
"Ternyata kalian tangguh juga!" seru salah satu makhluk penghuni lukisan itu. Sepertinya, dia adalah pemimpinnya.
Kyai Sarwa hanya mengulas senyum, semakin membangkitkan amarah makhluk tersebut.
"Seharusnya kalian sudah harus hengkang dari tadi!" Kali ini, ucapan kyai Sarwa terdengar begitu tajam dan tegas. Memang sepantasnya makhluk seperti ini tak boleh diberi kesempatan mengganggu, mereka harus diusir secepatnya, sebelum nantinya merajalela.
"Jangan sombong dulu, pak tua! Kami, belum kalah. Tunggu saja, lihat serangan kami berikut ini!"
Belum lagi kyai Sarwa menjawab, serangan telah dilancarkan ketiga makhluk itu. Madi terlebih dahulu diserang, karena tadi berhasil mematahkan serangan mereka beberapa kali.
Sambil melindungi ustad Amir, Madi menahan serangan makhluk tak kasat mata itu. Sementara, ustad Amir, masih terus berzikir, berlindung dari pukulan makhluk bertampang jelek tersebut.
Bau amis pun semakin pekat menyelubungi rumah kyai Sarwa. Bayu yang bersandar di dinding berulang kali menahan napas, menetralisir hawa negatif di sekitarnya. Rasa mual yang tadi terus menyerang akhirnya perlahan mulai berkurang.
Keadaan Bayu yang mulai tenang membuat rasa khawatir yang sempat hadir di hati Madi, menguap. Dari ujung mata, Madi terus mengamati kondisi Bayu, jangan sampai dia terkena serangan yang lebih fatal lagi.
"Madi, sepertinya serangan makhluk-makhkuk itu sudah semakin ganas!"" seru ustad Amir. Madi mengangguk, mengiyakan seruan ustad Amir. Memang benar apa yang dikatakan ustad Amir tadi. Sepasang tangan milik makhluk itu terus mengejar kyai Sarwa, Madi dan ustad Amir. Tangan yang dihiasi kuku runcing dan tajam itu, terus bergerak, mengancam seluruh tubuh mangsanya.
"Kyai, Awas!"Madi berteriak, saat sebuah sabetan mengenai pemimpin pondom pesantren itu. Beruntung, sabetan itu berhasil dielakkankan, sehingga mengenai tempat kosong. Nyaris, sedikit lagi kuku tajam itu akan menancap di leher kyai Sarwa.
Seringai kejam terlihat di wajah makhluk tersebut. Benar-benar kejam. Mata mereka pun sudah memerah kini, sangat mengerikan. Hawa dingin, bau amis bukannya sirna, malah terus bertambah. Udara di rumah kyai Sarwa sangat dingin berasa seperti dalam lemari pendingin.
"Kalian juga harus lebih berhati-hati Madi, Amir! Tak boleh lengah sedikit pun!" Kyai Sarwa pun berteriak mengingatkan kedua muridnya.
Ustad Amir yang memiliki ilmu supranatural paling rendah, tak mau bertindak gegabah lagi. Dia sudah merasakan akibatnya tadi, sempat terkena serangan dari makhluk astral itu.
__ADS_1
Laki-laki muda, hampir sepantar Madi itu kian gencar melancarkan hijib dan membaca zikir, agar tetap tenang dan konsentrasi menghadapi semua makhluk menyeramkan itu.
Melihat, kondisi mereka bertiga yang tetap kuat, tak lagi terpengaruh dengan parade kekuatan yang sedari tadi diperlihatkan para makhluk itu membuat kemarahan mereka tak terbendung. Serangan demi serangan terus menerus dilancarkan makhluk gaib itu. Kyai Sarwa pun hampir kewalahan. Berkali-kali, Madi harus menepis beberapa serangan yang hampir menghantam kyai Sarwa.
Sepertinya kyai Sarwa sudah didera keletihan, mungkin karena faktor usia yang sudah mulai lanjut. Apalagi, beberapa hari terakhir, tenaga mereka sering terkuras, membentengi pondok dan mengusir makhluk astral yang ingin mengusik pondok.
"Sebaiknya, Kyai beristirahat untuk memulihkan tenaga. Biarkan Madi dan ustad Amir yang menghadapi mereka, makhluk bertampang jelek itu!"
