
Madi kembali berkonsentrasi menghadapi serangan Nang yang bertubi-tubi. Sudah beberapa pukulan cucu nenek bungkuk itu nyaris mengenai tubuhnya. Belum lagi gangguan makhluk tepung yang berusaha menjatuhkannya.
Kondisi yang sama dialami kyai Sarwa dan kyai Senta. Mereka berdua sibuk menghadapi nenek bungkuk. Silo sendiri berhadapan dengan Jaka.
"Jangan main keroyok, kau, Sarwa, Senta!" bentak nenek bungkuk, melancarkan sebuah serangan berbahaya.
"He ... he ..., siapa yang main keroyok! Bukankah, kau yang menyerang kami duluan?" Kyai Senta nenjawab sambil mengarahkan sebuah serangan ke arah kaki nenek bungkuk.
"Meski kalian berdua menggabungkan kekuatan, belum tentu mampu mengalahkanku!" teriak nenek bungkuk, sombong.
"Lihat saja nanti. Sekarang terimalah pukulan kami!" seru kyai Sarwa, melepaskan hijib yang terus diasahnya.
Obrolan tak lagi terdengar, berganti serangan demi serangan. Teriakan, ejekan sesekali terdengar juga, mewarnai pertarungan.
Makhluk astrsl, sekutu Jaka pun tak mau tinggal diam. Bergerombol, membantu menyerang kysi Sarwa dan kawan-kawan.
"Hi ... hi ..." sesosok kuntilanak memamerkan lengkingan tawanya yang bisa merontokkan pertahanan.
"Tak ada salahnya, kalian semua sekarang menyerah, bergabung bersama kami!" Kuntilanak itu terus merayu agar kyai Sarwa atau yang lainnya mau bersekutu dengan mereka.
"Dasar, iblis. Kami tak akan mau bersekutu dengan kalian. Lebih baik, sekarang kalianlah yang pergi dari sini!" Bukannya takut, malahan kyai Sarwa membentak kuntilanak itu.
"Kalau begitu, jangan salahkan kami, kalau kalian harus merasakan akibatnya!" Kali ini, nenek bungkuk itu yang berkata-kata.
Kekuatan mereka memang luar biasa sekali. Beberapa makhluk halus mencoba masuk ke dalam tubuh kyai Sarwa melalui ujung jari kaki. Namun, pemimpin pondok ini sigap, menutup semua jalan masuk. Tak lupa pula dibacakan zikir dan ayat yang bisa menghancurkan keberadaan makhluk ini.
Pukulan beruntun dilepaskan si nenek bungkuk, mengincar bagian dada kyai Sarwa. Kyai Senta sendiri dibuat sibuk oleh makhluk-makhluk astral yang berebut ingin masuk ke tubuhnya.
"Pergilah, tempat kalian bukan di sini!" Terdengar bentakan kyai Senta, di sela-sela serangan hijibnya.
__ADS_1
"Kami tak akan pergi sebelum berhasil membantu tuan kami!" Makhluk tak kasat mata itu menjawab sambil terus berusaha menyerang kyai Senta.
Beberapa dari mereka menjerit kepanasan, tak tahan mendengar bacaan zikir dan hijib dari kyai Senta.
"Dasar Orang Tua! Dari pada sysah-susah melawan kami, lebih baik menyerah saja sekarang!"
Kyai Senta tak mengacuhkan rayuan para makhluk yang semakin gencar menyerbu. Tangannya terus saja menyarangkan pukulan hijib ke arah makhluk gaib itu.
Meski ada yang keluar ,tak tahan dengan pujulan hijib dan zikir kyai Senta, jumlah yang datang ternyata lebih banyak. Benar-benar kewalahan dibuatnya.
Di lain sisi, Jaka juga menghadapi Silo,murid kyai Senta. Sepertinya, pertarungan antara mereka berdua seimbang. Mereka saling menyerang, tak mau mengalah. Darah muda dan pengaruh emosi, membuat mereka terus saja bertempur, unjuk gigi, tak mau mengalah.
"Ciat ... desh ...!" Sebuah pukulan dari Jaka hampir saja mengebai pundak Silo. Tampaknya, murid kyai Senta ini sedikit lengah tadi.
"Hanya segitu kemampuanmu!" ejek Jaka, membuat Silo jengah. Benar-benar menjengkelkan berhadapan dengan orang selicik Jaka.
"Aku, belum kalah, manusia licik. Perhatikan seranganku berikut ini!" Silo pun melayanvkan satu pukulan keras, mengarah ke bagian kepala Jaka.
