
Madi berulang kali berlatih amalan itu, agar semakin kuat dan mampu bertahan jika harus bertarung kembali tanpa pertolongan kyai Sarwa suatu waktu nanti. Sebenarnya sudah cukup banyak ilmu dan amalan yang sudah diajarkan kyai Sarwa. Semuanya melewati beberapa tahapan, termasuk melakukan puasa.
Bahkan ada salah satu amalannya yang bisa mengalahkan musuh hanya dengan menggunakan sebuah batu kerikil saja. Madi juga diajarkan karomah sebagai pertahanan diri, sehingga sewaktu diserang, penyerangnya akan terpental sendiri, karena berbenturan dengan karomah yang telah diamalkan.
Tidak terasa, hari sudah bertambah siang. Madi segera mengakhiri latihannya pagi ini. Kyai Sarwa belum juga pulang. Bergegas, Madi membereskan peralatan salat dan mencari kyai Sarwa. Tampaknya, kyai memberikan pelajaran lagi subuh ini jadi.
Setelah menutup pintu, Madi berjalan, menyusul kyai Sarwa menuju musala. Di tengah perjalanan, dia bertemu teman sewaktu mondok dulu. Ternyata, dia sudah menjadi salah satu staf pengajar di pesantren ini. Namanya, Jaka.
“Madi …!” serunya gembira, saat melihat Madi.
“Jaka kan?” seru Madi juga tak kalah riangnya. Sudah beberapa tahun ini, mereka tidak pernah bertemu, dan tidak ada khabar satu pun yang ia terima tentangnya.
“Iya, Aku Jaka. Si tukang jaga. Masa lupa!”
Madi tertawa ngakak mendengar seruan Jaka barusan. Jaka memang sering dapat tugas jaga, kalau mereka sering mendapat tugas merojaah, mengulang kembali hapalan-hapalan Al-Quran, yang harus mereka setor setiap harinya. Karena mereka sering mengantuk, ketika lagi menghapal.
“Apa khabarmu sekarang, Di? Aku dengar kau sudah jadi juragan sayur.”
Madi tersenyum mendengar ucapan teman seperjuangannya dulu, lalu menjawab pertanyaan Jaka.
“Juragan sayur kecil-kecilan,
Ka. Cukuplah untuk membiayai keluarga. Kau sendiri, sepertinya mengajar di
pesantren ini?”
Jaka juga tersenyum, menepuk
pundak Madi, seraya berkata. “Iya, Di. Kau sendirikan tau, kalau aku dari dulu
__ADS_1
memang ingin menjadi kyai.”
Madi tertawa kecil. Iya, sewaktu menempuh pendidikan di sini dulu, mereka sering bercakap-cakap tentang cita-cita, dan harapan masing-masing.
“Syukurlah, Ka. Kau sudah bisa mewujdkan cita-citamu.” Madi kemudian menepuk bahu Jaka, turut merasa senang dengan keberhasilan yang telah dicapai sahabatnya itu.
“iya, makasih, Di. Ngomong-ngomong, kau sendiri kenapa ada di pesantren. Apa ada sesuatu?”
Wajah Madi berubah keruh, lantas menceritakan persoalan yang tengah ia alami. Memberitahu Jaka segala sesuatunya tentang perbuatan nenek bungkuk dan cucunya, Nang.
“Aku turut prihatin, Di. Memang perbuatan mereka berdua kerap membuat resah orang-orang. Bukan hanya di sekitar pesantren saja, tapi, juga di tempat lain. Praktek pesugihan yang mereka ditawarkan selalu membuat banyak jiwa menjadi korban pesugihan.
Dijadikan tumbal agar kekayaan yang diperoleh tetap berlangsung.”
Madi mengangguk. Ternyata perbuatan nenek bungkuk itu sudah membuat banyak warga menjadi resah dan cemas. Apalagi, tumbal yang diambil bervariasi, mulai dari bayi sampai orang dewasa. Tua, muda semua bisa menjadi sasaran pesugihan ini.
“Makasih, Ka. Aku pamit duluan. Mau lihat-lihat, tempat di mana kita dulu sering berkumpul. Keliling-keliling pesantren.”
Madi tersenyum. Setelah mengucapkan salam, dia pun berlalu, menuju pelataran di belakang pesantren, di mana dia dulu sering duduk di sana. Menghapal seluruh pelajaran dan bacaan Al- Quran yang harus disetor setiap hari.
