
Kyai Sarwa kemudian memeriksa seluruh tubuh Madi, siapa tau bekas gangguan makhluk itu masih tersisa. Tarikan napas panjang kemudian terdengar lembut dari mulut kyai, merasa lega, gangguan itu benar-benar tidak meninggalkan bekas sedikit pun.
“Alhamdulillah, Madi. Ternyata itu hanya sekadar gangguan biasa. Sekarang, kita harus bergegas ke bagian selatan pondok. Waktu kita tinggal sedikit lagi.”
Madi mengangguk, mengibas celananya yang terkena butiran debu, akibat mencoba meronta dari cekalan jin tadi. Sekilas, dia mengarahkan pandangan ke tempat Jaka tadi berada. Laki-laki itu sudah menghilang.
“Iya, Kyai. Sebaiknya segera saja kita berangkat sekarang.” Setelah mengucapkan kalimat itu, Madi dan Kyai Sarwa pun bergerak cepat menuju bagian selatan pondok. Kondisi Madi sudah lebih baik. Termasuk pertahanan dan mata batinnya pun sudah mulai pulih.
Sedangkan kondisi kyai Sarwa masih tetap baik-baik saja. Pemimpin pondok ini masih sigap, meski usianya sudah mulai senja. Sambil memegang tangan Madi, dia ikut
melangkah, setengah berlari. Madi pun akhirnya mengikuti juga pergerakan kyai Sarwa.
Bagian selatan pondok, terlihat lengang. Tak ada akitivitas yang berarti di sini. Santri pun sedang tak ada yang mampir ke sini. Paling, setelah salat zuhur, ada beberapa santri yang
bertugas membersihkan dan mengambil logistik yang datang ke area ini. Selebihnya, tempat ini kebanyakan sepi dari kegiatan pondok.
“Sepertinya tak ada orang di sekitar sini, Kyai,” ucap Madi sambil tetap waspada. Tak ingin kejadian seperti tadi terulang lagi.
“Sepertinya, Madi. Pelan-pelan saja, kita telusuri semua area ini. Makhluk itu mungin bersembunyi di salah satu tempat.” Madi mengangguk saja, dan terus menyisiri satu persatu bangunan yang ada di bagian itu. Hawa negatif itu memang masih sangat terasa kental. Pasti, bayangan ini memiliki ilmu yang cukup tinggi atau bisa jadi adalah sejenis jin yang memang sengaja dikirim ke sini.
Sementara itu, udara di sekitar daerah itu mulai terasa panas. Matahari mulai beranjak naik. Madi, lantas mengajak kyai Sarwa untuk masuk ke dalam salah satu bangunan yang jarang dipakai. Gudang penyimpanan barang-barang pondok yang sudah tak terpakai lagi.
Madi merasakan hawa negatif paling kental berada di sana. Mungkin saja, karena tempatnya yang gelap dan sedikit lembab. Biasanya, bangsa jin dan makhluk berasal
dari alam gaib lainnya menyukainya.
“Kyai, sepertinya ada sesuatu dalam gudang itu. Mungkin, lebih baik kita segera memeriksanya. Siapa tau di sana ada sesuatu yang bisa dijadikan petunjuk.”
__ADS_1
Kyai Sarwa mengangguk, setuju dengan pendapat Madi. Mereka berdua pun segera menuju gudang itu dan ketika membuka pintunya, hawa negartif segera menyeruak, membuat perut Madi mual. Tak salah lagi, ini adalah akibat adanya makhluk tak kasat mata bersembungi di sana.
Melihat Madi yang mulai diserang rasa mual, kyai Sarwa segera memegang Madi, mencoba menetraslisir hawa negatif tersebut. Mungkin karena kondisi Madi yang kurang baik, maka
pertahanannya lebih mudah diterobos makhluk itu.
Setelah merasa agak mendingan, Madi berjalan perlahan, di belakang kyai Sarwa. Menghidupkan saklar lampu di dinding.
Namun, bola lampunya putus, jadi keadaan
dalam gudang itu masih tetap gelap. Pantas saja, mahluk astral sering bersembunyi di sini. Ruangannya suram, lembab dan berbau.
