Penghuni Pohon Tua

Penghuni Pohon Tua
Mulai Siaga


__ADS_3

Madi mulai bersiaga, berkoordinasi dengan Bayu dan ustad Amir. Malam nanti, semua santri sudah harus berada di dalam aula.


"Yu, gimana persiapan nanti malam? Apa semua santri sudah diarahkan untuk tinggal di aula?"


"Sudah, Kang. Tadi Bayu dan ustad Amir sudah berkeliling, menyampaikan pesan kyai Sarwa dan kang Madi."


"Syukurlah, Yu. Berarti, kita tinggal merapikan aula dan mempersiapkan makanan maupun minuman untuk keperkuan nanti malam!"


Bayu mengangguk. Demikian pula ustad Amir. Bergegas mereka menuju ke aula, menyiapkan kasur dan selimut untuk keperluan menginap para santri. Ada juga beberapa santri yang membantu mereka.


Sementara kedatangan kyai Senta bersama salah satu muridnya bernama Silo, telah tiba di rumah kyai Sarwa. Pertemuan yang membuat kedua kakak beradik itu berpelukan haru.


"Alhamdulillah, Allah masih mempertemukan kita, Sarwa," ucap kyai Senta setelah melepaskan pelukannya. Kyai Sarwa mengangguk, gembira bercampur haru.


"Iya, Kang. Syukur, kita masih bisa bersilaturahim, bertatap muka, meski sudah cukupb ama tak saling berkunjung." Kyai Sarwa menimpali ucapan kyai Senta tadi.


"Oh, ya, Sarwa. Ini, Silo, salah satu muridku." Kyai Senta memperkenalkan muridnya Silo pada kyai Sarwa.


"Selamat datang di pondok, Silo. Alhamdulillah, kedatanganmu akan sangat membantu di sini."


Silo mengangguk mendengar ucapan kyai Sarwa, berterima kasih telah menerimanya dengan tangan terbuka.


"Madi, ke mana, Sarwa? Aku tak melihatnya," tanya kyai Senta, setelah sadar kalau Madi tak bersama kyai Sarwa.


"Dia sedang bersama santri dan ustad, menyiapkan beberapa hal dan perbekalan untuk malam nanti."


"Baiklah, lebih baik kami istirahat dulu barang sejenak, mengembalikan tenaga sewaktu perjalanan tadi." Kyai Senta bersama Silo pun akhirnya di antar masuk oleh kyai Sarwa untuk beristirahat. Sebentar lagi salat ashar, mereka juga tak punya waktu lebih banyak. Mungkin, dengan sedikit beristirahat, memulihkan energi, kondisi mereka berdua akan kembali sedia kala.


Di aula, Madi juga terus membacakan zikir, menebalkan pagar gaib, pelindung semua penghuni pondok, terutama para santri.


Beberapa dus minuman miberal dan kardus berisi makanan ringan, juga disusun dengan rapi di semua sudut. Hal itu untuk memudahkan senua santri untuk mengambil makanan dan minumab, sehingga mereka tak lagi keluar ruangan.

__ADS_1


Murotal pun tetap diperdengarkan, membuat semacam pertahanan melawan makhluk-makhluk tak kasat mata yang akan mencoba masuk, membuat keonaran.


"Kang, sepertinya persiapan kita sudah cukup," ucap Bayu senbari bersandar di dinding. Rasa letih, menghampirinya seketika.


"Benar, Yu. Rasanya kita sudah cukup membuat persiapan," jawab Madi, tersenyum melihat Bayu bersandar di dinding.


"Capek ...?" tanya Madi, menghampiri Bayu dan duduk di sebelahnya.


"Iya, Kang, lumayanlah," jawab Bayu, kini melonjorkan ke dua kakinya.


"Ya, sudah. Kamu, istirahat saja dulu. Setelah itu, siap-siap salat ashar."


Bayu mengangguk. Ustad Amir juga mengikuti jejak mereka, duduk di sebelah kanan Bayu, duduk melonjorkan kaki dengan tubuh bersandar di dinding. Sementara beberapa santri yang tadi membantu, permisi pulang ke asrama. Bersiap-siap hendak salat ashar.


"Mudah-mudahan nanti malam semuanya berjalan sesuai rencana. Rasanya takut juga, kalau kita tak sanggup melawan sekutu-sekutu kang Jaka itu."


"Iya, Yu. Akang, juga berharap begitu. Bagaimana dengan ustad Amir. Apa masih capek?" Madi, mengalihkan pembicaraannya pada ustad Amir yang duduk di sebelah kanan Bayu.


