Penghuni Pohon Tua

Penghuni Pohon Tua
Pulang


__ADS_3

Usai berpamitan pada Bayu dan ustad Amir, Madi kembali ke rumah kyai Sarwa. Meski tubuhnya terssa letih, Madi tak merasakannya. Dirinya terlalu senang karena sebentar lagi akan pulang menjumpai Aulia, isterinya.


:"Kyai, Madi pamit pulang dulu."


Kyai Sarwa dan kyai Senta tersenyum, menyambut uluran tangan Madi yang mencium punggung tangan mereka dengan hormat. Ini adalah salah satu kebiasaan yang tetap terjaga dari dulu.


"Iya, Madi. Tetap berhati-hati dan waspada. Salam buat keluargamu," pesan kyai Sarwa, tersenyum, memandang Madi dengan welas kasih.


"Baik, Kyai Pesan Kyai akan Madi ingat," jaeab Madi, ikut tersenyum.


"Kau, juga harus tetap yakin bahwa suatu saat pasti bisa mengusir penghuni pohon tua itu!" ujar kyau Senta, kembalivtersenyum, menepuk pundak Madi.


"Iya, Kyai. Madi akan tetap semangat memupuk keyakinan itu," ucap Madi.


Lalu kyai Senta memberikan srcarik kertas berisi bacaan hijib dan petunjuk bagaimana cara menggunakannya. Madi diminta untuk mengamalkannya karena kyai Senta merasa kalau musuh yang akan dihadapi nantinya akan semakin berbahaya. Khusunya nenek bungkuk dan cucunya yang merupakan penerus Nyi Sentari, salah satu tokoh ilmu hitam.


"Itu adalah amalan hijib yang nantinya bisa Kau gunakan ketika berhadapan dengan si Nang atau Nenek Bungkuk itu."


Madi mengangguk, bersyukur karena kyai Senta pun perduli dengan keadaan yang ia alami. Dia berjanji akan mengamalkan hijib yang diberikan kyai Senta padanya.


"Terima kasih, Kyai. Madi akan mengingat pesan, Kyai." Madi kembali berbicara dengan lembut, meyakinkan kyai Senta untuk segera mengamalakan hijib yang tadi diberijan.


Setelah mereka terlibat dalam obrolan panjang lebar, akhirnya Madi pamit, pulang mumpung hari belum terlalu sore. Monil bak terbuka yang setia menemaninya membawa sayuran ke pasar, sudah disiapkannya sedari tadi.


Madi melambaikan tangan, melemoarkan senyum saat mulai melajukan kendaraannya meninggalkan tumah kyai Sarwa. Melakuibkaca spion, dia melihat kyai Sarwa dan kyai Senta nasih berdiri di depan runah, mengawasinya hingga menghilang.


'Alhamdulillah, ya Allah. Akhitnya, hambaMu ini bisa pulang', desis Mafi penuh rada syukur. Bayangan Aulia sudah bermain di pelupuk mata, membuatnya tak sabar untuk segera sampai di rumah.


Kondisi jalan menuju rumah orang tua Aulia, masih terlihat sama kondisinya. Di sepanjang perjalanan, Madi bisa merasakan kehadiran beberapa makhluk tak kasat mata. Namun, mereka hanya berada di sana, memandang dan membiarkannya berllku. Tak lagi mengganggu seperti awal kedatangan Madi tempo hari.


Madi pun tak memperdulikan kehadiran mereka yang masih berkumpul dan berada di beberapa titik, siap menggoda manusia yang mau bersekutu dan membutuhkan bantuan mereka.

__ADS_1


Ketika Madi melewati jalanan di perjalanan pulang, ada sesosok makhluk astral bertampang krjam, bertubuh sangat tinggi, menatapnya dengan dingin. Tatapannya yang tak bersahabat, menyimpan keinginan kuat untuk menghancurkannya.


Madi sebenarnya ingin bethenti dan bermaksud mengusir makhluk gaib itu, tapi ia teringat pesan kyai Sarwa dan kyai Senta agarvtak terpancing dengan kehaduran sosok-sosok yang menginginkan kematiannya.


Zikir, bacaan hijib, dibaca Madi, mencoba menghilangkan pengaruh makhluk dari dimensi lain itu. Buku kuduk Madi kembali merinding disertai hawa dingin yang begitu kuat menyelimuti.


'Aku harus kuat. Tak boleh lengah sedikit pun!' Madi berkata, menyemangati dirinya sendiri.


