Penakluk Miss Playgirl

Penakluk Miss Playgirl
Bab 52 Snorkeling


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan sekitar 60 menit tibalah mereka di sebuah dermaga yang akan menghantarkan keduanya ke salah satu icon wisata di Lampung. Sepanjang perjalanan Rara tertidur pulas karena perintah dari Tuan Andika. Sang kekasih merasa kasihan melihat wajah lelah Rara jadi dengan bujuk rayu dan mengatakan jika mereka akan menempuh perjalanan sekitar 3 jam akhirnya Rara mau tidur untuk sementara.


Setelah cukup lama memandang wajah kekasihnya yang terlelap didalam mobil, Tuan Andika akhirnya membangunkan Rara. Samar samar Rara seperti mendengar suara di sebuah dermaga. Rara memicingkan matanya melihat area sekitar, Rara merasa pernah melewati daerah ini tapi dimana pikir Rara.


“Udah sampai Mas?” Tanya Rara sambil menguap


“ Udah masih ngantuk?? Mau mas gendong aja?” Tanya Tuan Andika dengan senyuman menggoda


Rara mencebikan bibirnya mendengar Tuan Andika yang selalu menggodanya. Mereka turun dari kendaraan dan berjalan bergandengan tangan. Dahi Rara mengernyit melihat tempat yang dia tuju.


“Apa kita mau kesebuah pulau?” Tanya Rara


“Yes sebelum kita kembali ke Jakarta aku ingin mengajakmu ke wisata yang lagi hits di kota ini Ra” ucap Tuan Andika bangga


“Pulau Pahawang?” Tanya Rara memastikan


“Kamu tau?” Tuan ANdika heran karena Rara mengetahui dia akan mengajakanya ke pulau Pahawang salah satu destinasi wisata yang lagi ngehits di Kota ini.


“Ya aku udah kesini saat pertama kali sampai” ucapnya masih menerawang


“Yah.. gagal dong kejutan aku buat kamu” ucap Tuan Andika kecewa.


“Hei tenang saja tidak masalah buatku dulu aku kesini khan dengan hati yang terluka jadi aku habiskan hanya bermain pasir saja . Nah, hari ini aku kesini dengan hati berbunga. Jadi, asal dengan Mas tidak masalah buat ku walaupun tempat itu udah aku kunjungi berkali kali” Ucap Rara menghibur Tuan Andika. Ternyata gombalan Rarapun berhasil membuat senyum merekah terbit dibibir mantan CEO dingin tersebut.


Merekapun menyewa sebuah kapal yang akan menghantarkan sampai di Pulau Pahawang. Begitu masuk ke dalam kawasan wisata pulau ini, mata Rara dan Tuan Andika dimanjakan dengan pemandangan hijau hutan mangrove. Jajaran hutan mangrove sepanjang pantai menunjukkan betapa alaminya alam pulau Pahlawang ini.


Setelah sampai Rara dan Tuan Andika bermain air pantai yang sangat jernih disana dan tidak lupa hobi Rara yang bermain pasir. Karena menurut Rara jika berkunjung ke daerah pantai tentu tak lengkap tanpa bermain pasir atau menikmati berjalan di atas pasir dengan kaki telanjang. Walau terkesan seperti anak kecil tetapi Tuan Andika selalu menuruti keinginan Rara.


“Ra, mau liat terumbu karang atau tidak?” Tanya Tuan Andika


“Kita Snorkeling yuk?” Ajak Tuan Andika kembali

__ADS_1


“Beneran?” Tanyanya dengan mata berbinar yang dijawab anggukan kepala oleh Tuan Andika


“Bolehkah snorkeling ke Taman Nemo”? Tanya Rara mengerjapkan matanya penuh binar.


“Boleh asal dengan Mas ya? Mas akan memastikan keselamatan mu?” Ucap Tuan Andika kembali membuat pipi Rara merah merona menahan malu.


Setelah memasang perlengkapan snorkeling keduanya mulai menyelam Tuan Andika selalu berada disisi Rara. Tak mau membuang waktu Rara ingin langsung ke Taman Nemo. Taman Nemo adalah salah satu spot Snorkeling di Pulau Pahawang. Dinamakan dengan Taman Nemo karena memang merupakan habitat bagi ikan badut yang terkenal dengan sebutan ikan Nemo. Kita bisa berinteraksi lebih dekat dengan ikan berwarna orange putih ini tanpa perlu menyelam terlalu dalam. Rara sangat bahagia berlibur dengan Tuan Andika senyum merekah tak pernah luntur dari bibirnya terlebih saat Rara berinteraksi dengan Ikan Nemo wajahnya sangat menggemaskan.


Di Jakarta Nyonya Rani sudah sedikit tenang karena mendapat kabar jika Rara sudah ditemukan dan sedang bersama dengan Tuan Andika. Walau ada sedikit rasa was – was karena putrinya yang belum kembali kerumah.


