
setelah memagari gudang, Madi dan kyai Sarwa, kembali berjalan menuju pondok. Hari sudah menjelang siang, ketika, satu batangan tiba-tiba saja melintas. Susah untuk melihat dengan jelas, bayangan siapa yang melesat begitu cepat itu. Bahkan, kyai Sarwa juga tak mengetahui siapa dia.
"Madi, sepertinya sudah semakin banyak, makhluk-makhluk tak diundang, masuk ke pondok," ucap kyai Sarwa prihatin.
Madi mengangguk, membenarkan ucapan kyai barusan. Itu pertanda, mereka harus lebih waspada dan siaga. Jaka, ternyata tidak main-main, ingin meruntuhkan pondok kyai Sarwa.
"Iya, Kyai. Madi juga akan lebib berhati-hati sekarang. Apalagi, makhluk-makhluk itu akan mencoba meniru siapa pun juga, dan bisa jadi mengadu domba para santri."
Kyai Sarwa menarik napas lanjang, sesaat Madi mengucapkan kalimat itu. Memang benar, apa yang dikatakan Madi. Makhluk astral seperti itu, bisa dengan mudah menipu mata manusia dengan menjelma menjadi sosok seseorang.
"Iya, Madi. Kita juga harus memperingatkan beberapa ustad, guru yang masih setia dengan pondok ini," tutur kyai, pelan.
Madi tersenyum. Genderang lerang yang telah ditabuhkan Jaka, sudah senakin nyaring. Pengaruhnya juga semakin nyata. Walaupun, belum bisa dipastikan, siapa saja penghuni pondok ini yang membeka Jaka, bisa dioastikan, pengikutnya sudah banyak tersebar.
Madi dan kyai Sarwa, tak lagi ingin menunda tindakan mereka lebih lama. Saat ini juga, mereka harus melakukan sesuatu. Persiapan, untuk menghadapi hal-hal yang mungkin terjadi.
Setelah tiba di rumah, kyai dan Madi segera membersihkan diri, bersiap untuk salat Zuhur bersama di musala. Kyai Sarwa ingin melihat, apakah, Jaka akan muncul siang ini afau mulai mangkir, menghindar dari semua aktivitas pondok.
Madi pun tak banyak bunyi, bahkan ketika dalam perjalanan menuju musala. Dadanya terus saja berdebar, pertanda ada sesuatu yang akan terjadi.
Sesampainya di musala, seperti biasa, Kyai selalu menuju saf tetdepan, sementara Madi, lebih memilih duduk di pojok musala, di saf yang sama.
Dari tempatnya duduk, Madi mencoba mencari Jaka, tapi, sampai azan berkumandang, sosok itu tak juga datang. Benar, dugaan kyai tadi, batin Madi. Itu berarti, mulai saat ini, dia juga harus lebih mempersiapkan diri, menghadapi setiap kemungkinan.
__ADS_1
Dari keterangan beberapa santri yang ditanya Madi, rata-rata mereka mengatakan tak melihat Jaka di kelas ataubdi sekitaran pondok. Ada juga yang mengatakan, kalau Jaka, memang sedang ijin hari ini. Ada keluarganya yang ditimpa musibah.
Tak sabar, setelah anak-anak santri, sudah kembali ke tempat mereka masing-masing, Madu mendekati kyai Sarwa. Wajah tuanta tampak begitu khawatir kini. Ternyata benar dugaan kyai, Jaka sedang menyusun kekuatan saat ini.
"Kyai, apa yang harus kita lakukan saat ini?" tanya Madi ketika akan meninggalkan musala.
"Sabar, Madi, kita tunggu saja dulu. Masih ada beberala hal yang harus Kyai lakukan." Madi terduam mendengar jawaban kyai Sarwa. Pasti ada sesuatu hal penting yang ada dalam pikiran beliau.
"Baik, Kyai. Madi mengerti, dan menunggu instruksi dari Kyai."
Kyai Madi berdehem, mengangguk, setelah mendengar ucapan Madi.
"Madi, malam nanti, usai magrib, terus berzikir hingga menjelang Isya! Rumahmu akan dikepung penghuni pohon tua itu. Mereka akan mengoyak pagar gaib yang yang sudah kau buat."
"Baik, Kyai. Mereka tak boleh mendiami rumah Madi. Itu bisa sangat berbahaya," cetus Madi, geram.