Beruntung, makhluk itu tak bereaksi apa-apa. Hanya memandangi Madi saja Sepertinya mereka telah diperintahkan Jaka untuk menunggu saat yang tepat untuk beraksi kembali.


Melihat hal itu, Madi mempercepat mobil bak terbuka yang sedang dikendarainya. Segera berlalu, mumpung makhluk astral itu hanya memperhatikan saja.


Sepanjang perjalanan, Madi tak mengalami hal-hal yang mengganggu. Laki-laki muda itu sengaja tak memberitahu kepulangannya pada isterinya, Aulia. Dia ingin memberi kejutan.


Suasana di rumah orang tua Aulia terlihat sunyi. Hari sudah malam saat Madi tiba di depan rumah mertuanya itu.


"Assalammualaikum ...."


"Waalaikumsalam ...." Ternyata, ayah mertuanya yang menyahut salamnya dan segera membuka pintu.


"Syukurlah, ternyata Kau yang pulang, Madi. Tadinya, Ayah sudah khawatir, kalau ada makhluk gaib lagi yang menyaru."


Madi tersenyum, maklum karena hari-hari sebelumnya ada saja sosok gaib yang ingin mengusik ketentraman rumah tangganya.


"Madi ngerti, Yah," sahut Madi. "Aulua bagaimana keadaannya sekarang?" Madi bertanya, melanjutkan.


"Baik, Madi. Pergilah ke kamarnya. Pasti dia sangat senang, Kau pulang."


Madi pun bergegas masuk, langsung menuju kamar Aulia. Saat ini adalah peristiwa yang sydah dinanti-nantikannya.


Saat memasuki kamar Aulia, Madi melihat isterinya sedang tertidur pulas. Tampak cantik, meski hanya terbalut daster. Perlahan sekali Madi mendekati Aulia, menyentuh pundaknya dengan lembut.

__ADS_1


Aulia tersentak, kaget karena ada yang menyentuh pundaknya. Matanya menyipit, berusaha mengenali sosok yang menggugah tidurnya.


"Akang .... Benaran Akang kan?" Aulia bertanya, gembira. Dia langsung bangun, memandang wajah Madi, seolah tak percaya.


"Iya, Dek. Ini, Akang," jawab Madi, tersenyum.


"Alhamdulillah. Akang, sudah pulang," ucap Aulia, tersenyum simpul. Bibirnya merekah, memamerkan senyumannya yang manis.


Kemudian, mereka berdua saling berbagi cerita, menceritakan pengalaman mereka masing-masing saat terpisah keadaan. Mata Aulia berbinar, menatap lembut Madi Akhirnya, tiba juga saat mereka bertemu.


"Akang sudah selesai membantu Kyai Sarwa?" tanya Aulia.


"Untuk sementara sudah, Dik. Jaka, orang yang membuat keonaran selama ini, menyingkir, mundur karena salah satu rekannya ada yang terluka," jawab Madi.


"Kang, apa yang dikatakan Akang sebelum berangkat kemarin benar. Ada saja, sosok yang menyamar jadi Akang "


Madi memandang wajah isterinya. Lembut, sambil mengelus kepalanya.


"Syukurlah, Adik bisa melewati semua ini. Kalau tidak ..., entahlah .... Akang tak bisa membayangkannya."


"Iya, Kang. Ibu juga pernah kerasukan salah satu sosok gaib. Adik saat itu sangat cemas. Panik."


Aulia memegang erat jemari Madi, pertanda ia memang sangat takut saat itu. Madi sendiri berusaha menenangkan Aulia sambil terus tersenyum agar Aulia, isterinya mampu melupakan peristiwa mengerikan itu.


"Sekarang Akang sudah pulang. Jadi, Adik tak perlu khawatir lagi. Nanti setelah kondisimu sudah memungkinkan untuk tinggal di rumah kita lagi, kita akan segera ke sana.


"Betul, Kang?!" ucap Aulia setengah menjerit. Dia benar-benar sangat gembira. Isteri Madi itu sudah sangat rindu dengan suasana rumah mereka dekat pohon tua itu.


"Betul! Makanya, kondisi kesehatanmu harus bagus. Jadi tak akan mudah terpengaruh dan dimasuki roh-roh halus itu.


Iya, Kang. Adik berjanji, biar tetap sehat dan tak mudah terpengaruh dengan bujukan atau hasutan makhluk-makhluk penghuni pohon tua itu. Jadi, bisa segera pulang dan menginap kembali di sana.

__ADS_1


__ADS_2