Penghuni Pohon Tua

Penghuni Pohon Tua
Semakin Percaya Diri


__ADS_3

Setelah berhasil mengusir ketiga makhluk penghuni lukisan itu, Madi segera menghampiri kyai Sarwa dan lainnya. Merasa bersyukur, kondisi mereka sudah lebih membaik sekarang. Terutama Bayu. Santri ini sudah bisa menetralisir semua hawa negatif yang menyerangnya tadi.


"Alhamdulillah, Kang, akhirnya mereka bisa juga disingkirkan!" Madi tersenyum, sangat lebar, saat mendengar ucapan Bayu. Ya, laki-laki muda ini, ikut merasa puas telah berhasil mengusir makhluk-makhluk tak kasat mata itu.


"Iya, Bayu. Untuk sementara, kita bisa tenang. Semoga ke depannya, kita mampu mengusir semua makhkuk yang bermaksud mengusik ketenangan di sini."


Kyai Sarwa, Bayu dan ustad Amir, mengangguk, hampir bersamaan, ketika mendengar ucapan Madi. Memang betul sekali ucapan Madi. Ini adalah awal yang baik, bisa mengusir makhluk-makhluk itu satu demi satu.


"Sebaiknya malam ini, kalian beristirahatlah! Besok, kita ndak tau makhluk astral apa lagi yang akan kita hadapi!"


Bayu dan ustad Amir, segera pamit usai mendengar kata-kata kyai Sarwa. Mereka berdua memang terlihat begitu letih. Malam juga sudah mulai larut. Sementara, Madi dan kyai Sarwa juga beranjak masuk ke kamar setelah terlebih dahulu mengantar Bayu dan ustad Amir sampai ke depan pintu.


Sampai dalam kamar, Madi segera berbaring, tidur, melepas penat . Untaian doa dan zikir dibaca Madi sebelum terlelap. Meminta pertolongan dan perlindungan pada Allah.


Sementara, jauh di sana, di kediaman orang tua Aulia, isteri Madi itu tampak tertidur pulas. Murotal masih terputar dari gawai yang terletak di sampingnya. Malam ini, cuaca memang sangat panas. Aulia, sampai tak mematikan kipas.


Di luar, kembali, Nang, cucu nenek bungkuk, berdiri, memandang rumah Aulia. Mengawasi dengan cermat, setiap bagian yang mungkin bisa dimasuki, dengan mendobrak pagar gaib.


Di sekelilingnya, sekarang berdiri beberapa makhluk tak kasat mata yang ternyata adalah penghuni pohon tua. Mereka seperti menyimpan suatu maksud tertentu.


"Malam ini, sepertinya, bukan waktu yang tepat juga, Tuan," sepasang makhluk astral menyerupai orang tua cebol berwajah mengerikan itu, membuka komunikasi dengan Nang.


"Kapan kita bisa bergerak kakek cebol?" Nang, mulai tampak tak sabaran. Sikapnya sangat gelisah sekarang. Berkali-kali, dia mengepalkan tinju, menahan gusar.

__ADS_1


"Sabarlah, Tuan. Saat ini, pagar gaib yang membentengi rumah ini, masih kuat, belum bisa ditembus."


Mata Nang semakin memerah, menahan amarah yang sudah mencapai puncak.


"Tak bisa,! Malam ini, kita harus mencoba masuk. Lagi pula suaminya baru bertarung dengan makhluk astral kiriman Jaka. Tadi, aku, melihatnya bersama nenek."


"Percuma, Tuan! Kekuatannya masih bisa mengalahlan kita malam ini. Kita coba besok malam, kalau Tuan sudah tak sabaran." Kuntilanak bertaring panjang yang sedari tadi berdiri di samping Jaka, ikut menimpali.


"Bagaimana caranya, kuntilanak?" Nang bertambah gusar, karena maksud hatinya tak tercapai malam ini.


"Besok, aku akan masuk ke dalam tubuh, ibunya Aulia, saat pergi ke pasar."


"Ha ... ha ... bagus sekali, kunti. Dengan demikian, perhatian Madi akan terpecah dengan gangguan yang akan kau lakukan, kunti."


Nang, cucu nenek bungkuk itu tertawa puas. Dia bisa membayangkan kekacauan yang akan terjadi besok. Madi pasti pusing, karena tak mungkin bisa pulang dari pondok. Rencana yang bagus. Situasi ini juga pasti akan menguntungkan Jaka, karena akan memudahkan langkah Jaka mengalahkan Madi.


