
Rara tersadar dari lamunannya ketika terdengar suara pintu kamar mandi terbuka. Dia berdiri lalu mlipir kekamar mandi dengan wajah yang menunduk. Dahi Tuan Andika mengkerut melihat tingkah Rara. Dari tadi siang Rara seperti menghindarinya dan setiap hanya berdua Rara selalu menunduk dengan wajah merona membuat Tuan Andika gemas sendiri akan tingkahnya. Setelah Rara masuk kekamar mandi, Rara segera menutup pintu kamar mandi dengan keras hingga menimbulkan suara dan langsung menguncinya.
BRAK
Tuan Andika berjingkat kaget mendengar pintu yang ditutup dengan keras. Sedangkan dikamar mandi Rara langsung membersihkan badannya dari lengketnya keringat karena aktivitas seharian. Rara tercenung sendiri memandang wajahnya dibalik cermin. Baju dinas yang dipilih oleh sang Mama benar – benar membuat jantungnya berdetak tidak normal.
Mau mengganti pakaian yang lebih layak, sungguh sayang Rara hannya membawa pakain dinas itu saja dan handuk yang ukurannya sangat mini kekamar mandi. Lama Rara dikamar mandi dia gugup sampai menggigit kukunya. Sampai ketukan pintu mengagetkan Rara
Tok...tok...tok
“ Dek..... Sayang kamu kenapa lama sekali di kamar mandi? Apa ada masalah” Tanya sang suami dibalik pintu
“ Ti.. tidak apa – apa aku hanya sakit perut Mas” ucap Rara berbohong
“Apa perlu aku panggilkan dokter” Tanya Tuan Andika khawatir
“Eh... tidak!! Ini sudah selesai” ucap Rara gelagapan
Tuan Andika masih setia menunggu Rara, yang tadinya menunggu didepan pintu kamar mandi kini sudah rebahan dikasur sambil mengecek ponselnya. Tuan Andika kembali melongokan kepalanya ke pintu kamar mandi, Tetapi sang istri tidak kunjung keluar. Apa sebenarnya yang dikerjakan oleh Rara dikamar mandi sampai berjam jam pikir Tuan Andika. Akhirnya kembali Tuan Andika mengetuk pintu kamar mandi.
“Sayang kamu kenapa?” tapi tidak mendapat jawaban dari istrinya
“Aku dobrak ya” ancam Tuan Andika
“Jangan!!!! Aku masih kencing” ucap Rara kembali berbohong. Padahal sedari tadi Rara hanya berjalan mondar mandir didalam kamar mandi sambil mengigit kukunya. Mungkin besok Rara harus pergi kesalon untuk perawatan kukunya lagi.
“Dalam 2 menit kamu tidak keluar aku dobrak pintunya” ancam Tuan Andika
Kembali Tuan andika menunggu sang istri didepan pintu hingga lima menit tapi tak kunjung keluar. Sepertinya Tuan Andika memang harus mendobrak pintu kamar mandi hotel malam ini.
__ADS_1
“ Oke Ra mas dobrak ya... kamu mundur, satu... dua.,,,”
Ceklek!!!
Tuan Andika gagal mendobrak pintunya karena mendengar Rara memutar kunci pintu dari dalam. Tetapi Tuan Andika langsung diam membuka ditempatnya melihat penampilan Rara malam ini. Berkali kali Tuan Andika menelan salivanya kasar. Lekuk tubuh Rara tercetak sempurna dibalik pakaian yang dikenakan Rara walaupun itu tidak pantas disebut pakaian. Kulit putih mulus sebening kapas sangat kontras dengan warna merah menyala.
Bentuknya yang transparan membuat Tuan Andika bisa melihat dengan jelas daerah – daerah yang akan menjadi tempat favoritnya. Darahnya tiba – tiba langsung berdesir dan merasakan gejolak yang belum pernah dirasakan seumur hidupnya.
Rara berjalan menunduk dengan meremas jemarinya. Dan semua itu tidak luput dari pandangan Tuan Andika. Tuan Andika tau pasti, jika istrinya sedang gugup. Jadi karena inikah Rara sejak tadi tidak kunjung keluar dari kamar mandi pikirnya. Perhatian Tuan Andika beralih pada jemari Rara yang masih saling meremas dahinya mengernyit saat melihat kuku istrinya seperti terpotong tak beraturan.
“Sayang kuku kamu kenapa?” Tanya Tuan Andika memegang jemari Rara dan memeperhatikan kuku Rara yang bentuknya sudah amburadul. Tuan Andika menghubungi recepcionist dan meminta dibawakan alat pemotong kuku. Sambil menunggu petugas recepsionist Tuan Andika menggiring Rara untuk duduk di Ranjang.
