Sepertinya selain dengan saya Rara hanya dekat dengan mba Kania Tuan” ucap Ratih mencoba mengingat – ingat
“ Maksudmu Kania selingkuhan Yuda dulu dan pemilik KANIA’S BOUTIQ?” Tanyanya bingung terlalu banyak nama Kania pikirnya.
“Ya Tuan Mba Kania selingkuhan Yuda dahulu. Dan bahkan saya dan Mang Jaja sudah memerika kendaraan yang mengantar Rara kemaren adalah mobil milik Mba Kania” Ucap Ratih.
Senyum merekah terbit di bibir merah Tuan Andika. Sepertinya selangkah lagi dia akan menemukan Rara pikirnya.
Bersambung
...****************...
__ADS_1
Terima kasih banyak masih setia membaca cerita Author jangan lupa like dan komennya.
See you next part