
Melihat keterdiaman sahabatnya, Nyonya Tama mendekati Nyonya Rani dan menggenggam tangannya.
“Ran percaya padaku, bukankah kita adalah sahabat?bukankah kita dulu pernah berangan – angan untuk menjodohkan nak – anak kita?” ucap Nyonya Tama menghela nafasnya kasar melihat sahabatnya masih bungkam
“Ran, aku sudah mengetahui semua cerita tentang masa lalu keluarga kalian. Kakak Rara, Bella yang hamil diluar nikah, Rara yang ditinggalkan saat acara pertunangan yang menjadi pemicu suamimu meninggal. Aku tau semua Ran, kalian berdua adalah wanita terkuat yang aku kenal. Jangan pernah melihat masa lalu lagi Ran” ucap Nyonya Tama masih menggenggam tangan sahabatnya.
“Kamu tau Ran, aku sudah menyukai Rara dari cerita Andika walaupun aku belum pernah bertemu dengannya. Kamu mau tau kenapa? Karena hanya Rara yang bisa membuat anaku tersenyum. Karena hanya Rara yang berhasil membuat anaku mengenal cinta dan Rara pulalah yang berhasil menyembuhkan putraku dari traumanya dimasa lalu. Dan setelah aku tau Rara adalah putri dari sahabatku aku semakin menyayanginya” ucap Nyonya Tama kembali tetapi Nyonya Rani tak bergeming.
“Dulu Andika sempat Trauma dengan yang namanya komitmen Ran. Dan semua itu adalah karena salahku yang terlalu sibuk mengurus perusahaan dan suamiku yang sakit. Sampai umurnya 29 tahun saja dia belum mau berkomitmen. Bahkan entah sudah berapa kali aku menjodohkannya dengan anak dari teman – temanku dan hasilnya selalu ditolak oleh Andika. Ternyata memang kita ditakdirkan untuk berbesan Ran. Bukankah anak – anak kita saling mencintai dan saling menyembuhkan Ran? Sebagai orang tua kenapa kita tidak merestuinya saja?” Ucap Nyonya Tama kembali dan berhasil menimbulkan isak tertahan pada Nyonya Rani
Dua sahabat saling berpelukan. Nyonya Tama sangat mengetahui apa yang ditakutkan oleh sahabatnya. Tetapi bukankah tidak bijak jika kita selalu menengok pada masa lalu. Benar masa lalu adalah guru terbaik untuk kita, tetapi jangan pernah membiarkan hidup kita terbelenggu oleh masa lalu karena hidup akan terus berjalan.
“Jadi bagaimana? Kamu mau menerima dan merestui Rara dengan Andika?” Tanya Nyonya Tama memastikan.
Semua arah mata memandang kepada Nyonya Rani hanya Rara saja yang masih menunduk. Rara benar – benar takut mendengar keputusan Mamanya.
“Ya aku merestui mereka” ucapnya sambil mengangguk dan menyeka air matanya yang berdesakan dipipi.
Semua bernafas lega termasuk Rara. Bahkan Tuan Andika langsung tersenyum lebar mendengar ucapan calon mertuanya. Dia berharap mudah – mudahan ini adalah awal yang baik. Dan tidak ada halangan untuk hubungan keduanya.
“Ma…” ucap Rara mendekati Mamanya
“Maafin Mama ya sayang, Mama menjadi penghalang kebahagiaanmu” ucap Nyonya Rani memeluk putrinya
“Enggak Ma, Rara ngerti perasaan Mama.Kita hadapi bareng – bareng ya Ma?” Rara semakin mengeratkan pelukannya pada sang Mama.
Semua memandang haru pada dua sosok wanita yang saling menguatkan itu. Bahkan Tuan Tama pun ikut merasakan sesak jika teringat kisah masa lalau Rara dan keluarganya. Wajar saja kalau Nyonya Rani lebih protektif kepada putrinya.
__ADS_1
“Udah dong acara nangisnya, inikan acara bahagia kenapa dari tadi nangis melulu” ucap Nyonya Tama mengerucutkan bibirnya. Nyonya Tama membayangkan semua lancar, acara pertemuan dua keluarga yang sebentar lagi akan bersatu itu. Siapa yang menyangka semuanya menjadi panjang dari Putranya yang tidak memberitau niat dan tujuannya kemari kepada Rara. Dan yang paling tidak disangka adalah ternyata dia akan bertemu kembali dengan sahabatnya saat kuliah dulu setelah puluhan tahun lost kontak.
“Sayang kamu mau kan menerima lamaran putra Tante yang bandel dan tidak romantis ini?” Tanya Nyonya Tama yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Rara jangan lupakan wajah Rara yang merona menahan malu.
