
Perempuan jelmaan jin itu masih berdiri di depan mobil. Sementara guncangan yang dirasakan Madi dalam mobil bertambah kencang. Seringai jin perempuan itu terlihat lebar dan menjijikkan. Dia merasa mendapat bantuan untuk menghadang Madi. Madi terus mencoba berkonsentrasi mengadakan perlawanan agar tidak terguling.
Sebuah bisikan kembali terdengar di telinganya, agar terus membaca doa dan beristifghar. Kemudain menuntun Madi juga, mengarahkan serangan kepada penyerang gelap yang hampir melumpuhkannya barusan.
Dada Madi berdebar kencang, mencoba menekan adrenalin yang menumbuhkan ketakutan. Dia harus bisa bersikap tenang. Beruntung, perlahan dia bisa menguasai keadaan. Guncangan itu juga tidak lagi terasa. Bahkan Madi sudah bisa menguasai keadaan dan merasakan kalau kehadiran seseorang telah membantunya melewati hadangan ini.
Memang sosok Kyai Sarwa, cukup terkenal di antara makhluk-makhluk astral dan dedemit di sekitaran pondok pesantren. Makhluk-makhluk itu biasanya akan menyingkir jika bertemu beliau. Termasuk jin perempuan dan orang yang mengguncangkan mobil tadi.
Perlahan mereka mulai menyingkir, menghilang dari pandangan Madi. Hanya satu sosok yang masih terlihat oleh Madi saat sudah berhasil memajukan mobil. Iya, nenek bungkuk itu, terlihat mengawasinya dengan sangat tajam. Seperti menganggap kalau ia adalah musuh yang sangat menakutkan dan
harus dibinasakan.
Tanpa memperdulikan pandangannya, Madi terus mengemudikan mobil hingga tiba di gerbang pondok. Madi bersyukur, tatkala mencapai gerbang, aura positif segera menyelubunginya. Pagar gaib yang selalu dipasang Kyai Sarwa membentenginya dari pengaruh negatif nenek bungkuk dan pengikutnya. Memang jarak dari pintu gerbang hingga padepokan masih sekitar 500 meteran lagi. Namun, biasanya tidak ada makhluk astral yang bisa melalui pagar gaib yang telah dipasang kyai Sarwa.
Setelah melewati gerbang, akhlirnya Madi tiba di padepokan. Di sebuah rumah yang cukup terpisah dari beberapa bangunan lain, Madi
menghentikan mobilnya. Ya itu adalah kediaman Kyai Sarwa.
“Assalammualaikum ….” Madi mulai mengucapkan salam. Sebentar lagi mabrib akan tiba.
“Waalaikumsalam ….” Kyai Sarwa menjawab sembari membuka pintu.
“Alhamdulillah, Madi, sampe juga di pondok dengan selamat,” terdengar lagi Kyai Sarwa berbicara.
“Alhamdulillah, Kyai,” sahut Madi penuh syukur.
Kemudian, kyai tersebut memerintahkan
__ADS_1
Madi untuk membersihkan diri karena azan magrib akan berkumandang. Mereka biasanya salat magrib berjamaah di musholla.
Madi juga tidak lagi berkata apa-apa, langsung masuk ke dalam kamar mandi, membersihkan diri dan mengambil wudhu. Sejak kematian isteri beberapa tahun yang lalu, kyai hidup sendiri, karena dua puterinya telah berumah tangga, dan tidak tinggal di pondok.
Sepanjang menuju mushola, Kyai Sarwa dan Madi hanya berbincang sekadarnya. Mungkin karena waktu salat Magrib sudah sempit, jadi Kyai Sarwa hanya ingin fokus memimpin salat magrib.
Dalam mushola sudah banyak anak santri berada di sana. Semuanya siap melaksanakan kewajiban pada magrib ini.
Setelah Kyai dan Madi duduk, seorang santri berjalan ke sisi mushala, membunyikan bedug pertanda magrib sudah tiba. Setelah itu disambung dengan kumandang azan dari santri lain yang bertugas magrib ini. Usai azan berkumandang, Kyai Sarwa lantas
mengambil posisi di depan, sebagai imam, memimpin salat berjamaah.