Kembali Madi mengangguk mendengar ucapan ustad Amir. Madi jiga berharap kondisinya sendiri juga dalam keadaan prima.


Di rumah kyai Sarwa, setelah beristirahat beberapa saat, kyai Senta seperti merasakan ada seseorang yang terus memperhatikan pergerakan mereka.


Sejenak, kyai Senta memejamkan mata,encari siapa gerangan yang sedang memata-matai mereka Ternyata Jaka, mantan santri dan murid kyai Sarwa.


Helaan napas kyai Senta, terdengar begitu panjang, menyentakkan kyai Sarwa. Apalagi setelah diberitahu kalau selama ini Jaka selalu leluasa memata-matai pergerakan mereka dengan mudah, sebab tak ada perlindungan sama sekali.


Akhirnya, kyai Senta pun mengusulkan untuk mengaburkan pengliharan Jaka, agar tak lagi bisa melihat apa yang terjadi di pondok. Kyai Sarwa setuju saja, tak membantah. Pemimpin pindok ini, begitu yakin kalau kali ini kakaknya, kyai Senta sudah merasakannya.


Setelah itu, kyai Senta, akhirnya membantu kyai Sarwa menutup penglihatan Jaka, meneropong kegiatan mereka. Ternyata, selama ini Jaka bisa leluasa mencermati semua kegiatan mereka di pondok karena tak ada pelindung yang menutupi.


"Sarwa, seharusnya, dati dulu si Jaka itu tak kau terima menjadi santri di sini!"

__ADS_1


"Kenapa, Kang? Bukankah dulu dia selalu bersikap baik dan sopan?" Kyai Sarwa bertanya tak mengerti dengan pertanyaan kakangnya tadi.


"Memang sikapnya selalu santun, tapi sebenarnya itu untuk menutupi sifatnya licik dan iri hati."


Kyai Sarwa kembali termenung, tak menyangka kalau salah satu santri andalannya ternyata berbalik menghianatinya.


"Mungkin, itu memang salah satu kesalahanku, Kang. Biarlah ... yang penting sekarang, kita sama-sama berusaha menyingkirkannya." Kyai Sarwa akhirnya berkata, pasrah dengan keadaan yang kini sedang dihadapi.


"Iya, Sarwa. Ini semua takdir yang harus kita terima. Sekarang, bersiaplah membantuku, menutup tabir penglihatannya, jadi, si Jaka itu tak lagi seenaknya mengamati kegiatan kita di sini!"


Kyai Sarwa dan kyai Senta pun memulai zikir dan memasang semacam perlindungan yang akan menghalangi pandangan Jaka dan nenek bungkuk, musuh bebuyutan mereka.


Salah satu murid kyai Senta, Silo, ikut membantu kyai Senta dan kyai Sarwa. Kemampuan Silo tak perlu diragukan lagi. Dia juga sama dengan Madi, sama-sama memiliki kemampuan supranatural dan kanuragan yang bisa dihandalkan.


Mereka berdua memang sangat diharapakan kyai Sarawa dan kyai Senta untuk melumpuhkan Jaka beserta sekutu-sekutunya, makhluk-makhluk dari dunia gaib.


Di satu tempat, Jaka terlihat sangat geran, saat mengetahui penglihatannya telah dibatasi oleh kyai Senta dan Sarwa. Tak berhenti dia mengomel, mengutuk perbuatan kyai Senta dan Sarwa.


"Bagaimana ini, Nyai. Kedua kyai itu memasang tabir, melindungi pondok dari penglihatan kita?"


Dengan napas tersengal, Jaka terlihat seperti mengadu pada seorang nenek tua beebadan bongkok.


"Biarkan saja, Jaka. Kita masih bisa melihat pergerakan mereka, hanya saja tak seleluasa kemarin" Si nenek bungkuk berusaha menenangkan Jaka.


"Bagaimana debgan rencana kita nanti malam, Nyai?" Jaka kembali bertanya. Mulai terselip sekit keraguan dalam hatinya.


"Tak usah cemas, Jaka. Kita kerahkan semua makhluk-makhluk halus itu, selepas magrib. Di mana kekuatan kita sedang penuh dan gervang kegelapan terbuka lebar."


Jaka bisa sedikit bernapas lega. d


Dia kembali berusaha menompa semangatnya. Mengalahkan semua musuh_musuhnya. Semoga saja dengan bantuan kyai Senta dan Silo, roh halus itu bisa diusir.

__ADS_1


__ADS_2