
Bayu dan ustad Amir akhirnya berusaha menenangkan amarah yang sempat disulut oleh ketiga makhluk itu. Mereka berdua juga tak ingin gagal melawan makhluk, karena tak bisa memusatkan perhatian.
"Baik, Kyai. Kami akan lebih sabar menghadapi makhluk jelek kayak mereka." Ustad Amir, gantian mengejek makhluk-makhluk itu.
"He ... he ... kuat juga nyali kalian, bocah tengil! Jangan salahkan kami, kalau kalian akan merasakan kekuatan kami! Tak mau kalah, salah satu dari makhluk itu berkata sambil menunjuk Bayu dan ustad Amir.
"Tenang, saja, hai, makhluk jelek! Kami, tak akan takluk oleh kalian. Lihat saja, nanti!" Mendengar ucapan Bayu, ketiga makhluk langsung menyerang, menuju sasaran masing-masing.
Kyai Sarwa dengan sigap, menahan serangan yang ditujukan salah satu jin berwajah hancur itu. Lawan yang dihadapi kyai Sarwa sepertinya yang terkuat. Terbukti serangan yang baru dilesatkan makhluk itu begitu kuat dan nyaris mengenai kyai Sarwa.
"Rasakan, kekuatan kami, orang tua!" pekik makhluk itu. Terus saja menyerang tak memberi kesempatan pada kyai Sarwa untuk menarik napas.
Bayu dan ustad Amir pun mengalami hal yang sama. Hanya saja, lawan yang mereka hadapi tak setangguh pemimpinnya.
"Bocah, lihat dan rasakan pukulan ini!" Makhluk berwajah menyeramkan yang mengeluarkan bau anyir itu kembali mengarahkan satu pukulan pada Bayu.
Pengalaman menghadapi beberapa makhluk tak kasat mata sebelumnya, membuat Bayu lebih mengerti cara menghadapi makhluk-makhluk astral seperti ini.
"Aku, tak takut, makhluk busuk! Coba rasakan, serangan balasanku ini!" Gantian Bayu menyarangkan lhkulan je arah nakhluk itu.
Kekuatan hijib yang dibacakan dan dialirkan pada kepalan tinjunya, bisa membuat makhluk gaib sebangsa jin, dedemit lelembut atau makhluk gaib lainnya bisa merasakan panas yang luar biasa, bila terkena hijib itu.
Jin yang menjadi lawan Bayu, menyingkir, melayang, mengelak serangan Bayu. Seringai kejam mewarnai wajahnya yang menakutkan sekaligus menjijikkan.
Bau anyir darah senakin kuat, membuat perut seperti diaduk-aduk, ingin muntah. Apalagi, melihat matanya yang melotot, merah seperti darah. Sangat menyeramkan.
__ADS_1
Di lain sisi, ustad Amir, juga sedang berhadapan dengan makhluk yang satunya lagi. Makhluk yang ini lebih tangguh dari lawan Bayu. Belatung yang menjalar di wajah jin itu, sungguh membuat jijik.
Sebuah pukulan hijib langsung saja dilesatkan ustad Amir, tak ingin dicecar terlebih dahulu oleh makhluk itu. Ocehan penuh ejekan juga keluar dari sosok halus itu. Namun, ustad Amir tak lagi terpengaruh. Apalagi, peringatan kyai Sarwa tadi, membuatnya lebih bersabar.
Sebuah pukulan, nyaris mengenai rubuh ustad Amir. Bebar-benar lertempuran yang menegangkan. Kyai Sarwa, Bagu dan ustad Amir, terus saja berzikir, menyerang ketiga makhluk itu dengan hijob yang mereka kuasai.
Sesekali, mereka tersudut oleh serangan ketiga makhluk tepung itu. Namun, di lain kesemlatan, mereka berhasil menekan makhluk-makhluk itu.
Kekuatan ketiga makhluk ternyata luar biasa. Jaka, memang licik dan memilih makhluk seperti itu untuk menjadi lawan kyai Sarwa dan yang lainnya. Tampaknya, Jaka memang ingin membuat pemimpin pondok ini terus-terusan bertarung melawan makhluk tak kasat mata, sekutubya. Hingga akhirnya, akan kelelahan dan tak mampu lagi melawan.
"Bayu, Amir, berhati-hatilah! Lawan kita kali ini, ternyata lebih kuat dari dugaan kita semula. Apalagi, wajah mereka yang mengeluarkan bau busuk luar biasa bisa memlerlenah pertahanan kita!"
