Penakluk Miss Playgirl

Penakluk Miss Playgirl
Bab 79 Pindah Rumah


__ADS_3

Suasana ruang makan dikediaman Pratama hening hanya terdengar suara dentingan sendok yang beradu dengan piring. Karena terlalu lelah Rara melewatkan makan siang jadilah kini dia makan malam yang dirapel dengan makan siang. Setelah pertempuran panasnya dikamar mandi Rara langsung tidur terlelap dan baru terjaga saat sudah pukul 17:30. Nyonya Tama hanya mendengus melihat putranya yang kini super mesum sampai membuat banyak bintang dileher menantunya.


Sedangkan Tuan Tama hanya senyum – senyum sendiri saat tidak sengaja melihat mahakarya ciptaan putra semata wayangnya. Rara yang memiliki jiwa sensitivepun pun sadar jika sedang diperhatikan oleh kedua mertuanya, Rara hanya bisa menunduk malu. Dia sadar betul jika kedua mertuanya pasti memperhatikan bintang yang ada dilehernya padahal Rara sudah berusaha menutupinya sampai fondationnya habis bahkan Rara menggerai rambutnya. Tapi karena sifat jahil sang suami yang sok perhatian mengikat rambutnya, agar Rara tidak susah saat makan membuat kedua mertuanya mengetahui jejak kepemilikan dari putranya.


Oh my God sepertinya Rara sangat ingin menghilang detik ini juga. Nyonya Tama yang mengetahui jika menantunya tidak nyaman memberikan senyuum menenangkan.


“ Ma besok aku sama Rara mau langsung pindahan” ucap Tuan Andika mememcah keheningan


“ Lho kenapa buru – buru, Apa kamu gak nyaman disini sayang?” Tanya Nyonya Tama kepada menantunya


“Eh…” Rara kaget dengan pernyataan mertuanya. Dari awal memang dia tidak enak jika langsung pindah kerumah baru yang dijadikan mahar oleh sang suami saat ijab qobul. Rencana pindahan ini murni memang ide sang suami, Rara sama sekali tidak pernah meminta kepada suaminya agar mereka tidak serumah dengan mertuanya.


“Ma… ini murni keputusanku bukan Rara yang memintanya, aku ingin mandiri Ma dan mumpung aku juga masih dalam masa cuti karena lusa juga aku sudah mulai aktif di Perusahaan. Kasian David aku tinggal terlalu lama” ucap Tuan Andika menjelaskan kepada ibunya.


“Tapi khan kalian juga belum mempersiapkan perlengkapan dirumah itu. Kalian khan pasti masih lelah jadi tinggal disini saja dulu nanti biar Mama suruh orang – orang kita untuk melengkapi peralatan serta perlengkapan dirumah kalian. Kalau sudah ready baru kalian pindah. Lagian Mama seneng banget kalau Rara tinggal disini jadi berasa punya anak perempuan dan punya temen ngobrol” ucap Nyonya Tama mencoba merayu putranya.


“Mama tenang saja rumah sudah ready dan sudah layak huni bahkan ARTnya , penjaga pos keamanan dan tukang kebunpun juga sudah ada” ucap Tuan Andika mematahkan anagn Mamanya.


“Kalau Mama lagi suntuk khan bisa kerumah Dika, jarak dari sini kerumah Dika khan tidak jauh 15 menit saja sudah sampai orang Cuma berjarak tiga rumah ini” Ucap Tuan Andika menenangkan Mamanya.

__ADS_1


Tuan Andika memang sengaja memilih membeli rumah yang jaraknya tidak jauh dari kedua orang tuanya. Setidaknya mereka masih dalam satu kompleks jadi sewaktu – waktu Rara maupun Mamanya bisa bertemu. Tuan ANdika hanya ingin mandiri dan memberikan kenyaman untuk sang istri. Dan tujuan yang sebenarnya adalah agar Tuan Andika bebas bermesraan dengan istrinya tanpa ada yang mengganggu maupun memergoki. Bahkan ART yang dikerjakan dirumah barunyapun diberikan ketentuan hanya berada dirumah utama sampai pukul 17:00 lebih dari itu para ART sudah berada di paviliun belakang yang memang sudah disipakan oleh Tuan Andika.


