
Ketika merasa tujuannya terganggu, makhluk berwujud perempuan cantik itu meradang, gusar. Madi, memandang dan berusaha mengusir makhluk itu.
"Enyahlah dari hadapanku!" seru Madi menahan geram.
Lengkingan tawa makhluk itu seketika memenuhi seluruh ruangan. Aulia yang masih tertahan di depan pintu kamar manfi, memutar tubuh dan berjalan menjauh. Aroma tubuhnya yang sedang berbadan dua mengundang keinginan makhluk itu untuk mengganggu.
"Kang ... Adik takut!" ucap Aulia lirih. Wajah ayunya terlihat semakin memucat.
"Nggak apa-apa, Dik. Terus saja berzikir. Serahkan pada Allah!" sahut Madi, menguatkan sambil mengarahkan Aulia untuk terus berzikir.
Aulia mengangguk. Dia percaya kalau Madi bisa mengalahkan makhluk itu dengan pertolongan Allah.
Sementara Aulia duduk beristirahat di kursi makan yang letaknya tidak terlalu jauh dari kamar mandi, Madi pun memusatkan perhatian untuk mengusir makhluk dari dimensi lain itu.
"Sudahlah. Tak perlu lagi kau ada di sini. Mengganggu isteriku dan kandungannya!"
Bentakan Madi terasa sangat keras. Aulia sendiri memandang heran. Meski dia tak bisa memandang makhluk tak kasat mata itu, Aulia bisa merasakan kemarahannya.
Mata makhluk itu memerah, air liur terlihat menetes dari sela-sela ke dua taring tajamnya. Kekehan tawanya pun masih terus membahana. Berusaha mempengaruhi mental Madi dengan ejekan-ejekannya.
Sesaat Madi mengambil napas panjang. Menghimpun kekuatan, tenaga dalam untuk menyerang makhluk astral itu.
"Terimalah hijib ini, hai makhkuk tak diundang!" teriak Madi.
Tawa makhluk menyerupai wujud perempuan itu pun seketika berhenti. Dengusan kasar kini penggantinya. Tak ada lagi ejekan yang sedari tadi dikeluarkan makhluk tersebut.
"Panas ... panas ...!" suara kepanasan terdengar dari arah makhluk itu.
Madi kian bersemangat berzikir dan mengeluarkan beberapa hijib lagi untuk menyerang makhluk bertaring tajam itu.
"Awas kau, Madi. Lihat saja balasanku ini!"
__ADS_1
Makhluk tak kasat mata itu berhasil melepaskan diri dari serangan hijib Madi tadi. Bahkan kini Madi mendapat serangan balasan. Hawa dingin seketika menyelimuti seluruh ruangan. Aulia tampak menggigil.
Madi memperhatikan pergerakan makhluk astral itu. Mencoba menetralisir udara dingin dan aura negatif yang sengaja dikeluarkan oleh si makhluk.
Aulia pun mulai bisa mengendalikan rasa dingin yang tadi menyerang. Sesekali ia menoleh ke arah Madi, mencoba melihat keadaan di depan kamar mandi.
Dari penglihatan mata batin Madi, sosok astral itu kini melayang mendekati dirinya, menjulurkan ke dua lengannya. Mencoba mencekik Madi.
"Rasakan ini, Madi. Kau harus menerima balasanku!"
Madi tak terkejut sedikit pun saat kedua tangan sosok halus itu hampir mencapai lehernya. Kuku tajam yang menghias jemari makhluk itu bisa menciutkan nyali siapa saja. Namun, Madi bukan orang sembarangan.
Madi memejamkan mata. Berkonsentrasi. Mulut dan hatinya bersinergi membaca zikir dan hijib untuk menghalau serangan makhluk itu.
"Kembalilah Kau, hai makhluk pengganggu. Di sini bukan tempatmu!"
Makhluk itu tak menggubris teriakan Madi. Dia tetap menjulurkan kedua tangannya menjangkau leher Madi. Namun seperti menghantam dinding kokoh, makhluk berwujud perempuan itu tiba-tiba saja terpental saat hendak menyentuh leher Madi.
Sekali ini, Madi tak mau memperpanjang pertarungannya. Sambil terus berzikir dia mengeluarkan salah satu hijib yang paling dikuasainya untuk mengusir makhkuk lelembut itu.