"Iya, Kyai. Kami, akan lebib berhati-hati. Kyai, juga. Pemimpin mereka juga sangat kuat!" Bayu membalas ucapan kyai Sarwa, sambil tetap sibuk mengatur napas, menyerang dan menahan serangan-serangan dari makhluk tersebut.
"Ustad Amir, hati-hati!" Bayu berteriak, mengingatkan, ustad Amir saat melihat makhluk dengan wajah penuh belatung melancarkan serangan beruntun. Sedikit lagi, mengenai dan membuar ustad Amir terkapar. Kekuatan makhkuk gaib ini memang luar biasa. Jika tak paham, maka bisa-bisa energi seseorang akan tersedot, lemas, bahkan kemungkinan bisa dirasuki.
Mendengar teriakan Bayu, ustad Amir, memutar sedikir tubuhnya, menghindar serangan makhluk tersebut. Dan, terlepaslah ustad Amir dari tekanan makhlu itu.
"Alhamdulillah! Tetima kasih, Bayu." Ustad Amir berkata sembari melemparkan senyum pada Bayu. Santri ini pun membalasnya dengan senyuman.
Makhluk yang menyerang ustad Amir semakin jengkel dan murka. Tanpa menunda lebih lama, kembali dia menyerang. Tak mau memberi kesempatan pada ustad Amir.
Belajar dari keadaan tadi, ustad Amir lebih meningkatkan kewaspadaannga. Zikir, doa dibaca terus menerus, menangkal aura jahat yang semakin tebal menyelimuti sekitar mereka.
Sementara pertempuran antara kyai Sarwa, Bayu dan ustad Amir masih berlangsung sengit. Di luar rumah orang tua Aulia pun berjalan alot dan tak seimbang.
__ADS_1
Nang, menghujani Madi dengan pukulan beruntun. Satu pukulan mengenai pundak kiri Madi, membuat tubuhnya yang berada dibrumah, bergetar cukup hebat. Satu pukulan yang membuat Nang, merasa bangga karena berhasik mengenai Madi.
"Ha ... ha ... rasakan pembalasanku, Madi! Sudah sekian lama, aku menginginkan hal ini. Membuatmu bertekuk lutut, mengaku kalah di hadapanku!" Madi tersenyu kecut mendengar ucapan penuh kesimbongan si Nang.
"Aku belum kalah, Nang. Tunggu saja, kau akan lihat kehebatan pukulanku yang lain."
Usai berbicara, Madi lebih gencar menyerang Nang. Kali ini ia tak mau lagi bermain-main. Pukulan hijibnya pun lebih diperkuat lagi. Demikian pula zikir dan bacaan doa serta amalan-amalan lainnya. Dia tak boleh lengah, seperti tadi.
Pertarungan antara kedua musuh bebuyutan itu sangat seru. Hawa di sekitar nereka berubah menjadi lebih hangat, tak sedingin tadi.
Makbluk-makhluk astral, sekutu Nang, tak berani mendekat, takut terkena pukukan hijib Madi yangbisa menyebabkan mereka akan merasakan hawa panas yang luar biasa.
Sepasang kakek cebol berwajah seram itu, akhirnya mengambil inisiatif, mencoba membantu Nang, dengan masuk ke dalam tubuh Nang. Kekuatan mereka semakin bertambah.
Situasi ini bisa sangat berbahaya, karena Madi harus benar-benar harus waspada dan konsentrasi menghadali mereka. Apalagi kondisi Nang yang disusupi salah satu penghuni pohon tua itu, kekuarannga akan semakin bertambah.
"Ha ... ha ..., Madi, terima lah seranganku lagi!"
Madi lumayan repot menghadpli kekuatan Nang setelah mendapat bantuan makhluk astral itu. Hijib yang disarangkannya pun kini bukan hijib yang biasa lagi. Harus lebih punya kekuatan yang lebih dashyat, yang bisa membuat makhluk itu tak berkutik dan keluar dari tubuh Nang.
"Aku tak akan menyerah, Nang. Terimalah hijibku ini. Makhluk yang ada dalam tubuhmu akan merasakan akibatnya!"
"Buktikan ucapanmu, manusia! Aku akan membuatmu menyerah kali ini. Rumah kalian akan menjadi sarang kami!"
Madi tak terpengaruh dengan ucapan makhluk itu dan bersiap menyerang.
__ADS_1