Penghuni Pohon Tua

Penghuni Pohon Tua
Selalu Siaga


__ADS_3

Jauh berbeda dengan suasana di pondok, di rumah orang tua Aulia, keadaan di sana terlihat baik-baik saja. Semenjak kekalahan Nang, kondisi Aulia dan ibunya terlihat lebih baik.


Gerak-gerik Nang juga tak terlihat di sana. Sepertinya, saat ini, dia bersama sekutunya, benar-benar hengkang. Semoga saja, gangguan dari mereka bisa terhenti sementara.


Kembali ke pondok, Bayu akhirnya bisa pulih dari serangan jin yang untungnya hanya datang untuk menyampaikan pesan Jaka. Tak bermaksud untuk tinggal dan mengganggu jiwa Bayu.


"Kyai, hari sudah menjelang subuh, saya ingin pamit, mau siap-siap, salat subuh," ucap Bayu.


""Silahkan. Setelah itu, kamu boleh istirahat lagi. Biar kondisimu, makin baik."


Bayu mengangguk, mendengar wejangan kyai Sarwa. Badannya memang masih terasa letih dan kurang nyaman.


"Saya, juga ikut pamit, Kyai."


Ustad Amir pun ikut juga pamit. Sama seperti Bayu, kyai Sarwa juga memberi pesan yang sama.


Setelah kepergian mereka, Madi membereskan semua peralatan minum dan membawanya ke dapur. Sebentar lagi azan subuh akan bergema, dia harus bergegas, agar tak ketinggalan salat subuh berjamaah.


Di salah satu tempat yang terlindung, Jaka terlihat sedang berhadapan dengan Nenek bungkuk. Mereka berdua terlibat dalam perbincangan serius. Tak jauh dari sana, cucu nenek bungkuk, duduk, dengan tangan yang masih terbungkus kain. Tangannya masih terkilir akibat pilinan Madi tadi malam.


"Nyai, strategi apa lagi yang akan kita lakukan? Sampai sekarang, belum ada satu pun yang menemui titik keberhasilan."


Jaka, memandang nenek bungkuk dengan tajam. Ada perasaan kesal yang berkecamuk karena belum berhasil menggulingkan kyai Sarwa.


"Tenanglah, Jaka! Pelan-pelan. Kita tetap mengirim makhluk- makhuk astral itu ke pondok, mengganggu para santri."


"Iya, Nyai. Tapi, kalau bisa, kita kirim makhlum-makhluk yang bisa membuat para santri itu ketakutan dan tak betah tinggal di pondok!"


"Semua bisa diatur, Jaka. Asalkan, kau tetap tunduk dengan perjanjian itu"

__ADS_1


Jaka mengangguk. Sudah terlanjur basah. Dia tak mau menyerah di tengah jalan. Apa pun caranya, dia harus bisa menyingkirkan kyai Sarwa. Meski pun untuk itu, dia harus rela bersekutu dengan iblis, makhluk-makhluk tak sat mata itu.


"Bagus, Jaka. Sekarang, kita biarkan saja mereka dulu. Ketika lengah, kita pergunakan lagi makhluk-makhluk astral itu untuk menimbulkan kegaduhan di antara para santri.


Seperti yang telah direncanakan Jaka dan nenek bungkuk, pondok dibiarkan tenang untuk sementara waktu. Tak ada pergerakan dari makhluk-makhluk astral, sekutu mereka.


Madi dan kyai Sarwa, merasakan hal ini sebagai peringatan. Mereka harus tetap siaga, karena setiap saat musuh akan datang, menyerang ketika sedang lengah.


"Kyai, hari ini, sepertinya Jaka tak bergerak. Tak terlihat pergerakan mereka hari ini."


"Iya, Madi. Kita harus tetal waspada, meski ndak tanda-tanda kehadiran mereka."


Madi mengangguk. Tubuhnya sangat letih. Pertarungan melawan Nang dan sekutunya, menguras energinya.


"Kyai, makhluk yang terperangkap dalam lukisan ith, apa dibiarkan saja di sana?"


Madi bertanya, sambil mengingatkan kyai Sarwa, bahwa masih ada beberapa makhluk suruhan Jaka, yang masih ada dalam lukisan.


"Baik, Kyai. Mungkin, dari makhluk-makhluk itu, kita bisa tau, apa saja rencana mereka."


