
Jauh, di sebuah tempat, terdapat sebuah perkampungan, namanya dusun Kelam. Di sana tinggal seorang kyai, yang usianya sudah mendekati angka 80. Namun, kesehatan dan kebugaran tubuhnya, masih terlihat baik.
Dia, adalah saudara kyai Sarwa, bernama kyai Senta. Bersama, kyai Sarwa, dia dulu membangun dan mengembangkan pondok, di mana Madi dulu pernah menimba ilmu.
Kesaktian dan ilmu kanuragan, milik kyai Senta, ini, juga tak kalah dibandingkan dengan kyai Sarwa. Hanya, karena merasa sudah uzur, maka kepemimpinan pondok dikelola oleh kyai Sarwa.
Meski tak berada dalam pondok, tapi, kyai Senta bisa mengetahui apa yang terjadi di sana. Kyai Senta juga memiliki ilmu supranatural dan penglihatan mata batin yang tajam.
Pagi ini, dia mencoba menghubungi kyai Sarwa, mencari tahu, apa sebenarnya yang terjadi.
"Assalammualaikum, Sarwa. Apa yang terjadi, kenapa suasana di pondok terlihat suram?"
"Waalaikumsalam, Kang. Beberapa hari ini, banyak peristiwa yang tak terduga terjadi di sini. Banyak sekali, makhluk tak kasat mata bermunculan, mengganggu para santri."
Kyai Sarwa mencoba menjelaskan keadaan sebenarnya. Mungkin, ada solusi yang bisa didapatkan.
"Hm ... tampaknya ada campur tangan musuh bebuyutan kita, nenek bungkuk, Sarwa."
"Betul, Kang. Persengkongkolan nenek bungkuk dan Jaka, merepotkan sekali!"
"Jaka ...?"
Kyai Senta, sepertinya sangat terperanjat mendengar nama Jaka disebut. Sepengetahuannya, Jaka adalah salah satu murid Sarwa selain Madi yang bisa diandalkan.
"Benar. Kang. Dia, sekarang menjadi pribadi yang tak kita kenal lagi. Apalagi setelah dia bersekutu dengan nenek bungkuk dan iblis pengikut musuh kita itu."
Dari ujung telephon terdengar desahan nafas kyai Senta, panjang dan berat. Dia benar-benar tak menduga akan melihat pengkhianatan murid kepada gurunya.
"Kalo begitu, sekarang, kau harus lebih waspada lagi. Mereka bukan lawan yang ringan!"
Kyai Sarwa mengiyakan, setuju dengan ucapan kakaknya, kyai Senta. Untuk saat ini, salah satu hal yang harus dilakukan adalah hal itu.
Kyai Senta, kakaknya pun berjanji akan terus memantau dan memberi pertolongan secepatnya.
__ADS_1
Setelah mendengar pernyataan kyai Senta, kyai Sarwa bisa bernapas lega. Pada saat genting, akan ada bantuan untuk menghadapi Jaka dan sekutunya.
"Ada apa, Kyai?" Madi yang melihat kyai Sarwa sedikit merenung, bertanya hati-hati.
"Ndak apa-apa, Madi. Tadi, kyai dapat telephon dari kyai Senta. Madi, masih ingat kan?"
Madi mengangguk. Menunggu, ucapan kyai Sarwa selanjutnya.
"Kyai Senta, mau membantu kita, kalo keadaan genting, Madi. Itu membuat, Kyai merasa plong ."
"Syukurlah, Kyai. Ada kyai Senta yang bersedia membantu kita."
Madi ikut bernapas lega. Bertambah satu lagi bala bantuan. Itu akan menambah semangat mereka saat berhadapan dengan makhluk-makhluk astral kiriman Jaka.
"Iya. Sekarang, lebih baik kita kembali memeriksa kembali pondok. Siapa tau, Jaka telah memulai pergerakannya!"
Madi mengiyakan ajakan kyai Sarwa dan mulai melangkah di samping kyai Sarwa. Tujuan mereka kali ini, adalah tempat-tempat di mana makhluk-makhluk astral seperti jin, demit atau lelembut suka tinggal. Ya, tempat yang lembab dan gelap.
Sebuah tempat yang sering dipakai seperti kamar mandi mauoun toilet yang memang selalu dalam keadaan lembab.
Pondok yang hanya terdiri dari santri putra itu, memiliki areal kamar mabdi yang cukup luas. Para santri bisa mandi tanpa harus mengantri terlalu lama.
