
Jam dinding menunjukan pukul 20:00 Rara masih sendiri dirumahnya. Harusnya Ratih sudah pulang dari cafe. Mungkinkah Ratih lembur pikir Rara. Rara sedang duduk santai menonton televisi dan berselancar dengan gawainya tiba – tiba bel rumah berbunyi. Siapa yang bertamu sudah malam pikir Rara apakah Ratih mengerjainya ?
Dengan langkah gontai dia menuju ruang tamu dan membuka pintu ruang tamu. Pandangannya kaget melihat siapa yang ada didepannya,Bukankah dia sudah berkata agar jangan menemuinya lagi? Apakah Yuda sekarang lupa ingatan pikir Rara.
“Malam Ra” sapa Yuda
“ Malam ngapain kesini?” Tanya Rara bingung
“ Aku tidak disuruh masuk? Aku kan tamu Ra?” Ucapnya sok manis
“Iya tamu tak diundang” Ketus Rara
Rara menuju teras dia tidak mengajak Yuda masuk karena takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Terlebih Ratih juga belum pulang.
“Ada perlu apa Yud?” Tanya Rara membuang panggilan mas yang dulu selalu disukai oleh Yuda. Yuda hanya tersenyum getir melihat sikap Rara yang ketus kepadanya. Padahal dulu Rara sangat manja kepada Yuda.
“ Kamu tak ingin membuatkan kopi untuk mas? Mas rindu kopi buatan kamu Ra” ucap Yuda sendu
“ Maaf mas ini sudah malam, bukankah sudah tidak adalagi yang harus dibicarakan diantara kita?” Tanya Rara to the point. Jujur Rara malas berlama – lama dengan Yuda
Saat Rara hendak berbicara lagi Rara melihat mobil yang tidak asing berhenti diluar pagar rumahnya. Tak berselang lama Rara melihat kalau Tuan Andika sedang berjalan kearahnya membawa dua papper bag. Yang dia yakini adalah belanjaan Rara tadi di Mall besama Tuan Andika.
Rara dan Tuan Andika saling pandang. Pandangan Tuan Andika sulit diartikan saat memandang Yuda.
“Ra belanjaan kamu ketinggalan dimobil ” ucapnya datar
“ O… iya Tuan terimakasih” Ucap Rara tak enak hati
“Kalau begitu saya permisi “ ucapnya langsung pergi
__ADS_1
“ Maaf Tuan jadi merepotkan” Ucap Rara lagi
Tuan Andika mengemudi kendaraanya penuh dengan emosi. Jemarinya mencengkram kemudi sangat kencang menyalurkan amarahnya. Dia mencoba mengumpulkan kepingan puzzle kisah Rara. Dari ditinggalnya Rara dulu saat akan bertunangan oleh mantannya, dengan kejadian Rara dan Yuda berpelukan di RY Resto. Apakah Rara memutuskan untuk kembali dengan mantan tunangannya? Pikir Tuan Andika . Trus tadi dia bilang dia ditunggu oleh temannya dirumah makanya Rara menolak diajak makan malam. Ternyata teman yang dimaksud adalah mantan tunangannya pikir Tuan Andika mulai salah paham. Atau jangan – jangan malah sudah tinggal bersama dengan mantan tunangannya itu, pikiran jahat mulai menguasai Tuan Andika.
‘Shit, kenapa aku harus menyukai wanita seperti Rara. Memang siii dia cantik tetapi sering gonta ganti kekasih untuk apa pikirnya lagi. Dan Apalagi sekarang dia dan mantan tunangannya itu sudah kembali dan tinggal serumah pula’ monolog Tuan Andika.
Ah…!!!
Tuan Andika meremas rambutnya sendiri untuk meluapkan emosinya. Dia mengendarai mobilnya menuju kediaman Orangtuanya. Untuk mengunjungi papa dan mamanya. Begitu Tuan Andika sampai dirumahnya disambut hangat oleh mamanya yang sangat merindukan putra semata wayangnya.
“Dikaa… anak mama…..” Ucapnya menghambur memeluk dan menciumi keseluruhan wajah putranya
Andika menjerit histers karena diperlakukan seperti anak kecil, sedangkan Tuan Tama hanya geleng – geleng kepala melihat tingkah istri dan putranya.
