Penghuni Pohon Tua

Penghuni Pohon Tua
Terus Bertarung


__ADS_3

Para penghuni pohon tua itu, mulai ketakutan,


karena pemimpin mereka berhasil  dikalahkan oleh Madi. Satu per satu, mereka bergerak mundur, sedikit menjauh dari rumah Madi. Demikian pula dengan demit berwujud perempuan cantik itu.


“Baiklah, kali ini, kau berhasil mengalahkan kami. Tapi, suatu saat nanti, kami pasti akan kembali. Meniupkan was-was dan membuat jiwamu tak tenang. Menguasai kembali rumah ini!” Sambil menggeram marah, dedemit itu terus berkomunikasi, merasa tak terima harus kalah dari manusia seperti Madi.


“Jangan harap, kalian bisa menang, selama aku masih menjadi  hamba Allah dan terus berzikir, memuji nama-Nya!” seru Madi lantang, membuat para penghuni pohon tua itu semakin gentar. Memang benar ucapan Madi. Mereka juga merasakan, kalau tak mudah menang dari orang seperti Madi.


Akhirnya mereka menyimgkir dari depan rumah Madi, kembali ke pohon tua, melayang dengan wajah gusar. Terlebih sepasang kakek cebol berwajah mengerikan itu. Tampak wajahnya penuh guratan kemarahan. Dasar, makhluk astral. Masih saja penuh dengan amarah, meski telah berada di dunia lain.


Madi pun bisa bernapas lega, sementara berhasil mengusir semua penghuni pohon tua itu. Merasa bersyukur bisa menghalau seluruh penghuni pohon tua itu untuk saat ini. Semoga saja, dia terus bisa kuat dan mampu terhindar dari gangguan dan godaan makhluk-makhluk tersebut.


Tanpa menunda waktu lagi, Madi kembali berzikir, membaca semua amalan yang pernah ia pelajari, menebalkan kembali pagar gaib di seluruh penjuru rumahnya. Untuk saat ini, para penghuni pohon tua itu tak akan mampu menembus pagar gaib yang telah diperbaiki Madi.


Sementara itu, kyai Sarwa, dengan gencar melakukan pukulan melalui kepalan tangannya yang telah dipenuhi hijib untuk mengusir jin dan demit, makhluk jadi-jadian yang masih terus menyerang mereka. Melihat semua makhluk tak kasat mata itu, bergerak bersamaan menyerang, Madi pun tak tinggal diam. Segera, dia bergabung, memperkuat


pertahanan, sembari mencoba sela, bersiap menyerang para jin yang bergerak menyerang.


“Kyai, Madi datang membantu!” Madi setengah berteriak berkata pada kyai Sarwa, yang disambut dengan senyum lebar oleh kyai Sarwa.

__ADS_1


“Apa semua penghuni pohon tua itu telah berhasil kau usir, Madi?” tanya kyai Sarwa, seraya menghindar dari serangan para jin dan demit perempuan tua yang terus menyerangnya.


“Alhamdulillah, sudah! Madi, sudah berhasil mengusir mereka, kembali ke pohon tua. Untuk sementara, rumah Madi aman, Kyai!” jawab Madi sambil mempersiapkan satu hijib yang tadi ia pakai saat memukul mundur pemimpin makhluk yang menghuni pohon tua itu.


Kyai Sarwa  tak lagi bertanya, bersiap mengantisipasi sebuah serangan begitu cepat yang  tiba-tiba saja diarahkan jin bertubuh sangat tinggi itu padanya. Benar-benar merepotkan, karena, tak bisa melihat bagian kepala jin tersebut. Kakinya yang begitu besar, terlihat ingin melumatkan tubuh kyai Sarwa dan bermaksud menginjaknya.


Segera kyai Sarwa menghindari pukulan jin itu dan  gantian melesatkan sebuah pukulan ke arah kepala jin tersebut. meskipun tak bisa melihat di mana kepalanya, tapi, melalui penglihatan indera keenamnya, kyai sarwa dapat mengetahui di mana  letak kepala jin


tersebut.


“Argh … panas … panas ….!” Jin itu mulai berteriak kepanasan. Tampaknya kali ini, kyai Sarwa berhasil membuat jin itu kepanasan. Belum lagi ditambah zikir yang terus didawamkan semua yang hadir dalam aula tersebut.