“Surya menurutmu bagaimana Tuan Andika? Apa kamu sudah menyelidikinya?” Tanya Nyonya Rani kepada anaknya.


“Aman Ma, biarkan saja kalau memang Rara menyukai Bang Andika, daripada Rara jadi playgirl gitu Surya malah was – was soalnya orang – orangnya ga jelas gitu” ucap Surya geleng –geleng kepala mengingat laporan dari sang pengawal bagaimana banyaknya kekasih Rara dahulu.


Nyonya Rani mengernyit mendengar anaknya memanggil Tuan Andika dengan sebutan Abang. Apakah Surya sedekat itu dengan Tuan Andika pikir Nyonya Rani


“Mama hanya takut keluarga Tuan Andika tidak bisa menerima Rara dengan tangan terbuka” ucapnya sendu


Mungkin Nyonya Rani mulai insecure dengan masa lalu keluarganya, anak perempuan satunya hamil diluar nikah dan yang satunya ditinggalkan dihari pertunangan. Itu menjadi momok yang mengerikan bagi keluarga Wijaya. Sekarang justru Rara menjalin kasih dengan keluarga yang strata sosialnya lebih tinggi dari pada keluarganya. Sebagai seorang ibu dia hanya takut Rara tidak diterima dikelaurga Tuan Andika dengan tangan terbuka.


Meskipun keluarga wijaya termasuk keluarga konglomerat di Jakarta tetapi, jika dibandingkan dengan keluarga Tuan Andika yang notabennya pemilik perusahaan AW Group jelas mereka berbeda, berada beberapa tingkat dibawah keluarga Tuan Andika.


“Mama gak usah takut yang berlebihan, yang terpenting adalah bagaimana Bang Andika sangat menyayangi Rara. Kalau masalah keluarganya Surya yakin Bang Andika bisa megatasinya?” ucap Surya menenangkan Mamanya.


“Ya mudah – mudahan Rara tidak mengalami kegagalan lagi” ucap Nyonya Maharani kembali


“ O ya bagaimana kabar Ratih Surya?” Tanya Nyonya Rani kembali


“Baik Ma mungkin bentar lagi bakalan nikah” jawab Surya


Nyonya Ratih sempat kaget sampai memadang Surya tak berkedip. Kalau Ratih akan menikah kenapa Surya sesantai itu pikirnya. Kenapa belum memberi kabar sanak keluarga? Bukankah pernikahan butuh banyak persiapan pikir Nyona Rani kembali.

__ADS_1


“Surya kenapa kamu tidak memberi tau Mama jauh – jauh hari? Pernikahan itu perlu persiapan belum lagi memberi kabar kepada sanak keluarga harus jauh jauh hari agar mereka juga bisa mempersiapkan diri” ucap Nyonya Rani kembali memarahi Surya


Surya heran dengan reaksi Mamanya yang terkesan berlebihan. Kenapa harus mengabari sanak keluarga, walaupun Mama sudah menganggap Ratih seperti anaknya sendiri apakah memang perlu memberi tau sanak keluarga. Tidakah cukup Rara, dia dan Mamanya sajakah yang menyaksikan pikir Surya.


“Ya sudah Surya minta maaf, nanti Surya tanya kepada Ratih kapan hari pernikahannya biar kita enak memberi kabar kepada sanak keluarga” ucap Surya akhirnya mengalah sambil mengambil minuman dingin di lemari pendingin berbicara dengan Mamanya hari ini membuat kerongkongannya cepat kering.


Nyonya Rani bengong dengan mulut menganga mendengar ucapan putranya.


“Kenapa kamu menyerahkan semuanya kepada Ratih? Sebagai calonnya harusnya kamu yang mempersiapkan hari pernikahan kalian…..” cercaan Nyonya Rani terpotong karena Surya tersedak buru- buru Nyonya Rani menghampiri putranya


“Pelan – pelan minumnya Surya” ingatnya sambil mengelus punggung Surya.


“Darimana Mama memiliki pemikiran kalau aku calonnya Ratih?” Tanya Surya setelah sedikit lebih tenang


“Maksud kamu?”Tanya Nyonya Rani tambah bingung


“Apa Mama mengira calon suaminya Ratih itu aku?”Tanya Surya pada Mamanya yang dijawab anggukan kepala.


“Bukannya selama ini kalian pacaran?” Tanya Nyonya Rani kembali


Surya mendengus sebal pantas saja Mamanya dari tadi menyalahkan dirinya, jadi Mamanya mengira dia yang akan menikah dengan Ratih. Bagaimana bisa Mamanya memiliki pemikiran seperti itu pikir Surya. Selama ini Surya dekat dan akrab dengan Ratih karena Surya menganggap Ratih seperti adiknya.


Bersambung


...****************...


Hai readers kesayangan author maaf baru up kemarin sempat ada acara dirumah jadi author masih sibuk mudah – mudahan setelah ini tidak ada kendala kembali.


Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, hadiah dan vote


Terima kasih…..

__ADS_1


__ADS_2