"Baik, Kyai. Madi rasa, itu tempat yang mungkin akan dijadikan Jaka sebagai tempat tinggal makhkuk-makhluk itu."
Kyai Sarwa tersenyum, mengangguk dan terus berjalan hingga mencapai tempat itu.
Suasana di sana terlihat lengang, karena semua santri sedang belajar. Paling hanya ada satu dua santri yang berada di sana karena ingin buang hadas.
"Sepertinya, tak terlihat pergerakan yang mencurigakan, Kyai!" ucap Madi, sambil tedus bersiaga.
Memang betul ucapan Madi, suasana di sana tedlihat normal, seperti hari-hari biasa. Aura negatif yang biasanya berasal dari pancaran makhluk-makhluk gaib, tak ada. Hanya ada hawa dingin biasa karena suasana kamar mandi yang lembab.
"Sepertinya, mereka memang, sedang merencanakan sesuatu, Madi. Ndak ada tanda-tanda kehadiran makhluk-makhkuk itu."
__ADS_1
Kyai Sarwa ikut menimpali ucapan Madi. Memang, betuk apa yanv diucapkan kyai Sarwa. Di sebuah ruangan yang tertutup dan terlindung, Jaka tersenyum, mengejek.
"Tunggu saja, pembalasanku atas perginya beberapa sekutu, yang berhasil kalian usir!" desis Jaka lenuh kemarahan.
Mata pemuda itu merah sekali, sungguh mengerikan. Tangannya yang sebelah kiri telah berubah menjadi keras, siap melepaskan pukulan yang mematikan..
Sebuah tepukan di pundaknya, membuat ia segera sadar. Bebek bungkuk, yang ikut memperhatikan pergerakan Jaka, yang menghentikannya.
"Tahan, Jaka! Tunggu sampai purnama tiba. Tak lama lagi. Setelah itu, kau boleh menghabisi mereka semua!"
Jaka mengangguk, mengembuskan napas ledlahan dari bibirnya. Hampir saja dia merusak rencana yang telah medeka susun selama ini.
"Baik, Nyai. Terima kasih, sudah mengingatkan saya!"
Nenek bungkuk itu seketika tertawa sangat keras. Saat untuk melenyapkan penghalangnya selama ini, sebentar lagi akan terwujud. Kyai Sarwa dan pondoknya akan tinggal kenangan saja.
Sementara, di sekitar rymah Madi, warga yang berada di sekitar pohon tua itu, mulai berkumpul. Sesuai kesepakatan, setelah peristiwa ditemukannya mayat perempuan hamil tempo hari, mereka akan menebang pohon tua itu sekarang.
Tampak berkumpul sekitar sepuluh orang laki-laki berbadang cukup tegap, memegang parang dan gergaji mesin untuk menumbangkan pohon tua itu.
Satu per satu, mereka mencoba menebang, dengan peralatan yang mereka pegang. Ternyata, tak ada satu pun yang berhasil. Bahkan, gergaji mesin yang mereka pergunakan pun tak bisa membuat pohon tua itu tumbang.
Kulit pohon tua itu tak tergores sedikit pun. Pemegang gergaji mesin itu, kini seperti orang kerasukan. Matanya melotot, sementara gergaji mesin itu berhenti mendadak.
"Ha ... ha ..., sebaiknya kalian bubar, manusia! Pohon ini tak akan bisa kalian tebang."
Tiba-tiba saja salah seorang warga yang tadi memegang gergai mesin itu tertawa kencang sembari membentak warga yang lain.
Wajah sebagian warga yang ingin menebang pohon tua itu, sebagian sudah pias. Pucat pasi, ketakutan.
Beberapa di antara mereka yang memiliki keberanian cukup, memegang warga yang kerasukan tadi. Orang itu masih meracau, kadang tertawa, kadang menyumpah. Suara yang keluar menyerupai kakek-kakek. Sungguh mengerikan.
Sehingga tak ada lagi para warga yang berani menebang pohon tua itu. Mereja lari tunggang langgang, membawa rekan mereka yang kerasukan. Meninggalkan semua peralatan, di bawah pohon tua itu.
__ADS_1
Pohon tua yang penuh mistis, tempat bersarangnya makhluk-makhluk gaib. Pasti, memerlukan seseorang yang memiliki kekuatan supranatural untuk menumbangkan pohon tua pembawa bencana itu, menghilangkan malapetaka.