Penghuni Pohon Tua

Penghuni Pohon Tua
Rencana Tetap Berjalan


__ADS_3

“ Apa sebaiknya Bapak kita beri tahu dulu, jadi nggak kagetan gitu, ngeliat kita ngungsi sementara di sana?”


Madi memandang lembut Aulia yang sedang sibuk mengenakan hijab. Mungkin ada benarnya ucapan Aulia, tapi, pasti akan repot untuk menjelaskannya melalui telephon. Mungkin lebih enak menceritakan semuanya ketika sudah sampai di sana. Bisa bercerita dengan leluasa. Apalagi orang tua Aulia juga sudah sering mendengar cerita yang kurang


sedap dari pohon tua dan rumah yang mereka tempati selama ini.


“Nanti ajalah, Dek. Lebih enak ngejelasinnya kalau berhadapan langsung dengan mereka. Mendingan sekarang, kita segera berkemas dan keluar. Jadi, sebelum azan magrib, sudah sampe di sana.” Aulia pun tidak lagi membantah ucapan Madi, dan mengikuti saja langkah Madi yang membawa tas berisi perlengkapan selama menginap di rumah orang tua Aulia.


Ketika, hendak keluar rumah, sebuah desiran angin membuat bulu kuduk Aulia tegak. Menurut Madi, suaminya, itu adalah arwah perempuan hamil yang menetap di rumah mereka selama ini. Dia ingin menyaksikan kepergian mereka. Sementara sosok misterius yang tadi pagi selalu memperhatikan mereka tidak nampak batang hidungnya. Jejaknya seperti menghilang, lenyap ditelan bumi.


“Kang, apa arwah perempuan itu ada dekat kita?” Aulia yang sudah mulai terbiasa dengan kehadiran arwah itu bertanya sembari mengusap tengkuknya yang merinding.


‘Iya, Dek. Dia hanya pengen ngeliat kita pergi aja. Nggak usah takut!”


Aulia mengangguk. Dia tau kalau arwah itu tidak akan membahayakan dan mengganggu. Paling dia hanya ingin tinggal dan menghindar dari ajakan makhluk penghuni pohon tua itu untuk tinggal di sana dan berubah menjadi arwah yang jahat.


“Semoga saja dia tidak berubah menjadi sesuatu yang mengerikan, ya, Kang?”  Madi hanya tersenyum. Memandang sekilas ke  arah arwah yang memandang kepergian mereka. Pria muda itu masih membuat garis gaib sebagai pagar, melindungi rumah selagi


mereka harus bepergian ke rumah orang tua Aulia.


“Iya, Dek. Ayo, cepat masuk ke dalam mobil. Sudah saatnya kita pergi dari sini!” ucap Madi, dan segera memerintahkan isterinya segera masuk ke dalam mobil. Saat itulah sebuah serangan ia rasakan. Pukulan yang seketika


menghantam ulu hatinya, membuat dada Madi menjadi sesak untuk sepersekian detik.

__ADS_1


Beruntung Madi cepat menguasai keadaan dan membentengi diri dengan terus berzikir


dan membaca istifghar terus menerus. Beryukurnya serangan itu pun bisa segera


dihalau dan sebuah seringai berkelebat sekilas.


Tunggu saja, desis Madi geram. Dia sengaja tidak memberitahu Aulia yang sedang duduk manis di sebelahnya, menunggu mobil segera berangkat. Dia tidak ingin isterinya itu semakin gelisah dan ketakutan. Setelah mengucap bismillah, Madi lalu menstater mobil, menginjak pedal gas, melajukan mobil meninggalkan pekarangan rumah yang terlihat mulai sepi.


Suara-suara tawa terdengar dari arah pohon tua itu. Mengejek dan menertawai tindakan mereka untuk meninggalkan rumah, sementara waktu. Kepergian Madi dan Aulia juga tidak akan lama. Mereka hanya ingin menghindar sembari mencari pertolongan untuk mengatasi gangguan makhluk-makhluk itu yang semakin berbahaya.


Di sepanjang perjalanan menuju rumah orang tua Aulia, sosok bayangan misterius itu kembali muncul. Lebih jelas gambarannya. Rasa-rasanya memang Madi sangat mengenalnya. Namun, siapa? Berkali-kali ia mencoba mengingat siapa bayangan miterius itu, berkali-kali pula ingatannya gagal. Benar-benar aneh dan menjengkelkan.