"Pergilah jauh-jauh dari sini. Istriku bukanlah santapan buatmu. Begitu pun manusia yang lain!"
Makhluk itu kemvalu berteriak kepanasan. Sama seperti tadi, tapi kali ini lebih keras.
"Ampun ... panas ... panas ...!" teriaknya terus menerus.
"Menyingkirlah jauh-jauh. Jangan kembali lagi ke sini!" seru Madi lagi.
Makhluk tak kasat mata itu tak lagi berkutik. Zikir dan hijib Madi terlalu kuat. Makhluk itu tak bisa bertahan lebih lama lagi. Pukulan hijib Madi telah membuatnya terpental sangat jauh.
"Alhamdulillah ...!" ucap Madi penuh syukur. Makhluk yang mencoba menyerang isterinya Aulia telah berhasil disingkirkan.
__ADS_1
Aulia yang melihat Madi yang sudah bisa bersikap tenang, segera menghampiri dan menanyakan keberadaan makhluk itu.
"Nggap apa-apa, Dik. Makhluk itu sudah lenyap. Dia nggak akan berani lagi datang!" ucap Madi menenangkan.
Aukia mengangguk. Turut merasa lega. Teror yang belakangan semakin gencar menyerang, sempat membuat dirinya merasa sangat ketakutan.
"Kang, Adik boleh masuk kamar mandi sekarang kan?" tanya Aulia.
Madi mengangguk. Tersenyum kecil. Memberi isyarat agar Aulia segera masuk kamar mandi. Membersihkan diri secepatnya.
Setelah peristiwa gangguan makhluk menyerupai perempuan cantik bertaring panjang itu, Madi selalu waspada. Tak ingin memberi kesempatan pada makhluk-makhluk astral lain untuk singgah mengganggu.
Ada satu harapan yang ingin segera dicapai Madi yaitu membersihkan areal sekitar rumahnya yang sering diganggu makhluk astral yang berpusat di pohon tua. Jika itu tercapai, penduduk di sekitar tempat tinggal mereka tidak akan dilanda ketakutan lagi. Ritual pemujaan yang terkadang dilakukan di sekitar pohon tua itu pun bisa lenyap.
Madi berusaha sekuat mungkin melawan teror yang semakin sering dilakukan oleh para penghuni pohon tua itu. Apalagi teror itu sering dibantu oleh nenek bungkuk, musuh utama kyai Sarwa, guru Madi.
Memang untuk beberapa kali serangan dan teror, Madi berhasil lolos. Aulia yang sudah mulai hamil besar pun sudah mulai berani dan terus bisa bertahan dari teror makhluk-makhluk tersebut.
"Kang, bagaimana keadaan kyai Sarwa sekarang?" tanya Aulia di saat mereka baru saja menunaikan salat Ashar. Hujan deras baru saja mengguyur sekitar tempat tinggal mereka.
Madi memandang ke luar jendela. Menyaksikan rintik hujan yang kian menebal. Sengaja Madi tidak menjawab pertanyaan Aulia secara langsung. Menunggu beberapa saat sebelum menjawabnya.
"Khabar kyai baik- baik saja, Dik. Mungkin saat ini situasi di sana juga sama seperti kita. Diteror makhluk tak kasat mata. Apalagi sekutu nenek bungkuk tersebut memang punya niat jahat!"
Aulia mengangguk-angguk. Cukup paham dengan apa yang diucapkan oleh suaminya barusan. Memang, musuh bebuyutan kyai Sarwa itu berusaha sekuat tenaga untuk melumpuhkan dan mengalakannya. Sudah sangat banyak usaha yang dilakukan nenek bungkuk dan sekutunya untuk membuat kyai Sarwa menyerah dan takluk pada kekuasaan kegelapan. Namun, Allah masih melindungi dan menyelamatkan beliau dan berhasil menghalau mereka untuk beberapa saat.
"Kalau begitu, berarti masih akan ada teror dari nenek bungku dan sekutunya ya, Kang?" tanya Aulia lagi.
Madi menarik napas panjang. Ada perasaan cemas tiba-tiba hadir. Di saat usia kandungan Aulia yang semakin membesar, berbagai teror yang menghantui mereka pun belum bisa dihalau sepenuhnya.
"Iya, Dik. Semoga semua teror bisa segera diatasi!"
__ADS_1