
Setelah selesai menyantap hidangan sebagai persiapan energi saat menghadapi makhluk astral itu, Madi dan kyai Sarwa duduk sebentar, melepas ketegangan. Kemudian, Madi berinisiatif, membuat dua gelas kopi jahe kesukaan kyai Sarwa, menyodorkannya pada kyai Sarwa.
Kyai Sarwa tersenyum kecil saat menerima segelas kopi jahe tersebut. Menyeruputnya perlahan, karena masih panas. Semoga saja, malam ini, persiapan mereka cukup, sehingga bisa mengatasi serangan semua makhluk tak kasat mata itu.
“Madi, kita segera habiskan kopi jahe ini. Nanti, keburu Bayu, Ustad Amir dan yang lainnya tiba di aula!”. Suara kyai Sarwa tiba-tiba saja memecah kesunyian yang tercipta sejenak.
“Baik, Kyai. Ini, juga, kopinya sudah mau habis!” Madi menjawab perkataan kyai Sarwa sembari meletakkan gelas yang sudah kosong. Kyai Sarwa ternyata juga sudah menghabiskan isi gelasnya. Tanpa menunda lagi, Madi langsung membawa gelas-gelas itu ke dapur, meletakkannya dalam baskom. Saat ini, dia belum sempat mencucinya, karena harus segera kembali ke mushala.
“Ayo, cepat, Madi!” Mendengar perintah kyai Sarwa, Madi lantas setengah berlari meninggalkan dapur dan menemui kyai Sarwa di ruang tamu.
“Madi, sudah siap, Kyai!” sahut Madi sigap. Kyai Sarwa mengangguk dan melangkah terlebih dahulu ke luar rumah. Sepanjang jalan, mereka berdua, tak banyak berbicara, msing-masing sibuk berzikir, mempersiapkan diri menghadapi pertempuran nanti.
“Sebelum masuk aula, jangan lupa, ambil wudhu dulu, Madi! Jadi, nanti bisa lebih konsentrasi saat melawan penghuni pohon tua itu!” Lagi-lagi kyai Sarwa mengingatkan Madi. Madi mengangguk, pertanda mengerti maksud ucapan kyai tersebut.
Sementara di salah satu tempat yang terlindung, Jaka sedang bersiap-siap menyerang dengan beberapa makhluk astral. Sebuah senyuman misterius terlukis di wajahnya. Kelihatan, dia benar-benar sangat menikmati kekalutan yang kini melanda pondok.
Tampak bersama Jaka, kurang lebih lima atau enam makhluk tepung, dengan bentuk dan rupa bermacam-macam. Ada seperti jin, dengan tubuh tinggi hitam, bermata satu. Ada juga berbentuk wanita berwajah cantik, serta ada juga yang berbentuk menyerupai binatang. Semua, siap, membantu Jaka menyerang dan membuat keonaran di pondok.
Bukan hanya Jaka yang bersiap, ternyata para penghuni pohon tua itu juga sudah bergerombol di depan rumah Madi. Siap untuk mendobrak dan menghancurkan pagar gaib yang selama ini dipasang oleh Madi.
“Mari, kita, ambil wudhu dulu, Madi!” ucap kyai Sarwa sesaat mereka telah tiba di muka aula. Bayu dan teman-temannya ternyata belum datang. Demikian pula dengan ustad Amir. Mungkin, mereka masih dalam perjalanan, batin kyai Sarwa sambil masuk perlahan mengambil air wudhu.
__ADS_1
Setelah kyai Sarwa dan Madi selesai mengambil wudhu dan akan masuk ke dalam aula, di saat yang bersamaan tiba pula Bayu dan ustad Amir. Teman Bayu dan rekan ustad Amir pun juga telah datang.
Kyai Sarwa tersenyum dan memberi isyarat, agar mereka semua segera masuk ke dalam mushala. Masih ada beberapa hal yang masih perlu dipaparkan oleh kyai Sarwa.
Saat berada di dalam aula, kyai Sarwa, segera menyuruh semua yang ada di sana, Madi, Bayu bersama tiga orang temannya yang lain, dan ustad Amir bersama dua rekannya yang lain, duduk membentuk sebuah lingkaran. Ini dilakukan agar semua bisa saling berhubungan dan menjaga.