Madi kemudian memejamkan mata,
mengusir hawa dingin yang seketika menyerang. Kyai Sarwa juga melakukan hal
yang sama, Mereka berdua kemudian, berdiri berdampingan, bersiap menunggu hadirnya bayangan misterius yang muncul dalam penglihatan mata batin kyai Sarwa.
Ternyata, bukan hanya satu sosok misterius saja, tapi ada dua. Mereka bergantian menyerang Madi dan kyai Sarwa. Makhluk itu seperti makhluk astral lainnya. Satu berbentuk seperti manusia tapi bertubuh tinggi besar dengan sebuah tanduk di kepalanya. Sedangkan yang lain berwajah hancur dengan taring menghiasai deretan giginya.
Makhluk dari dimensi lain, secara terus menerus, menerjang Madi dan kyai Sarwa. Hawa negatif pun semakin menyelimuti gudang. Madi memperkuat diri dengan terus membaca beberapa doa dan hijib, agar serangan makhluk itu tak mengenai dirinya.
Makhluk sebangsa jin itu, bukan makhluk yang mudah untuk dihadapi tapi, pasti bisa dikalahkan, karena pada dasarnya manusia diciptakan lebih sempurna, sehingga bisa nantinya bisa mengalahkan mereka. Meski, tentu saja, tetap harus memiliki hijib atau amalan berupa doa dan bacaan Al-Quran.
“Madi, membaca terus semua amalan yang pernah dipelajari. Kyai, akan memecah konsentrasi mereka, sehingga kita bisa menghadapi mereka secara bersamaan!”
Mendengar perintah kyai Sarwa, Madi segera mengambil posisi, mengasah hijib dan amalannya, kemudian menyerang jin yang memiliki wajah hancur dan memiliki taring itu.
__ADS_1
Jin itu hanya memandang Madi, dengan nada seolah mengejek, mempermainkan emosi. Jin, memang makhluk yang pada dasarnya
menyerupai manusia. Kehidupan mereka pun sama seperti manusia. Beranak pinak
dalam dunia mereka. Jadi, bisa mengetahui dengan persis bagaimana caranya
menghadapi manusia.
Madi, tak ingin bersikap gegabah. Sambil berzikir, dia memandang lekat jin berwajah hancur itu. Tak ingin terpengaruh dengan pandangan mengejeknya. Terus saja berkonsentrasi, membentengi diri dari serangan makhluk tersebut.
Mungkin, memang membutuhkan waktu agar bisa menyelesaikan pertempuran tersebut. Sementara, kyai Sarwa juga sedang sibuk menghadapi jin yang bertanduk itu. Kedua makhluk itu terus menerus menyerang Madi dan kyai Sarwa, sambil memamerkan tawa mereka yang melengking.
Kyai Sarwa dan Madi terus saja berkonsentrasi, mencoba untuk tidak terpengaruh dengan lengkingan tawa yang
membuat bulu kuduk merinding. Sepertinya, makhluk astral ini, tetap berusaha
mempengaruhi kyai Sarwa dan Madi, agar lemah, sehingga mudah dikalahkan.
“Berhentilah melawan kami, Manusia!” seru salah satu jin itu, sambil memamerkan seringainya. Sementara yang satunya lagi tiba-tiba saja mendekatkan diri ke hadapan Madi. Wajah hancurnya begitu menjijikkan, dengan beberapa belatung, merayap, mengisi
beberapa bagian.
Madi hampir muntah, tak tahan menahan mual, mencium aroma amis yang berasal dari jin itu. Kyai Sarwa segera membentak kedua jin, menglihkan perhatian Madi , agar segera menetralisir tubuhnya dari pengaruh jahat jin
tersebut.
“Sebaiknya, kalian yang enyah dari sini! Ini, bukan tempat kalian!” Suara kyai Sarwa terdengar menggelegar. Mengejutkan Madi dan kedua jin itu. Dan, Madi pun memiliki waktu untuk membersihkan pengaruh jin berwajah hancur itu.
__ADS_1
“Ha … ha …! Tak ada gunanya. Menyerah saja. Sebentar lagi tempat ini akan didatangi banyak makhluk sejenis kami.”
Kyai sarwa dan Madi tidak memperdulikan ejekan dan ocehan kedua jin tersebut. Mereka masih sibuk berzikir, merapal hijib agar bisa segera mengusir makhluk tersebut.