Kyai Sarwa tersenyum lebar,vpuas, berhasil membuat jin itu kepanasan. Tubuhnya telihat bergerak naik turun, ke kiri dan kanan, dan terus bergetar hebat saat melawan jin tadi. Pertarungan yang cukup melelahkan, karena menguras tenaga dan pikiran.


Benar saja, tiga orang santri yang membantu Bayu, mulai merasakan mual, dan langsung muntah-muntah. Demikian pula dua orang ustad lainnya. Wajah mereka berlima begitu pucat. Sebelum, serangan para demit, kuntilanak dan makhluk jadi-jadian itu semakin membuat mereka pingsan, Madi dan kyai Sarwa pun membentengi semuanya dan berusaha  menahan serangan.


Setelah menghalau para makhluk halus tersebut , mundur sementara, kyai Sarwa memerintahkan Bayu dan ustad Amir untuk mengeluarkan mereka dari lingkaran, agar tak menjadi sasaran para makhluk astral itu.


“Ustad Amir, Bayu, ajak semuanya ke sisi aula, usahakan agar, semua santri dan ustad tadi, bisa memulihkan diri. Jangan lupa, keluarkan semua hawa negatif yang nantinya bisa

__ADS_1


mempengaruhi mereka!” Ucapan kyai Sarwa yang tegas itu pun segera dituruti Bayu dan ustad Amir. Satu per satu tubuh rekan mereka dipapah menuju sisi aula, dan membantu memulihkan tenaga mereka yang sudah habis.


Sementara, kyai Sarwa dan Madi, bahu membahu, bersama-sama mencoba mengusir para jin dan dedemit yang masih berada di aulia.


“Sudahlah. Pak Tua! Lihatlah, murid-muridmu sudah mulai tumbang. Lebih baik kalian menyerah saja sekarang.” Sambil mengejek, demit berupa nenek tua itu berkata sinis pada kyai Sarwa.


Kyai Sarwa tak menggubris ejekan demit itu, sibuk mengatur napas, terius berzikir, meningkaatkan kekuatan hijib yang sebentar lagi akan dilayangkannya pada semua makhluk tak kasat mata itu. Madi, juga berbuat yang sama. Hijib yang sudah dipelajarinya terus dialirkannya pada seluruh tubuh, terutama pada kedua kepalan tinjunya.


“Madi, sekarang waktunya, menyerang mereka semua!” ucap kyai Sarwa, tegas tapi cukup perlahan. Memang, mereka harus secepatnya mengakhiri pertempuran ini. Kondisi mereka seudah mulai menurun. Apalagi, kyai Sarwa juga harus memeriksa para santri dan ustad yang tadi terkena serangan para makhluk tersebut.


“Ha … ha … ternyata kalian masih ada nyali untuk menyerang kami!” Teriakan dedemit itu begitu lantang, sementraa, jin yang tadi menjerit kepanasan tadi, sudah tak mampu lagi menyerang. Tubuhnya terkulai lemah, di salah satu sisi aula yang lain.


Seperti dikomando, semua makhluk halus itu menyerang kyai Sarwa dan Madi bersamaan. Madi pun tak tinggal diam, segera dilesatkannya hijib pamungkas yang sudah dipersiapkannya dari tadi. Tampak, seberkas cahaya putih kebiru-biruan menghantam kedua makhluk jadi-jadian berupa setengah harimau dan ular itu. Seketika benturan keras


terjadi dengan pukulan yang juga dilayangkan kedua makhluk jadi-jadian itu.


Akibatnya, sungguh di luar dugaan, kontan, kedua makhluk jadi-jadian itu, menjerit kepanasan. Asap tipis tampak keluar dari tubuh mereka berdua, seperti benda terbakar.


“Ampun … ampun … panas … panas …!” Terdengar teriakan mereka berdua kepanasan.

__ADS_1


Kyai Sarwa pun tak mau ketinggalan, dan menyerang dua sisa makhluk halus lainnya. Memberikan pukulan hijib juga yang sama dasyatnya dengan milik Madi. Alhasil, kedua makhluk halus itu juga menjerit kepanasan, tak tahan dengan hijib yang dilayangkan kyai


Sarwa.


__ADS_2