“Kyai, mungkin Madi, tak bisa membantu terlalu banyak, karena harus menghadapi makhluk penghuni pohon tua!” Madi membuka percakapan sebelum kyai Sarwa menerangkan apa yang harus mereka
lakukan. Saat ini, kyai Sarwa berharap agar mereka semua melakukan zikir dengan
khusuk dan konsentrasi sehingga tak akan mudah dipengaruhi makhluk-makhluk dari
dunia lain tersebut.
Perasaan hangat segera mengalir ke seluruh pembuluh darah di tubuh Madi. Itu berarti aliran hawa murni itu telah masuk ke dalam badan Madi.
“Bayu, Amir, dan yang lainnya, dimulai dari sekarang, terus berzikir, membaca amalan dan hijib yang pernah Kyai ajarkan!” Kyai Sarwa mulai memberikan aba-aba, memandu semua yang berada dalam aula malam ini membuat benteng pertahanan di pondok.
Belum lagi sempat memperhatikan petunjuk lebih jauh, Madi, melalui penglihatan mata bathinnya menyaksikan arwah perempuan hamil yang terbunuh karena dijadikan tumbal itu, telah berdiri di depan rumah, menghadang geromboloan makhluk penghuni tua itu.
“Kalian tak bisa masuk ke sini. Lebih baik kalian pulang saja kembali ke pohon tua itu!” Arwah itiu dengan berani membentak makhluk tersebut dengan berani, membuat para mahkluk itu tertawa panjang dan kencang. Mengerikan sekali.
__ADS_1
“Diam saja, kau! Sebentar lagi, nasibmu akan sama seperti perempuan-perempuan lain yang sudah dijadikan tumbal!” ejek makhluk cebol berwajah menyeramkan itu. Arwah itu hanya tersenyum, tak menganggapi ajakan makhluk cebol berwajah menyeramkan itu.
Melihat hal itu, semua makhluk yang berada di sekitar pohon tua itu, segera muncul, dan mencoba menyerang arwah yang dulu dijadikan tumbal itu.
Arwah itu pun berlari, melayang, menghindar dari kejaran makhluk cebol tersebut. Setelah merasakan sudah cukup mengulur waktu, karena tadi Madi harus salat isya, arwah itu pun kembali ke dalam rumah. Terhindar dari kejaran makhluk berbentuk cebol itu.
Madi yang melihat arwah itu telah masuk kembali ke dalam rumah, segera mendorong makhluk penghuni pohon tua berbentuk manusia cebol itu jauh-jauh. Rangkaian ucapan penuh rasa kesal dan jengkel, dikeluarkan Madi, ditujukan pada makhluk penghuni pohon tua itu.
“Sudahlah, Madi! Lebih baik, relakan saja rumahmu menjadi salah satu markas kami, selain pohon tua itu!” Suara dedemit perempuan yang menjadi pimpinan mereka, mulai melancarkan rayuan mautnya.
Madi menggeleng, sangat kuat. Tak mau diperbudak oleh mereka, membuat ia merelakan rumahnya menjadi sarang dan pusat kegiatan makhluk-makhluk menjijikkan seperti mereka. Madi pun fokus kembali untuk terus berzikir, memuja kebesaran Allah, serta melatih dan mengasah amalan-amalan yang telah diberikan kyai Sarwa.
Pimpinan gerombolan penghuni pohon tua itu terlihat, mulai mendekati jalan-jalan dekat rumah. Tampaknya mereka sudah tak sabar lagi ngin mendobrak pagar gaib. Meski telah berusaha beberapa kali, tapi, belum bisa juga
membukanya.
Sesaat Madi berhenti sebentar memperhatikan dengan seksama posisi semua makhluk penghuni pohon tua itu,
sebelum bersiap menerima serangan. Seringai kejam dan buas terus diperlihatkan
para penghuni pohon tua itu, berharap Madi gentar, dan segera menyerah.
__ADS_1
Namun, Madi tak mau menyerah begitu saja.Dia malah semakin memusatkan pikiran dan hatinya untuk mengusir makhluk tak kasat mata itu sesegera mungkin.