
Madi juga ikut cemas melihat kondisi Silo. Ingin membantu, tapi ia sendiri sedang berhadapan dengan Nang, cucu nenek bungkuk. Salah satunya jalan adalah mencoba bergeser, lebih dekat kepada Silo. Sehingga, dia bisa mencegah serangan Jaka yang lebih fatal.
"Mau lari ke mana, Kau, Madi!" seru Nang merasa Madi sedikit bergeser, mengjhndari pukulannya.
"Aku masih di sini, Nang. Tak usah takut. Aku tak kan lari!" jawab Madi terus bergerak mendekati Silo.
Sementara Silo sendiri sudah tak bisa bergerak, pasrah, ketika Jaka mendekat, hendak mendaratkan satu pukulan telak .
"Desh ... brak ...!" Pukulan Jaka beradu dengan pukulan Madi. Sesaat, Jaka terkejut, tak menduga bakal ada yang menyelamatkan Silo.
Melihat Jaka sedikit surut langkahnya, Madi segera mendekat Silo, menghantam kuntilanak yang menahan dan membebani tubuh Silo.
Hijib yang dilepaskan Madi sekali ini benar-benar membuat makhluk yang terkenal sengan tawa melengkingnya segera menghindar. Rasa panas yang ditimbulkan dari hijib Madi, memaksa mereka untuk berlari, menjauh Silo.
"Gimana kondisimu, Silo?" Madi, bertanya sebenarnya ingin lebih dekat dengan Silo. Namun, satu pukulan telah dilepaskan Nang. Terpaksa, dia, harus menangkis pukulan Nang terlebih dahulu.
"Rasakan pukulanku ini Madi!" teriak Nang. Dia bernafsu sekali mengalahkan Madi. Dendam membara membuatknya kalap.
"Sabar, Nang!" ijar Madi mencoba mengulur waktu. Dia melihat Silo masih lemas, terkena serbuan kuntilanak tadi.
"He ... he .... Aku sudah tak sabar melihatmu terkapar, Madi. Sudah cukup lama dendam ini kusimpan!"
Madi hanya tersenyum, tak mau menanggapi lagi perkaraan Nang. Dia sedang sibuk menyiapkan beberapa pukulan, mengantisilasi seranfan Nang dan mungkin juga Jaka.
"Krash ....!" Pukulan Madi dan Nang beradu lagi. Tenaga dalam yang mereka miliki sepertinya seimbang. Hanya saja, Nang sedikit bergeser dari tempatnya berdiri, sementara Madi , tak bergerak sedikit pun.
"Hebat juga tenaga dalammu, Madi! Ternyata kemajuanmu cukup pesat," ucap Jaka. Ternyata dia mengamati pertarungan Nang dan Madi.
"Ilmuku masih sama seperti dulu, Jaka. Ke mana saja, Kau. Setelah puas membuat onar, baru sekarang berani muncul!"
__ADS_1
Jaka terkekeh mendengar ucapan Madi. Tak sedikit pun dia terlihat jengkel atau kesal. Benar-benar sudah tertutup mata hatinya.
"He ... he .... Hari ini, terimalah oembalasanku, Madi. Sudah lama juga, aku menyimpan rasa sakut hati ini."
Untuk sesaat, Madi tertegun mendengar kata-kata Jaka barusan. Ternyata selama ini, dia sakit hativpada dirinya. Sakit hati karena apa, tapi? Selama ini, Madi merasa tak berbuat salah pada Jaka.
"Kenapa Kau sakit hati padaku?" tanya Madi, penasaran.
"Aku sakit hati, karena kyai Sarwa lebih memilih memberikan ilmunya padamu dari padaku?" Jaka mulai sedikit demi sedikit membuka penyebab dia menaruh dendam pada Madi.
"Bukankah, Kau juga mendapatkan ilmu yang sama, Jaka. Menjadi salah satu wakil kyai Sarwa." Madi mencoba membuka mata hati Jaka, menyadari bahwa tak sepatutnya dia menaruh rasa iri pada dirinya.
Jaka tak menggubris lagi ucapan Madi, sebuah pukulan diarahkan pada Madi. Nang yang melihat ada peluang untuk menjatuhkan Madi, ikut menyerang. Meski keputusan untuk menyelamatkan Silo, berdampak pada keselamatannya, Madi tak gentar, merasa masih bisa mengatasi serangan mereka berdua.
"Wish ...." Sambaran pukulan Jaka mengancam baguan wajah Madi. Sigap, Madi menangkis dan membalas memukul ke baguan dada Jaka. Nang juga kembali melepaskan pukulan. Ksli ini nengarah ke kepala Madi. Bersyukur, Silo, sudah mulai pulih, dan segera membantu Madi.
