Penghuni Pohon Tua

Penghuni Pohon Tua
Bebas dari Pengaruh Jin


__ADS_3

Bukannya takut, Madi malah makin bersemangat untuk mengeluarkan jin itu dari tubuh Aulia. Beberapa ayat dibacakannya dengan suara semakin keras, membuat jin itu semakin liar bergerak dalam tubuh Aulia. Mengakibatkan tingkah dara itu semakin sangar. Sorot matanya juga begitu mengerikan.


Namun, Madi tetap tenang. Dia akhirnya berhasil memegang tubuh Aulia, meski gadis itu meronta sekuat tenaga, agar bisa lepas. Kini, Madi tidak lagi memberikan kesempatan, jin itu pun diperintahkan intuk segera meninggalkan tubuh Aulia tanpa persyaratan apa pun.


Karena tidak tahan dengan bacaan yang diucapkan Madi, jin itu akhirnya bisa juga keluar dari raga Aulia. Keringat mengucur deras di kening Aulia. Tubuh lemahnya tidak mampu berdiri lagi, hanya tergeletak saja di lantai.


Dengan bantuan kedua orang tua Aulia,akhirnya tubuh lemasnya bisa diangkat ke sofa. Mata Aulia pun masih terpejam. Melihat keadaannya yang cukup mengkhawatirkan, kemudian Madi meminumkan segelas air yang telah dibacakan doa.


Selang beberapa lama, gadis itu akhirnya bisa siuman. Kedua orang tuanya begitu bersyukur, anak semata wayang mereka bisa lepas dari jeratan jin tersebut.


Aulia perlahan mulai membuka mata, menatap bapak dan ibunya, kemudian beralih menuju Madi. Dia bingung, kenapa saat ini kok dikerumuni, dan kenapa juga semua sendi tubuhnya terasa sakit.


"Bu, apa yang terjadi dengan Lia?" tanyanya, bingung. Kelelahan tampak jelas di wajahnya.


"Nggak apa-apa, Lia. Tadi, kamu mengamuk lagi. Ternyata ada jin yang sengaja dikirim, untuk mencelakaimu." Ibu Aulia berkata dengan suara pelan. Kemudian menyambung ucapannya "Bersyukur, ada Madi yang mau menolong, mengeluarkan jin jahat itu sebelum menimbulkan akibat yang lebih mengerikan."


Aulia memandang Madi dengan tatapan penuh terima kasih. Dia tidak bisa membayangkan kalo tidak ada Madi yang menolong, pasti dia akan tsrus bersikap aneh. Kadang melamun, kadang menangis sendiri atau juga berteriak tanpa ada pemicunya.


Mirip, seperti orang yang kurang waras. Mengoceh sendiri sambil menunjuk satu arah. Bebar-benar membuat takut kedua orang tuanya.


"Terima kasih, Kang," ucap Aulia tulus. Laki-


muda yang dulu adalah teman sepermainannya semasa kecil. Kalau tak ada, Madi, entah bagaimana nasibnya nanti. Pasti, masih selalu meracau.


Madi tersenyum cukup lebar. Membalas ucapan terima kasih Aulia. Hal ini juga ia lakukan untuk membalas kebaikan orang tua Aulia pada keluarga Madi, saat mereka dulu dilanda kesulitan.

__ADS_1


Ya, saat usaha bapak dan ibu Madi bangkrut, karena mereka ditipu, orang tua Aulialah yang membantu meminjamkan modal usaha tanpa agunan, meski tidak tinggal satu kampung lagi dengan mereka.


Peristiwa penyembuhan Aulia Itu juga awal dari dimulainya kembali hubungan Aulia dan Madi. Hampir setahun lamanya. setelah usaha Madi, sebagai pedagang sayur stabil, pemuda itu baru berani melamar Aulia.


Tanpa banyak proses dan pertimbangan, Aulia segera menerima pinangan Madi. Pernikahan mereka berjalan sakral dan dilaksanakan secara sederhana. Aulia maupun Madi, tidak menghendaki resepsi pernikahan yang mahal.


Madi dan Aulia merasa bahwa dalam melaksanakan pernikahan tak perlu menghambur-hamburkan uang, karena masih banyak keperluan yang harus mereka cukupi setelah menikah. Termasuk, mencari tempat tinggal mereka nantinya.