“Kang, kenapa sig di sepanjang perjalanan kok sepi benar? Orang yang lalu lalang pun hanya sedikit!” Aulia mengutarakan keheranannya. Memang benar apa yang dikatakan isterinya itu. Hanya nampak satu atau dua orang yang berani berada di jalanan. Selebihnya lebih memilih berdiam dalam rumah. Seperti ada teror yang menimpa mereka.


“Iya, kamu benar, Dek. Penduduk di sini seperti ketakutan akan satu hal. Apa ya? Kok mereka jadi nggak berani keluar rumah?” Madi terus menggeleng-gelengkan kepala. Bingung, ragu, tidak tahu hau berpikir apa.


juga tidak habis pikir kenapa penduduk di sini kok bisa ketakutan seperti ini. Apa ini juga ulah penghuni pohon tua itu? Atau ulah pemilik bayangan miterius  yang sering kali mengendalikan makhluk-makhluk penghuni pohon tua itu? Ah, entahlah.


Aulia pun tidak berani berkata apa-apa, dan berandai-andai. Ia membiarkan suaminya agar lebih konsentrasi menyetir. Takut ada


kenapa-kenapa nantinya.


Setelah hampir satu setengah jam menyetir, akhirnya mereka berdua sampai juga di kediaman orang tua Aulia. Rumah asri yang penuh dengan tanaman membuat suasana di sekitar rumah  orang tua Aulia menjadi sejuk.

__ADS_1


“Ada apa ini? Kenapa mendadak sekali?” Sambut ibu Aulia saat kami baru saja tiba.


“Nggak apa-apa, Bu. Aulia hanya kangen Bapak dan Ibu.” Terdengar Aulia berusaha menenangkan sang ibu. Memang mereka tidak terlalu sering tidur di rumah orang tua Aulia. Takut keterusan dan menjadi ketergantungan


Lagi pula mereka ingin mandiri dan tak ingin merepotkan orang tua Aulia. Karena biasanya, ketika pulang. ibu Aulia akan membawakan mereka banyak barang berupa makanan mau perlengkapan**** sehari-hari.


Akhirnya bapak dan ibu Aulia pun memeprsilahkan meteka berdua masuk. Seperti biasanya kalau Madi danAulia menginap, ada-ada saja hidangan yang disajikan ibu Aulia. Secangkir air teh hangat,


sekaligus camilannya pasti selalu diediakan. Belum lagi yang lainnya. Madi dan Aulia


sering merasa malu dengan perlakuan istimewa orang tua Aulia.


Mungkin, karena Aulia adalah anak tunggal, sehingga setelah menikah lun, masih tetap diperlakukan dan diperhatikan.


Ada kalanya, Madi dan Aulia sering kali protes agar perlakuan ibu biasa-biasa saja. Namun, namanya saja orang tua, pasti akan selalu memberikan yang terbaik bagi anaknya. Hingga akhirnya membiarkan


saja perlakuan istimewa tersebut berlanjut. Sesekali membuat orang tua senang tidak


mengapa, pikir Madi dan Aulia waktu itu, dan hal itu terus berlangung sampai sekarang.


“Lia, berarti, sekarang rumah kosong kalau begitu? Nggak apa-apa dibiarin kosong begitu?”


Aulia menggeleng menjawab pertanyaan ibunya barusan, agar tidak  membebani pikiran ibunya. “Nggak, Bu. Lagi pula Kang Madi juga udah membuat pagar gaib untuk melindungi rumah kita dari gangguan makhluk atau orang-orang yang kurang bertanggungjawab.

__ADS_1


“Ya, syukurlah kalau begitu. Bapak dan Ibu khawatir saja. Sebab, pernah beberapa kali Bapak dan Ibu pernah mendengar cerita yang kurang sedap mengenai rumah kalian itu.


Madi dan Aulia hanya mengangguk. Setelah beritirahat sejenak, mereka berdua pun pamit untuk bisa segera berwudhu dan melaksanakan salat magrib. Bagaiamana pun salat adalah benteng utama menghadapi gangguan dari makhluk-makhluk astral itu. Semoga saja, mereka bisa lebih kuat menghadapi teror penghuni tua.


__ADS_2