"Maaf, Di, 5adi aku lengah. Konsentrasiku, buyar," kata Silo, menangkus sebuah pukulan Nang.
Silo mengangguk. Rangannya sibuk menahan pukulan Nang atau Jaka. Semetara, kuntilanak yang tadi nenolong Jaka, sudah nenghilang, digantikan makhluk tak kasat mata yang lain.
Pundak Silo menang masih terasa sedikitbpegal, efek dari kuntilanak tadi. Namun, tanpa disadarinya satu sosok makhluk astral jahil menyerupai anak kecik, kini menduduki pundaknya.
Silo melancarkan sebuah serangan ke arah Jaka, cepat dan terukur. Gangguan dari makhluk gaib itu tak dihiraukannya. Dia tetap saja berzikir, membaca ayat-ayat untuk melindungi dirinya.
"Masih bisa melawan rupanya, Kau?" ejek Jaka, menangkis pukulan Silo.
Silo melengos, tak mengacuhkan ejekan Jaka. Sebuah hijib coba ia arabjan pada makhluk berwujud bocah yang menduduki pundaknya . Neleset, makhluk ini ternyata punya jekuatan kistus kumayan besar.
Makhluk itu hanya merasakan hawa panas sesaat, setelah itu kembali beraksi, menduduki pundak Silo. Benar-benar makhluk jahat dan usil Dia tertawa-tawa, mempermainkankan kepala Silo, sambil duduk di pundaknya.
__ADS_1
Madi jadi gregetan meli**hat ulah makhluk itu. Sebuah hijib miliknya dilepaskan, mengarah pada makhluk itu.
"He ... he ..., tak kena ... tak kena ..." Makhluk itu terus saja rertawa, mengejek.
Madi jadi bertambah gemas. Setelah hijib pertama berhasil dielakkan makhluk dari dimensi lain itu, sebuah hijib lagi dilepaskannya Kali ini harus kena, kalo tidak, Silo akan semakin sulit bertahan.
Makhluk berwujud bocah itu, menyadari hikib yang diarahkan Madi padanya bukanlah hijb sembarangan. Kalo tak menghindar, dia tak akan bisa bertahan di pundak Silo lagi. Itu berarti dia pun harus hengkang tak lagi bisa membantu tuannya.
Jaka yang mengetahui bahaya yang mengancam salah satu sekutunya itu, segera menghadang dan menepis serangan Madi. Dua kekuatan kembali beradu. Jaka dan Madi, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan dalam menguasai pukulan kanuragan yang diturunkan kyai Sarwa.
"Tak kan kubiarkan, kau mengusir sekutu-sekutuku, Madi!" Jaka menghardik Madi cukup keras.
"Tak seharusnya kau bersekutu dengan mereka, Jaka! Lihat, sekarang dirimu. Sudah menjadi sekutu iblis."
Jaka hanya tertawa, setengah mengejek, tak menggubris ucapan Madi. Hatinya sudah menghitam, menutup nurani untuk membuka diri.
"Itu urusanku, Madi. Tak perlu ikut campur!"
Bersamaan dengan itu, dia dan Nang menyerang Madi. Bersinergi, membuat Madi kerepotan, menghadapi dua orang yang sama-sama menaruh dendam pada dirinya.
Sementara Silo masih saja terbelenggu dengan pengaruh makhluk tak kasat mata, mirip dengan bocah kecil itu. Entah apa yang terjadi dengan Silo.
Serangan Jaka lagi-lagi hampir mengenai wajah Madi. Benar-benar berbahaya si Jaka ini. Pantas saja, Silo menjadi bulan-bulanan Jaka tadi.
"Ha ... ha ..., bagaimana, Madi. Pukulan tadi belum seberapa. Coba lihat seranganku berikut ini!!"
Kembali sebuah serangan diberikan Jaka. Lebih cepat, kuat dan sangat berbahaya. Madi sedikit terkejut, tapi, dia kembali sigap, tak ingin terkena pukulan Jaka.
"Ciat ... brak ...!"
__ADS_1
Pukulan mereka kembali beradu. Jaka dan Madi sama-sama mundur. Kekuatan tenaga dalam mereka rupanya imbang.
Sebelum Jaka kembali menyerang, Madi menyerbu Jaka dengan cepat, mencoba membuat konsentrasi mantan murid kyai Sarwa itu buyar. Mengalihkan perhatiannya dari Silo.