
Keesokan hari, ketika fajar menyingsing, Aulia dan Madi sudah sibuk menpersiapkan diri. Pagi ini, mereka memiliki rencana untuk membersihkan kios yang sudah cukup lama ditinggalkan. Hampir satu bulan lebih, kios itu dibiarkan kosong.
"Kang, sarapan dulu, yuk. ini, Adek sudah masak nasi gurih, kesukaan Akang."
Madi tersenyum,, mendekat ke arah ruang makan, setelah mendengar panggilan Aulia.
"Pantas wangi sekali, ternyata, adik masak nasi gurih kesenangan Akang."
Mendengar ucapan Madi, senyum Àulia semakin mengembang. Terkadang, candaan Madi mampu membuatnya tersipu.
"Ah, Akang ini. Sukanya menggoda, Adik saja. Ayuk dimakan sekarang. Nanti, keburu dingin lho."
Madi tak lagi menggoda isterinya itu, dan mulai menyuap sesendok demi sesendok nasi gurih beserta lauk pauknya. Benar-benar nikmat sarapan nasi gurih buatan isterinya itu.
Menjelang pukul 8 pagi, mereka berdua bersiap menuju kios. Cuaca hari ini sangat cerah. Tak ada awan hitam bergelantungan. Suasana di sekitar pohon tua pun tampak lengang. Penduduk hanya lalu lalang tapi tak berani menepi. Paling hanya orang-orang yang ingin meletakkan sesajen dan melakukan ritual saja yang berani mendekati tempat itu.
"Kang, coba lihat itu. Ternyata masih ada saja orang yang meletakkan sesajen di sana," tunjuk Aulia mengarah ke arah pohon tua itu.
"Benar, Dek. Akang juga heran. Kenapa, masih ada saja orang yang mau bersekutu dengan iblis," sahut Madi tak habis pikir dengan pikiran sesat mereka.
"Semoga saja, mereka pada cepat sadar, Kang," harap Aulia. Dia juga ingin agar keadaan di sekitar rumah mereka tetap dalam keadaan aman dan bersih dari gangguan makhluk-makhluk astral tersebut.
"Amin ..., semoga, Dik. Sekarang, kita konsentrasi saja pada perjalanan," tukas Madi, tersenyum.
Aulia mengangguk, merasa sependapat dengan Madi, suaminya. Suasana di sepanjang perjalanan menuju pasar, terasa ramai. Apalagi setelah memasuki pasar. Beberapa orang pedagang dan kuli angkut yang biasa menolong mereka tampak mulai menyapa.
"Sudah mulai buka, Di?" tanya salah seorang kuli angkut langganan Madi.
__ADS_1
"Besok, Kang. Hari ini, saya beres-beres dulu," jawab Madi seraya pamit masuk ke dalam lingkungan pasar.
Di tempat Madi berjualan pun, banyak yang menanyakan khabarnya. Maklum saja, Madi sudah cukup lama tak berjualan.
"Gimana khabarmu, Di? Sudah lama lho, kalian ndak jualan?" tanya Bu Paria, salah seorang tetangga kiosnya.
"Alhamdulillah, baik, Bu. Iya, mudah-mudahan besok sudah bisa jualan lagi," sahut Madi, tersenyum kecil.
"Syukurlah. Sepertinya istrimu juga dalam keadaan baik-baik saja," lanjut perempuan bersia separuh baya itu.
Aulia mengangguk ke arah bu Paria dan melemparkan sebuah senyum. Dibalas pula dengan sebuah anggukan dan senyuman oleh wanita itu. Setelah berbasa-basi sebentar, Madi dan Aulia melanjutkan pekerjaan mereka membersihkan kiod yang terlihat kotir dan berdebu.
"Kang, sebaiknya Akang menghubungi orang-orang yang biasa mengoper sayur untuk kita. Jadi, brsok kita sudah bisa jualan lagi." Madi mengangguk. Setuju dengan saran isterinya itu.
Memang benar, apa yang dikatakannya. Kalau tidak segera memesan, besok mereka gak kebagian sayuran untuk dijual. Sesaat kemudian, Madi pun sibuk menghubungi beberapa pedagang besar yang biasa menjual sayuran kepada mereka.