Apa yang akan dilakukan manusia berhati iblis ini? desis Silo, berusaha meraba tindakan apa yang akan dilakukannya.
Ternyata Jaka memerintahkan beberapa sekutunya menahan pergerakan Silo. Tentu saja, untuk beberapa saat, Silo tak mampu bergerak, tertahan oleh makhluk-makhluk tak kasat mata.
"Bug ...!" Sebuah pukulan Jaka tiba-tiba sudah mendarat di wajah Silo.
"Argh ...!" Silo menjerit, terkejut menerima pukulan Jaka yang tiba-tiba.
"Hati-hati, Silo. Lawanmu bukan hanya Jaka, tapi, juga sekutu-sekutunya. Tetap baca zikir dan hijib, sehingga makhkuk astral itu tak bisa mengganggumu!"
Kyai Senta yang melihat muridnya sedikit tersudut, memberi bimbingan agar tak lagi menjadi sasaran pukulan Jaka.
__ADS_1
"He ... he ..., ini baru permulaan. Masih ada pukulan-pukulan lain yang akan membuatmu babak belur!". Kembali si Jaka mencoba meneror Silo, menjatuhkan mentalnya.
"Aku tak takut, Jaka. Lihat saja, pukulanmu pasti akan kubalas nanti!"
Tawa Jaka semakin kencang saat mendengar ucapan Silo barusan. Dla merasa kalau Silo bukanlah lawannya. Sebuah pukulan lagi, dia coba arahkan ke bagian kaki. Silo bertindak cepat, mengelak, membaca zilir dan membalas, melepaskan hijib. Jaka, tersenyum, masih seperti mengejek, mengelak ke bagian kiri, sembari melepaskan satu pukulan juga.Pukulan balasan yang cukup cepat dan power full.
Silo lagi-lagi terperangah. Benar-benar tak menduga gerakan Jaka begitu ringan. Sepertinya, dia memiliki kekuatan yang bersinergi dengan kekuatan iblis.
"Brak ...!" Kembali Silo terkena pukulan. Kali ini bagian kaki. Setengah menjerit, Silo memegang kakinya yang terasa sakit.
Kyai Senta mulai khawatir dengan keadaan muridnya ini. Sementara Silo, sedikit menepi, memeriksa bagian kakinya yang terkena pukulan Jaka.
Ada memar sedikit di bagian tulang kering kakinya. Masih bersyukur tadi kakinya tak patah. Padahal, boleh dikatakan pukulan Jaka tadi sangat keras dan bertenaga.
"Ha ... ha ....Bagaimana? Menyerah sajalah!" Jaka masih saja mengejek Silo, memprovokasi murid kyai Senta ini untuk berhenti melawannya.
"Simpan saja tawamu. Aku akan terus melawanmu sampai titik darah pengghabisan!" Silo menjawab ejekan Jaka dengan berani.
"He ... he ..., besar juga nyalimu, Manusia!" Suara serak dan berat tiba-tiba saja terdengar. Bulu kuduk Silo langsung berdiri. Ini pasti ulah makhluk-makhluk ini, desisnya perlahan.
Lamat, Silo mulai berzikir, mengisi hatinya dengan menyebut asna Allah dan membaca ataf-ayat yang bisa menghentikan serangan makhluk dari dimensi lain ini.
Jaka juga tak mau tinggal diam. Ada beberapa makhluk tak kasat mata diperintahkannya untuk menahan kedua kaki dan tangan Silo .Ada juga yang ditugaskan menduduki bagian kepala dan pundak Silo.
Pemuda itu tiba-tiba nerasakan ada beban sangat besar yang bergelayut di badannya. Dua sosok kuntilanak terlihat berada di bagian kaki kiri dan kanan, sedang satu lagi menduduki bahian pundaknya.
Silo berusaha melepaskan diri. Dalam hati, dia membaca zikir dan berbagai ayat yang bisa membuat makhluk-makhluk itu kepanasan.
Jaka yang melihat usaha Silo hendak melepaskan diri, segera mempersiapkan sebuah serangan. Dia harus bertindak cepat, agar bisa menghentikan pergerakan Silo.
__ADS_1
Kyai Senta menjadi semakin was-was, kalau sampai Silo tak bisa lepas dari pengaruh Jaka, maka, bahaya sudah ada di depan mata. Silo bisa saja terluka, kerasukan dan tunduk pada Jaka.