
Madi melepaskan beberapa pukulan beruntun pada Nang, yang dibalas pula oleh cucu nenek bungkuk itu. Tampaknya, Nang tak ingin melepaskan kesempatan malam ini, membalaskan sakit hatinya.
Sementara, Madi masih adu kekuatan dengan Nang, di luar rumah, Aulia segera menolong ibunya yang masih tergeletak di lantai. Kondisinya sudah membaik, tak lagi mengamuk seperti tadi. Kuntilanak yang menyusup ke tubuh ibunya telah tak ada lagi.
"Ibu, Ibu ..., dak apa-apa kan?" Aulia bertanya seraya memeriksa seluruh badan ibunya.
"Apa yang terjadi, Lia? kok badan Ibu sakit semua?"
"Syukurlah, kalo ibu dak apa-apa. Mungkin, tadi ada makhluk halus yang menyusup ke tubuh ibu." Aulia menjelaskan dengan perlahan, tak ingin ibunya ketakutan.
ibu Aulia tercengang mendengar penjelasan puterinya. Keterangan yang tak diduganya sama sekali.
Setelah meletakkan ibunya di atas sofa, Aulia bergegas menuju teras,ingin melihat siapa yang memanggilnya tadi. Ternyata, bisikan Nang itu masih mempengaruhi syaraf Aulia.
Ayah Aulia yang sibuk dengan ibu Aulia, tak lagi bisa mencegah puterinya itu. Aulia terus melenggang, membuka pintu dan keluar hingga ke halaman.
Suasasa di luar, betul-betul gelap dan dingin. Malam ini, tak satu bintang pun yang bertengger di langit. Hawa dingin yang ada juga tak seperti biasanya.
Aulia bersidekap, menahan dingin. Aura negatif yang dipancarkan gerombolan makhluk tak kasat mata itu.
Sebelum Aulia melangkah lebih jauh, Madi bertindak cepat, membisiki Aulia agar jangan sampai keluar dari pagar gaib.
"Dek ... tetap di halaman saja, jangan sampe keluar pagar!"
Aulia bingung, suara yang berbisik kepadanya adalah milik Madi, suaminya. Dia bergerak, memutar tubuh ke seluruh penjuru, mencari arah suara tadi. Namun, yang dilihat, hanya kegelapan.
__ADS_1
Nang yang melihat ada kesempatan, segera menyuruh salah satu makhluk tak kasat mata, sekutunya, menyamar menjadi Madi.
Sementara, makhluk astral lainnya, tertawa senang, meligat mangsa mereka sudah berada di depan mata. Apalagi kuntilanak, demit perempuan itu, terkekeh, sangat panjang. Dari sudut bibirnya, tersembul sepasang taring yang siap merobek.
Genderuwo, makhluk bertubuh tinggi besar, berbadan gelap itu, perlahan menampakkan diri. Dari kejauhan, makhluk itu melambai ke arah Aulia. Benar-benar mirip Madi.
Aulia terkesiap, melihat suaminya muncul dari kejauhan. Dia ingin berlari, menyongsong genderuwo yang menyamar menjadi suaminya. Namun, sebuah kekuatan seperti menahan kakinya untuk melangkah.
"Dek ... itu bukan Akang. Lebih baik, Adek kembali ke dalam, sekarang!" Madi bertindak, gesit, memperingatkan Aulia. Tindakan Nang bersama sekutunya itu, tak bisa dianggap ringan.
Aulia kembali bingung. Di satu sisi, dia ingin menghampiri makhluk yang menyamar jadi suaminya itu, tapi, di sisi satunya lagi, dia merasa makhluk yang berdiri di kejauhan itu bukan suaminya.
Melihat usahanya mendapat hambatan, Nang pun memerintahkan genderuwo itu lebih mendekat, sampai ke depan pintu pagar, agar Aulua semakin mudah diperdaya.
Sebelum, hal itu terjadi, Madi terlebih dahulu menyerang Nang dan genderuwo yang sudah bergerak menuju pintu lagar.
"Kau, jangan pernah, mendekati istriku lagi! Kalau tidak, kalian menyesal, nanti!" Madi, memberikan ultimatum. Benar-benar geram kini. Manusia seperti Nang ini, memang tak layak diberi kesempatan. Apalagi makhluk sekutunya, makhluk-makhluk penghuni dunia lain.