Usai menelphon, Madi lalu membantu Aulia menyapu dan mengepel lantai kios. Situasi kios, kini berubah menjadi lebih bersih dan cerah. Tak ada lagi aroma pengap dan kotor. Sarang laba-laba yang tadi banyak menghiasi perlahan sudah mulai dibersihkan.
"Dik, istirahat saja dulu, kalo capek. Kasihan kandunganmu!" saran Madi ketika melihat cucuran keringat menetes dari dahi Aulia.
"Iya, Kang. Ini juga sudah mau istirahat," sahut Aulia, mengambil sebuah kursi dan mulai duduk. Segelas air putih segera ditenggaknya. Rasa dahaga yang tadi sempat menghampiri perlahan mulai hilang.
"Akang tadi sudah hubungi beberapa pemasok yang sering ngoper sayur buat kita. Besok, mereka bersedia menyisihkan sayuran untuk kios kita."
"Alhamdulillah, Kang. Berarti, brsok kita sudah bisa jualan kayak dulu lagi."
Madi tersenyum melihat Aulia tertawa bahagia. Mungkin, isterinya ini sudah terlalu jenuh di rumah saja. Apalagi, semenjak kepergian Madi ke prsantren, praktis dia hanya berada di rumah orang tuanya saja.
__ADS_1
"Iya ... tapi, Adik juga tak boleh terlalu capek. Harus banyak istirahat. Nanti kandunganmu kenapa-kenapa lagi!"
"Adik, janji Kang, pasti akan cukup istirahat. Lagi pula kan ada Akang. Jadi, pastilah Adik bakalan nggak terlalu capek."
Mendengar ucapan isterinya itu, senyum Madi semakin bertambah lebar. Saat ini, dia hanya ingin fokus untuk krmbali berjualan. Sementara Madi fan Aulia dilingkupi kegembiraan karena mulai besok sudah bisa berjualan lagi. Di sekitar kios mereka, terdapat sepasang mata tajam menperhatikan gerak-gerak mereka.
Tampak sekali pemilik mata tajam itu kurang suka dengan kehadiran suami isteri itu kembali ke pasar. Namun, Madi tak menggubris sama sekali. Saat ini, dia hanya ingin menikmati kebahagiaan bersama isterinya Aulia.
"Kang, ayo, makan dulu! Dari tadi sibuk beberes terus,"
Mendengar ajakan Aulia, Madi menuju isterinya yang telah selesai menyuguhkan bekal yang tadi mereka. Nasi dengan lauk sederhana. Tanpa menunda, Madi mengambil sepiring nasi beserta lauk pauknya itu dan mulai menyuapnya perlahan.
Kedua suami isteri itu tampak dengan lahap menyantap habis hidangan itu. Jam memang sudah menunjukkan pukul setengah dua belas siang. Pantas saja perut mereka berdua terasa lapar.
"Kang, kita pulang sekarang?" tanya Aulia, seraya membereskan peralatan makan mereka tadi.
"Iya, Dik. Kita pulang saja sekarang. Lagi pula sebentar lagi azan lohor. Banyak pedagang lain yang juga sudah pulang."
Mendengar jawaban suaminya, Aulia pun semakin bergegas merapikan semua peralatan dan memasukkannya ke dalam keranjang. Sementara Madi, menutup daan mengunci kios dagangan mereka.
"Bu, Kami duluan," pamit suami isteri itu pada bu Paria.
"Iya ... iya ... Ini juga, udah mau pulang juga," jawabnya ramah. Pasar tempat Madi berjualan memang terkenal ramai hanya pada siang hingga menjelang tengah hari saja.
Usai berpamitan, Madi dan Aulia melenggang menuju areal parkir. Sebelum menuju kendaraan mereka yang sedang di parkir, Madi meminta beberapa orang yang biasa mengangkat sayuran untuk dibawa ke kios esok hari.
Wajah mereka berseri. Akhirnya, Madi kembali berjualan. Itu berarti pemasukan mereka bertambah dan itu berarti dapur mereka pun semakin bisa mengepul. Madi dan Aulia lalu meninggalkan pasar, sementara sepasang mata tajam itu kembali memperhatikan.
__ADS_1