
Dengan sedikit mendorong anaknya , Ibu Riris menyuruh Riris untuk keluar karna dia sudah tau takdir hidupnya sudah di depan mata , dan dia hanya berharap jika putrinya ini bisa bahagia dan menyelesaikan masalah nya ini dengan cepat.
Dengan langkah yang cepat Riris segera menuju kearah kamar , dan dia melihat beberapa anak buah Denis sudah berada di luar pintu kamar.
" Pagi nyonya " sapa semua anak buah Denis
Riris tidak menjawab , dia hanya masuk ke dalam kamar dan betapa terkejutnya dia melihat kamar sudah seperti kapal pecah , foto dirinya yang di dinding maupun di meja sudah pecah.
Dan dia mendengar seseorang yang menangis sesegukan di tepi ranjang dan itu Denis yang sedang menangis dengan foto yang di pelukannya.
" Rich kenapa ini ?" tanya Riris sambil berjalan ke arah Richad yang sedang berdiri di samping Denis
Denis yang mendengar suara pujaan hatinya segera berdiri dan memeluk tubuh gadis itu dengan erat.
" Kemana saja kau sayang ?" tanya Denis masih sesegukan
" Aku menemui ibuku !!! kenapa kau mengikatnya " jawab Riris
" Jadi kau lebih peduli kepadanya dari pada aku ?" tanya Denis sedikit berteriak
__ADS_1
" Apa kau bodoh , dia itu ibuku Denis , jadi hormati dia jika kau ingin berteman dengan ku " ucap Riris yang sudah tersulut emosi
" Aku tidak ingin berteman denganmu , aku hanya ingin menjadi suamimu , dan jangan pernah kau bagi kasih sayangmu kepada siapapun termasuk wanita tua itu " teriak Denis dengan mendorong tubuh Riris
Sehingga membuat Riris terjatuh ke lantai dan telapak tangannya mengenai kaca yang pecah di lantai.
Richad yang melihat darah mengalir di tangan Riris segera berjalan kearah wanita itu namun di halangi dengan suara tangisan Denis
" Maafkan aku sayang , aku tidak bermaksud melukaimu , aku hanya tidak ingin kau berpaling dariku " ucap Denis sambil menggendong tubuh Riris ke ranjang
Richad keluar untuk mengambil kotak p3k dan menyuruh pelayan untuk membersihkan kamar tersebut, dan menyuruh semua anak buah Denis untuk bubar dan jangan pernah menyentuh ibu Riris.
" Dasar pria gila , dia yang membuatku seperti ini kenapa dia yang ingin menangis , bagaimana bisa aku menghadapi pria ini , sedangkan melihat ibuku saja dia sudah cemburu seperti orang gila saja " Batin Riris dengan kesal
Richad masuk dan Denis membiarkan Richad untuk mengobatinya dengan dia yang berbaring di pangkuan wanita itu.
" Menjauhlah nanti wajah mu kena obat merah ini " ucap Richad
" Diam dan kerjakan saja tugasmu " jawab Denis dengan memeluk perut Riris dan memejamkan matanya
__ADS_1
" Ris apa tangan mu sakit ? apa perlu di perban ? " tanya Richad
" Jangan ajak wanita ku berbicara , apa kau ingin ku bunuh " jawab Denis
" kalau aku tidak bertanya , bagaimana aku bisa tau jawabannya gila " ucap Richad kesal
" Kau kan dokter, apa kau tidak bisa melihat kondisinya , dasar bodoh " jawab Denis yang masih betah memeluk wanitanya
" Balut saja agar tidak mudah terkena air , lagipula ini hanya sebelah " jawab Riris melerai perdebatan pria yang di depannya
" Pergilah mandi , kau sudah sangat bau " ucap Riris kepada Denis dengan mengelus rambutnya
" Mandikan " jawab Denis manja
" Kau sudah besar Nis " ucap Riris
" Aku tidak mau mandi jika tidak di mandikan " jawab Denis merajuk tapi masih memeluk tubuh wanitanya
Richad yang mendengar percakapan keduanya merasa muak , dan dia segera keluar setelah selesai menyelesaikan tugasnya dengan sedikit berharap agar Denis segera sembuh.
__ADS_1