“Cantik “ ucap Tuan Andika memuji sang istri sambil menatap dalam sang istri. Sadar jika sedang diperhatikan Rara semakin menunduk, dia enggan sekali untuk mengangkat wajahnya apa lagi membalas tatapan sang suami
Tuan Andika mengangkat dagu Rara sehingga tatapan itu saling bersirobok. Bibir ranum Rara seolah – olah sedang melambai – lambai meminta disapa oleh Tuan Andika. Wajah keduanya pun semakin mendekat bahkan Rara bisa merasakan hembusan nafas sang suami. Rara reflek memejamkan mata seolah – olah pasrah dengan apa yang akan dilakukan Tuan Andika.
“Tunggu disini, pakai selimutnya mas kedepan melihat siapa yang datang. Mungkin saja itu petugas receptionist yang tadi mas panggil” kata Tuan Andika
Seperti kerbau yang dicocol hidungnya, Rara menurut merebahkan badannya dan menutupi keseluruhan tubuhnya dengan selimut. Sementara Tuan Andika berjalan menuju pintu yang diketuk.
Tak berselang lama Tuan Andikapun kembali dengan membawa sebuah alat pemotong kuku ditangan. Tuan Andika menghampiri Rara dan duduk disebelah ranjang tempat Rara tertidur.
“Kemarikan tanganmu biar mas rapikan kukunya” ucap Tuan Andika mengulurkan tangannya meminta jemari Rara
“ Kenapa bisa begini sayang? Kenapa kamu gigit kuku kamu, untung saja tidak berdarah” ucapnya perhatian sambil memotong semua kuku Rara yang berantakan sampai rapi.
“Dari pada kamu gigitin kuku lebih baik gigit mas aja” ucapnya menggoda sang istri yang dilihat wajahnya masih tegang.
“Is... mesum” ucap rara memukul dada sang suami.
__ADS_1
Rara kembali gugup saat tangan yang dipakai memukul dada sang suami ditangkap oleh Tuan Andika. Bahkan sekarang sang suami menatapnya dalam, Rara mecoba menghindar dengan mengalihkan pandangan tetapi gagal karena tangan Tuan Andika menahan wajahnya hingga kini mereka berdua saling tatap. Posisi Rara yang berada dibawah Tuan Andika jelas menguntungkan bagi Tuan Andika.
Tuan Andika semakin menunduk mendekat kewajah Rara hingga indra pengecap itu menyatu. Saling meyalurkan rasa dan bertukar saliva, hingga daging tak bertulang itu menerobos dan mengabsen semua yang ada didalammnya. Ciuman yang tadinya lembut kini menjadi menuntut dengan saling membelit.
Nafas keduanya terengah ketika ciuman itu terlepas. Tuan Andika menyeka sisa saliva mereka dibibir Rara menggunakan jemarinya. Senyum merekah terbit pada bibir tebal milik Tuan Andika. Sedangkan Rara wajahnya memerah bak kepiting rebus.
“Apa gara – gara pakain kurang bahan ini kamu tak kunjung keluar dari kamar mandi sayang?” Tanya Tuan Andika yang dijawab anggukan kepala dari Rara.
“ Tapi kamu cantik menggunakan pakaian ini sayang, Mas suka” ucapnya mendusel diantara ceruk leher Rara
“Mas geli” ucap Rara
“ Lagian khan kamu yang mancing duluan dengan menggunakan pakaian kurang bahan gini” ucapnya kembali mendusel dieruk leher sang istri
“ Kalau tidak ingat besok kita akan perjalanan jauh mungkin kamu sudah mas garap” ucapnya kembali
“Jadi?” Ucap Rara penuh binar kelegaan
“Untuk malam ini kamu Mas ampuni, tapi tidak saat di Maldevis nanti. Kamu tidak akan mas perbolehkan menggunakan pakaian” ucap sang suami yang mendapat pelototan dari Rara.
“ Sekarang kamu istirahat kita dapat istirahat beberapa jam, tapi jangan dibuka selimutnya, kalau tidak mau mas khilaf dan membuat kita gagal bulan madu” ucap Tuan Andika merapikan selimut menutupi hingga leher Rara.
Merekapun melewatkan malam pertama mereka untuk malam ini mengingat besok akan melaksanakan perjalanan jauh. Tuan Andika hanya takut tidak bisa mengontrol diri hingga mengakibatkan sang istri kelelahan. Lagi pula Tuan Andika sudah menyediakan paket bulan madu yang komplit di pulau Maldevies. Bukankah disana akan lebih indah dan romantis untuk mengukir sejarah perjalanan cinta mereka.
Bersambung
Jangan lupa tinggakan jejak kesayangann……..
Terima kasih
__ADS_1