“Ran… sepertinya anak kita ini pasangan yang serasi, Rara mampu menaklukan putraku yang terkenal dingin dan arogan, Sedangkan Andika mampu menaklukan miss playgirl miliknya Miss Maharani” Ucap Nyonya Tama terxixixiix geli membayangkan bagaimana mereka bisa saling mencintai begini
Rara mendelik kepada Tuan Andika, dia sangat tau siapa yang membocorkan rahasianya itu kepada calon mertuanya. Rara semakin menunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah karena sang calon mertua telah mengetahui sisi buruknya.
“Jangan merasa malu begitu Rara, justru tante senang sepertinya Andika mendapat pendamping yang sepadan. Tante gak tau gimana ceritanya kalau Andika mendapat pendamping yang polos, Setidaknya kalau sama kamu Andika bisa belajar nanti sama kamu biar tante cepet punya cucu” ucapnya blak blakan
Suasana diruang tamu mendadak menjadi riuh oleh gelak tawa dua keluarga itu, Sedangkan Rara dan Tuan Andika saling pandang melihat betapa absurdnya Mama Tuan Andika. Nyoya Rani geleng – geleng kepala mengetahui sahabatnya tidak berbah dari dulu, Nyonya Tama selain ceplas ceplos dia memang suka bercanda tetapi harus diakui jiwanya sangat baik. Nyonya Rani bersyukur Rara mendapatkan mertua seperti Nyonya Tama dan calon Suami seperti Tuan Andika yang sangat menyayanginya.
“Sudah Ma, kamu jangan menggoda Rara terus kasian dia” ucap Tuan Tama menasehati istrinya.
“O iya sekarang waktunya tukar cincin ayuk sayang duduk sini deketan sama Andika” ucapnya mendudukan Rara bersebelahan dengan putranya. Mengetahui akan ada acara tukar cincin Rara memindahkan cincin pemberian Tuan Andika saat berlibur ke jari tengah.
Nyonya Tama mengambil kotak beludru berwarna hijau lumut didalam tasnya
Setelah Tuan Andika selesai memasangkan cincin dijari manis Rara kini giliran ini giliran Rara menyematkan cincin dijari manis Tuan Andika. Nyonya Tama menyerahkan cincin emas putih dengan batu permata berlian kecil sebagai pemanis. Cincin itu terlihat sangat indah dan pas di jari besar Tuan Andika.
Setelah selesai acara tukar cincin acarapun dilanjutkan dengan makan malam yang sudah dipersiapkan oleh ART. Selesai makan malam mereka kembali melanjutkan obrolan mereka diruang keluarga.
“Ran untuk urusan pernikahan mereka sepertinya lebih baik kita yang mengambil alih. Bagaimana kalau kita tentukan saja hari pernikahan mereka sekarang?” Tanya Nyonya Tama yang dijawab anggukan kepala oleh Nyonya Rani ternyata yang merespon ucpan Nyonya Tama bukan hanya Nyonya Rani.Tetapi juga dengan kedua pasang tunangan itu kompak tersedak bersamaan.
“Pelan – pelan sayang minumnya” ucap Nyonya Rani mengelus punggung putrinya
“ Ck kalian ini sangat cocok acara tersedak saja bisa bersamaan. Ran, kita mengobrol ditaman saja yuk? Disana juga ada suamiku kita bisa meminta pendapatnya” ucap Nyonya Tama dan langsung mengajak Nyonya Rani ketaman meninggalkan sepasang kekasih yang saling pandang melihat kepergian ibu mereka.
__ADS_1
“ Hai sayang akhirnya mereka menjauh juga jadi kita bisa berduaan” ucap Tuan Andika menggenggam tangan Rara. Rara tersenyum simpul menanggapi tunanganya
“Mas apa tidak terlalu cepat kita menikah sebulan lagi? Memang kamu sudah siap?” ucap Rara
“Siap banget malah sayang, kalau boleh sekarang juga kita bisa mencobanya mana kamar kamu? Ucapnya santai
Aw…ssttstst
“Sakit sayang, kok malah dicubit sih”ucapnya protes
“Dasar mesum” ucap Rara mendelik
“Mas aku serius kamu tidak akan menyesal nantinya? Tanya Rara kembali
“Kenapa kamu selalu membahas ini Ra jangankan hanya virgin kamu janda saja aku tidak akan menyesal” ucap Tuan Andika tegas
“Mas aku…..”
"Sudah sih Ra ya ampunnn jangan merusak hari bahagia kita. Aku sangat mencintai kamu Ra meskipun kamu tidak Virgin lagi. Yang terpenting kamu setia sama aku jangan pernah menduakan aku Ra. Dan jangan pernah meninggalkan aku apapun keadaannya nanti” Uap Tuan ANdika panjang lebar.
Rara hanya bisa menghela nafasnya dalam. Padahal tadi Rara hany ingin memberi tau kepada tunangannya jika dia sebenarnya masih virgin. Dulu dia mnegatakan hal seperti itu hanya ingin melihat seberapa besar cinta Tuan Andika kepadanya.
Bersambung
...****************...
Hai Readers……
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, vote dan hadiah yaaa sayangggg kalian semua
Sampai jumpa besok subuh…….