Kyai Sarwa mengangguk. Kemudian mengingatkan Madi untuk fokus menjaga rumahnya dari serangan makhluk yang menghuni pohon tua itu.
"Madi, kau harus terus membentengi rumahmu dengan pagar gaib, kalau kau tak ingin kehilangan aura baiknya!" Sekali lagi kyai Sarwa mengingatkan Madi. Lantas, Madi lun berjanji, akan berzikir mulai dari magrib hingga menjelang salat Isya.
Sebenarnya, kyai Sarwa sudah merasa kalau serangan penghuni pohon tua itu ada kaitannya dengan Jaka. Iya, mereka ingin memecah konsentrasi Madi dalam membantu kyai Sarwa.
Jika, Madi lengah, mereka akan lebih menguasai pondok dan lebih mudah menghadapi kyai Sarwa. Untuk itu, kyai juga telah menyiapkan strategi, dengan menyuruh, Madi terlebih dahulu mempertebal pagar gaib yang mengelilingi seluruh rumahnya, hingga tak dijadikan maskar oleh penghuni pohon tua, yang juga tunduk pada Nyai, nenek bungkuk.
__ADS_1
Sementara di suatu tempat tersembunyi, di salah satu bangunan di pondok, Jaka tersenyum misterius. Seringai kejam, tampak menghiasi wajahnya yang mulai kusam, kehilangan cahaya, karena mulai berkurang, tersiram air wudhu.
Di sekelilingnya juga ada beberapa makhluk astral, dengan berbagai rupa dan bentuk. Menyeramkan dan menjijikkan. Ya, Jaka, yelah bersekitu dengan mereka, karena nafsu duniawai dan melupakan semua ilmu agama yang telah diturunkan oleh Kyai Sarwa.
"Tunggu saja, Kyai tua. Tak lama lagi, kau dan pondok ini akan hancur. Juga, murid kesayanganmu itu!" Jaka berteriak cukup lantang, membuat makhluk-makhluk itu terkekeh. Puas, bisa menggoda manusia yang bernama Jaka.
"Ha ... ha ... benar, tuanku. Sebentar lagi, kita akan menguasai tempat ini." Sesosok makhluk berbentuk jin, bertubuh sangat tinggi bermata juling, membenarkan ucapan Jaka.
Laki-laki itu pun mengangguk puas, merasa tak lagi perlu takut untuk melawan kyai Sarwa. Sudah tak perlu lagi bersembunyi, menyerang pondok ini secara diam-diam. Saatnya sudah tiva, kini, bangkit dan menghancurkan kyai Sarwa beserta pengikut-pengikutnya.
"Iya, sudah saatnya kini. Tinggal menunggu waktu yang tepat, saat pertahanan mereka lemah," sambut Jaka tersenyum puas, merasa akan bisa menguasai pindok ini.
Semua makhluk itu, tertawa sangat panjang. Senang dan puas, bisa meracuni otak Jaka dengan rayuan. Satu lagi manusia masuk dalam pelukan mereka, menjadi pengikut kegelaoan, meninggalkan ajaran dan keyakinan yang selama ini ia anut.
Sungguh mengenaskan. Namun, begitulah godaan setan. Jika, tak kuat, maka akan sangat mudah tergoda, tergiur oleh bujuk rayu mereka yang menyesatkan.
Di kediaman kyai Sarwa, Madi sengaja memilih berzikir di rumah saja. Setelah salat magrib, dia pulang. Sedangkan, kyai Sarwa, tetap tinggal di musala, hingga salat Isya.
Seperti perkataan kyai Sarwa tadi siang, Madi, melakukan zikir hingga menjelang salat isya. Magrib, adalah saatnya gerbang kegelapan terbuka, di mana kekuatan mereka akan terbuka dan kuat.
Jauh di sana, di pohon tua dekat rumah Madi, para penghuninya yang dikomandoi makhluk perempuan cantik, bertaring panjang, tersenyum pongah, merasa akan bisa menembus pertahanan pagar gaib yang mengelilingi rumah Madi.
Madi yang mengetahui hal itu, semakin khusyuk, berzikir serta mengeluarkan amalan yang selama ini telah dipelajarinya, untuk mengusir mereka nantinya.
__ADS_1