Kyai Sarwa mengangguk, setuju dengan ucapan Madi. Pasti ada tujuan tertentu, kenapa Jaka membiarkan pondok tanpa gangguan.


Di rumah Madi, orang-orang kembali heboh, melihat ada satu korban yang jatuh. Lagi-lagi seorang wanita hamil muda. Sungguh keji, perbuatan orang-orang yang telah bersekutu dengan penghuni pohon tua itu, demi kenikmatan sesaat. Memiliki kekayaan secara cepat.


Madi, diberitahu salah seorang tetangganya, Salu, yang rumahnya kurang lebih 200 meter dari rumah Madi.


'Assalammualaikum, Madi. Apa khabarmu, kok lama nggak kelihatan?' terdengar suara Salu dari seberang, pagi ini. Suaranya terdengar agak bergetar, mungkin dia merasa khawatir dengan jatuhnya korban lagi.


'Waalaimumsalam. Alhamdulillah, baik, Salu. Aku lagi di pondok, sekarang. Aulia sementara kutitipkan di rumah orang tuanya.'

__ADS_1


'Di depan rumahmu, dekat pohon tua itu, ditemukan lagi ini, mayat perempuan, lagi hamil, Madi. Persis, seperti penemuan mayat wanita beberapa waktu lalu."


Madi, terdiam sejenak, mendengar ucapan Salu. Kekhawatiran Salu mungkin ada benarnya. Dengan ditemukannya lagi korban, berarti tak menutup kemungkinan, akan ada lagi korban-korban selanjutnya.


'Jadi, bagaimana sekanjutnya, Salu? Apa orang-orang di sana masih suka datang ke pohon tua itu, meletakkan sesajen?"


'Kalo itu masih, Madi. Bukan hanya warga kita saja, tapi, juga orang-orang dari luar. Sepertinya mereka yakin, kalo penghuni pohon tua itu bisa memberikan mereka banyak kekayaan."


Madi menghela napas panjang. Miris, saat mendengar ucapan Salu. Kalau saja, tak ada yang datang memberi sesajen pada makhluk-makhluk itu, tentu saja tak ada korban yang jatuh.


'Sebaiknya, kalian mesti hati-hati, Salu! Jangan sampai tergoda melakukan perbuatan yang akan membahayakan diri kalian sendiri!'


'Iya, Madi. Terima kasih. Nanti, aku khabari lagi, kalo ada perkembangan selanjutnya. Aku mendengar, kemarahan beberapa warga yang ingin menebang pohon tua itu.'


Salu pun mengakhiri pembicaraan lewat telephon. Khabar yang cukup mengagetkan, karena penghuni pohon tua itu masih saja terus beraksi. Apalagi ada rencana, warga untuk mencoba menebang kembali pohon tua itu.


Untuk orang awam, tak akan mudah untuk menebang pohon tua itu. Dahulu, sudah beberapa kali, telah dicoba, tapi, jangankan tumbang, malah orang-orang yang berniat menebang pohon itu, tiba-tiba jatuh sakit.


Mungkin, nanti, ketika selesai permasalahan di pondok, Madi bisa pulang, dan membantu warga di sana, mengusir penghuni pohon tua itu, agar tak lagi mengganggu.


"Kenapa, Madi? Apa ada sesuatu yang terjadi?" tiba-tiba, kyai Sarwa telah berada di samping Madi. Sebuah senyum diberikan Madi, menyambut kehadiran pondok pesantren itu.


"Benar, Kyai. Di depan rumah Madi, pagi ini ditemukan lagi korban tumbal. Seorang perempuan yang sedang hamil muda!"


"Hm .... Sungguh, tak bisa ditolerir lagi tindakan mereka itu, Madi!"


Ada nada geram dari ucapan kyai Sarwa. Perbuatan pesugihan yang menumbalkan nyawa orang lain demi kenikmatan sesaat, sangat ditentangnya selama ini.


"Saat ini, kita tak bisa berbuat banyak, Madi. Pertebal saja, garis gaib, di sekitar rumahmu, agar tak dijadikan sarang oleh mereka!"

__ADS_1


Madi mengangguk. Untuk saat ini, saran kyai Sarwa tadi, adalah yang terbaik. Madi, belum bisa pulang, karena masih harus menolong kyai Sarwa menghadapi Jaka, yang rela bersekutu dengan jin, sekutunya.


__ADS_2