
Suasana tegang tercipta di kediaman Wijaya semua kerabat dan tetangga yang akan menjadi saksi akad pernikahan Rara kasak – kusuk mengeluarkan opini mereka masing – masing. Nyonya Rani dan Surya tak kalah tegang. Ketakutan mulai menghinggapi hati mereka meski wajahnya dibuat setenang mungkin. Bahkan Nyonya Tama belum juga bisa dihubungi sejak pukul 08: 00 tadi.
“Surya bagaimana? Sudah ada kabar?” Tanya Nyonya Rani dan mendapat gelengan kepala dari putranya.
Nyonya Rani menghela nafasnya kasar, haruskah Rara mendapatkan kekecewaan kembali pikirnya. Nyonya Rani memijit pelipisnya untuk meringankan sakit kepala yang tiba – tiba menyerang. Nyonya Rani bergegas menuju kamar Rara untuk melihat keadaan putrinya. Namun langkah Nyonya Rani terhenti ketika melihat sebuah mobil mewah Roll Royce berhenti tepat didepan halaman rumahnya dan disusul oleh kendaraan mewah Bentley State Limousine dan dibelakangnya masih menyusul beberapa kendaraan roda empat lainnya.
Dari Roll Royce turun seseorang yang sejak tadi telah ditunggu kehadirannya. Lelaki gagah dan tampan menggunakan jas prangwedana berwarna putih senada dengan kebaya yang digunakan oleh Rara. Dengan keris bersarung boro sarangka dipinggang bagian depan dihias omyok ronce melati. Untuk bawahannya Tuan Andika menggunakan kain batik yang dililitkan dari pinggul sampai mata kaki dan tidak ketinggalan Tuan Andika menggunakan blankon Sunda membuat penampilan Tuan Andika agung dan gagah.
Sedangkan dari Mobil Limosin turun pasangan parubaya yang sangat serasi dan glamor. Mereka adalah kedua orang tua Andika berjalan mengiring pengantin pria mendekati rumah utama, senyum mengembang selalu menghiasi wajah mereka. Dibelakang mereka disusul oleh iringan pengantin yang membawa seserahan. Semua mata memandang takjub kepada Tuan Andika dan kedua orang tuanya tak terkecuali para kerabat Nyonya Rani yang dari tadi mencemooh Rara tiba – tiba langsung kicep melihat kedatangan pengantin pria.
“ Maaf telat, tadi macet diperjalanan karena ada kecelakaan. Mau menghubungi, ponselku lowbat Ran dan ponsel Andika ketinggalan” Ucap Nyonya Tama menghambur memeluk sahabat sekaligus calon besannya.
“Ya tidak apa – apa yang pentig kalian tetap datang dan tidak kekurangan suatu apapun. Silahkan duduk kita langsung mulai saja acaranya karena penghulunya ada janji ditempat pernikahan lainnya juga sebentarlagi” Ucap Nyonya Rani menenangkan sahabatnya dan setelah itu dia bergegas menjemput Rara kekamarnya.
“Ra….ya ampunnn kamu kenapa?” ucapnya heran melihat putrinya menangis sesenggukan
“ Maafin Rara Ma, kalau Rara selalu mempermalukan keluarga ini, Rara gak tau kalau bakalan begini kejadiannya” ucap Rara terisak
“Maksud kamu apa Ra?” Tanya Nyonya Rani dengan dahi megkerut
“Apapun itu kamu ceritanya nanti saja, sekarang ayok ikut Mama kedepan karena ijab kabul sebentar lagi akan dimulai” ucap Nyonya Rani dan mengintruksikan MUA untuk membenarkan riasan putrinya yang kembali berantakan karena tangisan.
__ADS_1
“ Ij… iajb qobul dengan siapa Ma? Siapa yang Mama suruh menggantikan Mas Andika Ma? “ ucapnya kaget
“Tapi dari pada keluarga kita malu, Rara tidak apa – apa jika pengantinnya diganti Ma, Rara ikhlas” ucapnya menunduk dan pasrah
Nyonya Rani menghela nafas dalam, dia mulai mengetahui ternyata Rara menangis karena mengira pernikahannya dengan Andika gagal kembali. Atau apakah Rara mendengar semua perkataan kerabatnya pikirnya.
“ Siapa yang mengganti pengantin prianya Ra. Itu keluarga Andika sudah datang dan menunggu kamu didepan karena ijab kabul akan dilaksanakan. Sudah jangan berprasangka buruk jangan kamu dengarkan omongan orang – orang yang membuat kita sakit hati” ucapnya menenagkan putrinya.
“ Ra… Maaf ya Mama dan Andika telat datangnya, tadi ada kecelakaan saat perjalanan kemari. Ponsel Mama lowbat sedangkan ponsel Andika tertinggal karena saking gugupnya calon suami kamu itu sampai benda sepenting itu tertinggal” Ucap Nyonya Tama yang tiba – tiba saja masuk kedalam kamar Rara.