Genderuwo itu tak memperdulikan ancaman Madi, dia terus saja bergerak menuju pintu pagar, meskipun menahan rasa panas. Dia ingin memenuhi keinginan tuannya, membawa kabur Aulia.
Sebuah hijib lagi dilesatkan Madi, kali ini Madi memperlihatkan wujudnya, memindahkan sukmanya. Genderuwo itu pun terkejut, melihat keberadaan Madi. Kakinya surut melangkah menuju pintu pagar.
Senentara pandangan Aulia dikaburkan oleh Madi sehingga tak melihat gebderuwo yang menyamar sebagai dirinya. Melihat, tak ada siapa-siapa lagi, Aulia memutuskan untuk masuk. Apalagi ayahnya menyusul karena cemas, dan menarik Aulia untuk segera masuk ke rumah.
Melihat kejadian itu, Nang semakin murka pada Madi, merasa harapannya kandas kali ini. Padahal, nalam ini adalah kesempatan yang bagus, karena tak ada yang membantu Madi.
__ADS_1
"Kau, ini, kenapa terus muncul, mengganggu rencanaku?" Nang, menggerutu, lalu melancarkan sebuah pukulan, tepat ke bagian dada Madi. Genderuwo bersama makhluk-makhluk astral lainnya pun, sudah mengelilingi Madi.
Madi berusaha mengelak serangan Nang, yang cepat dan kuat, sambil melepaskan pukulan balasan. Hijib juga ia lepaskan untuk memukul mundur semua sekutu Nang.
Kondisi sekarang, bebar-benar buruk dan berbahaya bagi Madi. Kekuatan dan ilmu Nang, sekarang juga hampir setara dengan dirinya belum ditambah kekuatan makhluk astral lainnya.
Madi semakin berkonsentrasi. Sementara di pondok, kyai Sarwa belum bisa menolong Madi, karena harus melawan tiga makhkuk yang dikirim Jaka. Sungguh situasi yang sulit dan tidak menguntungkan Madi.
Namun, pertolongan yang tak diduga-duga timbul. Bayu dan ustad Amir, ternyata kondisinya sudah pulih, meskipun belum seragus persen. Mereka berdua muncul di depan rumah kyai Sarwa, setelah merasakan firasat jelek.
"Kyai, kami datang membantu!" seru Bayu sambil mengambil posisi, berhadapan dengan jin berwajah hancur. Mata jin itu, memerah dan lendir berbau amis keluar dari bekas luka di wajahnya.
"Alhamdulillah! Akhirnya, kalian bisa juga membantu. Kita harus segera bertindak cepat, mengusir makhluk-makhluk berbau busuk dan jelek ini!" seru kyai Sarwa. Tangannya menunjuk ke arah ketiga makhluk astral du hadapannya.
"Baik, Kyai. Biar yang ini menjadi lawan saya!" seru ustad Amir, bsrdiri di depan sosok jin yang juga berwajah rusak. Bau amis juga menyebar dari jtu, membhat perut terasa mual. Apalagi belatung penuh berserakan di sekitar wajah jin yang hancur itu.
Kyai Sarwa, Bayu dan ustad Amir pun tak mau menyia-nyiakan waktu. Saling bahu membahu, mengalahkan ketiga makhkuk berhawa jahat itu.
"Kau punya nyali juga, anak bau kencur!" seru jin yang menjadi lawab Bayu. Santri ini tak memperdulikan ocehan dan ejelan makbluk itu.
Bayu terus saja menyerang makhluk itu dengan hiji yang dikuasainya. Bacaan zikir dan doa-doa pun tetap dibacanya.
"He ... he ..., kalian, manusia, tak usah repot-repot melawan. Kalau kalian mau menjadi sekutu kami, apa pun yang kalian inginkan, pasti dapat kamu wujudkan!"
"Lebih baik, kalian diam, hai, makhluk jelek dan busuk! Kami tak membutuhkan bantuan kalian!" Kali ini ustad Amir yang menggertak, jengkel dengan makhluk-makhluk itu.
__ADS_1
Bukannya murka malahan ketiga makhluk-makhluk itu terus tertawa, mengejek, membuat emosi Bayu dan ustad Amir meninggi. Sebelum bertambah kacau, beruntung, kyai Sarwa bisa mendinginkan hati mereka berdua.