“Mama apaan sih…. Geli” ucap Andika menghindar dari sang mama
“ Mama kangen tau, kamu gak pernah pulang. Bagaimana apakah sudah ada calon untuk menantu mama?” tanyanya antusias
“Dika Lapar ma” Ucapnya cemberut
“ Makanya cari istri agar ada yang mengurusi kamu” ucap mamanya lagi
“ Mama pingin gendong cucu” Ucapnya sendu
Mendengar ucapan mamanya tentang agar ada yang mengurusi, Tuan Andika langsung kepikiran dengan Rara. Selama hampir 10 hari ini dia sudah terbiasa dengan keberadaan Rara walau statusnya hanya sekertaris. Tuan Andika menghela nafas, kembali mengingat Bagaimana Rara memnyiapkan sarapan dan makanan siang untuknya. Bagaimana lezatnya dirasa makanan yang disiapkan oleh Rara walau hanya menu sederhana. Tuan Andika sibuk dengan pikirannnya sendiri sehingga tidak mendengarkan apa yang dibicarakan oleh Mamanya.
“ Kamu tau Dika semua teman – teman arisan mama kalau arisan memperkenalkan menantunya, kadang mengenalkan cucunya. Dan Mama selalu diolok olok kalau anak mama tidak laku”ucapnya cemberut
“ Apa kamu mau Mama kenalin dengan salah satu teman anak mama?” Tanya mamanya sambil menyiapkan makanan untuk sang putra mahkota.
__ADS_1
Tidak mendapat respon dari anaknya, Nyonya Tama mengalihkan pandangan kearah sang putra, sang putra masih asyik dengan dunianya sendiri. Entah sudah berapa kali Nyonya Tama memanggil namanya tetapi tidak mendapat respon dari Tuan Andika. Nyonya Tama melirik sang suami menanyakan keadaan putranya kenapa tumben sekali melamun seperti itu tanyanya lewat lirikan. Sang suami hanya mengedikan bahunya bingung. Dia juga bingung kenapa putranya melamun dari tadi apakah ada masalah besar diperusahaan pikirnya. Nyonya Tama menghampiri putranya dan mengelus punggungnya.
“ Kamu kenapa Nak?”Tanya sang Mama
“ Apakah ada masalah?”Tanyanya kembali
“Eh… ti…tidak Ma… “ jawabnya tergagap
Nyonya Tama dan Tuan Tama kembali saling lirik. Sebagai orang tua yang sudah 29 tahun menemaninya mengaruhi manis pahit perjalanan hidup tetntu saja beliau tau anaknya sedang tidak baik – baik saja. Akhirnya Tuan Tama pun duduk mendekat kearah putranya.
“Ada apa Andika? Apakah ada masalah di perusahaan? “ Tanya Tuan Tama
“ Eh… tidak pa, Perusahaan baik – baik saja papa tenang saja ya…., Ma... Dika kekamar dulu ya Ma… Gerah Ma pingin mandi” Katanya sambil melangkah kelantai dua tempat dimana kamarnya.
“ Tadi katanya lapar sudah mama siapkan ini” Kata sang Mama mencegah putranya
“Dika Mandi aja dulu kali ma… biar seger nanti Dika makan ma” ucapnya menenangkan mamanya.
Nyonya Tama menghela nafasnya kasar melihat putranya berlalu kekamarnya.
“ Biarkan saja dulu Ma… Mungkin Dika perlu waktu” Kata Tuan Tama
“ Ya Pa… ini semua salah Mama seharusnya dulu Mama lebih perhatian kepada Andika, Mama malah sibuk berkarier dan menitipkan Andika kepada pamannya” ucap Nyonya Tama.
“ Jangan menyalahkan diri sendiri Ma kalau mencari siapa yang salah, semua ini salah Papa seandainya Papa tidak kecolongan dan kecelakaan mungkin kita tidak akan bangkrut dulu Ma. Dan Mama pasti bisa menemani Andika sepanjang waktu. Menemaninya belajar dan memantau pergaulannya sehingga dia tidak menjadi dingin begini kepada perempuan.” Sesal Tuan Tama
Bersambung
...****************...
__ADS_1
Terimaksih untuk para readers yang sudah sudi mampir kekarya Autor yang receh ini, Jangan lupa tinggalkan jejak like & komen ya dan bolehkah author minta hadiah dan vote nya? heheheehhehehe…… see you next Part