Penghuni Pohon Tua

Penghuni Pohon Tua
Pertemuan Lewat Gawai


__ADS_3

Dari pada terus menduga-duga, Madi berusaha meredam pikirannya yang menjelajah ke mana-mana. Sebentar lagi, beliau juga akan selesai salat, jadi dia bisa menanyakan pada beliau nantinya.


Sambil menunggu kyai Sarwa menyelesaikan salat dhuha, Madi mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Ternyata ada pesan tertulis di sana. Dari Aulia, isterinya.


'Assalammualaikum, Akang baik-baik aja kan di pondok?'


Madi tersenyum membaca isi pesan Aulia. Segera ia membalasnya, agar Aulia tidak merasa gelisah, menunggu jawaban.


'Alhamdulillah, Akang baik-baik aja di sini, Dek. Di sana baik-baik juga kan?'


Maka Madi dan Aulia saling mengirim pesan melalui WA. Sebenarnya, Madi ingin menelefon melalui Video Call tapi dia singkuh dengan mertua dan kyai Sarwa. Namun, saling berkirim pesan seperti ini sudah cukup buat mereka berdua untuk melepas rasa rindu.


Dari percakapan melalui tulisan itulah Madi mengetahui kalau si Nang itu masih terus-terusan mengganggu Aulia. Aulia juga menceritakan, dia sering mendengar, ada seseorang yang memanggil namanya dengan menyamar menjadi Madi.


Meski agak panik, tapi Madi berhasil juga meredakan perasaan itu. Dia berpesan pada Aulia agar selalu waspada dan menghiraukan saja jika ada suara-suara menyerupai dirinya, memanggil namanya.


Aulia mengiyakan anjuran Madi, suaminya dan berpesan agar Madi tetap menjaga kondisi. Isterinya, Aulia, juga berharap agar Madi bisa segera pulang, setelah silaturahim dengan kyai Sarwa selesai.


Saking asyiknya chatting dengan Aulia, Madi tidak menyadari kehadiran kyai Sarwa yang telah selesai salat.


"Hm ... ada apa ini? Kok senyum-senyum sendiri?" tegur kyai dengan santai.


Dengan wajah memerah, Madi menjawab pertanyaan kyai Sarwa, "Nggak ada apa-apa, Kyai. Hanya saling kirim khabar saja dengan Aulia.".


Kyai Sarwa tersenyum simpul, mengerti kalau Madi merasa malu. Beliau tidak lagi menggoda Madi, dan bertanya hal yang cukup serius pada Madi.


"Apa tadi, Aulia sempat bercerita kalau ada seseorang yang mencoba mengusiknya?"

__ADS_1


Madi, mengangguk, tadi memang Aulia sempat bercerita tentang suara seseorang yang mirip dengannya, terus mencoba memanggil, agar Aulia menjawab dan keluar rumah, keluar dari lingkaran pagar gaib yang telah dibuat Madi.


"Iya, Kyai. Apa Kyai, mengetahui sesuatu?" tanya Madi, ingin tahu.


Kyai Sarwa tidak langsung menjawab pertanyaan Madi. Beliau memberi kesempatan pada Madi untuk bisa Menenangkan diri. Pernyataan kyai Sarwa barusan, memang mengguratkan perasaan cemas di wajah Madi.


"Iya, Madi. Sewaktu salat dhuha tadi, kyai melihat cucu nenek bungkuk itu mencoba meniru suaramu, memancing Aulia agar percaya dan keluar rumah."


Ucapan kyai Sarwa, membuat darah Madi seketika mendidih. Memendam amarah lada sosok yang menirukan suaranya.


Oh, pantas saja, tadi kyai Sarwa menyuruh ia salat dhuha lebih dulu. Ternyata kyai Sarwa sudah mengetahui gelagat kurang baik dari si Nang itu, bathin Madi.


"Masih belum kapok juga dia, Kyai?" ujar Madi, geram. Merasa marah dengan peralakuan cucu nenek bungkuk, yang tak pernah jera mengusik Aulia.


"Sabar, Madi, untuk sekarang biarkan saja dulu. Pagar gaib di rumah orang tua Aulia sudah Kyai pertebal, semoga bisa mencegah masuknya makhluk astral dan si Nang itu yang terus- menerus mencoba masuk."


"Alhamdulillah, Kyai. Terima kasih sudah menolong Aulia tadi."