“Ya sudah kalau itu memang sudah keputusan kalian, Tapi kalian sering – seringlah kemari ya? Ra kalau Dika kerja kamu kesini saja ya nemenin Mama biar Mama ada teman ngobrolnya” ucap Nyonya Tama ramah


“Tapi tidak bisa setiap hari Ma, Dika juga butuh ditemani Rara saat Dika kerja. Mama khan ada Papa, mending minta ditemani Papa syukur – syukur aku malah punya adik lagi” ucap Tuan Andika yang membuat Tuan Tama tersedak mendengar ucapan putranya


“ Dasar anak kurang ajar! Minum pa” ucapnya menyodorkan segelas air putih dan mengelus punggung suaminya


“ Bukannya adik, harusnya kamu segera memberi Papa sama Mama cucu” ucap Tuan Tama saat sudah sedikit tenang


“Maka dari itu besok Dika akan pindahan agar setiap waktu bisa ngadon anak tanpa ada gangguan dari Mama yang manggil – manggil Rara” ucap Tuan ANdika kembali


Nyonya Tama dan Tuan Tama tau betul putranya yang kini bucin akut itu pasti tidak mau berjauahan dengan istrinya. Bahkan alasan ingin mandiri pasti hanya kamuflase saja agar bisa memonopoli istrinya tanpa diganggu olehnya. Apapun itu, Nyonya Tama dan Tuan Tama bersyukur putranya dipertemukan dengan Rara dan mengembalikan putra kecilnya yang penuh kehangatan.


Rara hanya diam dan menunduk mendengar perdebatan suami dan mertuanya. Dia hanya tidak habis pikir dengan suaminya yang selalu saja berbicara vulgar kepada Papa dan Mamanya.


Pagi ini sesuai dengan rencana awal, Tuan Andika dan Rara pindah kerumah baru yang masih satu komplek dengan orang tuanya. Tidak banyak yang dibawa oleh Rara dan Tuan Andika mereka hanya membawa satu koper pakaian yang dibeli oleh Tuan Andika di Maldevis untuk istrinya. Karena semua keperluannya dan keperluan istrinya sudah dia siapkan dirumah baru itu.


Benar saja hanya menempuh waktu tidak sampai 15 menit Rara dan suaminya sudah masuk kehalaman luas sebuah rumah mewah gaya eropa dengan lantai dua. Dengan cat putih yang dipadukan dengan warna gold sesuai warna favorit Rara.

__ADS_1


Begitu turun dari Lexus LM pasangan suami istri itu sudah disambut oleh 4 Art yang bertugas sebagai tukang kebun, memasak, sampai sampai kebersihan rumah lainnya. Tuan Andika memang tidak mau memperkerjakan laki – laki karena posesifnya terhadap Rara terkecuali dipos keamanan yang menurutnya memang memerlukan tenaga laki – laki.


Rara sendiri sebenarnya kurang nyaman jika terlalu banyak orang asing didalam rumahnya. Sudah berkali – klai Rara merayu sang suami agar tidak memperkerjakan ART dirumah karena menurut Rara pekerjaan rumah bisa Rara sendiri yang mengerjakannya. Namun semua itu ditolak mentah – mentah oleh sang suami yang tidak ingin Rara kelelahan.


“Bik tolong siapkan makan siang ya, mulai hari ini untuk masalah uang belanja bibik minta sama Nyonya Rara. Dan ingat apapun keinginan Rara tolong dipenuhi karena mulai hari ini Raralah Nyonya kalian” ucap Tuan ANdika kepada Bik Marni selaku pimpinan ART disana.


“Baik Tuan, Nyonya “ ucapnya menunduk yang diikuti oleh ART lainnya


Pasangan suami istri itupun pergi menuju kamar utama yang terletak dilantai dua. Kamar yang luasnya bisa dibilang dua kali lipat dibanding kamar Rara di Jakarta. Lengkap dengan walk in coset dan kamar mandi.


“ Mau mencoba kekuatan bathub kita sayang?” ucapnya memeluk Rara dari belakang melingkarkan tangannya dipinggang ramping sang istri dengan dagu bertumpu pada pundak Rara.


“ No sayang, kita sudah mandi tadi pagi aku ingin berkeliling rumah dulu hari ini sambil menunggu waktu makan siang” ucap Rara melepaskan belitan tangan sang suami.


“Oke siap Tuan putri hamba akan mengawal perjalanan Tuan putri kali ini” ucapnya menunduk layaknya pelayan kerajaan. Membuat senyum merekah terbit dibibir manis Rara. Namun senyum itu langsung surut saat mendengar ucapan Tuan Andika.


“ Dengan syarat nanti malam pakai pakain dinas yang aku letakan di koper paling atas” ucapnya dengan senyum mesum.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2