Setelah sampai Aulia dan Madi menikah pun, ternyata gangguan cucu nenek bungkuk itu sesekali masih dirasakan Aulia. Madi menganstisipasi dengan memberikan perlindungan berupa doa dan ayat dari Al-Quran, yang sering dibacakan melalui media air untuk diminum.


Alhamdulillahnya, intensitas serangan pun semakin hari semakin berkurang. Sehingga hari pernikahan mereka.


Mengetahui hal itu, cucu nenek bungkuk tersebut bertambah dendam pada Aulia, juga Madi. Dia kemudian terus mengganggu ketenangan pasangan tersebut. Sejak menghuni rumah mereka sendiri sampai sekarang.


Pantas saja, Nang ini sangat benci kepada Aulia dan Madi. Hanya saja Madi belum mengerti kenapa dia dan isterinya Aulia selalu diganggu.


Ketika menolong Aulia dulu, Madi tidak mengetahui siapa yang menyuruh jin yang mencoba memelet Aulia.


Nang, lalu berjalan, masuk dalam kamar, meninggalkan nenek bungkuk sendirian di ruang tengah. Di sana laki-laki muda berwajah dingin itu tampak duduk bersemedhi. Memejamkan mata, mencoba mengasah ilmu yang telah diajarkan sang nenek. Ya, dia harus rajin berlatih, supaya bisa membalas dendam untuk semua sakit hati yang telah dipendamnya selama ini.


Sementara igu, di pondok pesantren, Madi, terbangun, lalu mengusap wajahnya, Dia seperti diingatkan, bahwa semua gangguan dan kekacauan yang dialaminya ada hubungannya dengan orang yang dulu pernah mengirim jin ke tubuh Aulia.


Ya, orang yang dulu pernah ditolak cintanya oleh Aulia. Pasti dia menaruh dendam, sehingga mencoba terus mengganggu kehidupan mereka.


Jika memang, sosok misterius itu adalah cucu nenek bungkuk yang dulu cintanya pernah ditolak Aulia, sudah pasti, gangguan yang mereka alami selama ini boleh dikatakan pasti adalah ulahnya.

__ADS_1


Apalagi, sosok itu juga mungkin menaruh dendam juga pada Madi, karena dia adalah murid kyai Sarwa. Kyai yang sering menghalangi perbuatan pesugihan neneknya mencari pengikut-pengikut baru untuk mengambil pesugihan darinya.


Keringat dingin mengucur perlahan di kening Madi,menetes turun ke pipi dan akhirnya jatuh ke lantai. Punggung Madi juga ikut basah.


Melihat Madi terbangun, kyai Sarwa juga ikut bangun. Melihat keadaan mantan santrinya dengan senyum bersarang di bibirnya.


KyaI Sarwa lalu berdehem, agar Madi tidak terlalu kaget, kalau Kyai telah bangun. Cara yang unik.


"Kyai sudah bangun?" tanya Madi dengan muka bersemu merah.


Senyum kyai Sarwa mulai mengembang. Sementara Madi masih tetap menunduk.


"Ayo, Madi, bergegaslah ke kamar mandi, ambil wudhu, sudah itu kita salat tahajud."


Madi mengangkat wajahnya lalu mengangguk. Jam sudah menunjukkan angka dua dini hari. Banyak santri juga bangun pada jam segini. Itu sudah kebiasaan yang dari dulu diterapkan di sini.


Kyai Sarwa dan Madi salat tahajud di rumah saja, dengan khusyuk. Setelah melaksanakan salat, mereka tetap duduk di sajadah, meneruskan dengan zikir, memohon perlindungan pada Sang Maha Pencipta.


Setelah itu, kyai Sarwa juga membantu Madi mempertebal pagar gaib di rumah Madi dan orang tua Aulia, agar tidak tersentuh dan diusik makhluk astral yang disuruh membuat kegaduhan di sana.


"Coba tajamkan penglihatan mata bathinmu, Madi. Di sekitar rumahmu banyak sekali penghuni pohon tua itu berkerumun, mencoba masuk dan menembus pagar gaib yang sudah kamu buat!"


Madi lalu menuruti perkataan kyai Sarwa. Benar sekali ucapan beliau barusan.


Seakan tahu diperhatikan dari jauh, mereka lalu memandang Madi, penuh kemarahan.

__ADS_1


__ADS_2