Suasana di sana tidak berubah. Pemandangan yang bisa dinikmati pun tidak berubah. Desa yang terletak di bawah pesantren, masih seperti dulu. Jika,
tidak berkabut, bisa dilihat dengan jelas.
Selagi asyik memandang pesona
pemandangan di hadapannya, sebuah pesan masuk ke dalam gawainya. Cepat, Madi
membuka, takut ada sesuatu yang menimpa keluarga yang ditinggalkan.
__ADS_1
“Kang, gimana di sana? Akang baik-baik aja kan?” begitu pesan yang terketik di sana.
“Alhamdullillah. Akang, baik-baik saja di sini. Jangan lupa, pesan Akang!” Madi juga segera membalas pesan yang dikirim Aulia.
Sementara itu, jauh dari tempat Madi duduk, terlihat sepasang mata memperhatikan, menatapnya dengan penuh dendam. Bukan, Nang, cucu nenek bungkuk. Namun,seseorang yang sepertinya merasa iri dengan kedekatan Madi dengan kyai Sarwa. Madi, tidak mengetahuinya selama ini.
“Tunggu saja, Madi! Aku akan
membuatmu menyesal datang kembali ke pesantren ini,” desisnya dengan nada
kemarahan.
Madi yang sedang asyik berkirim pesan dengan Aulia, segera tersentak. Kaget, karena indera keenamnya mengatakan kalau seseorang tengah memandangnya dengan penuh dendam dan amarah. Ketika ingin memalingkan wajah menuju arah sosok yang tengah memandanginya, sosok itu telah menghilang.
‘Siapa dia? Mau apa dia sebenarnya? Kenapa dia menatapku dengan penuh kebencian?’ batin Madi, penasaran.
Sementara percakapan dengan Aulia melalui pesan baru saja berakhir. Diliputi perasaan ingin tahu yang cukup besar, dia lalu mendatangi tempat, di mana sosok itu menatapnya tadi. Letaknya cukup jauh dari tempat dia duduk. Ada sebuah bangunan kecil, yang jarang didatangi, karena tempat itu, sebuah gudang untuk meletakkan
barang-barang yang sudah tidak terpakai lagi.
Sambil menmbaca beberapa doa, Madi memeriksa tempat itu. Namun, sepertinya tidak ada sesuatu di sana. Sosok tadi tidak asing baginya. Seperti sudah sering berinteraksi dengan dirinya dulu, ketika masih sama—sama belajar di sini.
Merasa tidak mendapat apa-apa, Madi lantas meninggalkan tempat itu sambil bertanya-tanya dalam hati. Apa mungkin, sosok yang tengah mengawasinya itu adalah teman atau musuh. Namun, merasakan hawa amarah yang begitu dashyat, Madi yakin, kalau orang itu pasti menaruh dendam dan ingin membalas sakit hati.
‘Ya, Allah, belum lagi selesai persoalan dengan nenek bungkuk dan cucunya, ini sudah ada persoalan baru lagi.’ Madi mengelus dada, menenangkan perasaan. Dia harus tetap tenang menghadapi situasi ini. Madi pun segera meninggalkan tempat itu, pulang, mencoba berdiskusi nanti dengan kyai Sarwa, mencari solusi yang terbaik.
Sementara, dari suatu tempat, sepasang mata yang lain juga sedang mengawasi Madi. Dia, adalah Nini, si nenek bungkuk. Ada seringai terlihat di bibirnya. Merasa senang, ada seseorang yang akan bisa dipengaruhinya untuk melawan Madi.
Dendam dan perasaan marah yang dimiliki orang itu, menjadi alasan kuat untuk mengajaknya bekerja sama, menyatukan kekuatan, melawan Madi dan kyai Sarwa.
__ADS_1
Kekehehan tawa yang sangat keras pun membuat wajah nenek bungkuk yang buas menjadi semakin menyeramkan. Senyum penuh kemenangan terlukis di sudut bibirnya. Sudah tiba saatnya kepemimpinan kyai Sarwa runtuh, desisnya disela tawa.
Salah satu murid yang selama ini selalu dibelenggu rasa iri itu, akan menjadi senjata utama untuk menjatuhkan kyai Sarwa. Dia tinggal mempengaruhi murid kyai Sarwa itu saja, membisikkan beberapa rencana licik, untuk menggusur kyai Sarwa.