Karena lama menunggu kedatangan Rara dan sahabatnya, Nyonya Tama berinisiatif untuk ikut menyusul calon menantunya. Sebelum masuk dia sempat mendengar ucapan Rara dan Mamanya, Nyonya Tama merasa bersalah karena terlambat datang dan mengakibatkan calon menantunya teringat akan kegagalannya dahulu kala.
“ Mas Andika sudah didepan?” Tanya Rara dan dijawab anggukan kepala oleh kedua ibu suri
“ Berarti pernikahan Rara enggak gagal khan Ma?” Tanya Rara kembali memastikan
“ Loh siapa yang mengatakan gagal enak saja. Dimana lagi mama mencari menantu seperti kamu? Sekarang ayuk kita kedepan Andika tegang dan keringetan dari tadi karena kamu tidak keluar dari kamar, mungkin Andika juga mengira kamu kabur Ra” ucap Nyonya Tama menggoda menantunya
Rara keluar dari kamarnya diapit oleh Mama dan calon mertuanya. Sadar akan kedatangan calon istrinya Tuan Andika reflek menoleh kearah Rara. Tuan Andika membeku ditempatnya dengan mulut menganga melihat penampilan Rara yang sangat anggun dan cantik dengan pakaian pengantin Sunda. Dan Rambut Rara yang disanggul kebelakang dengan hiasan ronce melati yang tersemat disanggul, belakang telinga dan beberapa lainnya lagi menambah kecantikan dan keanggunan Rara hari ini. Rara tersenyum kearah Andika, dari pancar matanya terlihat betapa bahagianya dia hari ini.
Rara duduk bersebelahan dengan Tuan Andika, Ketegangan jelas terpancar diwajah kedua mempelai. Detik – detik mereka akan berubah statusnya menjadi sepasang suami istri. Dengan satu kali tarikan nafas Tuan Andika lancar mengucap ijab Kabul tanpa ada kesalahan maupun pengulangan. Senyum kelegaan terlihat pada keduanya kini tinggal pemasangan cincin pernikahan, Tuan Andika menyematkan cincin pernikahan emas bertahta berlian yang sangat cantik dan elegan dijari manis Rara sebelah kanan dan berakhir dengan mengecup puncak kepala Rara. Dilanjutkan dengan Rara menyematkan cincin pernikahan dijari manis Tuan Andika dilanjutkan mencium tangan Tuan Andika dengan takjim.
__ADS_1
Setelah rangkaian acara ijab kabul dan penanda tanganan buku nikah selesai keduanya melanjutkan acara dengan sungkem kepada kedua orang tua. Tidak lupa meminta permohonan maaf jika dahulu sering melakukan kesalahan baik sengaja maupun tidak serta memohon restu kepada orang tua agar pernikahannya sakinah mawadah warohmah.
Tangis haru menghiasi pernikahan Rara. Disela sela haru biru pernikahan Rara beberapa kerabat masih tercengang dengan mahar yang diberikan oleh suami Rara. Yaitu sebuah rumah mewah dikawasan elit yang berada di Bandung serta 5% saham perusahaam Awiguna Group. Dikalangan kerabat Tuan Wijaya yang merupakan keluarga bisnis jelas mengetahui Awiguna Group bukanlah perusahaan kecil. Dengan memiliki saham 5 % sudah jelas maharnya mendekati 5 digit. Hanya saja para kerabat baru mengetahui jika Andika Pratama yang dimaksud calon suami Rara adalah Andika Pratama pemilik Awiguna Group, perusahaan Bahari terbesar di Indonesia.
“Selamat ya Ra.. Semoga sakinah mawadah warohmah” ucap Ratih memeluk sahabatnya
“ Makasi Ya Tih? Kamu juga semoga lancar acaranya besok dua bulan lagi yaaa” ucap Rara memeluk erat sahabatnya
“Tuan Andika selamat untuk pernikahannya, Saya percaya Tuan Andika sangat mampu membahagiakan Rara” ucap Ratih menyalami Tuan Andika yang hanya dijawab anggukan kepala oleh Tuan Andika.
“Ra selamat ya, semoga langgeng” ucap Arta menyalami Rara
“ Makasih Arta, kamu juga semoga langgeng dengan Ratih” ucap Rara
“ Selamat ya Tuan Andika atas pernikahannya semoga langgeng sampai maut memisahkan” ucap Arta tulus.
“ Terima kasih” ucap Tuan Andika tersenyum
Ratih memperhatikan tunangannya yang sedang bersalaman dengan sahabatnya. Ratih menghela nafas lega, jelas terlihat Arta benar – benar sudah ikhlas dengan kebahagiaan Rara. Jika dulu Ratih sering was – was jika dia hanya dijadikan obyek pelampiasann saja oleh Arta karena diputusi oleh Rara. Tetapi kini dia yakin jika Arta memang benar – benar sudah mencintainya.
Bersambung
__ADS_1