Kyai Sarwa pun mengikuti anjuran Madi, menepi, duduk di dekat Bayu, mencoba memulihkan tenaga. Sementara, makhluk fak kasat mata yang dipanggil jelek oleh Madi itu, hanya memandang marah, sambil semakin gencar menyerang Madi.
Kali ini, ketiga makhluk itu menambah kekuatan mereka. Dari penglihatan mata batinnya, Madi bisa melihat Jaka tengah menyaksikan pertarungan mereka dengan makhluk astral, kirimannya. 'Dasar penghianat! Tega-teganya, dia berniat merusak ketentraman penghuni pondok. Padahal di pondok inilah dia mendapatkan semua ilmu pengetahuan.
'Tunggulah, nanti pasti akan tiba saatnya kita berhadapan' desis Madi menahan murka.
Hijib yang sering dipakai Madi untuk mengusir makhluk tak kasat mata. Sebuah jeritan segera terdengar. Melengking dan menyayat.
"Panas ... panas ... ampun!" Jeritan itu terus terdengar sebelum akhirnya menghilang. Melihat salah satu rekannya telah terkena hijib Madi dan mengilang, kedua makhluk yang tersisa semakin intensif menyerang Madi.
Kyai Sarwa yang duduk menepi dekat Bayu, tidak tinggal diam ternyata. Pemimpin pondok itu tetap terus berzikir membaca semua amalan yang pernah dipelajari dan dikuasainya.
Serangan makhluk tak kasat mata itu sedikitnya membuahkan hasil. Ustad Amir yang akhirnya terkena serangan makhlhk itu. Meski telah dengan sekuat tenaga bertahan, tapi tetap tembus juga.
"Sama seperti Bayu, ustad Amiir pun mengalami mual secara hebat, disertai perasaan dingin yang sangat menggigit.
'Maaf, Madi! Saya tak bisa membantu untuk sementara!" Bersamaan dengan ucapannya, ustad Amir pun menyingkir dan duduk di sebelah kyai Sarwa.
__ADS_1
Tinggallah Madi sendiri yang berhadapan dengan makhluk tersebut. Meskipun sendiri, Madi tetap berusaha mengalahkan ketiga makhluk itu.
"Bagaiamana, anak manusia. Lihat di sekelilingmu. Teman-temanmu sudah pada menyerah?"
Madi tak perduli dengan ejekan mereka, bahkan sekarang dia semakin gencar membaca zikir, mempersiapkan diri. Madi juga tetap mengirimkan pukulan hijibnya.
"Aku belum kalah, makhluk jelek. Lihat saja pukulan hijibku!" Belum selesai lagi ucapan Madi, satu makhluk yang terkena hijibnya, juga berteriak kepanasan.
"Ampun ... ampun ... panas ... panaaaaas!" Sama seperti makhluk pertama tadi, makhluk ini pun akhirnya lenyap setelah terkena hijib Madi.
"Bagaimana, sekarang tinggal kau sendiri, makhluk jahat!" Madi berseru. puas bisa mengusir dua makhluk tak kasat mata.
Bukannya menjawab, makhluk itu malah menyerang Madi. Merasa sangat marah karena satu per satu rekannya dipaksa pergi dari pondok.
Madi juga tak mau tinggal diam dan melancarkan beberapa hijib. Kedudukan mereka seimbang, sampai tiba di suatu saat, Madi berhasil memukul makhluk itu dengan hijib pamungkasnya.
Tubuh makhluk itu seperti terbakar, menjerit minta tolong. Berjanji tak akan mau menggangu manusia lagi. Madi, tak mau memberi kesempatan sedikit pun buat makhluk itu. Sebuah hijib disarangkan sekali lagi oleh Madi, membuat makhluk jelek itu pun akhirnya menghilang, tak tahan dengan hijib yang tadi dilesatkan Madi.
"Alhamdulillah, kita berhasil, Kyai!" Madi berteriak penuh kegembiraan. Tak sia-sia semua latihan yang telah dijalaninya.
"Alhamdulillah, Madi. Kali ini pun, kau berhasil memukul semua makhluk astral itu. Sekarang, cepat kunci dan bentengi lukisan itu, agar mereka tak lagi datang dan tinggal di sana!"
Madi lantas mengerjakan perintah kyai Sarwa, memberikan semacam garis gaib yang terdiri dari zikir dan bacaan doa. Dia yakin, ini adalah langkah awal mendapatkan kemenangan melawan Jaka.
.
__ADS_1