Ucapan Nang disambut kekehan tawa makhluk astral penghuni pohon tua yang menjadi sekutu Nang dan neneknya, Nyai.


Sementara di pondok, mata batin kyai Sarwa telah menangkap gelagat buruk cucu nenek bungkuk itu. Orang tua ini hanya mampu mengelus dada, menarik napas napas panjang. Situasi benar-benar kacau. Dia tak mungkin membiarkan Madi pulang besok, karena kondisi di pondok sendiri sedang genting.


Apa yang harus dilakukan besok, ketika makhluk-makhluk itu mengacaukan rumah orang tua Aulia? Bagaimana Aulia bisa bertahan dari gangguan yang terus dilakukan oleh cucu nenek bungkuk bersama makhluk penghuni pohon tua itu? Benar-benar membingungkan.


Tak mau kalut terlalu lama, kyai Sarwa bergerak menuju kamar mandi, mengambil wudhu, kemudian salat tahajud, mengadukan semua permasalahan pada Allah. Memohon pertolongan dan perlindungan hanya dari-Nya.

__ADS_1


Usai salat, wajah kyai Sarwa mulai terlihat tenang. Air mukanya tak lagi sekeruh tadi. Sepertinya, dia sudah mendapatkan jalan keluarnya. Ya, besok pagi, dia berencana akan memberitahu Madi, dan mengingatkan Aulia akan kemungkinan gangguan serius yang akan dilakukan Nang dan pengikut-pengikutnya.


Keesokan harinya, kyai Sarwa langsung memberitahu Nang, apa yang telah dilihatnya malam tadi. Awalnya, Madi, begitu prihatin dan khawatir sekali. Apalagi dia tak bisa berada di sana, melindungi Aulia dan keluarganya.


"Apa yang harus Madi lakukan, Kyai? tanya Madi cemas.


"Hanya satu yang bisa kita lakukan, mempertebal benteng di sekitar rumah orang tua Aulia. Kau, juga harus lebih mempersiapkan diri, karena Nang, tak sendirian. Ada penghuni pohon tua yang kini mengincar Aulia!"


Madi bertambah gelisah, berhadapan dengan Nang saja sudah cukup susah. Apalagi ini, ia dibantu loleh makhluk-makhluk penghuni pohon tua.


"Ndak usah, takut, Madi!" Kita memang tak mungkin mengubah takdir, tapi, kita akan terus berupaya mengatasi segala hal nantinya!" Madi terdiam. tercenung, benar-benar dilanda ketakutan.Apalagi, Aulia sedang hamil sekarang


"Terus terang, Kyai. Madi, sangat cemas. Takut terjadi sesuatu hal yang tak diinginkan".Mendengar ucapan Madi, kyai Sarwa lantas menepuk pundak Madi.


"Sudah, ndak usah takut. Persiapkan saja dirimu. Jaka juga pasti tak akan tinggal diam!" kyai Sarwa mulai melihat benang merah di antara semua persopalan yang ada.


"Baik, Kyai. Seharian ini, Madi akan terus berzikir, melatih semua hijib yang telah dipelajari dari kyai unruk melawan makhluk-makhluk itu."


"Bagus ...! Itu baru murid, kyai. Ndak usah khawatir, nanti kita juga minta bantuan Bayu dan ustad Amir?


Madi memandang heran kyai Sarwa. Memang di dua laga terakhir, bantuan mereka boleh dikatakan cukup berrhasil. Saat ini mereka juga menjadi salah satu pilar kekuatan, untuk melindungi pondok.


"Setuju, Kyai. Madi sangat suka, kalau mereka bisa membantu kita mengusir semua makhkuk jahat yang ingin menguasai pondok!" seru Madi, girang, seperti terbebas dari himpitan permasalahan. Meskipun, kemampuan mereka, levelnya masih berada di bawah Madi dan kyai Sarwa, tapi, itu sudah cukup membantu, saat berhadapan dengan makhluk tak kasat mata, yang akan berbuat onar.

__ADS_1


"Sekarang, mulailah terus melatih hijibmu, sambil menebalkan pagar gaib di sekitar rumahmu dan rumah mertuamu. Hari ini, biar kyai yang berkeliling pondok!"


Madi mengangguk, mendengar ucapan kyai Sarwa. Malam nanti, ia harus sudah siap untuk berhadapan dengan Nang.


__ADS_2