Selama melaksanakan salat magrib, semua santri terlihat begitu khusyuk. Semua sudah terbiasa untuk melaksanakan salat dengan khusyuk. Tidak terlihat ada yang bermain-main. Bahkan setelah salat pun mereka dengan tertib meninggalkan mushala setelah menyalami Kyai Sarwa satu persatu.
Senyum tidak pernah lepas dari wajah Kyai Sarwa yang tetap cerah, meski usia tua telah menggerogoti hari-harinya.
“Iya, Madi. Kita istirahat di sini saja, sambil menunggu salat isya.” Madi mengangguk mendengar ucapan Kyai Sarwa. Sama seperti dulu, sewaktu Madi pernah nyantri dulu di sini, Kyai Sarwa memang biasa mengajaknya
mengobrol di musala sabil menunggu salat isya. Terkadang, bukan hanya Madi tapi
juga banyak santri lain yang memanfaatkan waktu itu untuk sekadar bertukaran
pikiran atau bertanya tentang banyak hal.
“Kyai, sebenarnya ada yang ingin Madi tanyakan, mungkin saat ini adalah waktu terbaik, karena adik-adik santri lain memiliki kegiatan masing-masing.
Kyai Sarwa hanya terdiam, kemudian mengangguk. Matanya yang teduh menatap Madi sendu. Seperti ada yang dipendamnya. Ada apa gerangan? Hal apa yang bisa membuat pikiran gurunya itu menjadi resah begitu.
__ADS_1
“Iya, tanyakan saja. Nanti kalau waktunya tak cukup, bisa dilanjutkan setelah salat isya.” Suasana hati Madi kian berani, bersemangat
mendengar persetujuan sang kyai.
“Begini, Kyai. Rumah yang kami tempati saat ini, terkenal sangat angker. Belum lagi di dekat rumah kami itu, ada sebuah pohon tua dengan berbagai macam penunggu yang sering mengganggu.”
Madi berhenti sejenak, menenangkan detak jantung yang turut berdetak kencang, seiring penjelasannya pada kyai. Mengambil napas panjang dan menghembuskannya perkahan-lahan dari bibirnya.
“Penunggunya banyak sekali, Kyai. Ada kuntilanak bertaring panjang, sepasang kakek dan nenek tua berwajah menyeramkan, makhluk seperti genderuwo dan yang lainnya. Bukan hanya lenampakan mereja saja yang seram, tapi,di i samping itu mereka sering muncul dan mengganggu kami. Bukan hanya itu saja, ternyata ada sosok misterius yang sering menyerang Madi.”
Kyai Sarwa memandang tajam ke arah Madi. Sepertinya Kyai itu telah menduga ada sesuatu yang tidak beres dengan kedatangan bekas santrinya ini.
“Jadi, apa yang bisa Kyai bantu, Madi?”
Madi, hanya memandang wajah Kyai tersebut, tanpa berkedip. Tidak tahu harus berbuat apa. Dia ingin sekali meminta pertolongan
kyai Sarwa, tapi apa kyai bisa memahami keadaannya saat ini. Jadi, untuk sesaat,
Madi hanya termenung, terdiam tanpa tahu apa yang akan dilakukan.
Sebenarnya, ia ingin sekali meminta agar diajarkan kembali beberapa hijib berupa amalan yang bisa mengusir keberadaan makhluk penghuni pohon tua itu. Namun, ada sedikit keraguan, karena takut permintaannya akan ditolak, tak dikabulkan oleh kyai Sarwa.
Dia pun mengolah pikirannya agar bisa mendapatkan cara untuk bisa diberikan analan tersebut. Saat Madi ingin menggali kembali segala kemungkinan, agar kyai Sarwa bersedia mengajarkan beberapa cara secara islami untuk bisa mengusir dan mengendalikan makhluk tersebut, azan Isya telah berkumandang.
Madi akhirnya , menghentikan konsultasinya untuk sementara waktu, tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Kyai Sarwa tidak akan pernah mau menunda salat. Mau tidak mau, Madi menurut saja, melanjutkan perbincangan yang terputus ini, nanti setelah melaksanakkan salat isya.
Madi lalu bergegas menuju tempat mengambil wudhu di sebelah mushala. Tadi, dia sempat merasa ragu apa wudhunya telah batal atau tidak. Sehingga Madi memutuskan untuk mengambil wudhu kembali. Toh, tidak ada salahnya. Malah bagus, jadi tidak menimbulkan was-was lagi.
__ADS_1