Setelah itu, kyai Sarwa menyodorkan beberapa lembar berisi catatan amalan berupa doa dalam bahasa Arab, untuk dihapalkan Madi. Besok, Madi sudah mulai berpuasa, dan sambil berpuasa, dia harus membaca dan mencoba menghapalkan seluruh catatan berisi doa itu.


Bagi orang awam yang tidak terlalu paham bahasa Arab, tentu mengalami kesulitaan saat mencoba mengamalkannya. Apalagi dalam keadaan berpuasa. Namun, karena Madi sudah cukup menguasai bahasa Arab, jadi tidak terlalu sulit baginya untuk menghapal,


Sepanjang hari hingga malam, Madi terus saja dan menghapal catatan itu. Lumayan lama sekali membaca isi catatan itu. Dibaca setelah melaksanakan shalat fardhu, dalam keadaan berpuasa.


Malam harinya, kembali Madi melakukan salat tahajud. Saat hendak ke kamar mandi, ia melihat kyai Sarwa sudah duduk di sajadah, berzikir. Madi, jadi malu sendiri.


Tanpa berpaling lagi, Madi langsung mengambil wudhu, dan kembali ke ruangan tempat mereka biasanya shalat kalau lagi di rumah.

__ADS_1


Setelah shalat, Madi kembali dikejutkan dengan penglihatan mata bathinnya. Sekarang, bukan hanya cucunya yang berdiri di sekitar rumah mertuanya, tapi juga nenek bungkuk itu.


Meski bergidik, Madi tetap meneruskan zikir, lalu membaca amalan yang diberikan kyai Sarwa. Madi percaya, bahwa pagar gaib yang telah dipertebal kyai Sarwa, kemarin pagi tidak akan mudah mereka tembus.


Memang benar perkiraan Madi. Nenek bungkuk itu tampak kesal, karena ketika mencoba masuk, dia hanya bisa berputar saja di sekeliling rumah mertuanya itu.


Tongkat yang selalu dipegang nenek itu, diacungkan ke udara, mencoba meraba seberapa tebal, dinding gaib yang melindungi rumah mertuanya itu.


Sambil membaca sesuatu, mulut nenek bungkuk itu terus bergerak. Melihat nenek itu terus berusaha masuk, Madi tidak tinggal diam. Dia juga bersiap, menerima serangan dari nenek bungkuk itu.


Semua ilmu dan amalan yang telah diberikan kyai Sarwa selama ini, dikerahkan Madi dengan sekuat tenaga. Dia bisa melihat nenek itu terkejut, ketika iamemberikan perlawanan.


Hm, ternyata bocah ingusan itu berbahaya juga, desis nenek Nang tersebut. Tidak salah Sarwa memilih murid seperti dia, lanjutnya lagi.


"Apa yang kau lakukan di situ, Nang? Ayo, bantu Nenek. Murid si Sarwa itu juga sedang mengerahkan ilmunya melawan kita." Nang pun menuruti permintaan neneknya lalu mulai memejamkan mata, memusatkan konsentrasi untuk menyerang pagar gaib yang melindungi rumah Aulia.


Sementara di pondok pesantren, Kyai Sarwa juga tidak tinggal diam. Melihat Madi sedang bergerak, berjuang, mengatasi serangan nenek bungkuk dan cucunya, dia pun tidak mau ketinggalan.


Kyai Sarwa memiki amalan yang sangat jarang dimiliki orang lain. Beliau bisa memindahkan ruh ke mana saja.


Tanpa sepengetahuan Madi, tiba-tiba saja, kyai Sarwa sudah berdiri di depan rumah orang tua Aulia. Madi benar-benar terkejut, saat mengetahui kyai Sarwa sudah berada di sana.


"Ada apa, Ni? Kenapa tidak kau lepaskan saja anak ini. Masih banyak perempuan lain yang bisa kau jadikan tumbal!"


Nenek itu terkekeh mendengar pengusiran kyai Sarwa, meskipun secara halus.


"He.... he.... Bukan urusanmu, Sarwa. Kau saja yang menyingkir dari hadapanku."

__ADS_1


Kyai Sarwa hanya tersenyum, menanggapi ucapan si nenek bungkuk.


"Ini adalah rumah mertua muridku, Ni. Jadi, aku juga bertanggung jawab atas keselamatan semua penghuni rumah ini." Kyai Sarwa berhenti sejenak, memperhatikan dengan seksama ekspresi nenek bungkuk dan cucunya. Baru melanjutkan ucapannya.


__ADS_2